Showing posts with label BANDUNG HIJAB BLOGGER. Show all posts
Showing posts with label BANDUNG HIJAB BLOGGER. Show all posts

Tuesday, 24 December 2019

, , , , ,

CORETAN MAMANIS : Kencan 9 Bulan dengan Baby Al

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, sehingga saya akhirnya bisa menulis lagi. Tentu, terima kasih juga untuk babyku Arsy, Baby Al, yang mengerti kerinduan mamanya untuk nulis, sehingga memilih untuk tidur nyenyak di malam hari ini. Sungguh suatu hal yang gak biasa untuk bayi 2 bulan ini. Atau mungkin, dia memang sedikit narsis sehingga sengaja memberikan saya waktu untuk menulis tentang dirinya, tepatnya pada saat menghabiskan hari-harinya selama 9 bulan lebih di dalam perut saya.


Ya, tulisan ini, selain karena kolaborasi dengan teman-teman Bandung Hijab Blogger, juga karena saya ingin meninggalkan jejak cerita perjalanan saya di 2019 kemarin, mengingat beberapa minggu lagi kita akan menyambut 2020. Tulisan ini juga merupakan lanjutan cerita saya tempo hari, Tentang PCOS dan 2 Garis Pink.

Setelah pada akhirnya saya dikatakan hamil, bahagia bukanlah respon awal saya. Justru perasaan bingung dan cemas yang datang. Pasalnya, saat itu saya masih berada di Pringsewu, Lampung. Jauh dari orang tua dan sahabat. Saya takut dengan minimnya pengetahuan saya soal kehamilan, saya gak bisa memberikan yang terbaik bagi janin saya saat itu.


TRIMESTER I

Orang bilang, trimester I adalah masa-masa yang menyulitkan. Badan yang baru menyesuaikan diri dengan "benda asing" di dalam rahim ini, dan hormon-hormon yang diproduksi, membuat segalanya menjadi aneh. Banyak orang mengalami morning sickness, mual dan muntah, yang ternyata gak cuma muncul di pagi hari, tapi juga malam hari. Untungnya, saat itu saya gak mengalami yang namanya muntah. Kalau mual, jangan ditanya. Saya masih ingat gimana eneknya saya saat mencium bau ayam, apalagi waktu saya harus masak ayam, sungguh menyiksa rasanya.

Saya sempat baca-baca bahwa trimester I adalah masa-masa kehamilan yang riskan, dikarenakan janin masih lemah. Oleh karena itu, butuh perhatian ekstra agar selalu berhati-hati dalam berakivitas, dan tentu saja, memperhatikan asupan gizi yang baik. Tadinya saya ingin pulang ke Bandung, karena merasa masakan-masakan saya masih kurang bergizi, tapi mengingat suami baru saja memperpanjang kontrak rumah di sana, gak tega rasanya kalau harus meninggalkan suami sendirian di rumah itu. Padahal, kalau tau saya akan hamil, suami kan bisa cari kosan saja. Tapi ya namanya juga cerita Tuhan, kita mana tau kejutan-kejutan yang Dia kasih. Daaann... Luar biasa memang, selang 2 bulan setelah berita kehamilan, Mas Suami mendapat mutasi ke Sleman, Jogja. Hamdallah.

Yang menjadi perhatian khusus pada trimester awal ini adalah pencarian obgyn. Buat saya, obgyn bagaikan ibu kedua yang bakal mendampingi saya menghadapi masa-masa kehamilan. Selama di Pringsewu Lampung, saya gak bisa milih obgyn karena hanya ada 1 obgyn wanita di sana. Sedikit kecewa karena pasien beliau super duper banyak, sehingga konsultasi dengannya pun terasa kurang berkualitas. Saya seperti dibatasi waktu, karena antriannya panjang. Gak leluasa untuk bertanya segala macam hal seputar kehamilan. Tapi, saya pikir, ya sudahlah, ini hanya obgyn sementara. Saya akan mencari obgyn yang cocok dengan saya nanti di Bandung.

Setelah saya pindah ke Bandung, saya banyak mencari informasi obgyn favorit di Bandung. Banyak sekali info yang saya dapatkan, baik dari teman, saudara, ibu-ibu tetangga, juga dari mbah google. Tapi, kebanyakan dari mereka merekomendasikan obgyn cowok, sedangkan saya merasa kurang sreg dengan obgyn cowok. Sampai akhirnya saya dapat info tentang obgyn cewek favorit di RSIA Grha Bunda, namanya dr. Leri Septiani. Wah, kebetulan banget prakteknya dekat dengan rumah saya.

Kesan pertama saya kontrol dengan dr. Leri adalah, antriannya panjang banget. Kalau mau bikin appointment pun minimal 2 minggu sebelumnya. Tapi, setelah saya merasakan kontrol dengan dr. Leri, saya gak heran kenapa dokter ini jadi favorit banyak orang. Pembawaannya positif, ramah, menenangkan, dan super detail. Tiap saya bertanya, meskipun tentang hal-hal remeh, pasti dijawab dengan detail. Biasanya saya paling degdegan kalau kontrol kandungan, tapi dengan dr. Leri, entah kenapa cemasnya tiba-tiba hilang gitu aja. Setelah kontrol pertama, saya sudah memutuskan kalau dr. Leri akan jadi obgyn saya yang nanti akan mengantar Baby Al ke dunia.

Kontrol pertama dengan dr. Leri menghasilkan HPL yaitu Hari Perkiraan Lahir. Hanya saja kendalanya, karena menstruasi saya yang gak teratur, dokter gak bisa menilai usia janin melalui hari terakhir saya menstruasi. Jadi, penilaian didasarkan pada ukuran janin saat itu. Dan ternyata benar saja, jika dibandingkan, usia janin berbeda 3 minggu dari perkiraan usia menurut perhitungan hari terakhir menstruasi. Makanya, tadinya dr. Leri sempat komentar kalau berat baby Al terlalu kecil, tapi ketika mengetahui bahwa menstruasi saya gak pernah teratur, beliau langsung paham dengan usia baby Al yang ternyata gak bisa dinilai berdasarlan hari terakhir menstruasi. Dan menurut perhitungan beliau, HPL nya adalah 24 Oktober 2019.

TRIMESTER II

Ini adalah masa-masa indah selama kehamilan. Meskipun perut sudah mulai kelihatan sedikit membesar, tapi sama sekali gak mengganggu aktivitas. Beberapa kali saya menyempatkan diri untuk berlibur, bertemu teman-teman, dan mendatangi event blogger. Bahkan, suami sempat merayakan ulang tahun saya di salah satu hotel di Bandung. Yaa.. anggap saja babymoon versi dekat. Bisa dibilang trimester ini adalah masa-masa janin sudah mulai kuat, jadi saya punya kesempatan untuk berlibur.

Baby Al 16 minggu

Baby Al 22 minggu

Pada trimester ini, akhirnya saya tahu kalau Baby Al ini perempuan. Saya sempat terkecoh dan percaya omongan orang dan mitos yang beredar, yaitu jika hamil perutnya besar ke samping tandanya perempuan, tapi kalau perutnya membesar ke depan tandanya laki-laki. Entah karena saya yang terlampau kurus atau memang itu hanya sekedar mitos, perut saya membesar ke depan, itupun gak terlalu terlihat. Makaya saya pikir, Baby Al ini laki-laki. Tapi ya saya gak kecewa swdikitpun. Laki atau perempuan, sama-sama menakjubkan.

Tapi, jusru awal trimester 2 ini saya mengalami pengalaman yang gak enak. Suatu hari saya merasa gak enak badan. Menghindari minum obat, saya hanya mengistirahatkan diri di kasur dengan berselimut tebal. Tapi, tiba-tiba setelah isya, badan saya menggigil parah. Gigi bergemelatuk sangat kencang, seperti orang step. Saya merasa dinginnya menusuk ke tulang, saya sampai gak bisa bergerak. Ibu yang melihat kondisi saya langsung panik. Baru saja mau diangkut ke IGD, badan saya tiba-tiba membaik.

Besoknya, badan saya kembali menggigil. Makanan gak ada yang bisa masuk perut, bolak balik muntah tiap kali diisi. Sampai suami langsung ambil cuti ke Bandung beberapa hari karena khawatir. Akhirnya, karena saya takut demam ini berakibat buruk pada Baby Al, saya konsultasi ke dr. Marissa Tasya, karena saat itu dr. Leri lagi gak praktek. Karena demamnya sudah sampai 3 hari, dr. Tasya menyuruh saya untuk cek lab. Dari hasil lab ternyata saya mengalami infeksi saluran kemih. Agak kaget karena saya merasa gak makan yang aneh-aneh dan gak pernah tahan pipis, juga saya gak ngerasain sakit saat pipis, seperti yang biasa dirasakan penderita ISK. Tapi memang, saya merasa pegal di sekujur pinggang yang saya pikir itu karena kehamilan yang semakin besar.

Setelah diberikan obat oleh dr. Tasya, demam tetap ada, sakit pinggangpun tak kunjung membaik. Akhirnya, kembali saya masuk IGD dan diambil darah. Kali ini hasil tes darahnya langsung dikonsultasikan dengan spesialis penyakit dalam atas rekomendasi dr. Leri. Akhirnya, setelah mendapat obat dari dokter spesialis penyakit dalam, semua rasa sakit itu hilang dalam 3 hari. Hamdallah.

Setelah itu, saya mulai memperbanyak informasi seputar kehamilan. Dari mulai makanan dan minuman yang dianjurkan selama hamil, olahraga yang disarankan untuk ibu hamil, sampai hal-hal yang sebaiknya dihindari oleh ibu hamil. Saya biasanya cukup disiplin untuk menjaga makanan, tapi kalau sudah ketemu makanan sebangsa aci-acian, biasanya langsung luluh. Jadi, ya sekali dua kali biasanya saya masih suka nyemil cireng, cilok, cilor, dan teman-temannya.

Orang bilang, banyak-banyak minum air kelapa dan makan bubur kacang hijau. Gak masalah buat saya, karena air kelapa termasuk minuman favorit saya. Makanya, saya sering minum air kelapa walaupun gak rutin. Alasannya? Tentu saja karena malas pergi ke tukang kelapanya. Selain bubur kacang hijau dan air kelapa, teman saya, Ulfi, menyarankan saya untuk mengonsumsi minyak zaitun 2 sendok sehari. Tujuannya katanya untuk memperlancar proses persalinan.

Apapun yang bertujuan memperlancar persalinan, akan saya coba, termasuk si minyak zaitun ini. Tapi, teman-teman, tau rasanya minyak zaitun itu kayak apa? Ewwwww 10000x. Saya menyerah di hari kelima. Ya Tuhan, saya ngerasanya kaya minum minyak jelantah. Saya ralat, saya akan coba apapun yang bisa memperlancar persalinan, kecuali minyak zaitun.

Memasuki akhir trimester 2, berat badan Baby Al selalu kurang sedikit, sekitar 100 - 200 gram. Tapi, dr. Leri gak mempersalahkannya karena beliau gak melihat ada kelainan apapun pada kandungan saya. Tapi, beliau bilang akan lebih baik jika saya menaikkan berat badan juga, karena tentu akan lebih baik dan lebih aman bagi Baby Al. Oleh karena itu, beliau menyarankan saya untuk minum susu, susu khusus yang biasa diminum sama orang sakit (saya lupa namanya apa). Tapi, karena saya gak nemu susu itu, akhirnya saya perbanyak minum susu UHT dan es krim (yang juga atas rekomendasi orang-orang).

Oh ya, di sini saya mulai merasakan lincahnya Baby Al. Pertama kali ngerasain gerakannya, rasanya terharu dan gak percaya kalau ada makhluk hidup yang dititipkan di dalam perut ini. Saya sering ngajak Baby Al ngomong, karena rasanya menyenangkan. Sulit dijelaskan seperti apa rasanya, tapi Maha Besar Allah atas segala kekuasaanNya.

TRIMESTER III

Memasuki trimester 3, perut saya semakin membesar, tapi masih saja dibilang kalau gak kelihatan sedang hamil. Mungkin sebagian perempuan ngerasa seneng dibilang gitu, tapi buat saya malah jadi beban. Seringkali saudara dan tetangga ngomentarin badan saya yang "dipikir mereka" gak gede-gede, padahal awal trimester 3 ini berat badan saya sudah naik hingga 12 kg! Tapi masiiiih aja ada yang nyuruh saya makan ina inu biar makin gede. Maksud saya, kan yang penting itu berat janinnya, bukan berat ibunya. Heran deh!

Baby Al 33 minggu :)

Saya juga jadi lebih sering olahraga, jalan kaki di lapang depan rumah. Kalau biasanya dulu saya nunggu suami pulang, biar jalannya gak sendirian, di trimester ini saya menyemangati diri untuk tetap jalan kaki seminggu 3x, meski sendirian. Sebetulnya, banya orang merekomendasikan yoga. Tapi, bagi yang kenal saya pasti tau saya gak cocok dengan yoga. Gak usah tanya kenapa, tapi ya menurut saya yoga termasuk olahraga yang sulit.

Dibandingkan dengan trimester sebelumnya, trimester 3 ini adalah masa-masa tersulit saya. Selain beban badan yang semakin besar bikin saya sulit cari posisi tidur yang enak, beser dan gatal-gatal di seluruh badan adalah 2 hal yang sering bikin saya terjaga tiap malam. Masalah beser memang gak bisa dihindari, udah biasa bagi bumil. Tapi, masalah gatal ini yang bikin saya banyak banyak istighfar. Gatal yang saya rasakan justru bukan di perut, tapi di tangan dan kaki. Tiap malam sebelum tidur saya biasa banjur tangan kaki pake minyak kayu putih untuk meredakan rasa gatalnya, meskipun gak terlalu ampuh. Saking saya gak bisa nahan rasa gatal yang luar biasa ini, saya sempat berpikir jangan-jangan ini adalah kondisi medis yang disebut kolestasis obstetrik. Tapi, mengingat itu adalah kondisi yang serius dan cukup menyeramkan ketika saya baca lebih lanjut, akhirnya saya tanyakan pada dr. Leri di kontrol selanjutnya. Seperti biasa, dr. Leri gak mempermasalahkan itu. Gatal yang saya rasakan menurutnya masih wajar, masih diakibatkan oleh peregangan pada kulit.

LDM juga seringkali jadi alasan saya sulit tidur. Pikiran-pikiran aneh sering datang, apalagi saya selalu tidur sendirian di kamar atas, karena kakak dan adik saya pun di Jakarta. Selama ini saya khawatir kalau-kalau air ketuban pecah di saat saya sendirian, pada tengah malam, dan semua orang sedang tidur. Selama ini saya sering berdoa, agar kelak saat melahirkan, suami saya sedang di Bandung. Kan saya juga penasaran, apa benar waktu melahirkan, rasanya ingin jambak-jambak suami? Tapi, akhirnya saya pasrah. Lillahitaala. Keinginan saya hanyalah agar Baby Al selalu sehat dan bahagia semenjak di dalam perut ibunya.

Kencan 9 bulan tanpa tatap muka dengan Baby Al di tahun 2019 ini bikin saya terenyuh bahwa ternyata cinta ibu pada anaknya, memang tak bersyarat, tanpa alasan. Mudah-mudahan Baby Al pun merasakan cinta ini, meski nyatanya masih jauh dari sempurna. 
Continue reading CORETAN MAMANIS : Kencan 9 Bulan dengan Baby Al

Wednesday, 28 August 2019

, , ,

Tentang Menikmati Waktu Sendiri Agar Tetap Waras

Ini sudah masuk minggu keempat di Bulan Agustus, tapi tulisan-tulisan di bulan ini hanya 2 yang naik, sisanya masih belum terjamah di draft. Entahlah, akhir-akhir ini agak sulit mengatur waktu, padahal saya sama sekali gak kekurangan waktu luang. Ternyata terlalu banyak waktu luang malah membuat saya mendadak sibuk. Makanya, waktu Bandung Hijab Blogger mengajak untuk kolaborasi lagi, seperti biasa, saya memaksa diri untuk selalu berkontribusi. Kolaborasi bareng BHB adalah salah satu cara saya untuk menjaga komitmen dalam menulis. Rasanya sayang kalau harus melewatkan kesempatan untuk menantang diri menulis sesuai dengan tema yang ditentukan. Ya, menulis mengikuti tema adalah satu tantangan bagi saya, karena bisa dilihat, tulisan-tulisan saya kebanyakan acak, gak beraturan dan semau saya.

Tema yang diangkat di kolaborasi Bulan Agustus ini adalah "How To Enjoy My Me-Time", bagaimana cara saya menikmati waktu saya seorang diri. Tema yang menarik bagi saya. Mengingat bahwa saya seorang introvert, yang lebih menyukai aktivitas yang gak melibatkan banyak orang, banyak hal yang biasa saya kerjakan sendirian dalam rangka menikmati waktu-waktu sendiri.

Kolaborasi Bandung Hijab Blogger - How To Enjoy Me Time

Menikmati waktu-waktu sendiri bukanlah hal yang sulit, sebab bagi saya, sendirian selalu menyenangkan. Saya nyaris gak pernah merasa kesepian dengan waktu-waktu sendiri, bahkan saat saya berada dalam suasana sedih sekalipun. Menghabiskan waktu seorang diri bukan hanya bercerita tentang bagaimana bersenang-senang, memanjakan diri, apapun itu yang berbau menyenangkan. Tapi, mengkritik diri ataupun evaluasi diri kadang termasuk di dalamnya.

Berbeda dengan saya, ibu saya yang seorang extrovert terkadang bingung dengan cara saya menghabiskan waktu liburan. Bagi beliau, hang out dengan teman-teman adalah aktivitas yang sangat menyenangkan dan sangat menghibur. Jadi, kadang beliau suka protes, atau lebih tepatnya heran dengan cara saya memanjakan diri sendiri. Nah, di bawah ini adalah beberapa kegiatan yang saya biasa saya lakukan saat sendirian, dalam rangka memanjakan diri sendiri agar lahir batin tetap waras.

1. Bermain Gitar

Kolaborasi Bandung Hijab Blogger - How To Enjoy Me Time

Di rumah, saya memiliki beberapa alat musik. Dari mulai suling, harmonika, pianika, biola, gitar akustik, gitar listrik, dan piano yang seharga motor baru. Di antara alat musik yang tadi saya sebutkan, hanya gitar yang bisa saya mainkan. Oh, tunggu dulu. Jangan berpikir bahwa saya ini keren karena bisa main gitar. Percayalah, yang saya bisa hanya memainkan kunci-kunci dasar. Dengan ingatan yang pendek, saya hanya bisa menghapal chord beberapa lagu saja.  Thank God berkat internet, permainan lagu saya bisa sedikit variatif. Meskipun berbeda dengan kakak dan adik saya yang jago ngulik gitar, bagi saya menyanyikan lagu Peterpan atau Taylor Swift yang chordnya itu-itu saja, sudah cukup menghibur hati saya. Namanya juga musik, siapa sih yang gak terhibur?

2. Baca Buku

Kolaborasi Bandung Hijab Blogger - How To Enjoy Me Time

Saya yakin, ini sudah menjadi aktivitas favorit orang-orang di kala sendiri, termasuk saya. Dari jaman SMP, saya menjadi member tempat penyewaan buku. Kala itu, sehari saya bisa menyelesaikan 2 buku novel remaja. Tapi sayangnya, semenjak kehadiran smartphone dan berbagai social media, kecepatan membaca saya rasanya agak turun. Saya perlu menghabiskan 2 hari untuk novel yang ukurannya sedang-sedang saja. Dan untuk novel tebal, kadang berujung tak pernah saya selesaikan. Seringnya sih karena jeda waktu saya membaca terlalu lama, sehingga saya lupa alur ceritanya yang membuat saya mengulang baca dari awal. Itupun gak terjadi sekali, dua kali. Makanya, bukunya gak tamat-tamat. Sekarang, buku masih menjadi pacar saya. Bedanya, kali ini saya butuh effort agar lebih fokus menyelesaikannya. Biasanya, saya berkomitmen dalam sehari untuk gak bermain social media, demi menyelesaikan 1 buah buku.

3. Menggambar

 Kolaborasi Bandung Hijab Blogger - How To Enjoy Me Time

Saya pernah cerita sebelumnya, bahwa menggambar adalah salah satu hobi saya semenjak SD. Sempat berhenti karena selalu dikritik nenek bahwa menggambar orang itu pamali. Tapi, semakin dewasa, saya makin bodo amat. Meskipun hanya sekedar sketsa kasar, saya menikmatinya. Sebetulnya, saya juga sangat senang melukis. Tapi, yang saya gak suka adalah aktivitas setelah selesai melukis, yaitu beresin perlengkapannya. Dari mulai kuas dan palette yang kotor, dan gak jarang cat yang tumpah kemana-mana. Jadi, kalau disuruh milih antara menggambar atau melukis, jelas saya akan pilih menggambar. Seenggaknya, setelah saya selesai menggambar, saya hanya bertanggung jawab untuk merapikan pensil dan buku sketsa. Ya, mentok-mentok paling beresin 'daki-daki' penghapus.

4. Binge Watching alias Nonton Maraton

Ini adalah aktivitas paling menyenangkan, pun paling sulit dihentikan. Nonton maraton memang bikin ketagihan. Dulu, agar saya semangat kuliah, dari rumah saya sudah merencanakan TV Series apa saja yang akan saya tonton sepulangnya saya ke rumah. Makanya, waktu kuliah ada masanya saya menjadi kupu-kupu, kuliah langsung pulang. Entah bagaimana saya lebih cinta dengan How I Met Your Mother, Pretty Little Liars, The Mentalist, Psych, Lost, The IT Crowd, Lie To Me, Criminal Minds dibanding nongkrong dengan teman-teman saat itu. Kebiasaan itu masih berlanjut sampai sekarang. Hanya bedanya, akhir-akhir ini saya lebih tertarik menonton film yang sekali tamat dibanding maraton TV series. Karena ya itu dia... terlalu banyak aktivitas yang saya ingin kerjakan saat sendirian, sedangkan menonton TV series butuh komitmen untuk mengikuti tiap episodenya. 

5. Main Game

Saya harusnya menyimpan poin ini di nomor 1. Saking cintanya saya sama game, saya jadi bingung kenapa ada orang yang gak suka main game? Makanya waktu suami saya pernah bilang kalau dia gak begitu tertarik main game karena hanya akan membuang waktu, saya bilang kalau dia hanya belum mencobanya saja. Dan betul saja, setelah saya mengenalkannya pada beberapa game, sekarang dia bisa lebih asik dengan gamenya dibanding piano yang selama ini jadi pacarnya.  Makanya, sekarang saya nyesel udah ngenalin game ke suami.

Kecintaan saya pada game kayaknya dimulai dari SD. Dari mulai main tetris, sampai akhirnya beli nintendo, sega, PS 1, PS 2, dan seterusnya. Hampir semua game saya suka, tapi sejauh ini RPG adalah favorit saya.

6. Belajar Hal Baru

Saya ini orangnya gampang kabita dan sirik sama orang yang punya kelebihan. Mudah-mudahan ini masuknya sebagai hal positif ya, bukan iri dengki yang mengotori hati. Berkecimpung di dunia blogging ini mengenalkan saya pada blogger-blogger hebat di luar sana. Dari mulai cara menulisnya, infografisnya, komitmennya dalam menulis, yang kadang bikin saya minder dan ragu untuk melanjutkan perbloggingan ini. Tapi, untungnya, perasaan pesimis itu segera berganti menjadi ambisi yang sampai saat ini saya kejar. Perasaan gak mau ketinggalan dari orang lain ini semacam motivasi saya untuk selalu belajar hal baru.

Kolaborasi Bandung Hijab Blogger - How To Enjoy Me Time

Contohnya, belajar foto flatlay. Percayalah, meskipun foto flatlay terkesan mudah, semacam "lo tinggal taro barang secara acak terus foto", ternyata prosesnya cukup rumit. Dari mulai sudut pengambilan gambar yang kadang bikin encok-encok, cahaya matahari yang gak konsisten, dan sekalinya merasa dapat foto yang oke, sewaktu dicek, ada jempol kaki yang masuk ke dalam frame. Awalnya, saya nyerah belajar ini. Tapi melihat feed Instagram beauty blogger yang makin sini makin keren-keren, ya moso saya cemen banget mau nyerah.

Nah, itu adalah 6 poin di atas adalah aktivitas-aktivitas yang biasanya saya nikmati sewaktu sendirian di rumah, tepatnya di kamar. Kalau ada yang bertanya, "memangnya gak bisa menikmati waktu sendiri di luar rumah? Ke salon kek? Ke mall kek?". Oh tentu itu juga menyenangkan, tapi selama saya gak perlu mengeluarkan uang, kadang saya merasa lebih senang. *Istri Pelit*

Kalau kamu? Gimana caramu menikmati waktumu sendiri? Share dong! Siapa tau saya bisa nyontek, biar aktivitas saya bisa lebih variatif lagi.
Continue reading Tentang Menikmati Waktu Sendiri Agar Tetap Waras

Sunday, 5 May 2019

, ,

BHB Milad 1, Ngumpul Cantik dan Pintar bareng Pocari Sweat

Jadi, selama setahun bergabung dengan komunitas Bandung Hijab Blogger, belum sekalipun saya bertemu dengan para anggotanya. Tentu saja alasannya apalagi kalau bukan domisili saya yang gak menentu. Tapi takdir Tuhan akhirnya membuat saya kembali lagi ke Bandung, sehingga berkesempatan untuk datang ke acara 1 tahunnya BHB. Tanpa ba bi bu, saya langsung mengiyakan bisa datang waktu diundang, mengundur jadwal-jadwal lainnya. #soksibuk

BHBMilad1 Bandung Hijab Blogger X Pocari Sweat

Saya memang seorang yang introvert, bertemu orang baru adalah hal yang melelahkan dan terasa menguras energi. Tapi, beda cerita kalau orang-orang baru ini adalah orang-orang yang punya minat sama. Meskipun, saat itu adalah pertama kalinya saya bertemu dengan semua anggota BHB, mereka sangat hangat dan menyenangkan. BHB Milad ini diselenggarakan di Greentea Holic Jl. Guntur No.21, pada Sabtu, 27 April 2019 pkl 12.00 dan selesai tepat pukul 15.00.

BHBMilad1 Bandung Hijab Blogger X Pocari Sweat

Acara dibuka oleh MC, Teh Puspa, anggota BHB yang juga merangkap sebagai MUA. Saya sering nonton videonya di Instagram karena dia sering bermain makeup sambil bernyanyi. Beda dengan saya, suara beliau merdu. Sungguh Tuhan menganugerahinya banyak bakat. Teh Puspa menjelaskan rangkaian acara BHB Milad yang pertama, salah satu yang menarik perhatian saya adalah bahwa akan ada sesi berbagi ilmu gizi oleh ahli gizi dari tim pocari sweat.

Dari dulu saya tertarik dengan ilmu-ilmu gizi. Yang kenal dekat dengan saya pasti tau alasannya. Selama 28 tahun di dunia ini, dengan tinggi 165 cm, berat saya gak pernah lewat dari 44 kg. Jelas, underweight. Jangan kira bodyshaming hanya didapatkan teman-teman yang overweight, saya sering kali dibilang kurang gizi. Bahkan ibu saya gak jarang kena dampaknya, dipikir gak pernah kasih makan anaknya. Saya ingat jaman-jaman saya SMA, kala itu berat saya 39 kg. Tiap orang bertanya berat badan saya, lalu saya jawab 39, mereka pikir saya keliru menjawab atau sedang bercanda. "Gue tanya berat badan lo, bukan no sepatu lo."

Makanya, waktu saya tau akan ada ahli gizi yang datang untuk membahas tentang pola makan yang sehat dan penuh dengan gizi, saya tertarik. Saya memang perlu untuk memperbanyak pengetahuan seputar hal ini, jangan-jangan selama ini memang pola makan saya salah. Dan memang, selama kurang lebih 30 menit saya mendengar informasi yang diberikan tim pocari sweat, saya baru paham kalau banyaknya kalori yang kita butuhkan, diperngaruhi oleh aktivitas kita sehari-hari. Jadi, saya yang kerjaannya banyak di rumah bermalas-malasan, sebetulnya hanya membutuhkan kalori yang lebih sedikit dibanding dengan orang-orang yang bekerja di lapangan.

BHBMilad1 Bandung Hijab Blogger X Pocari Sweat

Selain itu, saya juga baru tau kalau ada beberapa buah atau sayur yang gak mengandung kalori sama sekali, misalnya tomat dan timun. Sebetulnya, memang ada perhitungan pasti untuk mengukur berapa jumlah kalori yang sebetulnya dibutuhkan tubuh kita, makanya ada rumus untuk mengetahui dengan pasti jumlah kalori yang sebetulnya kita butuhkan. Selama ini saya kalau makan, ya makan aja. Kalau inget ya saya cek, kalau enggak ya dikira-kira aja. Hehe.

BHBMilad1 Bandung Hijab Blogger X Pocari Sweat

Nah, materi ini memang cocok dibahas menjelang Bulan Ramadhan. Kenapa? Pasti kalian juga mengalami bingungnya mengatur pola makan dan jam makan yang baik saat puasa. Jadi, ahli gizi menyarankan agar pola makan kita lebih diatur. 40% pada saat sahur, 25% saat berbuka, dan sisanya setelah shalat tarawih. Bisa gak? Selama ini sih saya belum pernah coba, biasanya ya waktu ada suara adzan mahrib, segala makanan yang ada depan mata, ya saya lahap-lahap aja. Kamu juga gak? Haha.

Di antara hal-hal lainnya, poin terpenting dari diskusi kemarin adalah tentang betapa pentingnya ion dalam tubuh. Apa sih ion tuh? Ion adalah bagian dari elektrolit, yaitu garam-garam mineral yang secara alami ada di dalam tubuh yang membantu semua proses yang ada di dalam tubuh. Ion ini gak gitu aja ada di dalam tubuh, tentu harus didapatkan melalui makanan atapun minuman yang kita konsumsi. Pada prinsipnya, komposisi minuman elektrolit terdiri atas air, gula, dan garam. Garam pada minuman isotonik berfungsi untuk mengganti ion-ion tubuh yang hilang bersama cairan. Garam dalam minuman isotonik juga berfungsi untuk mengikat cairan yang ada di dalam tubuh. Jadi, segala bentuk cairan yang kita minum, gak sekedar numpang lewat. Mendengar hal ini, saya langsung paham kenapa selama saya puasa saya selalu cepat haus, padahal saat sahur saya bisa meminum 1.5 liter air putih. Ternyata kalau gak diikat oleh ion, ya airnya cuma numpang lewat aja, jadinya beser iya, haus iya. 

BHBMilad1 Bandung Hijab Blogger X Pocari Sweat

Setelah materi seputar ilmu gizi disampaikan, tim Pocari Sweat mengadakan kuis online yang super seru, yang sayangnya gak bisa saya menangin karena masalah teknis (alasan). Tapi, ternyata selain tim Pocari Sweat, panitia #BHBMilad1 pun mengadakan kuis tentang seberapa banyak kami mengenal satu sama lain. Dengan ingatan yang tumpul, saya dengan sukarela memberikan kesempatan kepada teteh-teteh yang lain untuk mendapatkan hadiah berupa cireng salju, yang sebenernya bikin saya mupeng juga.

Saya dan beberapa teteh lainnya sempat menertawakan nasib kami yang merasa gak ada kemauan untuk memenangkan kompetisi, betapa rendahnya motive achievement kami. Saat kami sedang tertawa, saya mendengar nama saya disebut dan diminta maju ke depan. Sampai di depan, saya dapat hadiah berupa kerudung organik dari @zanayaorganic, kerudung yang sudah cukup lama saya idam-idamkan. Bodohnya, sampai sesi foto selesai dan saya pulang, saya masih bertanya-tanya tentang kerudung yang saya dapatkan ini, saya belum tau kenapa saya dapat hadiah. Akhirnya, sewaktu saya konfirmasi ke ketua BHB, Rara, tentang alasan saya dapat kerudung, Rara bilang kerudung itu sebagai apresiasi untuk Best Blog Of The Year. Saya sih bersyukur, gak mau kufur nikmat, tapi masih bingung juga, mbo ya semua teteh-teteh BHB ini jago nulisnya, dan saya merasa gak pernah nyogok panitia untuk bisa dapet apresiasi ini. Ya gitulah hidup, penuh kejutan.

BHBMilad1 Bandung Hijab Blogger X Pocari Sweat

Anyway, sebelum saya tutup tulisan ini, sekali lagi, Met Milad BHB. Waktu saya diminta untuk nulis ucapan selamat untuk BHB di kertas kecil, sebetulnya saya bingung mau nulis apa. Apa yang saya tulis kadang bikin orang bingung, jadi saya nyontek teteh sebelah, yang sayangnya saya lupa namanya, tapi saya masih ingat wajahnya, cantik.

BHBMilad1 Bandung Hijab Blogger X Pocari Sweat
Continue reading BHB Milad 1, Ngumpul Cantik dan Pintar bareng Pocari Sweat