Showing posts with label OPINI. Show all posts
Showing posts with label OPINI. Show all posts

Sunday, 29 March 2020

, , ,

Prioritasku = Identitasku

I had a dream the other night
About how we only get one life
Woke me up right after two
I stayed awake and stared at you
So I wouldn't loose my mind

(One Republic -  Something I Need)


Penggalan lirik One Republic di atas menjadi pembuka tema kolaborasi Bandung Hijab Blogger kali ini, yaitu mengenai Time Management. Waktu menjadi terasa sangat penting saat kita sadar bahwa 1 detikpun gak bisa kita ulang, bahwa kita gak punya kesempatan untuk mengulang hari yang sama, kecuali kalau ternyata mesin waktu itu ada! Hidup yang cuma sekali, seringkali bikin saya takut, apa saya sudah cukup baik dalam menjalani hari-hari ini?

It's true that we only live once, but if we do it right, once is enough, kalau kata Mae West. Maka dari itu, berkawan dengan waktu, memanfaatkannya sebaik mungkin adalah satu-satunya cara untuk terhindar dari rasa sesal di kemudian hari. Terus, gimana caranya untuk mengatur waktu dengan baik?


Hmm.. Rasanya aneh kalau saya menjabarkan tips-tips memanage waktu dengan baik, karena saya bukan orang yang tepat, gak cukup representatif untuk bercerita tentang itu. Tapi, saya bisa cerita tentang bagaimana saya mencoba berdamai dengan kehidupan saya yang jauh dari ideal, gak bisa dibilang teratur, keluar dari jalur dan rencana, karena ya...you called it life. Life is full of surprises. And not all these surprises are pleasant, so you need to be ready for what life brings to you.

Jauh sebelum hari ini, dari kecil, saya terlahir dari keluarga yang disiplin dan teratur, yang membuat saya tumbuh menjadi seorang yang juga disiplin dan sedikit kaku mengenai waktu dan pencapaian hidup. Saya yang sekarang, sudah melewati banyak pengalaman yang membuat saya lebih longgar dan fleksibel, walaupun terkadang masih suka nyesek kalau sesuatu yang sudah direncanakan gak sesuai dengan harapan. Jadi, kalau bicara tentang memanage waktu, saya yang dulu mungkin sudah bisa merangkai banyak paragraf untuk berbagi tips. Ditambah lagi, sudah banyak kok aplikasi-aplikasi di handphone yang memudahkan kita untuk mengatur waktu, seperti time table salah satu contohnya. Selain itu, buku-buku tentang managemen waktu pun bertebaran di toko-toko buku. Jadi, untuk memahami, membuat, dan mengaplikasikan teori-teori mengenai efisiensi waktu adalah satu hal yang mudah. Tapi, menerima bahwa segala sesuatu yang sudah direncanakan, berakhir gak sempurna, adalah persoalan lain. Justru ini yang menarik, yang juga akan saya bahas.


We can plan a pretty picnic, but we can't predict the weather..
(The Vines - Ms. Jackson)

Kita bisa saja merencanakan tamasya dan piknik di taman yang menyenangkan. Perbekalan mulai dari keranjang yang penuh dengan makanan, minuman-minuman kaleng, hingga kumpulan lagu-lagu yang riang. Kita sudah mengatur alarm untuk bangun subuh dan bersiap-siap pergi di pagi hari, supaya gak terjebak macet, dengan harapan sampai di tempat pukul 08.00, saat matahari sedang bersahabat. Tiba-tiba, sesampainya di tempat, langit yang tadinya cerah, tiba-tiba menjadi abu-abu, awan mulai berani menutup matahari, lalu turunlah hujan. Semuanya gagal, padahal rasanya semua rencana sudah disiapkan sesempurna mungkin.

Hal serupa sering saya alami. Bukan tentang pikniknya, tapi tentang kecewa dengan segala rencana yang gak berjalan dengan seharusnya. Yang seharusnya saya bisa lulus pas 4 tahun, tapi saya kecewa karena harus menambah 3 bulan lagi untuk mendapat gelar Sarjana Psikologi. Kalau saya mengikuti time table yang sudah saya buat bertahun-tahun yang lalu, seharusnya saya sudah menikah di usia 25 tahun, dengan bekerja di salah satu perusahaan impian saya, lalu memiliki anak di usia 28 tahun, dan menerbitkan sebuah buku di usia yang sama. Memang beberapa sesuai dengan perencanaan, tapi banyak hal yang gak berjalan sesuai dengan perkiraan. Siapa yang salah? Bisa jadi saya, bisa jadi bukan salah siapa-siapa, karena memang ada yang mengatur "cuaca" saya hari itu, Yang Maha Menetapkan.


Lalu, bagaimana saya di hari ini?
Apa saya gak punya manajemen waktu sama sekali?
Yaaa, saya gak seekstrim itu juga. Dari semua teori tentang manajemen waktu, 1 yang selalu saya pegang adalah mengenai skala prioritas. Selama ini, prioritas menjadi garis bantu saya dalam memanage waktu, supaya saya bisa mengalokasikan waktu dan tenaga saya di aktivitas-aktivitas yang memang diperlukan, untuk menghindari "waktu dan tenaga" yang terbuang sia-sia.

Begitu banyak peran dalam diri ini, yang mustahil saya jadikan semuanya sebagai prioritas. Maka, setelah saya menikah dan memiliki 1 malaikat kecil, saya pilih 3 peran dalam hidup yang menjadi prioritas saya, menjadi ibu, istri, dan anak. Pioritas saya adalah segala macam aktivitas yang mendukung saya untuk menjadi ibu, istri, dan anak yang baik. Berpegangan pada 3 peran itu, mungkin membuat saya menjadi teman yang dianggap so sibuk, karena harus menemani anaknya bermain di rumah, atau mungkin saya akan menjadi blogger yang dianggap pemalas karena memilih menyiapkan makan siang suami dan memijat kaki ibu yang pegal. Tapi, syukurlah, saya berada di dalam circle yang sangat pengertian, sehingga saya masih bisa berhubungan baik dengan teman-teman, masih bisa menulis di sela sela waktu, masih bisa bermain cat air, bermain gitar, membaca buku, meskipun intensitasnya gak sesering ketika saya belum menikah.

Sebetulnya, memilih menjadi ibu rumah tangga adalah langkah pertama yang saya ambil untuk menyisihkan 1 peran dalam hidup, yaitu menjadi pegawai. Bukan berarti saya mendiskreditkan ibu yang bekerja (karena saya yakin mereka bekerja untuk anak, yang berarti mereka memprioritaskan anak). Hanya saja, bagi saya yang punya daya tahan tubuh lemah, rasanya saya gak sanggup kalau harus pulang kerja dan menggunakan hanya 10% dari tenaga yang tersisa untuk mengasuh anak. Meskipun begitu, menjadi ibu rumah tangga, gak lantas membuat saya menjadi ibu, istri, dan anak yang sempurna. Meskipun 3/4 hari saya habiskan dengan anak, saya gak bisa memastikan kalau Arsy kelak tumbuh menjadi anak yang bahagia. Meskipun saya berusaha memprioritaskan waktu saya bagi suami dan orang tua saya, saya juga gak bisa memastikan kalau apa yang sudah saya lakukan adalah yang terbaik. Begitu banyak ketidakpastian, tapi yang pasti saya sedang berusaha yang terbaik, membuat perbekalan, minuman kaleng, dan lagu-lagu riang untuk piknik saya. Bagaimana "cuacanya" nanti, tergantung Dia.

3 peran yang saya prioritaskan, pada akhirnya menjadi 1 kesatuan, menjadi Anisa Firdausi. Memang masih jauh dari ideal, saya juga masih berusaha untuk memanfaatkan momen-momen yang ada sebaik mungkin. Jadi, meskipun saya cukup lelah dengan hari-hari ini, dengan segala rutinitas yang terkadang terasa membosankan, pada akhirnya, semua itu adalah saya. Menjadi ibu bagi Arsy, menjadi anak perempuan bagi Bapak dan Ibu, dan menjadi istri bagi Kusumah adalah jalan menuju Anisa Firdausi. Karena apa? Karena prioritas saya adalah identitas saya.
Continue reading Prioritasku = Identitasku

Wednesday, 28 August 2019

, , ,

Tentang Menikmati Waktu Sendiri Agar Tetap Waras

Ini sudah masuk minggu keempat di Bulan Agustus, tapi tulisan-tulisan di bulan ini hanya 2 yang naik, sisanya masih belum terjamah di draft. Entahlah, akhir-akhir ini agak sulit mengatur waktu, padahal saya sama sekali gak kekurangan waktu luang. Ternyata terlalu banyak waktu luang malah membuat saya mendadak sibuk. Makanya, waktu Bandung Hijab Blogger mengajak untuk kolaborasi lagi, seperti biasa, saya memaksa diri untuk selalu berkontribusi. Kolaborasi bareng BHB adalah salah satu cara saya untuk menjaga komitmen dalam menulis. Rasanya sayang kalau harus melewatkan kesempatan untuk menantang diri menulis sesuai dengan tema yang ditentukan. Ya, menulis mengikuti tema adalah satu tantangan bagi saya, karena bisa dilihat, tulisan-tulisan saya kebanyakan acak, gak beraturan dan semau saya.

Tema yang diangkat di kolaborasi Bulan Agustus ini adalah "How To Enjoy My Me-Time", bagaimana cara saya menikmati waktu saya seorang diri. Tema yang menarik bagi saya. Mengingat bahwa saya seorang introvert, yang lebih menyukai aktivitas yang gak melibatkan banyak orang, banyak hal yang biasa saya kerjakan sendirian dalam rangka menikmati waktu-waktu sendiri.

Kolaborasi Bandung Hijab Blogger - How To Enjoy Me Time

Menikmati waktu-waktu sendiri bukanlah hal yang sulit, sebab bagi saya, sendirian selalu menyenangkan. Saya nyaris gak pernah merasa kesepian dengan waktu-waktu sendiri, bahkan saat saya berada dalam suasana sedih sekalipun. Menghabiskan waktu seorang diri bukan hanya bercerita tentang bagaimana bersenang-senang, memanjakan diri, apapun itu yang berbau menyenangkan. Tapi, mengkritik diri ataupun evaluasi diri kadang termasuk di dalamnya.

Berbeda dengan saya, ibu saya yang seorang extrovert terkadang bingung dengan cara saya menghabiskan waktu liburan. Bagi beliau, hang out dengan teman-teman adalah aktivitas yang sangat menyenangkan dan sangat menghibur. Jadi, kadang beliau suka protes, atau lebih tepatnya heran dengan cara saya memanjakan diri sendiri. Nah, di bawah ini adalah beberapa kegiatan yang saya biasa saya lakukan saat sendirian, dalam rangka memanjakan diri sendiri agar lahir batin tetap waras.

1. Bermain Gitar

Kolaborasi Bandung Hijab Blogger - How To Enjoy Me Time

Di rumah, saya memiliki beberapa alat musik. Dari mulai suling, harmonika, pianika, biola, gitar akustik, gitar listrik, dan piano yang seharga motor baru. Di antara alat musik yang tadi saya sebutkan, hanya gitar yang bisa saya mainkan. Oh, tunggu dulu. Jangan berpikir bahwa saya ini keren karena bisa main gitar. Percayalah, yang saya bisa hanya memainkan kunci-kunci dasar. Dengan ingatan yang pendek, saya hanya bisa menghapal chord beberapa lagu saja.  Thank God berkat internet, permainan lagu saya bisa sedikit variatif. Meskipun berbeda dengan kakak dan adik saya yang jago ngulik gitar, bagi saya menyanyikan lagu Peterpan atau Taylor Swift yang chordnya itu-itu saja, sudah cukup menghibur hati saya. Namanya juga musik, siapa sih yang gak terhibur?

2. Baca Buku

Kolaborasi Bandung Hijab Blogger - How To Enjoy Me Time

Saya yakin, ini sudah menjadi aktivitas favorit orang-orang di kala sendiri, termasuk saya. Dari jaman SMP, saya menjadi member tempat penyewaan buku. Kala itu, sehari saya bisa menyelesaikan 2 buku novel remaja. Tapi sayangnya, semenjak kehadiran smartphone dan berbagai social media, kecepatan membaca saya rasanya agak turun. Saya perlu menghabiskan 2 hari untuk novel yang ukurannya sedang-sedang saja. Dan untuk novel tebal, kadang berujung tak pernah saya selesaikan. Seringnya sih karena jeda waktu saya membaca terlalu lama, sehingga saya lupa alur ceritanya yang membuat saya mengulang baca dari awal. Itupun gak terjadi sekali, dua kali. Makanya, bukunya gak tamat-tamat. Sekarang, buku masih menjadi pacar saya. Bedanya, kali ini saya butuh effort agar lebih fokus menyelesaikannya. Biasanya, saya berkomitmen dalam sehari untuk gak bermain social media, demi menyelesaikan 1 buah buku.

3. Menggambar

 Kolaborasi Bandung Hijab Blogger - How To Enjoy Me Time

Saya pernah cerita sebelumnya, bahwa menggambar adalah salah satu hobi saya semenjak SD. Sempat berhenti karena selalu dikritik nenek bahwa menggambar orang itu pamali. Tapi, semakin dewasa, saya makin bodo amat. Meskipun hanya sekedar sketsa kasar, saya menikmatinya. Sebetulnya, saya juga sangat senang melukis. Tapi, yang saya gak suka adalah aktivitas setelah selesai melukis, yaitu beresin perlengkapannya. Dari mulai kuas dan palette yang kotor, dan gak jarang cat yang tumpah kemana-mana. Jadi, kalau disuruh milih antara menggambar atau melukis, jelas saya akan pilih menggambar. Seenggaknya, setelah saya selesai menggambar, saya hanya bertanggung jawab untuk merapikan pensil dan buku sketsa. Ya, mentok-mentok paling beresin 'daki-daki' penghapus.

4. Binge Watching alias Nonton Maraton

Ini adalah aktivitas paling menyenangkan, pun paling sulit dihentikan. Nonton maraton memang bikin ketagihan. Dulu, agar saya semangat kuliah, dari rumah saya sudah merencanakan TV Series apa saja yang akan saya tonton sepulangnya saya ke rumah. Makanya, waktu kuliah ada masanya saya menjadi kupu-kupu, kuliah langsung pulang. Entah bagaimana saya lebih cinta dengan How I Met Your Mother, Pretty Little Liars, The Mentalist, Psych, Lost, The IT Crowd, Lie To Me, Criminal Minds dibanding nongkrong dengan teman-teman saat itu. Kebiasaan itu masih berlanjut sampai sekarang. Hanya bedanya, akhir-akhir ini saya lebih tertarik menonton film yang sekali tamat dibanding maraton TV series. Karena ya itu dia... terlalu banyak aktivitas yang saya ingin kerjakan saat sendirian, sedangkan menonton TV series butuh komitmen untuk mengikuti tiap episodenya. 

5. Main Game

Saya harusnya menyimpan poin ini di nomor 1. Saking cintanya saya sama game, saya jadi bingung kenapa ada orang yang gak suka main game? Makanya waktu suami saya pernah bilang kalau dia gak begitu tertarik main game karena hanya akan membuang waktu, saya bilang kalau dia hanya belum mencobanya saja. Dan betul saja, setelah saya mengenalkannya pada beberapa game, sekarang dia bisa lebih asik dengan gamenya dibanding piano yang selama ini jadi pacarnya.  Makanya, sekarang saya nyesel udah ngenalin game ke suami.

Kecintaan saya pada game kayaknya dimulai dari SD. Dari mulai main tetris, sampai akhirnya beli nintendo, sega, PS 1, PS 2, dan seterusnya. Hampir semua game saya suka, tapi sejauh ini RPG adalah favorit saya.

6. Belajar Hal Baru

Saya ini orangnya gampang kabita dan sirik sama orang yang punya kelebihan. Mudah-mudahan ini masuknya sebagai hal positif ya, bukan iri dengki yang mengotori hati. Berkecimpung di dunia blogging ini mengenalkan saya pada blogger-blogger hebat di luar sana. Dari mulai cara menulisnya, infografisnya, komitmennya dalam menulis, yang kadang bikin saya minder dan ragu untuk melanjutkan perbloggingan ini. Tapi, untungnya, perasaan pesimis itu segera berganti menjadi ambisi yang sampai saat ini saya kejar. Perasaan gak mau ketinggalan dari orang lain ini semacam motivasi saya untuk selalu belajar hal baru.

Kolaborasi Bandung Hijab Blogger - How To Enjoy Me Time

Contohnya, belajar foto flatlay. Percayalah, meskipun foto flatlay terkesan mudah, semacam "lo tinggal taro barang secara acak terus foto", ternyata prosesnya cukup rumit. Dari mulai sudut pengambilan gambar yang kadang bikin encok-encok, cahaya matahari yang gak konsisten, dan sekalinya merasa dapat foto yang oke, sewaktu dicek, ada jempol kaki yang masuk ke dalam frame. Awalnya, saya nyerah belajar ini. Tapi melihat feed Instagram beauty blogger yang makin sini makin keren-keren, ya moso saya cemen banget mau nyerah.

Nah, itu adalah 6 poin di atas adalah aktivitas-aktivitas yang biasanya saya nikmati sewaktu sendirian di rumah, tepatnya di kamar. Kalau ada yang bertanya, "memangnya gak bisa menikmati waktu sendiri di luar rumah? Ke salon kek? Ke mall kek?". Oh tentu itu juga menyenangkan, tapi selama saya gak perlu mengeluarkan uang, kadang saya merasa lebih senang. *Istri Pelit*

Kalau kamu? Gimana caramu menikmati waktumu sendiri? Share dong! Siapa tau saya bisa nyontek, biar aktivitas saya bisa lebih variatif lagi.
Continue reading Tentang Menikmati Waktu Sendiri Agar Tetap Waras

Friday, 12 July 2019

, ,

Memahami Perjalanan Hidup dari Novel Rindu - Tere Liye


Akhirnya, setelah melewatkan beberapa kali kolaborasi dengan Bandung Hijab Blogger, kali ini saya bisa kembali lagi dengan rutinitas yang lebih senggang, lebih santai, dan lebih niat untuk menulis. Kali ini temanya adalah "My June Favorite", barang atau hal-hal yang menjadi favorit kami di Bulan Juni. Karena saya sedang dalam puasa skincare dan kosmetik, demi kesehatan kakak bayi, jadi saya akan sedikit bercerita tentang buku lokal yang sebetulnya bukan hanya di Bulan Juni saja, tapi akan menjadi salah satu buku favorit saya sepanjang hidup.


Sebenarnya saya gak familiar dengan pengarang buku Indonesia, hanya sedikit saja yang saya tau, itupun karena rekomendasi teman-teman. Lalu muncullah nama ini, Tere Liye, nama yang sering saya lihat di kutipan-kutipan tentang motivasi, cinta, ataupun kehidupan. Kutipan-kutipan Tere Liye yang bersileweran di social media cenderung relatable, masuk dan cocok pada tiap aspek kehidupan. Biasanya saya agak malas baca buku-buku mainstream yang sering dipajang di bagian Best Seller toko-toko buku. Tapi, lama-lama saya penasaran juga dengan buku-buku Tere Liye, apalagi saat saya membaca sinopsis buku ini.

Buku Tere Liye yang saya beli pertama kali adalah novelnya yang berjudul Pulang dan Pergi. Saya agak terkejut setelah selesai baca kedua novel tersebut. Sejujurnya, plot cerita kedua novel tersebut bukanlah tipe novel yang saya suka, tapi suprisingly, saya ketagihan. Hanya membutuhkan 3 hari untuk menyelasaikan 2 novel tersebut, saking serunya ceritanya. Tapi bukan novel Pulang dan Pergi yang akan saya bahas di sini, tapi novel lain yang mendapat penghargaan Buku Islam Terbaik tahun 2015, yaitu Rindu.

 

Wahai laut yang temaram,
Apalah arti memiliki?
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami

Wahai laut yang lengang,
Apalah arti kehilangan?
Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya
Kehilangan banyak pula saat menemukan

Wahai laut yang sunyi,
Apalah arti cinta?
Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai laut yang gelap,
Bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu?
Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.


Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.

Plot ceritanya adalah tentang perjalanan rombongan haji di tahun 1938, kala Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Perjalanan menggunakan kapal uap Belanda yang bernama  Holland  ini, diperkirakan memakan waktu beberapa bulan untuk dapat sampai di Jeddah. Novel ini menceritakan kisah-kisah para penumpang kapal selama perjalanan tersebut. Dimulai dari awal keberangkatan dari Pelabuhan Makassar, dan beberapa kali transit untuk menaikkan penumpang dari pulau lain, hingga akhirnya menuju ke laut lepas.

Fokus ceritanya bukan pada perjalanan itu sendiri, tapi pada permasalahan-permasalahan pribadi para penumpangnya. Dari sekian banyak penumpang Holland, ada 5 karakter yang menonjol dan punya peran khusus. Masing-masing mengantongi pertanyaan hidup yang selama ini tidak pernah mereka temukan jawabannya.

Pertanyaan pertama datang dari Bunda Upe. Bunda Upe memutuskan untuk menjadi mualaf di usianya yang tidak lagi muda. Kesehariannya di dek kapal adalah mengajar anak-anak mengaji selepas solat Ashar. Tidak ada satupun yang tahu, kecuali suaminya, mengenai masa lalu Bunda Upe. Masa lalu memilukan yang selalu ingin ia lupakan. Masa lalu yang terus membayangi hidupnya. Susah payah Bunda Upe pergi, tapi sejauh apapun ia berlari, bayang-bayang itu terus menghantui.


Pertanyaan-pertanyaan hidup yang lain datang dari 4 penumpang istimewa lainnya, Mbah Kakung, Daeng Adipati, Ambo Uleng, Gurutta Ahmad Karaeng. Saya gak akan membahas permasalahan dari karakter-karakter lainnya, karena saya rasa kurang seru kalau gak baca bukunya langsung. Tapi justru, di sini saya ingin membagikan kutipan - kutipan atau mungkin lebih tepatnya nasihat Gurutta yang diberikan pada penumpang-penumpang kala mereka menghadapi kegundahan atau kegalauan hati.

1. Tentang Cinta

"Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara yang mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya. Tapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan?"
(Tere Liye - Rindu)


"Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Aku tahu kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang cinta itu sejati, tapi kita justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbalik yang pernah dipahami oleh pecinta. Mereka tidak pernah mau memahami penjelasannya."
(Tere Liye - Rindu) 

2. Tentang Memaafkan

"Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, bukan! Kita memutuskan memaafkan karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati."
(Tere Liye - Rindu) 

"Maka ketahuilah, Andi. Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, atau dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran baru yang benar-benar kosong."
(Tere Liye - Rindu) 

3. Tentang Kekecewaan

"Perjalanan hidupmu boleh jadi jauh sekali, Nak. Hari demi hari, hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulan, itu pun sekedar pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun, mungkin itu bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi itu semua sifatnya adalah pemberhentian semua. Dengan segera kapal kita berangkat kembali, menuju tujuan paling hakiki."
 (Tere Liye - Rindu) 

"Maka jangan pernah merusak diri sendiri. Kita boleh benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka, jangan rusak kapal kehidupan milik kita, hingga dia tiba di pelabuhan terakhirnya.”
 (Tere Liye - Rindu) 
 
“Tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki, tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. Karena esok lusa, ada orang yang mengaku cinta, tapi dia melakukan begitu banyak maksiat, menginjak-injak semua peraturan dalam agama, menodai cinta itu sendiri.”
(Tere Liye - Rindu)  

Kutipan-kutipan di atas adalah nasihat-nasihat dari Gurutta yang paling mengena bagi saya. Ada satu hal yang saya suka dari buku ini selain nasihat-nasihat dari Gurutta, yaitu kenyataan bahwa seorang guru besar, panutan orang-orang yang seringkali menjadi tempat mereka berkeluh kesah dan mencari jawaban atas pertanyaan hidup, adalah seorang manusia juga, tidak sempurna. Bahwa sejatinya, Gurutta pun ternyata adalah seorang makhluk Tuhan yang memiliki pertanyaan dalam hidupnya yang masih ia kantongi sepanjang perjalanan tersebut.
Continue reading Memahami Perjalanan Hidup dari Novel Rindu - Tere Liye