Showing posts with label LIFESTYLE. Show all posts
Showing posts with label LIFESTYLE. Show all posts

Monday, 17 October 2022

, ,

Ingin Lebih Bahagia? Tinggalkan 12 Kebiasaan Ini!

Tulisan ini bukan murni tentang isi pikiran saya. Beberapa waktu yang lalu, saya baca artikel di enterpreneur.com yang membahas tentang ini, hal-hal yang bikin kita kadang sulit untuk bahagia. Saya pikir, sepertinya menarik deh kalau saya tuangkan di sini, selain untuk berbagi, juga untuk pengingat buat saya di kala menghadapi hari-hari yang menyebalkan.

Jadi, artikel ini memang didasari oleh penelitian yang dilakukin oleh Dr. Sonja Lyubomirsky, seorang profesor di bidang psikologi yang sering disebut "Queen of Happiness" oleh orang-orang di sekitarnya, karena beliau selalu bersemangat dan tak pernah berhenti mempelajari soal "kebahagiaan". Menurutnya, kebahagiaan itu dipengaruhi oleh beberapa hal, 50% dari genetik, 10% dari keadaan, 40% dari individu masing-masing (kebiasaan, sikap, pandangan hidup). Jadi intinya, sebetulnya kita punya andil yang cukup besar untuk menentukan kebahagiaan kita sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles, "happiness depends upon ourselves".


Maka dari itu, dengan mengubah kebiasaan, sikap, dan pandangan hidup kita, kita punya kesempatan yang juga besar untuk mencapai kebahagiaan yang kita inginkan. Contohnya ini, yang akan saya bahas, ada beberapa kebiasaan, sikap, dan pandangan hidup yang sebetulnya menghambat kita untuk menjadi seorang yang berbahagia, yaitu :

1. Immunity to Awe (Tidak Mudah Kagum/ Terpesona)

Perasaan kagum atau terpesona ini mengingatkan kita, bahwa kita bukanlah pusat dari alam semesta. Kekaguman mendatangkan inspirasi, memahami kalau kehidupan itu luar biasa, dan kita bisa berkontribusi di dalamnya. 

2. Isolating Yourself (Mengisolasi Diri Sendiri)


Meskipun gak semua orang menikmatinya, bersosialisasi sebetulnya dapat membuat mood menjadi lebih baik. Banyak penelitian yang menunjukkan itu, bahwa menarik diri dari lingkungan justru malah membuat diri cenderung tidak bahagia. Maka dari itu, paksakan diri untuk keluar dan bersosialisasi, dan rasakan bedanya. Ini sebetulnya juga PR buat saya yang lebih senang ngamar dari pada harus terbang sana sini bersosialisasi, karena rasanya sungguh menguras energi. Tapi sebetulnya, dengan orang-orang yang tepat, bersosialiasi ternyata gak semelelahkan itu, justru beberapa kali saya malah mendapatkan insight dan pengalaman baru hanya melalui cerita dari orang lain. Jadi, mungkin untuk poin ini memang harus pilih-pilih juga ya, gak semua situasi sosial bisa membuatmu merasa bahagia.

3. Blaming and Controlling (Menyalahkan dan Mengontrol)

Menyalahkan orang lain berarti mempercayai bahwa kita tidak punya kontrol terhadap hidup kita. Tapi merasa selalu memiliki kontrol atas kehidupan ini, juga tidak akan membuat hidup bahagia. Poin ini sedikit banyak mengingatkan saya dengan dikotomi kontrol, yaitu menyadari dan menerima dengan lapang dada bahwa ada hal-hal yang bisa kita kontrol, namun juga banyak hal yang tidak bisa kita kontrol. Fokus pada hal-hal yang bisa kita kontrol, yang menyangkut diri sendiri. Hal-hal di luar diri sendiri, khususnya tentang orang lain, tidak perlu dipikirkan. Menganggap bahwa kita punya kontrol atas orang lain hanya akan membuat kita kecewa dan tidak bahagia.

4. Criticizing (Mengkritik)

Terkadang, memberikan kritik itu menyenangkan, tapi setelah melakukannya, ada perasaan bersalah yang gak nyaman dirasakan. Mungkin sesekali, untuk hal yang memang perlu, tidak masalah. Tapi, jika terlalu sering melakukannya, akan memberikan efek yang tidak baik untuk kita. Seorang sociopath justru mendapatkan kesenangan ketika melakukannya. Tapi untuk kita (yang kuharap bukan sociopath), mengkritik orang lain hanyalah tabiat buruk yang dilakukan dalam rangka membuat diri sendiri merasa lebih baik, padahal sebenarnya tidak. 

5. Complaining (Mengeluh)

Mengeluh bisa menjadi terapi saat menghapi hal-hal yang mengganggu, tapi jika dilakukan terlalu sering justru akan memicu ketidakbahagiaan. Mengeluh hanya akan membuat keyakinan yang negatif, tentang diri sendiri, tentang kehidupan. Menjadikan mengeluh sebagai sebuah kebiasaan, membuat kita cenderung menyalahkan keadaan dan menghambat kita untuk berkembang.

6. Impressing (Membuat Orang Kagum)

Dikagumi oleh orang lain memang menyenangkan. Tapi, melakukan sesuatu hanya dengan niat membuat orang kagum tidak akan memberikan kita kebahagiaan yang murni. Selalu mencoba membuat orang lain kagum gak akan membuat kita bertemu dengan orang-orang yang betul-betul menyukai kita apa adanya. Jadi, coba ganti motivasinya. Jangan melulu ingin dipuji, ingin dapat banyak "jempol", ingin dapat banyak "hati", tapi lakukanlah karena itu adalah sebuah kebaikan yang dilakukan untuk diri kita sendiri. 

7. Negativity (Bersikap Negatif)


Hidup memang gak selalu berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, tapi dibanding mengeluh dan menyalahkan keadaan, lebih baik menghitung hal-hal yang dapat kita syukuri. Menurut penelitian, pemicu ketidakbahagiaan terbesar adalah pesimistis. Selain merusak mood, ini juga akan membentuk yang namanya "self fulfilling prophercy", ketika selalu berekspektasi akan hal buruk, kita justru akan cenderung terbiasa mengharapkan hal buruk terjadi. Kalau kalian mempercayai yang namanya law of attraction, mungkin dari sekarang lebih baik untuk berpikir yang positif-positif saja. Lagipula, seperti yang SERING BANGET saya baca di buku manapun, dari sejuta pikiran negatif, mungkin hanya 1% saja yang betul-betul terjadi. Jadi, buat apa lelah menampung 99% lainnya?


I know I know. Talk is cheap, dulu juga saya termasuk orang yang sering berpikiran negatif juga kok, sering banget, hampir setiap menitnya mungkin. Tapi, kan ada yang namanya belajar.

8. Hanging Around Negative People (Bergaul dengan Orang Negatif)

Orang-orang negatif ini biasanya menginginkan orang lain untuk bergabung dengan "dunia pikiran negatif" mereka, hanya supaya mereka merasa lebih baik. Hati-hati mendengarkan cerita orang-orang ini. Jangan sampai yang tadinya kita hanya bersimpati mendengarkan kisah mereka, malah berujung tenggelam juga ke dalam pikiran negatif mereka. Lebih baik banyak-banyakin bergaul dengan orang-orang yang memberikanmu inspirasi. Ingat pepatah Rasul yang bilang untuk bergaul dengan penjual minyak wangi, "karena ia tidak akan merugikanmu, kau bisa membeli minyak wangi darinya atau minimal engkau mendapat baunya". 

9. Comparing Your Own Life to The Lives People Potray on Socmed (Membandingkan Hidup Sendiri dengan Hidup Orang Lain yang Ditampilkan di Social Media)

Ini kayaknya udah pada paham ya. Kita semua mencari 1 foto dari ribuan foto yang ada di gallery untuk diupload di social media. 1 foto gak akan bisa mewakilkan perjalanan hidup seseorang. Kita gak pernah tau apa yang telah terjadi dibaliknya. Social media adalah tempat untuk berbagi hal-hal menyenangkan dan indah, tentu saja itu yang akan kalian liat. 

Saya pernah membaca penelitian juga soal ini, penelitian Facebook. Setengah partisipan bermain Facebook seperti biasa selama seminggu, sedangkan setengahnya lagi tidak bermain sama sekali. Hasil penelitiannya di akhir minggu menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak bermain Facebook selama seminggu memiliki tingkat kepuasan hidup yang tinggi dan angka kesedihan yang rendah. Sedangkan untuk setengah partisipan yang bermain Facebook,55%, lebih dari setengahnya menunjukkan lebih mudah stress. Ingat selalu teman-teman, socmed rarely represent reality. Bahkan foto jelek pakai kamera jadulpun bisa menjadi indah dengan filter yang tersedia. Andaikan ada filter di kehidupan nyata ya. 

10. Neglecting to Set Goals (Mengabaikan Tujuan Hidup)

Tuhan ngasih kita harapan dan kemampuan untuk mengejar masa depan yang lebih baik. Tanpa tujuan, tanpa cita-cita, kita gak akan belajar, kita gak akan bergerak maju. Hanya diam, terseok-seok sambil bertanya-tanya tentang nasib yang gak juga berubah. Saya bersyukur karena gak pernah mendapatkan dialog semacam "liat tuh si Santi anak Bu RT udah jadi apa", tapi justru intimidasi datang dari mereka sendiri. Ibu dan Bapak yang ambisius bahkan di usia mereka yang sudah tidak lagi muda, kakak yang penuh dengan prestasi, dan adik yang diam-diam udah punya banyak karya. Rasanya, kalau saya hanya leyeh-leyeh, belanja minta uang ke suami, kok ya kayak bukan anak Bu Rini dan Pak Pram, gitu loh.

Meskipun kamu sama seperti saya, seorang ibu rumah tangga tak berpenghasilan banyak, coba lakukan hal-hal yang menjadi minatmu selama ini. Banyak sekali role model di luar sana yang sibuknya luar biasa, menjadi IRT atau wanita karir sekaligus dagang, jadi dosen, mana anaknya gak cuma satu lagi. Jadi kalau bilang, impian terhambat karena punya anak, itu mungkin ada managemen waktu yang perlu dibenahi. Ibu-ibu itu luar biasa hebat kok, saya yakin pasti bisa. Kebetulan, saya kemarin nonton film Netflix yang berjudul "Look Both Ways", kita akan memahami kalau impian selalu bisa diraih, dengan atau tanpa anak, meskipun situasi dan timelinenya akan terasa berbeda.

11. Giving in To Fear ( Mudah Takut)

Ketakutan hanyalah imajinasi saja. Rasa takut adalah pilihan. Apa yang kita takutkan, belum tentu terjadi. Orang-orang yang bahagia, mereka paham soal itu. Mereka ketagihan akan euforia perasaan saat berhasil menaklukan rasa takut. Ada kutipan tentang rasa takut, yang saya suka,


"What's the worst thing that can happen to you?
Will it kill you?
Yet, death isn't the worst thing that can happen to you.
The worst thing that can happen to you is..

Allowing yourself to die inside, while you're still alive"

12. Leaving The Present (Mengabaikan Masa Sekarang)

"No amount of guilty can change the past
No amount of anxiety can change the future"
Maka dari itu, untuk bahagia, fokuslah pada apa yang terjadi saat ini. Menerima apa yang telah terjadi di masa lalu dan menerima ketidakpastian akan masa depan, gak perlu mengharapkan sesuatu yang gak penting pada diri sendiri.

"Worrying is like paying a debt you don't owe", katanya. Bener juga ya?

Ada dua belas poin, beberapa poin belum saya tinggalkan, pantas aja selalu merasa ada yang kurang. Tak apa, hidup adalah ruang untuk belajar, selama masih hidup, selama itu jugalah kita belajar. 

Continue reading Ingin Lebih Bahagia? Tinggalkan 12 Kebiasaan Ini!

Friday, 30 July 2021

,

Wajah Bebas Jerawat, Begini 6 Cara Mengatasi Wajah Berminyak!

Memiliki kulit wajah berminyak memang seringkali membuat seseorang menjadi tidak percaya diri. Meski produksi minyak alami atau sebum sendiri sejatinya punya manfaat untuk melembabkan kulit. Namun, produksi yang berlebihan justru dapat memicu timbulnya jerawat dan membuat wajah tampak mengkilap. Oleh sebab itu, yuk kenali cara mengatasi wajah berminyak berikut ini!

Mengatasi Kulit Berminyak

1. Rutin Membersihkan Kulit Wajah

Guna menjaga agar produksi sebum terkendali dengan baik, maka kamu perlu rajin membersihkan kulit wajah setiap harinya. Disarankan untuk mencuci wajah maksimal 2 kali dalam sehari, yakni di pagi hari serta malam hari atau bisa juga setelah berolahraga dan ketika wajah terasa sedang berkeringat banyak.

Untuk jenis kulit berminyak sendiri, sabun cuci muka yang baik digunakan adalah dengan kandungan asam salisilat atau benzoil peroksida karena kandungannya tergolong lembut. Dalam hal ini, hindari penggunaan sabun cuci muka yang mengandung alkohol maupun wewangian, karena berisiko menyebabkan kulit iritasi, dan malah membuat kulit jadi lebih banyak memproduksi sebum. Namun penting untuk diingat, cara mengatasi wajah berminyak setelah mencuci muka harus dikeringkan dengan benar dan lembut, karena banyak sekali orang yang mengeringkan wajah dengan cara menggosoknya menggunakan gerakan menarik, bahkan handuk yang digunakan berbahan kasar, padahal ini bisa memicu kulit untuk kembali memproduksi lebih banyak sebum.

2. Mengaplikasikan Toner

Kelebihan minyak dapat menyumbat pori-pori kulit dan membuat timbulnya jerawat. Untuk itu, pengaplikasian toner penting untuk dilakukan. Toner dengan kandungan salicylic acid dan glycolic acid, dapat membantu mengurangi kelebihan minyak dan mengikis kotoran yang menempel di wajah, bahkan kandungan ini juga sekaligus membuat tekstur kulit wajah menjadi lebih baik. Kendati demikian, penggunaan toner juga sebaiknya jangan berlebihan jika tidak ingin membuat wajah menjadi kering, terlebih jika tipe kulit kamu ternyata adalah jenis kombinasi. 

Untuk itu, sebaiknya aplikasikan toner di area T zone atau pada bagian dagu, hidung, dan dahi yang mana produksi minyak biasanya lebih banyak di area ini. Kamu bisa mendapatkan berbagai produk skincare dan perawatan wajah lainnya melalui Ecommerce kecantikan lokal yakni Beauty Haul.

3. Oleskan Pelembab

Cara mengatasi wajah berminyak ternyata tetap membutuhkan pelembab. Hal ini biasanya membuat orang salah kaprah, karena sebagian besar orang mengira bahwa penggunaan pelembab akan membuat kulit tambah berminyak sehingga bisa menimbulkan jerawat. Namun, kulit berminyak pun butuh pelembab agar tetap terhidrasi dan mengurangi dampak penuaan dini. Agar tidak membuat wajah mengkilap, pilihlah pelembab yang berbahan dasar air alih-alih cream. 

Produk yang berlabel oil free juga bisa mencegah pori-pori tersumbat karena banyaknya produksi minyak. Kamu juga bisa memilih produk pelembab berupa gel lidah buaya, karena kandungan gel lidah buaya diyakini baik untuk mengobati jerawat pada kulit wajah berminyak. 

4. Melakukan Eksfoliasi

Melakukan eksfoliasi secara rutin dapat membantu mengangkat sel sel kulit mati di wajah sehingga penting untuk dilakukan pemilik kulit berminyak, karena sel sel kulit mati ini bisa menyebabkan pori pori tersumbat dan memicu timbulnya jerawat. Apalagi, eksfoliasi juga dapat mengecilkan dan menyamarkan pori pori, sehingga wajah akan lebih sulit terpapar radikal bebas.

Akan tetapi, pastikan kamu tidak melakukan eksfoliasi setiap hari sebagai cara mengatasi wajah berminyak. Karena eksfoliasi kulit ini adalah mengangkat sel sel kulit mati yang ada pada lapisan terluar kulit. Dengan kata lain, kulit kamu bisa bertambah tipis apabila dilakukan terlalu sering. Oleh karena itu, penggunaan produk eksfoliasi juga tidak boleh berlebihan.

5. Rutin Memakai Masker Wajah

Rutin menggunakan masker wajah bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan kulit wajah sehat. Bagi kulit yang berminyak, produk seperti clay mask atau mud mask merupakan produk yang dinilai paling manjur, karena masker ini mengandung mineral seperti bentonite dan smectite, yang bisa mengangkat minyak berlebih pada wajah. Namun, sama halnya dengan eksfoliasi kulit, aplikasi masker wajah seperti clay mask atau mud mask juga tidak boleh setiap hari. 

Sebaiknya gunakan masker seminggu sekali agar wajah terlihat kurang mengkilap tanpa membuatnya iritasi. Lalu jangan lupa untuk mengoleskan pelembab setelahnya, agar kulit wajah tetap terhidrasi dengan baik.

6. Gunakan Kosmetik Khusus Kulit Berminyak

Tidak hanya terkait produk skincare saja, cara mengatasi wajah berminyak juga harus memperhatikan produk kosmetik yang digunakan. Pasalnya untuk para wanita, kosmetik merupakan produk sehari hari yang digunakan ketika beraktivitas di luar rumah. Ternyata pemilihan kosmetik pun tidak boleh sembarangan, dan harus memperhatikan kondisi kulit wajah.

Dalam hal ini, sebaiknya gunakan kosmetik yang water based dan memiliki label oil free agar hasil penggunaannya menjadi matte di wajah. Selain itu, kamu juga bisa mencari berbagai produk kecantikan yang memiliki kandungan L-carnitine, teh hijau, niacinamide, atau ekstrak licorice yang dikenal mampu mengontrol minyak berlebih. Disarankan juga untuk menggunakan skincare untuk kulit berminyak agar kulit bisa kembali normal. 

Itulah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kulit wajah berminyak. Di samping itu, kamu juga dapat menerapkan pola hidup sehat dan menjaga pikiran agar terhindar dari stress, sebab makanan yang dikonsumsi hingga stress termasuk sebagai salah satu faktor pemicu jerawat dan membuat kulit memproduksi sebum lebih banyak.



Continue reading Wajah Bebas Jerawat, Begini 6 Cara Mengatasi Wajah Berminyak!

Wednesday, 14 July 2021

,

English Academy by Ruangguru, Partner Orang Tua dalam Mengajarkan Anak Bahasa Inggris

Suatu kali, saya pernah mengantri di sebuah supermarket besar. Tepat di belakang saya, seorang gadis cilik berusia kurang lebih 4 tahun, merengek minta dibelikan mainan. Saya terpukau melihatnya, bukan karena rengekannya, tapi karena bahasa yang ia gunakan. Ia menggunakan bahasa inggris fasih, yang bahkan pronouncationnya pun lebih baik dibandingkan saya yang berusia lebih dari seperempat abad. Kejadian itu menyadarkan saya bahwa betapa orang tua masa kini sudah sangat concern terhadap kemampuan anak, salah satunya penggunaan Bahasa Inggris di dalam keseharian.

Cerita di atas hanyalah salah satu contoh saja. Faktanya, saya seringkali melihat betapa anak-anak sekarang punya kemampuan yang jauh lebih maju dibandingkan anak-anak di zaman saya. Tuntutan dan persaingan yang tinggi di dunia pendidikan dan pekerjaan saat ini, membuat orang tua merasa harus memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, salah satunya ya tadi itu, kemampuan dalam berbahasa Inggris. Ini bukan tentang ambisi orang tua yang ingin anaknya serba bisa, tapi ya karena kita tidak bisa mengelak baahwa berbagai kemajuan yang terjadi di era globalisasi ini menuntut anak gak sekedar punya deretan nilai 9 di raport, dan saya yakin gak ada orang tua yang rela melihat anaknya terseok-seok dalam menghadapi tuntutan itu.

Solusi untuk permasalahan di atas sangat sederhana. Orang tua hanya perlu bekerja lebih keras dalam mengajari anak-anak mereka dalam berbahasa inggris. Namun, permasalahan yang seringkali terjadi, gak semua orang tua mampu melakukannya. Bukan karena mereka tidak menguasai bahasa inggris, tapi yang namanya mengajar, transfer ilmu, adalah hal yang berbeda dari sekedar menemani dan membantu belajar. Dibutuhkan skill yang  mumpuni agar materi yang disampaikan mudah dipahami dan tepat sasaran. Luckily, orang tua dapat mencari partner yang dapat membantunya dalam mengatasi hal ini. 

English Academy Ruangguru

Ruangguru adalah solusi yang tepat apabila orang tua merasa kesulitan dalam mengajarkan anak bahasa inggris. Dengan guru-guru lokal terbaik dan juga guru professional berstandar internasional (native speakers) di dalamnya, Ruangguru menyediakan fasilitas English Academy, di mana anak-anak dapat belajar Bahasa Inggris dengan metode-metode yang menarik, seperti kelas live teaching bahasa inggris secara online dengan kurikulum berstandar internasional. Penggunaan kurikulum berstandar internasional ini tampaknya adalah plihan yang tepat, karena orang tua sudah pasti menginginkan anaknya untuk dapat maju dan bersaing, tidak hanya untuk kepentingan nilai semata, tapi juga untuk mempersiapkan diri mereka kelak dalam melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, atau bahkan untuk mempersiapkan diri mereka dalam mengejar pekerjaan impian mereka kelak.  

English Academy Ruang Guru

Tidak hanya praktis dan fleksibel (karena Ruangguru diakses melakui aplikasi dan dapat digunakan di mana saja dan kapan saja), English Academy by Ruangguru juga memberikan penawaran yang menarik mengenai harganya. Bayangkan saja, dengan kualitas yang ditawarkan, harganya hanya setengah dari harga kursus bahasa inggris konvensional. 1,5 juta rupiah untuk paket 3 bulan dan 5 juta rupiah untuk paket 1 tahun. Bahkan di periode launching, English Academy memberikan tambahan diskon sebesar 20% sehingga paket 3 bulan hanya menjadi 1,35 juta rupiah dan 4,5 juta rupiah untuk paket 1 tahun. Dengan kemudahan dan keringanan yang didapatkan berkat kemajuan teknologi ini, sudah seharusnya orang tua tidak perlu lagi cemas akan kemampuan anak-anak mereka dalam berbahasa inggris. Meskipun begitu, bukan berarti orang tua lepas tangan dalam hal ini. Sudah jelas bahwa Ruangguru adalah "partner" orang tua dalam membimbing anak-anak mereka. Arti partner di sini berarti rekan, sama-sama punya andil yang besar untuk kemajuan anak-anak. 

Jadi gimana, parents? Sudah siap untuk membantu anak-anak maju dan bersaing untuk mengejar impian mereka?

Continue reading English Academy by Ruangguru, Partner Orang Tua dalam Mengajarkan Anak Bahasa Inggris

Sunday, 11 July 2021

Berprestasi dan Berevolusi Bersama Teman Belajar di Ruangguru PET

Melihat apa yang terjadi saat ini, saya betul-betul dibuat kagum oleh perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi betul-betul dapat dirasakan di semua sektor, termasuk pendidikan salah satunya. Saya mencoba mengingat-ingat kembali 13 tahun yang lalu, saat saya berusaha mati-matian belajar untuk menghadapi UAN (yes, I'm that old) lalu membandingkannya dengan cara belajar adik-adik saat ini, saya langsung merasa kala itu saya primitif sekali. Kenapa saya bilang primitif? Karena "belajar" yang saya lakukan saat itu rasanya hanya sebuah kewajiban yang harus saya lakukan, suka atau tidak. Dan, tentu saja, saya tidak suka. Setiap mendengar kata "belajar", yang terlintas adalah komat-kamit mengulang teori berkali-kali di dalam kepala sambil memejamkan mata, mengerjakan soal hitungan dengan menuliskan kembali angka-angka yang ada dalam soal tanpa tau harus diapakan, dan ya, yang terlintas adalah SKS, sistem kebut semalam. Tentu saja, kita semua tau betul hukum sistem kebut semalam, materi hanya akan mampir di memori jangka pendek. Bisa ingat sehari dua hari saja sudah untung, tapi ya jika dipahami kembali esensi belajar itu apa, rasanya SKS itu sia-sia, bukan?

Tunggu, sebetulnya poin utama yang ingin saya bahas bukan itu. Bukan tentang cara belajar saya yang saat itu primitif, tapi tentang betapa zaman sudah berubah, dan teknologi adalah salah satu alasan yang paling berpengaruh di sini. Siapa sangka, teknologi bahkan bisa membuat "belajar" menjadi sesuatu yang menyenangkan. Padahal, membuat seorang anak mencintai pelajaran bukanlah hal yang mudah, tapi ternyata Ruangguru dapat mewujudkannya, Ya, Ruangguru. Bagi yang belum familiar dengan namanya, Ruangguru merupakan aplikasi belajar online terbaik di Indonesia. Mereka mengembangkan berbagai layanan berbasis teknologi, termasuk layanan kelas virtual, platform ujian online, video belajar berlangganan, marketplace les privat, serta konten-konten pendidikan lainnya yang bisa diakses melalui web dan aplikasinya.

Ruangguru Pet Mission

Dari banyaknya fitur menarik yang ditawarkan Ruangguru, ada satu fitur yang menurut saya sangat menarik dan sudah pasti akan saya gunakan jika saja saya masih seorang pelajar, yaitu fitur PET MISSION. Di dalam Pet Mission, anak-anak dapat memilih teman belajar yang akan menemani mereka dalam tumbuh dan berkembang semakin berprestasi. Pilihannya adalah Modo (Komodo), Harry (Harimau Smatra), dan Candra (Burung Cenderawasih). Ketiga karakter ini diambil dari hewan-hewan langka di Indonesia yang terancam punah,

Teman belajar ini dapat terus berkembang dan berevolusi jika kamu merawatnya. Bukan, bukan dengan diberi makan, tapi dengan menyelesaikan misi-misi yang ada di dalamnya. Semakin sering kamu menyelesaikan misi yang ada, semakin cepat teman belajarmu tumbuh berevolusi. Contohnya seperti di bawah ini, untuk mendapatkan 1 elemen evolusi, kamu harus belajar minimal 15 menit per hari selama 4 hari. 

Ruangguru Pet Mission

Sekilas mungkin terdengar sepele, apa sulitnya sih belajar 15 menit? Tapi hey, bagi yang belum terbiasa menyediakan waktu untuk belajar, 15 menit akan terasa lama dan membosankan. Tapi tenang saja, metode belajar yang disediakan oleh Ruangguru, jauh dari kata membosankan. Guru-guru terbaik tersedia di sana. Cara belajar yang disediakanpun gak monoton dan interaktif, sehingga anak-anak akan terbiasa mengasosiasikan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan, bukan membosankan.

Menurut saya,  fitur Pet Mission ini adalah sebuah inovasi yang cerdik karena ya.. People, especially the young one, loves challenges, apalagi jika dikaitkan dengan fitur-fitur semi game seperti ini. Secara gak langsung juga, fitur ini menunjukkan pada anak-anak, bahwa belajar adalah suatu proses yang berkepanjangan yang merupakan tanggung jawab diri sendiri. Harry, Modo, dan Candra bukan saja menjadi teman belajar anak-anak, tapi juga sebagai visualisasi bahwa butuh usaha yang optimal untuk dapat terus berkembang menjadi lebih baik dan lebih kuat, seperti yang terjadi pada Modo, Harry, dan Candra dalam berevolusi. Dari sini saja kita dapat melihat bahwa Ruangguru dapat membuat anak lebih baik dari segi nilai mapun karakter.

Jadi bagaimana, sudah putuskan siapa yang akan menjadi teman belajarmu?

Continue reading Berprestasi dan Berevolusi Bersama Teman Belajar di Ruangguru PET

Tuesday, 15 September 2020

, , ,

MengASIhi dengan Penuh Nutrisi Bersama Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG)

Saya teringat, sekitar 10 tahun lalu, ketika teman-teman lain sedang kebingungan memikirkan cita-cita dan harapan mereka di masa depan, saya dengan mantap bilang, kalau saya ingin menjadi seperti ibu saya. Sekilas memang terkesan dewasa dan mulia, padahal alasan saya saat itu adalah, karena saya ingin banyak bersantai dan memiliki banyak waktu luang. Ya, saat itu, saya pikir menjadi seorang ibu rumah tangga adalah hal yang mudah dan santai. Ternyata, angan-angan itu luntur tepat ketika saya melahirkan seorang putri yang cantik, Baby Al.

Waktu luang yang saya impikan ternyata hanya ilusi. Kalau kalian mengikuti blog saya, kalian pasti ingat betapa saya frustasi melewati hari-hari awal menjadi seorang ibu. Gimana nggak, dari hari pertama saja saya gak bisa memenuhi kebutuhan ASI Baby Al, padahal ASI yang dibutuhkan bayi newborn hanyalah 7 ml, sedangkan produksi ASI saya saat itu hanya 3 ml. Iya, 3 ml. Berbagai upaya dilakukan untuk membuat produksi ASI meningkat. Sempat happy sesaat, tapi kemudian ujian lain datang lagi,  puting saya lecet sampai mengubah ASI menjadi berwarna pink karena tercampur darah.
 
Saat itu, rasanya ingin menyerah saja. Tapi kemudian saya ingat kembali, bahwa mengASIhi atau menyusui adalah satu tanggung jawab yang otomatis saya miliki ketika saya menjadi seorang ibu. Meminum ASI juga adalah hak seorang bayi saat terlahir di dunia, satu-satunya nutrisi yang ideal selama 6 bulan pertama kehidupannya. Makanya saya benci ketika ada seorang ibu yang bersikukuh untuk menolak memberi ASI hanya dengan alasan my body is my rule. Beda cerita kalau memang ada kondisi yang gak memungkinkan bagi seorang ibu untuk menyusui.

Kini, Baby Al sudah menginjak usia 11 bulan. Saya masih keras kepala tetap memberikannya ASI. Gak ada keraguan bagi saya untuk tetap mempertahankan ASI sebagai salah satu asupan makanan Baby Al. Ya jelas, wong manfaat ASI itu buanyak banget. Jadi, meskipun gak gampang, saya tetap mengupayakan Baby Al mendapatkan haknya.
 
Cara Membuat Produksi ASI Melimpah

Kebanyakan ibu-ibu, termasuk saya, berusaha keras untuk meningkatkan kuantitas ASI. Inginnya sekali pump, bisa 400 ml. Untuk mendapatkan produksi ASI yang melimpah seperti itu, banyak sekali tips-tips yang disampaikan para profesional, tapi ada 4 poin di antaranya yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi produksi ASI saya, yaitu:

1. Memijat Payudara

Memijat payudara ini bisa dilakukan sendiri, meskipun beberapa ada yang merasa lebih nyaman jika dibantu oleh praktisi laktasi profesional. Caranya gak sulit, kita hanya membutuhkan air hangat, washlap, olive oil (atau minyak lainnya) dan tangan tentunya. Untuk gerakan pijatnya, hmm... saya yakin kalian paham kalau menjelaskan teknik pijat melalui tulisan gak semudah melihat gerakannya sendiri, so.. go searching on youtube. Ketik aja "pijat laktasi", banyak sekali informasi yang akan kamu dapatkan,

2. Rutin MengASIhi/ memompa
 
Produksi ASI ini mengikuti teori supply dan demand. Semakin banyak ASI dikeluarkan, baik dengan cara menyusui atau pumping, maka produksi akan semakin banyak. Apabila bayi sudah kenyang menyusui, tapi payudara masih terasa penuh, lebih baik tetap dipompa, supaya keesokan harinya, produksi ASI tetap banyak.

3. Hindari stress, buat suasana yang menyenangkan

Hormon oksitosin, hormon yang datang ketika kita sedang bahagia ini punya peranan penting dalam kelancaran produksi ASI. Ini bisa saya rasakan, bagaimana perbedaan produksi ASI saat saya sedang merasa rileks dengan saat saya berada di bawah tekanan. Oleh karena itu, pengelolaan stress pada ibu menyusui sangat dibutuhkan. Bohong kalau saya bilang menghindari stress itu mudah. Buat saya yang pencemas, stress bahkan bisa datang dari hal-hal kecil yang menurut orang lain mungkin hanyalah hal sepele. Tapi balik lagi, kalau mengingat begitu pentingnya hormon ini bagi produksi ASI, sebisa mungkin saya akan menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi diri sendiri, yang juga didukung oleh suami dan keluarga. 

Bagi saya, peran suami kala menyusui sangat berpengaruh, gak usah sampai pijat oksitosin, bentuk perhatian sederhanapun dapat membuat saya merasa lebih bahagia. Misalnya, suami gak pernah membiarkan gelas di kamar kosong, supaya saya selalu ingat untuk minum. Sebagian besar pekerjaan rumah tanggapun diambil alih olehnya, dan yang saya amati, selama ini suami jarang bercerita tentang hal-hal negatif, terkecuali saya yang mengintrogasi. Dia tau saya orang yang mudah cemas dan stress, bercerita tentang hal-hal negatif hanya akan membuat hari-hari saya gak bergairah.

Kalau suami sedang kerja dan saya merasa butuh meningkatkan mood, biasanya saya menonton film atau acara-acara komedi. Ini juga lumayan membantu. Gak jarang di siang atau malam hari, saya mencari tontonan yang ada Kang Sule nya di youtube, karena beliau selalu sukses bikin saya ngakak dan bikin hari saya lebih baik. Hatur nuhun ah, Kang Sule!

4. Meminum banyak air putih

ASI keluar dalam bentuk cairan, 88% komposisi ASI adalah air. Jadi bisa dibilang kalau air adalah bahan dasar ASI. Kebutuhan air ibu menyusui adalah 2,8 liter, 800 ml lebih banyak dari orang lain. Kekurangan air pada ibu menyusui bukan hanya berdampak pada produksi ASI yang gak optimal, tapi juga berdampak pada kesehatan ibu menyusui. Dehidrasi, kram otot, sakit kepala adalah beberapa masalah yang akan dirasakan ketika busui kurang minum.
 
Nah, 4 poin yang telah saya uraikan di atas telah sukses membuat produksi ASI saya menjadi banyak.  Tapi kalau kita berbicara tentang ASI, tentu kita gak hanya bicara tentang kuantitasnya, tapi kualitasnya juga. Sayang sekali kalau produksi ASInya melimpah, tapi nutrisi yang terkandung di dalamnya gak diperhatikan. Untuk itu, saya akan lanjutkan dengan tips agar produksi ASI optimal, gak hanya secara kuantitas, tapi juga secara kualitasnya.
 
Cara Membuat Produksi ASI Berkualitas, Penuh dengan Nutrisi

Hanya 1 cara membuat produksi ASI kita berkualitas, dan satu-satunya cara itu adalah memperhatikan segala makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Selalu ingat bahwa apa yang kita makan, akan dimakan juga oleh bayi. Kalau sudah menanamkan pemahaman itu, gak mungkin kan kita seharian cuma makan seblak?

Makanan yang sehat dengan gizi seimbang adalah kunci utama ASI yang berkualitas. Tapi, terkadang, makanan yang kita makan dalam sehari, belum memenuhi nutrisi yang dibutuhkan, oleh karena itu perlu suplemen khusus untuk melengkapinya. Luckily, Kalbe Blackmores Nutrition memahami bahwa setiap Ibu berhak untuk mendapatkan nutrisi yang cukup untuk mendukung kesehatan dan juga bayinya. Melalui produk yang mereka luncurkan, yaitu Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG), Kalbe mendukung para ibu menyusui agar dapat selalu meberikan ASI yang bernutrisi kepada buah hatinya, karena Kalbe percaya bahwa setetes ASI yang diberikan oleh sang Ibu, adalah salah satu bentuk kasih sayang yang tulus.

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG)

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) mengandung 17 nutrisi esensial yang dibutuhkan ibu menyusui, yaitu:

  • Asam Folat, yang berfungsi untuk menjaga kesehatan ibu menyusui dan bayi. Bagi sang ibu, asam folat berguna untuk menghasilkan sel-sel baru, membantu memproduksi sel darah merah, sehingga ibu menyusui terhindar dari anemia. Sedangkan bagi bayi, asam folat memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan otak, membantu meningkatkan fungsi otak bayi, terutama kemampuan melihat dan memproses informasi.
  • Kalsium, yang berperan penting dalam mengendalikan tekanan darah, mencegah pembekuan darah, dan memelihara kesehatan tulang dan gigi pada ibu menyusui dan bayi. Penting bagi ibu menyusui untuk selalu mengonsumsi makanan yang kaya akan kalsium. Apabila asupan kalsium kurang, bayi akan mengambil asupan kalsiumnya dari tulang dan gigi ibunya. Jika dibiarkan seperti itu, kalsium yang ada pada tulang dan gigi ibu akan semakin berkurang. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya osteoporosis.
  • Zat Besi, yang berperan dalam membentuk hemoglobin. Hemoglobin ini mengalirkan oksigen ke seluruh bagian tubuh. Kekurangan zat besi dapat membuat ibu menyusui maupun bayi menjadi lemah, lelah, dan mudah terkena penyakit dikarenakan sel-sel tubuhnya kekurangan oksigen.
  • Omega 3/ DHA, yang memiliki peranan penting dalam perkembangan otak dan mata. Penelitian juga membuktikan bahwa ibu yang kadar DHA dalam darahnya tinggi, memiliki anak yang yang lebih baik dalam kemampuan inderawi, kognitif, dan gerak motorik.
  • Vitamin dan mineral lainnya, seperti niasin, vitamin C, zinc, magnesium, dan beberapa vitamin dan mineral lainnya yang juga dibutuhkan oleh ibu menyusui dan bayi.

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG)

Dengan deretan nutrisi yang terkandung dalam  Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG), membuat saya tenang. Kerap kali saya merasa bersalah kalau sekali-kali makan makanan favorit saya, seperti mie instan, seblak, batagor, dan jajanan lainnya. Padahal, katanya kan ibu menyusui harus selalu happy. Gimana bisa happy kalau saya gak bisa ngicip-ngicip jajanan favorit saya, meskipun hanya sesekali.

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG)

Dian, selaku Head of Marketing Kalbe Blackmores Nutrition memaparkan, “Kalbe Blackmores Nutrition melalui produk untuk ibu hamil dan menyusui, Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG), berupaya untuk membantu ibu hamil dan menyusui mendapatkan nutrisi yang cukup untuk mendukung kesehatan ibu dan bayi. Blackmores PBFG mengandung 17 nutrisi esensial yang dibutuhkan agar ibu dapat secara optimal memberikan asi bernutrisi, khususnya di masa 1.000 hari pertama kehidupan si buah hati."

Memperingati World Breastfeeding Week 2020, Kalbe Blackmores Nutrition, bersama blogger yang pernah atau sedang menyusui, memberikan serangkaian edukasi di media sosial (termasuk di websitenya), bagi sesama ibu hamil dan menyusui, mengenai pentingnya ASI dan masa menyusui serta pemenuhan ASI bernutrisi untuk ibu dan bayi.

“Di Kalbe Blackmores Nutrition, kami menyadari pentingnya dukungan dari berbagai pihak untuk dapat menyukseskan pemberian ASI. Masih dalam rangka memperingati World Breastfeeding Week 2020, selain  mengedukasi seputar ASI dan menyusui melalui akun Instagram @blackmoresid, Kalbe Blackmores Nutrition juga mengajak para ibu untuk berbagi pengalaman dan tantangan di masa-masa menyusui serta dukungan lingkungan dan orang-orang terdekat dalam membantu menghadapi tantangan di masa-masa menyusui,” ujar Tiffany Pratiwi Suwandi, Brand Manager Kalbe Blackmores Nutrition. “Harapannya agar dengan berbagi pengalaman dari dan dengan sesama ibu, para ibu hamil dan menyusui menyadari bahwa ia tidak sendiri, sehingga nantinya dapat lebih percaya diri menjalani masa-masa menyusui dan memberikan ASI bernutrisi bagi buah hati,” tambah Dian.

Jadi, bagi saya  Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) ini semacam solusi bagi ibu menyusui yang merasa kesulitan dalam memenuhi nutrisi-nutrisi yang penting bagi dirinya dan juga bayinya karena  Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) ini adalah suplemen dengan kandungan lengkap, 17 nutrisi esensial, bantu penuhi nutrisi ibu sehingga dapat memberikan ASI bernutrisi untuk buah hati. Artinya, mengonsumsi suplemen ini bukan hanya bentuk kasih sayang ibu buat sang buah hati, tapi juga untuk dirinya sendiri.

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG)

Setiap harinya, ibu hamil ataupun menyusui disarankan untuk meminum 2 kapsul. Namun, kembali lagi, dosis harus menyesuaikan kebutuhan masing-masing ibu. Gak ada kesulitan bagi saya dalam mengonsumsi kapsul Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) yang sebetulnya berukuran cukup besar ini, dikarenakan kapsulnya mudah ditelan dan gak berbau amis sama sekali. Ternyata Blackmores Pregnancy & Breastfeeding Gold ini mengandung odourless fish oil (minyak ikan tanpa bau amis) yang juga kaya akan DHA untuk mendukung pertumbuhan otak bayi, mata, dan sistem saraf.

Buat saya, mengonsumsi Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) ini semacam investasi kesehatan jangka panjang bagi saya dan juga Baby Al. Mungkin dalam jangka waktu pendek, manfaat yang diberikan nutrisi-nutrisi ini gak banyak terlihat terkecuali daya tahan tubuh yang semakin kuat sehingga terhindar dari berbagai macam penyakit. Tapi justru ini kan yang disebut suplemen, bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati. Apalagi, jika kembali melihat daftar nutrisi yang terkandung dalam Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG), sangat banyak manfaat yang akan saya dan Baby Al dapatkan kelak. Saya yakin, semua ibu juga pasti sepakat dalam hal ini. Ibu mana sih yang gak mau mengusahakan yang terbaik untuk anaknya?

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG)

Ada hal lain yang bikin saya salut dan kagum dengan Kalbe Blackmores Nutrition. Kalian pernah dengar yang namanya Yayasan Bumi Sehat? Yayasan Bumi Sehat adalah organisasi non-profit yang terletak di desa Nyuh Kuning, Ubud, Bali, yang awalnya berfokus pada pelayanan ibu yang akan melahirkan. Ibu Robin, selaku pendiri Yayasan Bumi Sehat, mengutarakan bahwa berdirinya Yayasan Bumi Sehat ini dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi yang dirasakannya mengenai proses melahirkan yang terjadi di beberapa rumah sakit komersil yang menyebabkan beberapa kerabatnya tidak sukses dalam mengantarkan bayi ke dunia. Menurutnya, rumah sakit bersalin gak selalu mengupayakan para ibu hamil untuk melahirkan secara normal, hanya demi kepentingan profit yang didapat dari ibu-ibu yang melahirkan caesar (meskipun gak semua rumah sakit seperti itu). Akhirnya, Ibu Robin mulai memberikan layanan kesehatan secara gratis dan memperkenalkan gentle birthing service. Itulah awalnya Yayasan Bumi Sehat dibentuk dan masih bertumbuh hingga sekarang menjadi organisasi non-profit yang berfokus pada penyediaan akses layanan kesehatan berkualitas, higienis, serta pengupayaan kelahiran anak secara layak.

Lalu, apa hubungannya dengan Kalbe Blackmores Nutrition? Jadi, aksi Kalbe dalam mendukung Ibu menyusui gak berhenti sampai di peluncuran produk-produknya saja, tapi ada aksi nyata lainnya yang ditunjukkan berupa kerja sama dengan Yayasan Bumi Sehat sejak tahun 2017 melalui pembagian 12.000 botol  Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) setiap tahunnya di Klinik Bumi Sehat yang tersebar di 3 kota, yaitu Denpasar, Papua, dan Aceh. Saya takjub, kagum, sekaligus sedih. Takjub dan kagum meliat betapa seriusnya orang-orang dalam mengampanyekan pentingnya setiap tetesan ASI seorang ibu bagi anaknya, tapi juga sedih melihat masih banyak ibu-ibu yang nyatanya mampu, tapi lebih memilih "jalan ninja" dengan memberikan nutrisi lain.

 
Terakhir, seperti yang tadi saya bilang, seorang ibu mampu melakukan segala macam cara untuk memastikan anaknya mendapatkan yang terbaik. Begitu juga dengan apa yang saya lakukan. Pilihan saya untuk tetap mengASIhi dengan penuh nutrisi bersama Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) adalah keputusan yang akan selalu saya syukuri. Sekarang, dan juga nanti, ini akan menjadi salah satu wujud cinta saya pada anak. Makanya, saya sangat merekomendasikan Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) ini pada siapapun yang mencintai dirinya sendiri dan juga buah hatinya. Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) adalah sebuah jalan untuk mendapatkan ASI yang bernutrisi untuk ibu dan bayi yang istimewa.

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) ini memiliki 3 kemasan, yaitu kemasan yang berisi 60 kapsul, 120 kapsul, dan 180 kapsul. Juga, bisa didapatkan dengan mudah di e-commerce manapun, seperti Tokopedia, Lazada, dan Shopee, yang bertuliskan Official Store.

Continue reading MengASIhi dengan Penuh Nutrisi Bersama Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG)

Saturday, 6 June 2020

, ,

CORETAN MAMANIS : Drama Trimester 4, Drama Berusaha Menjadi Ibu Sempurna

Melanjutkan cerita kemarin tentang betapa menakjubkannya melahirkan seorang anak, kali ini saya ingin cerita tentang gak kalah "menakjubkannya" hari-hari setelah menjadi seorang ibu. Ah ya, selama saya hamil, saya sering baca-baca seputar baby blues, menyusui, dan juga tahapan-tahapan perkembangan bayi. Mendengar baby blues bukan hal asing bagi saya yang pernah mempelajari topik ini di bangku kuliah. Saya paham, kalau hormon-hormon melahirkan ini punya banyak andil terhadap kondisi emosional ibu yang baru melahirkan. Satu hal yang bikin saya khawatir, jangankan meny pengaruh hormon, tanpa adanya hormon-hormon itupun saya memang orang yang cukup emosional. Makanya, saya banyak cari tips-tips dalam menghadapi baby blues, untuk persiapan nanti. Saya juga udah wanti-wanti Mas Suami perihal baby blues ini. Apakah artinya saya bisa terhindar dari baby blues? Hmm... Tidak semudah itu, Marisol.


Kembali ke cerita, setelah persalinan, hanya dalam hitungan beberapa jam, saya sudah bisa banyak gerak. Orang-orang yang melihat saya kadang heran dan ikut ngilu-ngilu, kok baru melahirkan udah "lincah" aja. Jawabannya jelas, karena saya masih di bawah pengaruh pain killer, gak kerasa sakit sama sekali. Setelah pindah ke kamar perawatan, Baby Al langsung ikut di dalam kamar. Saya masih canggung untuk ngotak ngatik Baby Al. Jangankan membedong atau ganti popok, ngangkat bayi aja rasanya deg deg serrr. Untung suster di sana super gesit.

Malam pertama dengan Baby Al sungguhlah berat. Baby Al menangis sepanjang malam. Setiap saya kasih ASI, dia bisa tidur. Tapi selang 10 menit, dia kembali menangis. Kala itu, saya gak tau apa yang salah, apa yang bikin dia menangis. Biasanya suster datang dan membantu menenangkan, ataupun menggantikan popoknya. Suster bilang, bayi newborn gini kalau nangis biasanya karena 3 hal, lapar, ingin ganti popok, atau ingin digendong. Alhasil, sepanjang malam pertama itu, ritmenya sama. Menyusui, ganti popok, gendong, menyusui, ganti popok, gendong. Bahkan esoknya saya seringkali tertidur dengan posisi duduk sambil menggendong Baby Al.


Setiap pagi, Baby Al dibawa suster untuk dimandikan dan diperiksa kesehatannya. Hari kedua, suster bilang kalau BB Baby Al turunnya lebih dari batas normal. Selain itu, ada kemungkinan bilirubin Baby Al tinggi, karena terlihat kuning. Satu-satunya cara untuk mengatasi 2 permasalahan tersebut adalah dengan memberikan ASI terus menerus pada Baby Al. Melihat kondisi Baby Al, DSA bilang kalau kemungkinan ASI saya gak keluar, makanya BB Baby Al turun. Awalnya saya gak percaya, karena selama hamil, ASI saya sering banget rembes-rembes ke baju. Ternyata, ASI rembes saat hamil itu gak ada hubungannya dengan produksi ASI itu sendiri. Waktu dipumping di rumah sakit, 1 payudara hanya menghasilkan 3 cc aja. Sedih gak sih? Padahal saya ngerasa payudara saya penuh banget, kaya mau meledak gitu. Tapi kok isinya gak keluar?

Suster dan DSA menyarankan saya untuk memberi Baby Al susu formula untuk sementara waktu, karena melihat bilirubin Baby Al yang tinggi dan BB nya yang semakin turun. Awalnya saya gak tega, apalagi dari informasi-informasi yang saya dapatkan selama mempelajari ilmu menyusui, susu formula adalah opsi paling paling paliiiing terakhir. Tapi, saya lebih gak tega kalau lihat Baby Al yang nagis terus menerus karena lapar, dan lihat kulit dan matanya yang terlihat kuning. Awalnya, saya tetap bersikeras menolak pemberian susu formula sampai akhirnya saya keluar dari rumah sakit. DSA mengijinkan dengan catatan saya harus menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa pihak rumah sakit sudah merekomendasikan untuk pemberian susu formula, sehingga apabila kondisi Baby Al menjadi buruk, rumah sakit tak mau disalahkan. Agak kesal sih lihatnya, tapi ya mau gimana lagi.


Sepulangnya saya ke rumah, pola tidur Baby Al sama seperti di rumah sakit. Tidur sebentar, lalu terbangun nangis kelaparan. Begitu saya susui, ia tertidur lagi. Tapi gak lama, bangun lagi. Jelas banget kalau dia lagi lapar. Bolak balik saya terbangun ssambil menangis karena lelah, juga gak tega melihat Baby Al yang lapar. Inilah masa-masa saya mengalami baby blues. Di satu sisi, saya merasa gak bisa menjadi ibu yang sempurna karena merasa banyak kekurangan dalam mengurus Baby Al, tapi di sisi lain saya merasa sangat lelah dan merasa sendirian melewati fase ini. Mas suami tentu saja membantu dan sigap ketika saya minta pertolongan, tapi entahlah.. rasanya itu masih kurang. Ada perasaan gak berdaya tiap melihat Baby Al, "Apa sanggup saya mengurus bayi manusia ini, sedangkan untuk menenagkan tangisannya saja saya pusing setengah mati", pikiran itu berulang-ulang terlintas di pikiran saya.


Seringkali, saya menangis tiap malam, tanpa tau penyebab pastinya. Suatu malam saya terbangun karena tangisan Baby Al. Di tengah rasa lelah, setelah menidurkan kembali Baby Al, saya kembali menangis. Saya yakin betul tangisan saya cukup kencang, dan menjadi semakin kencang ketika melihat Mas Suami yang tertidur pulas tanpa mendengar tangisan saya. Esoknya, karena saya gak tahan dengan kondisi ini, saya mengadu kepada Mas Suami kalau saya seringkali menangis, seringkali sedih. Mas Suami yang pada dasarnya cuek dan kurang peka, cukup terkejut. Dia gak melihat dan merasa ada yang salah dengan saya, karena saya gak cerita. Ya, Mas Suami adalah tipe suami yang menegaskan kalau dirinya bukan Dedy Corbuzier yang bisa baca pikiran, ia menomorsatukan komunikasi melalui ucapan, bukan melalui pikiran. Akhirnya bocor lah pertahanan saya, saya cerita semua muanya tentang perasaan yang saya alami, perasaan sendirian, gak mampu, lelah, dan berbagai deretan keluhan selama ini. Suami langsung memeluk erat dan bilang, "Kenapa gak pernah cerita? Kamu gak pernah sendirian". Ajaibnya, meskipun pelukan itu gak lama, karena Baby Al keburu terbangun, saya merasa tenang, merasa aman, dan yakin, kalau saya bisa.

Drama gak berhenti sampai di situ. Setelah mengonsumsi susu formula selama beberapa hari, ternyata ASI saya mulai keluar dengan derasnya, 1 payudara bisa sampai 150ml, dan bisa penuh lagi dalam 2 jam. Payudara yang bengkak semakin sakit kalau gak dikeluarin, sampai seringkali saya bangun tiap malam cuma untuk ngeluarin ASI karena gak tahan ngilunya yang sampai terbawa mimpi. Sampai pada akhirnya, karena sepertinya teknik memerah yang salah, puting saya terluka di dalam, sehingga menyebabkan ASI berwarna pink karena bercampur darah. Drama apalagi ini! Tapi untungnya, saat itu saya punya donor ASI, yaitu kakak ipar sendiri yang alhamdulillah stok ASIPnya pun melimpah.

Setelah puting saya membaik, saya mulai dbf kembali, tapi luar biasanya puting saya lecet lagi. Gak sampai berdarah sih, tapi cukup bikin saya lemes tiap kali ngeliat Baby Al minta nenen, bawaannya deg degan terus. Belum lagi stretchmark di paha yang tiba-tiba muncul saat hamil, waduh.. kalau diceritain pengalaman hamil dan melahirkan ini luar biasa, mungkn itu sebabnya diciptakan lagu Kasih Ibu yang tak terhingga sepanjang masa. Tapi, gimanapun juga, ini adalah permintaan saya sama Tuhan, jawaban dari do'a saya.

Halo lagi Tuhan! Kau tau kan, ketika saya menulis ini, saya gak sedang protes ataupun mengeluh, hanya cerita dan takjub gitu Tuhan. Ingin bilang WOW ternyata saya pernah melaluinya! Hehe.




Continue reading CORETAN MAMANIS : Drama Trimester 4, Drama Berusaha Menjadi Ibu Sempurna

Sunday, 29 March 2020

, , ,

Prioritasku = Identitasku

I had a dream the other night
About how we only get one life
Woke me up right after two
I stayed awake and stared at you
So I wouldn't loose my mind

(One Republic -  Something I Need)


Penggalan lirik One Republic di atas menjadi pembuka tema kolaborasi Bandung Hijab Blogger kali ini, yaitu mengenai Time Management. Waktu menjadi terasa sangat penting saat kita sadar bahwa 1 detikpun gak bisa kita ulang, bahwa kita gak punya kesempatan untuk mengulang hari yang sama, kecuali kalau ternyata mesin waktu itu ada! Hidup yang cuma sekali, seringkali bikin saya takut, apa saya sudah cukup baik dalam menjalani hari-hari ini?

It's true that we only live once, but if we do it right, once is enough, kalau kata Mae West. Maka dari itu, berkawan dengan waktu, memanfaatkannya sebaik mungkin adalah satu-satunya cara untuk terhindar dari rasa sesal di kemudian hari. Terus, gimana caranya untuk mengatur waktu dengan baik?


Hmm.. Rasanya aneh kalau saya menjabarkan tips-tips memanage waktu dengan baik, karena saya bukan orang yang tepat, gak cukup representatif untuk bercerita tentang itu. Tapi, saya bisa cerita tentang bagaimana saya mencoba berdamai dengan kehidupan saya yang jauh dari ideal, gak bisa dibilang teratur, keluar dari jalur dan rencana, karena ya...you called it life. Life is full of surprises. And not all these surprises are pleasant, so you need to be ready for what life brings to you.

Jauh sebelum hari ini, dari kecil, saya terlahir dari keluarga yang disiplin dan teratur, yang membuat saya tumbuh menjadi seorang yang juga disiplin dan sedikit kaku mengenai waktu dan pencapaian hidup. Saya yang sekarang, sudah melewati banyak pengalaman yang membuat saya lebih longgar dan fleksibel, walaupun terkadang masih suka nyesek kalau sesuatu yang sudah direncanakan gak sesuai dengan harapan. Jadi, kalau bicara tentang memanage waktu, saya yang dulu mungkin sudah bisa merangkai banyak paragraf untuk berbagi tips. Ditambah lagi, sudah banyak kok aplikasi-aplikasi di handphone yang memudahkan kita untuk mengatur waktu, seperti time table salah satu contohnya. Selain itu, buku-buku tentang managemen waktu pun bertebaran di toko-toko buku. Jadi, untuk memahami, membuat, dan mengaplikasikan teori-teori mengenai efisiensi waktu adalah satu hal yang mudah. Tapi, menerima bahwa segala sesuatu yang sudah direncanakan, berakhir gak sempurna, adalah persoalan lain. Justru ini yang menarik, yang juga akan saya bahas.


We can plan a pretty picnic, but we can't predict the weather..
(The Vines - Ms. Jackson)

Kita bisa saja merencanakan tamasya dan piknik di taman yang menyenangkan. Perbekalan mulai dari keranjang yang penuh dengan makanan, minuman-minuman kaleng, hingga kumpulan lagu-lagu yang riang. Kita sudah mengatur alarm untuk bangun subuh dan bersiap-siap pergi di pagi hari, supaya gak terjebak macet, dengan harapan sampai di tempat pukul 08.00, saat matahari sedang bersahabat. Tiba-tiba, sesampainya di tempat, langit yang tadinya cerah, tiba-tiba menjadi abu-abu, awan mulai berani menutup matahari, lalu turunlah hujan. Semuanya gagal, padahal rasanya semua rencana sudah disiapkan sesempurna mungkin.

Hal serupa sering saya alami. Bukan tentang pikniknya, tapi tentang kecewa dengan segala rencana yang gak berjalan dengan seharusnya. Yang seharusnya saya bisa lulus pas 4 tahun, tapi saya kecewa karena harus menambah 3 bulan lagi untuk mendapat gelar Sarjana Psikologi. Kalau saya mengikuti time table yang sudah saya buat bertahun-tahun yang lalu, seharusnya saya sudah menikah di usia 25 tahun, dengan bekerja di salah satu perusahaan impian saya, lalu memiliki anak di usia 28 tahun, dan menerbitkan sebuah buku di usia yang sama. Memang beberapa sesuai dengan perencanaan, tapi banyak hal yang gak berjalan sesuai dengan perkiraan. Siapa yang salah? Bisa jadi saya, bisa jadi bukan salah siapa-siapa, karena memang ada yang mengatur "cuaca" saya hari itu, Yang Maha Menetapkan.


Lalu, bagaimana saya di hari ini?
Apa saya gak punya manajemen waktu sama sekali?
Yaaa, saya gak seekstrim itu juga. Dari semua teori tentang manajemen waktu, 1 yang selalu saya pegang adalah mengenai skala prioritas. Selama ini, prioritas menjadi garis bantu saya dalam memanage waktu, supaya saya bisa mengalokasikan waktu dan tenaga saya di aktivitas-aktivitas yang memang diperlukan, untuk menghindari "waktu dan tenaga" yang terbuang sia-sia.

Begitu banyak peran dalam diri ini, yang mustahil saya jadikan semuanya sebagai prioritas. Maka, setelah saya menikah dan memiliki 1 malaikat kecil, saya pilih 3 peran dalam hidup yang menjadi prioritas saya, menjadi ibu, istri, dan anak. Pioritas saya adalah segala macam aktivitas yang mendukung saya untuk menjadi ibu, istri, dan anak yang baik. Berpegangan pada 3 peran itu, mungkin membuat saya menjadi teman yang dianggap so sibuk, karena harus menemani anaknya bermain di rumah, atau mungkin saya akan menjadi blogger yang dianggap pemalas karena memilih menyiapkan makan siang suami dan memijat kaki ibu yang pegal. Tapi, syukurlah, saya berada di dalam circle yang sangat pengertian, sehingga saya masih bisa berhubungan baik dengan teman-teman, masih bisa menulis di sela sela waktu, masih bisa bermain cat air, bermain gitar, membaca buku, meskipun intensitasnya gak sesering ketika saya belum menikah.

Sebetulnya, memilih menjadi ibu rumah tangga adalah langkah pertama yang saya ambil untuk menyisihkan 1 peran dalam hidup, yaitu menjadi pegawai. Bukan berarti saya mendiskreditkan ibu yang bekerja (karena saya yakin mereka bekerja untuk anak, yang berarti mereka memprioritaskan anak). Hanya saja, bagi saya yang punya daya tahan tubuh lemah, rasanya saya gak sanggup kalau harus pulang kerja dan menggunakan hanya 10% dari tenaga yang tersisa untuk mengasuh anak. Meskipun begitu, menjadi ibu rumah tangga, gak lantas membuat saya menjadi ibu, istri, dan anak yang sempurna. Meskipun 3/4 hari saya habiskan dengan anak, saya gak bisa memastikan kalau Arsy kelak tumbuh menjadi anak yang bahagia. Meskipun saya berusaha memprioritaskan waktu saya bagi suami dan orang tua saya, saya juga gak bisa memastikan kalau apa yang sudah saya lakukan adalah yang terbaik. Begitu banyak ketidakpastian, tapi yang pasti saya sedang berusaha yang terbaik, membuat perbekalan, minuman kaleng, dan lagu-lagu riang untuk piknik saya. Bagaimana "cuacanya" nanti, tergantung Dia.

3 peran yang saya prioritaskan, pada akhirnya menjadi 1 kesatuan, menjadi Anisa Firdausi. Memang masih jauh dari ideal, saya juga masih berusaha untuk memanfaatkan momen-momen yang ada sebaik mungkin. Jadi, meskipun saya cukup lelah dengan hari-hari ini, dengan segala rutinitas yang terkadang terasa membosankan, pada akhirnya, semua itu adalah saya. Menjadi ibu bagi Arsy, menjadi anak perempuan bagi Bapak dan Ibu, dan menjadi istri bagi Kusumah adalah jalan menuju Anisa Firdausi. Karena apa? Karena prioritas saya adalah identitas saya.
Continue reading Prioritasku = Identitasku

Tuesday, 24 December 2019

, , , , ,

CORETAN MAMANIS : Kencan 9 Bulan dengan Baby Al

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, sehingga saya akhirnya bisa menulis lagi. Tentu, terima kasih juga untuk babyku Arsy, Baby Al, yang mengerti kerinduan mamanya untuk nulis, sehingga memilih untuk tidur nyenyak di malam hari ini. Sungguh suatu hal yang gak biasa untuk bayi 2 bulan ini. Atau mungkin, dia memang sedikit narsis sehingga sengaja memberikan saya waktu untuk menulis tentang dirinya, tepatnya pada saat menghabiskan hari-harinya selama 9 bulan lebih di dalam perut saya.


Ya, tulisan ini, selain karena kolaborasi dengan teman-teman Bandung Hijab Blogger, juga karena saya ingin meninggalkan jejak cerita perjalanan saya di 2019 kemarin, mengingat beberapa minggu lagi kita akan menyambut 2020. Tulisan ini juga merupakan lanjutan cerita saya tempo hari, Tentang PCOS dan 2 Garis Pink.

Setelah pada akhirnya saya dikatakan hamil, bahagia bukanlah respon awal saya. Justru perasaan bingung dan cemas yang datang. Pasalnya, saat itu saya masih berada di Pringsewu, Lampung. Jauh dari orang tua dan sahabat. Saya takut dengan minimnya pengetahuan saya soal kehamilan, saya gak bisa memberikan yang terbaik bagi janin saya saat itu.


TRIMESTER I

Orang bilang, trimester I adalah masa-masa yang menyulitkan. Badan yang baru menyesuaikan diri dengan "benda asing" di dalam rahim ini, dan hormon-hormon yang diproduksi, membuat segalanya menjadi aneh. Banyak orang mengalami morning sickness, mual dan muntah, yang ternyata gak cuma muncul di pagi hari, tapi juga malam hari. Untungnya, saat itu saya gak mengalami yang namanya muntah. Kalau mual, jangan ditanya. Saya masih ingat gimana eneknya saya saat mencium bau ayam, apalagi waktu saya harus masak ayam, sungguh menyiksa rasanya.

Saya sempat baca-baca bahwa trimester I adalah masa-masa kehamilan yang riskan, dikarenakan janin masih lemah. Oleh karena itu, butuh perhatian ekstra agar selalu berhati-hati dalam berakivitas, dan tentu saja, memperhatikan asupan gizi yang baik. Tadinya saya ingin pulang ke Bandung, karena merasa masakan-masakan saya masih kurang bergizi, tapi mengingat suami baru saja memperpanjang kontrak rumah di sana, gak tega rasanya kalau harus meninggalkan suami sendirian di rumah itu. Padahal, kalau tau saya akan hamil, suami kan bisa cari kosan saja. Tapi ya namanya juga cerita Tuhan, kita mana tau kejutan-kejutan yang Dia kasih. Daaann... Luar biasa memang, selang 2 bulan setelah berita kehamilan, Mas Suami mendapat mutasi ke Sleman, Jogja. Hamdallah.

Yang menjadi perhatian khusus pada trimester awal ini adalah pencarian obgyn. Buat saya, obgyn bagaikan ibu kedua yang bakal mendampingi saya menghadapi masa-masa kehamilan. Selama di Pringsewu Lampung, saya gak bisa milih obgyn karena hanya ada 1 obgyn wanita di sana. Sedikit kecewa karena pasien beliau super duper banyak, sehingga konsultasi dengannya pun terasa kurang berkualitas. Saya seperti dibatasi waktu, karena antriannya panjang. Gak leluasa untuk bertanya segala macam hal seputar kehamilan. Tapi, saya pikir, ya sudahlah, ini hanya obgyn sementara. Saya akan mencari obgyn yang cocok dengan saya nanti di Bandung.

Setelah saya pindah ke Bandung, saya banyak mencari informasi obgyn favorit di Bandung. Banyak sekali info yang saya dapatkan, baik dari teman, saudara, ibu-ibu tetangga, juga dari mbah google. Tapi, kebanyakan dari mereka merekomendasikan obgyn cowok, sedangkan saya merasa kurang sreg dengan obgyn cowok. Sampai akhirnya saya dapat info tentang obgyn cewek favorit di RSIA Grha Bunda, namanya dr. Leri Septiani. Wah, kebetulan banget prakteknya dekat dengan rumah saya.

Kesan pertama saya kontrol dengan dr. Leri adalah, antriannya panjang banget. Kalau mau bikin appointment pun minimal 2 minggu sebelumnya. Tapi, setelah saya merasakan kontrol dengan dr. Leri, saya gak heran kenapa dokter ini jadi favorit banyak orang. Pembawaannya positif, ramah, menenangkan, dan super detail. Tiap saya bertanya, meskipun tentang hal-hal remeh, pasti dijawab dengan detail. Biasanya saya paling degdegan kalau kontrol kandungan, tapi dengan dr. Leri, entah kenapa cemasnya tiba-tiba hilang gitu aja. Setelah kontrol pertama, saya sudah memutuskan kalau dr. Leri akan jadi obgyn saya yang nanti akan mengantar Baby Al ke dunia.

Kontrol pertama dengan dr. Leri menghasilkan HPL yaitu Hari Perkiraan Lahir. Hanya saja kendalanya, karena menstruasi saya yang gak teratur, dokter gak bisa menilai usia janin melalui hari terakhir saya menstruasi. Jadi, penilaian didasarkan pada ukuran janin saat itu. Dan ternyata benar saja, jika dibandingkan, usia janin berbeda 3 minggu dari perkiraan usia menurut perhitungan hari terakhir menstruasi. Makanya, tadinya dr. Leri sempat komentar kalau berat baby Al terlalu kecil, tapi ketika mengetahui bahwa menstruasi saya gak pernah teratur, beliau langsung paham dengan usia baby Al yang ternyata gak bisa dinilai berdasarlan hari terakhir menstruasi. Dan menurut perhitungan beliau, HPL nya adalah 24 Oktober 2019.

TRIMESTER II

Ini adalah masa-masa indah selama kehamilan. Meskipun perut sudah mulai kelihatan sedikit membesar, tapi sama sekali gak mengganggu aktivitas. Beberapa kali saya menyempatkan diri untuk berlibur, bertemu teman-teman, dan mendatangi event blogger. Bahkan, suami sempat merayakan ulang tahun saya di salah satu hotel di Bandung. Yaa.. anggap saja babymoon versi dekat. Bisa dibilang trimester ini adalah masa-masa janin sudah mulai kuat, jadi saya punya kesempatan untuk berlibur.

Baby Al 16 minggu

Baby Al 22 minggu

Pada trimester ini, akhirnya saya tahu kalau Baby Al ini perempuan. Saya sempat terkecoh dan percaya omongan orang dan mitos yang beredar, yaitu jika hamil perutnya besar ke samping tandanya perempuan, tapi kalau perutnya membesar ke depan tandanya laki-laki. Entah karena saya yang terlampau kurus atau memang itu hanya sekedar mitos, perut saya membesar ke depan, itupun gak terlalu terlihat. Makaya saya pikir, Baby Al ini laki-laki. Tapi ya saya gak kecewa swdikitpun. Laki atau perempuan, sama-sama menakjubkan.

Tapi, jusru awal trimester 2 ini saya mengalami pengalaman yang gak enak. Suatu hari saya merasa gak enak badan. Menghindari minum obat, saya hanya mengistirahatkan diri di kasur dengan berselimut tebal. Tapi, tiba-tiba setelah isya, badan saya menggigil parah. Gigi bergemelatuk sangat kencang, seperti orang step. Saya merasa dinginnya menusuk ke tulang, saya sampai gak bisa bergerak. Ibu yang melihat kondisi saya langsung panik. Baru saja mau diangkut ke IGD, badan saya tiba-tiba membaik.

Besoknya, badan saya kembali menggigil. Makanan gak ada yang bisa masuk perut, bolak balik muntah tiap kali diisi. Sampai suami langsung ambil cuti ke Bandung beberapa hari karena khawatir. Akhirnya, karena saya takut demam ini berakibat buruk pada Baby Al, saya konsultasi ke dr. Marissa Tasya, karena saat itu dr. Leri lagi gak praktek. Karena demamnya sudah sampai 3 hari, dr. Tasya menyuruh saya untuk cek lab. Dari hasil lab ternyata saya mengalami infeksi saluran kemih. Agak kaget karena saya merasa gak makan yang aneh-aneh dan gak pernah tahan pipis, juga saya gak ngerasain sakit saat pipis, seperti yang biasa dirasakan penderita ISK. Tapi memang, saya merasa pegal di sekujur pinggang yang saya pikir itu karena kehamilan yang semakin besar.

Setelah diberikan obat oleh dr. Tasya, demam tetap ada, sakit pinggangpun tak kunjung membaik. Akhirnya, kembali saya masuk IGD dan diambil darah. Kali ini hasil tes darahnya langsung dikonsultasikan dengan spesialis penyakit dalam atas rekomendasi dr. Leri. Akhirnya, setelah mendapat obat dari dokter spesialis penyakit dalam, semua rasa sakit itu hilang dalam 3 hari. Hamdallah.

Setelah itu, saya mulai memperbanyak informasi seputar kehamilan. Dari mulai makanan dan minuman yang dianjurkan selama hamil, olahraga yang disarankan untuk ibu hamil, sampai hal-hal yang sebaiknya dihindari oleh ibu hamil. Saya biasanya cukup disiplin untuk menjaga makanan, tapi kalau sudah ketemu makanan sebangsa aci-acian, biasanya langsung luluh. Jadi, ya sekali dua kali biasanya saya masih suka nyemil cireng, cilok, cilor, dan teman-temannya.

Orang bilang, banyak-banyak minum air kelapa dan makan bubur kacang hijau. Gak masalah buat saya, karena air kelapa termasuk minuman favorit saya. Makanya, saya sering minum air kelapa walaupun gak rutin. Alasannya? Tentu saja karena malas pergi ke tukang kelapanya. Selain bubur kacang hijau dan air kelapa, teman saya, Ulfi, menyarankan saya untuk mengonsumsi minyak zaitun 2 sendok sehari. Tujuannya katanya untuk memperlancar proses persalinan.

Apapun yang bertujuan memperlancar persalinan, akan saya coba, termasuk si minyak zaitun ini. Tapi, teman-teman, tau rasanya minyak zaitun itu kayak apa? Ewwwww 10000x. Saya menyerah di hari kelima. Ya Tuhan, saya ngerasanya kaya minum minyak jelantah. Saya ralat, saya akan coba apapun yang bisa memperlancar persalinan, kecuali minyak zaitun.

Memasuki akhir trimester 2, berat badan Baby Al selalu kurang sedikit, sekitar 100 - 200 gram. Tapi, dr. Leri gak mempersalahkannya karena beliau gak melihat ada kelainan apapun pada kandungan saya. Tapi, beliau bilang akan lebih baik jika saya menaikkan berat badan juga, karena tentu akan lebih baik dan lebih aman bagi Baby Al. Oleh karena itu, beliau menyarankan saya untuk minum susu, susu khusus yang biasa diminum sama orang sakit (saya lupa namanya apa). Tapi, karena saya gak nemu susu itu, akhirnya saya perbanyak minum susu UHT dan es krim (yang juga atas rekomendasi orang-orang).

Oh ya, di sini saya mulai merasakan lincahnya Baby Al. Pertama kali ngerasain gerakannya, rasanya terharu dan gak percaya kalau ada makhluk hidup yang dititipkan di dalam perut ini. Saya sering ngajak Baby Al ngomong, karena rasanya menyenangkan. Sulit dijelaskan seperti apa rasanya, tapi Maha Besar Allah atas segala kekuasaanNya.

TRIMESTER III

Memasuki trimester 3, perut saya semakin membesar, tapi masih saja dibilang kalau gak kelihatan sedang hamil. Mungkin sebagian perempuan ngerasa seneng dibilang gitu, tapi buat saya malah jadi beban. Seringkali saudara dan tetangga ngomentarin badan saya yang "dipikir mereka" gak gede-gede, padahal awal trimester 3 ini berat badan saya sudah naik hingga 12 kg! Tapi masiiiih aja ada yang nyuruh saya makan ina inu biar makin gede. Maksud saya, kan yang penting itu berat janinnya, bukan berat ibunya. Heran deh!

Baby Al 33 minggu :)

Saya juga jadi lebih sering olahraga, jalan kaki di lapang depan rumah. Kalau biasanya dulu saya nunggu suami pulang, biar jalannya gak sendirian, di trimester ini saya menyemangati diri untuk tetap jalan kaki seminggu 3x, meski sendirian. Sebetulnya, banya orang merekomendasikan yoga. Tapi, bagi yang kenal saya pasti tau saya gak cocok dengan yoga. Gak usah tanya kenapa, tapi ya menurut saya yoga termasuk olahraga yang sulit.

Dibandingkan dengan trimester sebelumnya, trimester 3 ini adalah masa-masa tersulit saya. Selain beban badan yang semakin besar bikin saya sulit cari posisi tidur yang enak, beser dan gatal-gatal di seluruh badan adalah 2 hal yang sering bikin saya terjaga tiap malam. Masalah beser memang gak bisa dihindari, udah biasa bagi bumil. Tapi, masalah gatal ini yang bikin saya banyak banyak istighfar. Gatal yang saya rasakan justru bukan di perut, tapi di tangan dan kaki. Tiap malam sebelum tidur saya biasa banjur tangan kaki pake minyak kayu putih untuk meredakan rasa gatalnya, meskipun gak terlalu ampuh. Saking saya gak bisa nahan rasa gatal yang luar biasa ini, saya sempat berpikir jangan-jangan ini adalah kondisi medis yang disebut kolestasis obstetrik. Tapi, mengingat itu adalah kondisi yang serius dan cukup menyeramkan ketika saya baca lebih lanjut, akhirnya saya tanyakan pada dr. Leri di kontrol selanjutnya. Seperti biasa, dr. Leri gak mempermasalahkan itu. Gatal yang saya rasakan menurutnya masih wajar, masih diakibatkan oleh peregangan pada kulit.

LDM juga seringkali jadi alasan saya sulit tidur. Pikiran-pikiran aneh sering datang, apalagi saya selalu tidur sendirian di kamar atas, karena kakak dan adik saya pun di Jakarta. Selama ini saya khawatir kalau-kalau air ketuban pecah di saat saya sendirian, pada tengah malam, dan semua orang sedang tidur. Selama ini saya sering berdoa, agar kelak saat melahirkan, suami saya sedang di Bandung. Kan saya juga penasaran, apa benar waktu melahirkan, rasanya ingin jambak-jambak suami? Tapi, akhirnya saya pasrah. Lillahitaala. Keinginan saya hanyalah agar Baby Al selalu sehat dan bahagia semenjak di dalam perut ibunya.

Kencan 9 bulan tanpa tatap muka dengan Baby Al di tahun 2019 ini bikin saya terenyuh bahwa ternyata cinta ibu pada anaknya, memang tak bersyarat, tanpa alasan. Mudah-mudahan Baby Al pun merasakan cinta ini, meski nyatanya masih jauh dari sempurna. 
Continue reading CORETAN MAMANIS : Kencan 9 Bulan dengan Baby Al