Showing posts with label review buku. Show all posts
Showing posts with label review buku. Show all posts

Tuesday, 15 November 2022

,

Review Buku : Almond - Sohn Won Pyung

Seorang manusia lahir bagaikan selembar kertas putih, kosong, tanpa isi mental bawaan. Sedikit demi sedikit, terisi oleh pena pengalaman dan persepsinya terhadap dunia di luar dirinya. Begitulah teori tabularasa. Tapi, apa yang terjadi jika seorang manusia terlahir bagaikan bongkahan batu kali? Sesering apapun pena membuat coretan di atasnya, tidak juga terlihat coretannya. Ini adalah premis utama novel ini, Almond.

Review Novel ALmond - Sohn Won Pyung

Novel ini dibuka dengan pengakuan seorang anak laki-laki saat menyaksikan suatu peristiwa yang brutal. Terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pria dengan menggunakan pisau. Satu orang terluka, enam orang lainnya meninggal dunia. Korban terakhir adalah pria itu sendiri. Ia membunuh dirinya, menikam dadanya sedalam-dalamnya dengan pisau. Anak laki-laki itu hanya menyaksikan kejadian yang terjadi di depan matanya, tanpa melakukan apa-apa, tanpa ekspresi. Anak laki-laki itu adalah Yoonjae.

Itu bukan kali pertamanya Yoonjae menyaksikan tragedi yang mengerikan. Sepanjang hidupnya, ia berkali-kali ada di situasi seperti itu. Saat ia masih berusia 6 tahun, ia pulang dari TK seorang diri, berjalan kaki. Tanpa tau arah, ia terus berjalan mengikuti arah perginya burung-burung. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa ia tersesat, ia sudah berada di sebuah gang yang di kelilingi oleh rumah-rumah tua yang tampak sudah mau roboh. Tidak jauh dari situ, ia mendengar suara teriakan kecil yang ternyata berasal dari sebuah belokan di gang. Ia berjalan mendekati belokan itu dan menyaksikan seorang anak -usia SMP- yang terbaring di atas tanah di kelilingi anak-anak lainnya yang mengelilinginya sambil menendang dan meludahinya. Seluruh tubuh anak itu berdarah, badannya terlempar ke sana ke mari seperti boneka. Yoonjae keluar dari belokan dan menemukan sebuah toko kecil. Ia masuk ke dalamnya dan memanggil si penjaga toko yang ternyata sedang asyik menonton TV. Panggilan pertama tidak membuatnya mengalihkan pandangan dari tayangan TV.

"Ajeossi." panggilnya untuk kedua kali.

"Iya," jawab Ajeossi  sambil membalikkan wajahnya.

"Ada orang yang pingsan di depan gang," 

Si penjaga toko cuek dengan berkata, "Oh begitu?"

"Mungkin saja dia sudah mati." Yoonjae berkata sambil memegang karamel yang dipajang rapi di atas meja toko.

"Oh ya?

"Iya."

Barulah pandangan Ajeossi tertuju pada Yoonjae

"Kau ini, kenapa gaya bicaramu begitu tenang? Kau tidak boleh membohongiku!"

Yoonjae berpikir keras mencari cara untuk meyakinkan Ajeossi, tapi ia tidak bisa menemukan kosa kata lainnya. 

"Mungkin dia sudah mati." Yoonjae hanya bisa mengatakan itu terus menerus.

Akhirnya, Ajeossi melapor pada polisi sambil tetap menonton TV. Anak yang dipukuli, menghembuskan napas terakhirnya. Masalahnya, anak itu tidak lain adalah anak laki-laki Ajeossi tadi. 

Di kantor polisi, Ajeossi meraung-raung bersimbah air mata, duduk bersimpuh dengan badan gemetar, memukul lantai dengan tinjunya, lalu bangun dan berteriak-teriak pada Yoonjae sambil mengacungkan tangannya,

"Andai saja kau bicara sedikit lebih serius, semuanya pasti tidak akan terlambat!"

Begitulah Yoonjae. Raut wajahnya tidak pernah berubah, bahkan ketika ia menyaksikan pembunuhan di depan matanya sekalipun. Ibunya mulai khawatir sehingga membawanya ke rumah sakit untuk mencari tau apa yang terjadi dengan anaknya. Diagnosa dokter menyatakan bahwa Yoonjae terkena penyakit Alexitimia, ketidakmampuan dalam mengungkapkan dan merasakan emosi. Penyebabnya adalah amigdala -atau yang biasa disebut almond- dalam kepalanya tidak berkembang dengan baik, sehingga jaringan komunikasi antara sistem limbik otak dan lobus frontal tidak lancar. Yoonjae tidak bisa merasakan senang, sakit, sedih, ataupun takut. Karenanya, orang-orang sering menyebutnya 'monster'.

Ia hidup dengan ibu dan neneknya di sebuah toko buku bekas. Ibunya berjualan buku bekas demi membiayai Yoonjae, karena suaminya sudah meninggal sejak dulu. Meskipun dianggap aneh oleh teman-temannya, Yoonjae tidak pernah membuat masalah di sekolah. Ibunya yang selalu khawatir akan keadaannya, selalu mengajari Yoonjae dalam bersikap dan merespon orang lain. Ibunya menuliskan beberapa kalimat di kertas berwarna dan menempelkannya di papan besar, tulisan-tulisan seperti ini:

Kalau mobil mendekat -> Harus menghindar atau berlari

Kalau ada orang yang mendekat > Bergeser ke salah satu sisi agar tidak bertubrukan

Kalau orang tertawa -> Ikut tersenyum

Di bagian paling bawah, ada catatannya "Dalam hal raut wajah, kau akan merasa nyaman bila mengikuti raut wajah semiripmungkin dengan yang dilakukan lawan bicaramu"

Ketika teman-temannya sibuk menghafal tabel perkalian, Yoonjae masih menghafal norma dan mencocokkan kalimat-kalimat yang saling terkait, dan ibunya akan memberikan ujian atas hal tersebut. Hari-harinya dilewati seperti itu, terus menerus, hingga tibalah satu hari. Hari itu, malam Natal, dingin bersalju, hari ulang tahun Yoonjae yang ke18. 

Ia bersama ibu dan neneknya, pergi untuk makan malam bersama, seperti yang biasa mereka lakukan selama ini dalam rangka merayakan ulang tahun Yoonjae. Itu adalah awal dari tragedi yang diceritakan di awal. Selesai makan, ibu dan nenek bergegas keluar restoran, ibu tertawa bahagia menangkap salju-salju yang turun dengan derasnya, sedangkan Yoonjae masih di dalam restoran, meminta permen pada pelayan restoran. Barisan paduan suara bertopi Santa dan jubah merah, ramai menyanyikan senandung Natal. Suasana sungguh meriah. Namun tiba-tiba, teriakan demi teriakan muncul. Awalnya sulit mendengarnya karena tertutupi oleh suara paduan suara. Seketika, suara paduan suara mulau kacau dan tertutup oleh suara teriakan orang-orang.

Seorang pria melompat dari balik pintu kaca dan menikamkan sesuatu. Orang itu adalah pria yang berpakaian formal dan berkeliaran sebelum kami memasuki restoran. Tidak sesuai dengan pakaiannya, dia memegang pisau dan palu di kedua tangannya. Pria itu melambaikan kedua tangannya sambil cekikikan, seolah-olah akan menusuk orang yang dilihatnya. Pria itu mendekati barisan paduan suara dan beberapa orang terlihat bergegas mengeluarkan ponselnya. 

Pria itu menoleh dan pandangannya berhenti ke arah ibu dan nenek. Dia kemudian berbalik arah, Nenek langsung menggenggam dan menarik ibu. Setelah itu, terjadilah tragedi itu. Pria itu memukulkan palu ke kepala ibu Yoonjae. Tiga kali.

Dalam sekejap, ibu Yoonjae sudah berbaring lemah bersimbah darah. Yoonjae mendorong pintu restoran, hendak pergi keluar, namun neneknya berteriak dan menghalangi pintu dengan badannya, supaya Yoonjae tetap aman. Pria itu masih memegang pisau, melambai-lambaikannya. Yoonjae mengetuk-ngetuk pintu kaca, tapi nenek tetap menahannya sambil menggelengkan kepalanya, mencegah Yoonjae untuk keluar. Tiba-tiba pria itu sudah ada di belakang nenek, dan Yoonjae hanya mendengar satu kali teriakan neneknya sebelum akhirnya melihat cipratan darah yang memenuhi pintu kaca restoran. Dengan raut wajah tanpa ekspresi, tanpa merasakan sakit, sedih, takut, ataupun marah, Yoonjae menyaksikan neneknya yang meninggal dan ibunya yang koma.

Semenjak kejadian itu, Yoonjae tinggal sendiri di rumah, di toko buku bekas itu. Toko buku berada di lantai 1, sedangkan lantai 2 merupakan toko roti. Pemilik toko roti beserta keseluruhan gedung itu bernama Professor Shim, dulunya seorang dokter. Karena mengenal ibunya Yoonjae cukup lama, Prof Shim menjadi cukup akrab dengannya dan paham juga akan kondisi yang dialami oleh Yoonjae. Maka selama ibu Yoonjae terbaring di rumah sakit, Prof Shim merasa harus membantu dan menjaga Yoonjae.

Suatu hari, ketika Yoonjae sedang menjenguk ibunya, ia berpapasan dengan seorang pria di lift. Pria paruh baya yang terlihat murung. Namun, begitu melihat Yoonjae, ekspresinya berubah. Beberapa hari kemudian, pria itu yang ternyata bernama Yoon Kwonho, mendatangi toko buku bekas dan meminta bantuan Yoonjae. Pada Yoonjae, ia meminta untuk berpura-pura menjadi anaknya di depan istrinya. Pasalnya, semenjak Pak Yoon kehilangan anaknya 13 tahun yang lalu, kesehatan istrinya menurun, hingga akhirnya kritis dan terbaring lemah di rumah sakit. Beberapa hari yang lalu, ada telepon yang menyatakan anaknya sudah ditemukan, namun dalam kondisi yang berbeda. Pak Yoon meminta Yoonjae untuk berpura-pura menjadi anaknya yang hilang di depan istrinya. Yoonjaepun mengiyakan, ia ingat pesan nenek 'lebih baik membantu, asal tidak membahayakan'.

Setelah pertemuan itu, beberapa hari kemudian istri Pak Yoon meninggal dengan damai. Yoonjae hadir dalam upacara pemakaman istri Pak Yoon. Setelahnya, ketika hendak keluar ruangan, Yoonjae menyadari semua orang menutup mulutnya dengan serempak sambil melihat ke satu arah. Di situlah anak itu berdiri. Gon, namanya. Nama aslinya adalah Lee So, anak kandung Pak Yoon yang sudah menghilang selama 13 tahun. Tubuhnya kurus, pendek, seperti anak-anak pengidap busung lapar. Kulitnya hitam, alis tebal, pandangannya membuat semua orang terpaku, seperti binatang buas yang ingin menerkam. Sebetulnya, itu adalah kali kedua Yoonjae bertemu dengan Gon. Gon adalah murid baru di sekolahnya. Hanya dalam 30 menit, informasi tentang Gon sudah menyebar ke seluruh sekolah, "Dia anak berandal. Mungkin dia sudah pernah mencoba semuanya, kecuali membunuh".

Di akhir acara pemakaman, Gon duduk di depan Yoonjae sambil menghabiskan dua mangkuk yukgaejang.

"Kau, kan? Anak yang berpura-pura menjadi diriku?

Aku muak melihat tingkahmu. Yah, walau semua ini bisa hiburan untukku."

Nah. Konflik utamanya ada di sini, saat Gon muncul. Gon yang benci dengan Yoonjae, melakukan apapun untuk menyakiti Yoonjae. Bukannya merasa puas dan hebat, Gon semakin murka. Karena sekeras apapun ia memukul Yoonjae, meskipun wajah Yoonjae sudah babak belur tak karuan, Yoonjae tetap tenang, tidak takut, tidak merasa sakit. Ini adalah definisi monster ketemu monster, meskipun monster-monster ini berbeda satu sama lain.

Saya suka dengan alur ceritanya. Mengalir begitu saja, gak terlalu berat. Ada banyak kritik tentang ending yang terlalu "dongeng disney". Tapi, buat saya penyuka happy ending sih, gak masalah. Kritik dari saya mungkin masalah terjemahan. Ada sekalimat atau 2 kalimat yang saya ingat betul, saya bingung memikirkan artinya. Mungkin karena novel ini banyak membahas soal emosi, saya lumayan paham bagaimana sulitnya menerjemahkan emosi dalam kata-kata, supaya punya makna yang sama dengan bahasa aslinya. Keseluruhan, saya jadi paham kenapa member BTS baca buku ini. Cerita tentang anak yang tumpul emosi, tapi justru novel ini memuat banyak emosi di dalamnya. Selamat membaca!

"Memahami perasaan yang belum kauketahui itu tidak akan selamanya baik. Perasaan itu adalah hal yang menyebalkan. Dunia ini bisa terlihat berbeda dengan apa yang kauketahui. Semua hal-hal kecil yang mengelilingimu bisa menjadi senjata tajam untukmu. Wajah tanpa ekspresi atau omongan-omongan tajam bisa datang menghampirimu. Coba perhatikan batu kerikil di tepi jalan. Dia tidak merasa terluka karena dia sendiri tidak tahu sedang ditendang oleh orang-orang. Namun, kira-kira bagaimana 'perasaan' batu kerikil jika 'tahu' bahwa setiap hari dia selalu ditendang, diinjak, berguling-guling hingga pecah sebanyak ratusan kali." (Prof Shim)

Continue reading Review Buku : Almond - Sohn Won Pyung

Tuesday, 8 November 2022

, , ,

Review Buku : Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) by Sayaka Murata

Buku kedelapan di tahun ini yang saya baca hingga tamat, Gadis Minimarket. Banyaknya orang yang memasukkan buku ini ke dalam list buku favorit mereka menjadi alasan mengapa saya ikut-ikutan ingin baca juga. Maklum, kadang-kadang juga saya FOMO. Buku setebal 160 halaman ini  punya rating yang lumayan bagus di goodreads, banyak pembaca yang juga meninggalkan review positif mengenai isi ceritanya yang gak biasa. Tadinya, kalau hanya menilai dari sampulnya saja, saya menduga ini novel tentang gadis yang bekerja di minimarket (? duh, tentu aja dong, Nis!) Maksudnya, saya gak berpikir ada ide lain di dalamnya selain gadis normal yang bekerja paruh waktu di minimarket. Tapi justru, di sini saya keliru, karena Keiko bukan gadis biasa.

Review Sinopsis Novel Gadis Minimarket

Sinopsis : 

Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, walau ia tidak tahu 'normal' itu seperti apa. Namun, di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai 'pegawai minimarket'. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini.

Sejak kecil, Keiko memang berbeda dengan anak-anak seusianya. Teman-temannya menganggap ia aneh, orang tuanya merasa ia perlu disembuhkan supaya menjadi 'normal'. Keiko sendiri, tidak paham akan konsep 'normal' yang sesungguhnya. Ia kerap kali bingung atas reaksi orang-orang terhadap tingkahnya. Misalnya, saat ia di taman kanak-kanak, ada seekor burung mati di taman. Burung yang kecil, cantik, berwarna biru, dan sepertinya peliharaan seseorang. Burung itu tergeletak dengan leher patah dan mata terpejam, sementara anak-anak lain berkerumun menangisinya. Melihat burung yang mati tersebut, Keiko mengambilnya dan berjalan ke arah ibunya. Ibunya berkata lembut sambil mengusap kepala Keiko, "Ada apa Keiko? Duh,burung kecil yang malang. Kasihan sekali.Ayo kita kuburkan!"

Keiko menjawab, "Ayo kita makan dia! Ayah suka yakitori (sate ayam), jadi nanti malam kita makan ini saja!"

Ibunya kaget mendengarnya, para wanita di samping Ibunya pun sontak menganga, terkejut. Melihat ekspresi mereka, Keiko nyaris tertawa, menurutnya itu lucu. Pandangan Ibunya mengarah pada telapak tangan Keiko, ke arah burung kecil itu, Keiko langsung berujar, "Kurang ya? Seharusnya lebih banyak lagi?", sambil melirik ke arah burung-burung pipit yang sedang berjalan beriringan di dekatnya.

Ibu Keiko berteriak dan menyuruh agar burung itu segera dikuburkan. Keiko tidak paham. Kenapa orang lain menangis, kenapa burung itu harus dikubur, kenapa burung itu tidak dimakan saja, padahal ia sekeluarga sangat suka makan ayam. Meski pada akhirnya Keiko menguburkan burung itu bersama ibunya, ia tetap tidak mengerti. Apalagi melihat orang-orang yang menangis sesenggukan karena iba pada burung kecil itu, tapi mereka memetik dan membunuh bunga-bunga yang ada di sekitar tempat itu. "Lihat, Keiko. Menyedihkan, bukan? Kasihan sekali burung itu.", Ibu berulang kali berbisik berusaha meyakinkan Keiko. Tapi Keiko, sedikitpun, ia tidak merasa sedih.

Peristiwa seperti itu sering terjadi. Pernah juga suatu kali saat Keiko masuk SD, ada keributan di sekolahnya, 2 anak laki-laki yang berkelahi di jam olahraga. "Panggil guru! Hentikan mereka!", teriak anak-anak lain. Keiko mendengar teriakan-teriakan itu dan berpikir mereka harus dihentikan. Maka, ia membuka kotak peralatan yang ada di sebelahnya, ia raih sekop dan berlari menuju anak laki-laki yang sedang berkelahi itu, kemudian ia pukul kepala salah seorang di antara mereka hingga jatuh. Ia baru saja akan memukul anak laki-laki satunya lagi, tapi orang-orang menyuruhnya berhenti. Anak-anak perempuan berteriak dan menangis, guru yang datang terpaku melihat kondisi mengerikan itu. 

"Mereka minta perkelahian itu dihentikan, jadi kuhentikan dengan cara yang paling cepat.", Keiko menjelaskan.

Peristiwa lainnya, seorang guru muda sedang marah di kelasnya, sambil memukul-mukul meja guru dengan buku absen, dan murid-murid mulai menangis meminya maaf. "Sensei, maaf! Hentikan, Sensei!" Guru itu tak juga berhenti meski teman-teman Keiko sudah mengiba meminta guru itu berhenti marah dan memukul-mukul meja. Akhirnya, Keiko mendekati guru tersebut, dengan penuh semangat, ia tarik rok dan celananya agar dia diam. Ia terperanjat, mulai menangis, dan akhirnya terdiam. Ketika diminta penjelasan oleh gurunya, Keiko berujar bahwa ia pernah melihat di TV, seorang perempuan dewasa terdiam ketika ditelanjangi. 

Lagi dan lagi, orang tuanya dipanggil ke sekolah. Ibunya kecewa dan putus asa, namun tetap menyayangi Keiko. Keiko sendiri, merasa tidak enak telah membuat Ibu dan Ayah kecewa dan selalu meminta maaf pada orang lain, meskipun ia sendiri tidak paham, kenapa mereka kecewa? Oleh karenanya, Kekiko memutuskan untuk sebisa mungkin tidak bicara saat di luar rumah. Orang-orang dewasa mulai lega melihatnya yang tidak bicara banyak dan berhenti mengambil tindakan sendiri, Namun selama SMA, itu menjadi masalah karena Keiko menjadi terlalu pendiam. 

Padahal, bagi Keiko, diam adalah cara terbaik, seni hidup yang paling rasional untuk menjalani hidup.

Sampai akhirnya ia mulai kuliah. Suatu hari ia melihat bangunan kosong yang akan dibangun menjadi minimarket. Di kaca beningnya tertempel sebuah poster "SEGERA DIBUKA Smile Mart Stasiun Hiiromachi".  Keiko yang tertarik untuk bekerja paruh, mencatat nomor telepon yang ada di poster itu. Keesokan harinya, ia menelepon dan diwawancarai. Wawancaranya sangat mudah, ia pun diterima menjadi pegawai paruh waktu di minimarket tersebut.

Kehidupan Keiko di minimarket inilah yang menarik. Tumbuh dengan kebingungan atas pengharapan orang-orang di sekitarnya, akhirnya teratasi ketika ia menjadi pegawai minimarket. Berbeda dengan menjadi bagian dari masyarakat, menjadi bagian dari minimarket sangatlah mudah, ada panduan untuk segalanya. Bagaimana ia harus menyapa, membungkuk, bagaimana ia harus menata produk, semuanya ada pedomannya. Meskipun di luar ia seringkali tidak memenuhi pengharapan masyarakat, namun di minimarket Ia adalah seorang pegawai yang hebat.

Keiko mahir meniru ekspresi dan gaya berbicara orang lain. Bertahun-tahun bekerja di minimarket, membuat Keiko merasa bahwa minimarket adalah bagian dari dirinya. Keiko yang berusia 30 tahun adalah hasil ia meniru orang lain, karena ia betul-betul tidak tahu bagaimana semestinya ia berperilaku di masyarakat. Gaya bicaranya, gaya pakaiannya, semuanya mencontoh dari rekan kerjanya di minimarket, supaya terlihat 'normal' di masyarakat. 

Kenapa saya selalu menuliskan normal dalam tanda petik? Ini yang menarik, karena sejatinya, saya sendiri juga gak bisa mendefinisikan apa itu normal. Definisi normal dan abnormal tak sejalan dengan definisi benar dan salah. Mungkin kita bisa bilang norma-norma sosial banyak membentuk kita untuk berperilaku sama seperti masyarakat lain, sehingga orang lain yang melakukan kebalikannya adalah orang-orang abnormal? Tapi, Keiko tidak bisa melihat itu semua. Banyak kebingungan yang dirasakan oleh Keiko perihal bagaimana orang-orang berperan sebagai bagian dari masyarakat. Ia mulai kebingungan ketika di usianya yang 30 tahun, teman-temannya mulai mempertanyakan soal hidupnya. Kebanyakan dari temannya sudah menikah, punya anak, atau memiliki pekerjaan yang mapan. Hanya Keiko yang masih bertahan dengan pekerjaan part timenya di supermarket. Keiko -atas saran adiknya- selalu menjawab bahwa alasan ia masih bekerja part time adalah karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan baginya untuk bekerja full time. Jawaban tersebut malah menimbulkan banyak keheranan karena bekerja di minimarket di mana ia harus berdiri dalam waktu yang lama, bukanlah pekerjaan yang lazim dikerjakan oleh orang sakit, bukan?

Untuk membuat dirinya terlihat 'normal', ia pun memutuskan untuk tinggal bersama seorang laki-laki bernama Shiraha. Ia mendengar bahwa masyarakat 'normalnya' menjalin hubungan dengan lawan jenis. Keiko sama sekali tak berpikir begitu, ia tak pernah berpacaran atau bahkan membayangkan dirinya berpacaran. Selama ini, ia hanya memfokuskan dirinya sebagai pegawai minimarket, memberikan seluruh perhatiannya di sana. Tapi pada akhirnya, ia berpura-pura menjalin hubungan dengan Shiraha, hanya supaya terlihat baik-baik saja. Betul saja, semua orang di sekelilingnya ikut berbahagia dengan berita Keiko yang tinggal bersama dengan Shiraha. Shiraha sendiri, sebetulnya adalah seorang laki-laki yang juga bekerja di minimarket tempat Keiko. Namun, karena kerjanya tidak becus dan ia mangkir berhari-hari, akhirnya ia dikeluarkan dari minimarket tersebut. 

Shiraha, yang hidupnya tak jelas, tidak punya tempat tinggal, banyak terlilit hutang, dan sering mencela Keiko yang aneh dan perawan tua, menyadari bahwa mereka memiliki kesamaan, "dibuang oleh masyarakat". Maka dari itu, Keiko melakukan penawaran untuk Shiraha tinggal di unit apartemen kecil yang disewanya. Shiraha pada akhirnya menyetujuinya. Awalnya sempat ada penolakan, tapi karena ia melihat banyak keuntungan dari penawaran tersebut, akhirnya dia sepakat. 

Hubungan Keiko dan Shiraha betul-betul membuat saya gerah, apalagi dengan karakter Shiraha. Bagi saya, bertemu laki-laki seperti dia layaknya mimpi buruk. Dia kerap kali memaki orang-orang, bermalas-malasan, senang menganggur, dan berharap dinikahi perempuan kaya raya yang bersedia memberinya modal yang besar. 

“Itulah kenapa kusebut masyarakat sekarang disfungsional. Mereka bicara manis soal keragaman gaya hidup, tapi pada akhirnya sejak Zaman Jomon semuanya tetap sama. Angka kelahiran menurun, masyarakat kembali ke Zaman Jomon dengan cepat, dan hidup menjadi lebih dari sekadar tak nyaman. Masyarakat telah mencapai taraf di mana eksistensi mereka yang tak berguna bagi desa akan dicela.” (Shiraha)

Pada intinya, konflik utama pada novel ini hanya berpusat pada 1 persoalan saja. Tentang kritik terhadap masyarakat modern, khususnya di Asia. Diskriminasi atas pilihan-pilihan hidup yang berbeda, sepertinya gak hanya terjadi di Jepang, di Indonesia pun sangat sering ditemukan. Tidak menikah di usia muda, merencanakan tidak memiliki anak, disebut-sebut sebagai hidup yang tidak normal, hanya karena berbeda dengan kebanyakan orang. Membaca novel ini seperti sedang berdiskusi panjang soal penilaian sosial. Sedikit banyak, pemikiran Keiko ini mengingatkan saya dengan orang-orang penghuni rumah sakit Villete yang ada di buku Veronika Memutuskan Mati, terutama pada poin yang membahas soal normal dan abnormal. 

Yang paling bikin muak adalah Shiraha. Saya berharap ada momen Keiko menendang laki-laki tidak berguna itu. Bisa-bisanya, dia banyak menuntut pada Keiko, mencela unit apartemennya, meminta uang, meminta makan (sambil mencela makanannya), numpang tidur (sambil mencela kamar tidurnya), dan berkeluh kesah seharian tanpa menyadari bahwa ia adalah pusat segala masalah di hidupnya. Satu hal yang dikerjakannya sungguh-sungguh adalah mencarikan Keiko pekerjaan baru, menyuruhnya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, bukan hanya pekerjaan paruh waktu. Supaya apa? supaya Shiraha bisa menikah dengan Keiko dan menumpang hidup dengannya. 

“Aku tak tahu lagi dengan standar apa aku hidup. Sebelumnya, tubuhku milik minimarket sekalipun aku sedang tidak bekerja. Aku tidur, menjaga kondisi tubuhku tetap fit, dan makan makanan yang bernutrisi agar bisa bekerja dengan kondisi sehat.” (Keiko)

Novel ini tidak seperti novel remaja pada umumnya. Isu tentang disfungsi sosial dikemas dengan cerita yang menarik. Menyelami perasaan Keiko, seharusnya membuat kita lebih paham bahwa setiap orang punya hak untuk menentukan hidupnya masing-masing. Tidak perlu mendiskriminasi pilihan seseorang hanya karena berbeda dengan yang kita jalani. 

Continue reading Review Buku : Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) by Sayaka Murata

Friday, 7 October 2022

, ,

REVIEW BUKU : Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura - Rusdi Mathari

Menjadi Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Sejak awal saya melihat judul buku ini, rasa penasaran langsung muncul. Ini buku apa sih? Kisah Sufi dari Madura, katanya. Belum lagi, covernya yang bergambar seorang laki-laki yang wajahnya ketutupan peci, seperti ada pesan di baliknya. Maka, tanpa pikir panjang, buku ini masuk dalam daftar belanjaan saya bulan lalu.

Pada akhirnya, setelah beberapa minggu berkutat dengan buku ini, saya menutup halaman terakhir dengan senyum dan sedikit perasaan yang gak nyaman, karena merasa tersindir dengan semua yang ada di dalamnya. Pengalaman membaca buku kali ini akhirnya ingin saya tuangkan di sini, selain untuk pengingat bagi saya, saya juga ingin membagikannya pada teman-teman di sini, karena banyak juga yang meminta reviewnya pada saat saya upload buku ini di story Instagram. 

Review Sinopsis Buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

Buku ini mulanya adalah tulisan berseri selama dua tahun di situs web Mojok.co. Sejak kali pertama tayang, kisah sufi dari Madura bernama Cak Dlahom ini segera digemari. Dibaca lebih dari setengah juta pemirsa Mojok.co. Serial Cak Dlahom ini mengisahkan kejadian sehari-hari di sebuah desa di Madura. Sentra kisah ialah Dlahom, duda tua yang hidup sendiri di sebuah gubuk dekat kandang kambing milik Pak Lurah. Tingkah lakunya memang berbeda dari orang-orang di kampung Ndusel.  Berteriak-teriak, lari mondar-mandir, cekikikan sendiri, bercengkrama dengan benda mati, nangkring di kuburan. Orang-orang maklum. Anak-anak menertawakannya. Mereka semua menganggap Cak Dlahom sedang kumat dan tak memedulikannya. Hanya beberapa orang yang menganggap Cak Dlahom istimewa, di antaranya Mat Piti dan anaknya, Romlah. Mereka selalu menganggap bahwa di balik kelakuan Cak Dlahom itu, pasti ada sesuatu yang mengusiknya. 

Dalam buku ini, ada 30 cerita, 30 perenungan dan pelajaran yang pada awalnya adalah keresahan-keresahan yang dirasakan oleh Cak Dlahom. Misalnya bab yang bercerita tentang istri Bunali dan Sarkum, anaknya. Istri Bunali bekerja sebagai pembantu di rumah Pak Lurah, orang terkaya di kampung itu, yang melakukan umroh sesering ia pulang kampung. Suatu hari, seisi kampung digegerkan dengan berita bahwa istri Bunali meninggal gantung diri di rumahnya. Istri Bunali sudah lama menjanda. Upah pembantu di kampung tidak cukup untuk menutup kebutuhan hidupnya dan anaknya. Sarkum pun sudah 2 tahun tidak bersekolah karena ibunya tak sanggup mebiayai. Karena hutangnya di warung menumpuk, ibu-ibu di kampung sering membicarakannya. Mereka kemudian tahu, istri Bunali sakit-sakitan, tapi omongan tentang istri Bunali tak berhenti. Berhari-hari sampai berbulan-bulan, tak seorangpun dari mereka menjenguk istri Bunali ataupun mencari tahu keadaannya, hingga akhirnya janda itu ditemukan mati gantung diri di kusen pintu rumahnya. Sarkum yatim piatu.

Selepas kejadian itu, Cak Dlahom merintih terus menerus berkata, "Ampuni aku, ya Allah... ampuni orang-orang itu..", begitu terus hingga keesokannya orang-orang melihat ia menggotong karung ke halaman masjid, menumpahkan isinya, pergi lagi, lalu datang kembali menggendong karung, menumpahkan isinya, kemudian pergi lagi. Begitu seterusnya. Orang-orang mulai berdatangan dan melihat aksi janggal Cak Dlahom yang ternyata menumpahkan tanah dari kuburan istri Bunali. Pak RT mencoba menegur Cak Dlahom, bertanya apa maksudnya. Dan ini adalah sepenggal dialog antara Pak RT dan Cak Dlahom,         


"Cak, itu tanah kuburan untuk apa dibawa kemari?"

"Tidakkah masjid ini butuh sumbangan untuk diperluas, Pak RT?"

"Iya, tapi tidak butuh tanah, Cak..."

"Jadi butuhnya apa? Sumbangan uang? Sumbangan semen? Sumbangan besi? Kayu?.... Tanah ini dari kuburan janda Bunali. Dia menitip pesan agar tanah kuburnya disumbangkan ke masjid agar masjid ini bisa megah. Lalu apakah kita akan menolaknya?"

"Bukan begitu, Cak. Kami tak butuh tanah. Apalagi tanah makam. Untuk apa?"

"Agar masjid ini bisa diperluas, Pak RT. Agar kita bisa bangga punya masjid besar dan megah."

"Masjid kita sudah jelek, Cak. Perlu direnovasi..."

"Betul, Pak RT. Merenovasi masjid kini menjadi lebih penting ketimbang memperbaiki dan memperbagus kelakuan. Umat sekarang diajak lebih tergantung pada masjid ketimbang masjid yang tergantung pada umat. Diajak aktif membangun masjid, tapi membiarkan orang-orang seperti istri Bunali terus tak berdaya lalu mati. Diajak rela menyodorkan sumbangan ke mana-mana untuk membangun masjid, tapi membiarkan Sarkum anak Bunali tidak bersekolah dan kelaparan. Kita bahkan tidak menjenguknya. Tidak pernah tahu keadaan mereka. Lalu apa sesungguhnya arti masjid ini bagi kita? Apa arti kita bagi masjid ini?"

Mata Cak Dlahom menatap tajam orang-orang yang mengerubunginya. Semuanya menunduk, termasuk Park RT. Pak RT mewakili orang-orang kampung meminta maaf pada Cak Dlahom karena sudah abai. Lalu Cak Dlahom menjawab,

"Sampean tidak salah, Pak RT. Kita semua yang abai. Kita semua yang abai. Kita semua yang salah. Kita lebih sibuk datang ke masjid ketimbang sibuk mengunjungi orang-orang miskin seperti istri Bunali. Kita rajin berdoa di masjid, lalu merasa bertemu dengan Allah. Padahal ketika Allah kelaparan, kita tidak pernah memberi makan. Allah sakit, kita tidak menjenguk...",

"Hati-hati bicara, Cak." Dullah menciba menegur Cak Dlahom. Dia merasa Cak Dlahom sudah kelewatan, tapi yang ditegur malah bertambah ngoceh.

"Kenap, Dul? Apa kamu sudah lupa kitab-kitab yang diajarkan di pesantren? Apa kamu kira aku akan mengatakan Allah yang sakit? Allah yang lapar? Kamu sebetulnya tahu yang aku maksud bukan itu, tapi Allah yang selalu berada di sisi orang-orang yang sakit, berada di dekat orang-orang yang miskin. selalu menemani orang-orang yang kalah dan dikalahkan. Tapi kita? Kita terus membangun masjid. Terus berdoa di masjid. Terus mengurus diri sendiri, dan tidak segera menjumpai Allah pada orang-orang itu. Kenapa, Dul?"

Semua terdiam.

"Ampuni aku ya Allah, ampuni orang-orang ini..."

Cak Dlahom sesenggukan. Orang-orang keheranan. Baru kali itu mereka melihat Cak Dlahom menangis.

Dalam keseharianya, celotehan Cak Dlahom seringkali tak diindahkan orang-orang, dianggap celoteh orang tak waras. Namun sebetulnya, apa yang Dlahom lakukan adalah berkomentar mengenai subtansi ibadah, yang membuat para tetangganya merenungkan ulang pemahaman mereka atas agama Islam. Nama Dlahom sendiri diambil dari diksi Jawa Timur yang kira-kira artinya "agak bodoh". Kata bodoh mungkin bisa menjadi kunci atas refleksi Cak Dlahom sendiri mengenai pengetahuan manusia atas agama dan Tuhan.  

Bab per babnya punya cerita yang berbeda namun inti yang sama, yaitu satir terhadap kehidupan beragama kebanyakan masyarakat kita. Ini ngeri sih, menyadari kembali bahwa buku bisa sangat efektif masuk ke dalam kepala dan juga hati. Kalau boleh digambarkan, membuka halaman pertama buku ini seperti menyerahkan laporan skripsi pada pembimbing, membacanya seperti dicecar oleh pertanyaan mematikan para penguji, dan menutup halaman terakhir buku ini seperti melihat kembali skripsi saya dengan banyak coretan dan revisi yang harus dikerjakan. I need Cak Dlahom in my life. We all need him.

Continue reading REVIEW BUKU : Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura - Rusdi Mathari