Epidemi essential oil masih berlangsung sampai saat ini. Saya masih sering lihat para influencer, terutama mom blogger, yang sering mengulas betapa menakjubkannya essential oil ini. Betapa hebatnya setetes Franckincense yang mampu meredakan batuk anak mereka. Pada awalnya, saya gak pernah tertarik dengan apapun bentuk pengobatan alternatif, termasuk salah satunya essential oil ini. Selain harganya yang bikin perut mules, saya selalu beranggapan kalau pengobatan ini hanya semacam efek placebo saja.
Essential Oil sebenarnya sudah ada dari zaman dulu kala. Zaman nenek moyang kita mana ada sanmol, mana ada promag. Mereka memanfaatkan tumbuhan-tumbuhan di sekitar, untuk mengobati segala penyakit. Sebetulnya, saya gak akan membahas panjang lebar mengenai sejarah EO, karena saya bukan pakarnya. Di sini saya hanya ingin berbagi cerita dan pengalaman selama menggunakan EO. Yah.. seperti review yang selama ini saya lakukan.
Essential Oil sebenarnya sudah ada dari zaman dulu kala. Zaman nenek moyang kita mana ada sanmol, mana ada promag. Mereka memanfaatkan tumbuhan-tumbuhan di sekitar, untuk mengobati segala penyakit. Sebetulnya, saya gak akan membahas panjang lebar mengenai sejarah EO, karena saya bukan pakarnya. Di sini saya hanya ingin berbagi cerita dan pengalaman selama menggunakan EO. Yah.. seperti review yang selama ini saya lakukan.
Intinya, saya gak pernah penasaran untuk coba-coba essential oil dari brand apapun. Tapi, semua berubah saat saya sudah lelah dengan penyakit asam lambung saya yang tak kunjung sembuh. Semua saran dokter selalu saya ikuti. Pola makan yang sedikit tapi sering, larangan makanan dan minuman ina inu, olahraga yang seimbang. Itu semua hanya mengurangi sedikit rasa sakit di lambung saya, tapi tidak menghilangkan sama sekali. Bosan dengan minum obat sepanjang waktu, karena saya selalu kesulitan untuk nelan obat. Entah kenapa obat tablet itu selalu nyangsang di langit-langit mulut dan sulit sekali tertelan.
Sampai akhirnya, sahabat saya nyeletuk, "Coba deh lu pakai YLEO yang digize, beb"
Sampai akhirnya, sahabat saya nyeletuk, "Coba deh lu pakai YLEO yang digize, beb"
Seketika saya langsung cari-cari di Ecommerce dan langsung mendadak mules. Banyak brand yang mengeluarkan produk essential oil, YLEO adalah salah satu yang terkenal. YLEO ini banyak macamnya. Tiap varian punya manfaatnya masing-masing dengan harga yang variatif, dari mulai yang mahal, sampai ke yang mahal banget. Varian digize sendiri dikhususkan untuk masalah-masalah digestive. Khusus yang digize, harganya kisaran 500rb/ 15 ml. Lebih mahal dari Farsali Rose Gold Elixir, beb. Lihat harga yang fantastis, saya mundur teratur, saya mau cari informasi lebih banyak mengenai essential oil ini, supaya gak nyesel saat memutuskan untuk mengeluarkan setengah juta untuk botol minyak sebanyak 15 ml ini.
Tiba-tiba saya nemu seller YLEO yang menjual versi 5 ml nya, harganya 250rb. Saya pikir, ya sudahlah. Namanya juga ikhtiar, dicoba aja dulu. Saat paket digize ini sampai di rumah, secepat itu langsung saya buka. Sejujurnya saya penasaran untuk mencium aromanya. Dan ternyata, setelah saya cium... astagaaa... nyengat banget! Saya gak bisa deskripsiin aroma dengan baik, tapi kalau dipaksa untuk menjelaskan, saya pikir aroma rempahnya sangat kuat, seperti wangi jahe, sereh, dan aroma-aroma asing lainnya, yang saat itu masih sulit diterima oleh hidung saya. 5x pemakaian di awal, saya selalu tahan napas saat pakai EO ini, gak tahan sama baunya.
Cara menggunakan YLEO ini macam-macam, bisa dimasukkan ke diffuser dan kita hirup aromanya, atau langsung dioles ke bagian tubuh yang dirasa sakit, bahkan bisa juga diminum dengan cara mencampurkan 2 tetes digize ke dalam air minum. Mengingat saya belum terbiasa dengan baunya yang aneh ini, cara kedua adalah yang menurut saya paling mudah. Tinggal dioles ke bagian ulu hati, tempat asam lambung naik.
Awalnya saya penasaran, gimana caranya sesuatu yang dihirup atau dioles bisa menyembuhkan penyakit begitu saja? Kalau diminum ya saya paham, sebagian besar obat yang saya konsumsi ya diminum. Tapi kalau dihirup? Cara kerjanya gimana sih?
Nah, setelah saya mencari banyak informasi, ternyata saat EO dihirup, saraf-saraf kecil yang ada di dalam organ tersebut mengirim sinyal ke otak, menstimulasi sistem limbik, yaitu bagian otak yang mengontrol emosi, perilaku dan unconscious physiological function seperti bernapas, detak jantung, dan tekanan darah. Menurut pakar-pakar EO terdahulu, menghirup adalah cara kerja paling ampuh untuk memunculkan manfaat EO. Beda lagi jika kita menggunakannya dengan cara dioles. Saat dioles, kulit kita akan menyerap komponen-komponen tersebut dan meneruskannya ke aliran darah lewat pori-pori kulit.
Efek jangka pendek dari penggunaan YLEO Digize ini kurang lebih mirip seperti saat saya menggunakan kayu putih. Ada sensasi mint (dingin dan hangat yang bersamaan), dan meredakan rasa sakit seketika. Bedanya. sensasi mint Digize lebih strong dan lebih tahan lama dibandingkan dengan kayu putih. Padahal saya hanya menggunakannya 1-2 tetes saja.
Tampaknya ini sudah tahun kedua saya menggunakan YLEO Digize. Suprisingly, saya merasakan banyak manfaat dari penggunaan EO ini. Maag saya memang masih sering kambuh, tapi sekarang lebih mudah untuk dikontrol. Biasanya kalau kambuh pun, itu karena memang saya yang bandel. Tapi, selama saya gak macam-macam, lambung saya aman-aman saja.
Selain itu, saya merasa sudah bisa beradaptasi dengan aroma si Digize. Kalau dulu, saya mesti tahan napas tiap memakainya, kalau sekarang mencium aromanya malah membuat saya lebih tenang dan rileks. Kata teman saya sih, kalau aromanya mulai dirasa menanangkan, itu tandanya saya sudah mulai sembuh.
Tiba-tiba saya nemu seller YLEO yang menjual versi 5 ml nya, harganya 250rb. Saya pikir, ya sudahlah. Namanya juga ikhtiar, dicoba aja dulu. Saat paket digize ini sampai di rumah, secepat itu langsung saya buka. Sejujurnya saya penasaran untuk mencium aromanya. Dan ternyata, setelah saya cium... astagaaa... nyengat banget! Saya gak bisa deskripsiin aroma dengan baik, tapi kalau dipaksa untuk menjelaskan, saya pikir aroma rempahnya sangat kuat, seperti wangi jahe, sereh, dan aroma-aroma asing lainnya, yang saat itu masih sulit diterima oleh hidung saya. 5x pemakaian di awal, saya selalu tahan napas saat pakai EO ini, gak tahan sama baunya.
Cara menggunakan YLEO ini macam-macam, bisa dimasukkan ke diffuser dan kita hirup aromanya, atau langsung dioles ke bagian tubuh yang dirasa sakit, bahkan bisa juga diminum dengan cara mencampurkan 2 tetes digize ke dalam air minum. Mengingat saya belum terbiasa dengan baunya yang aneh ini, cara kedua adalah yang menurut saya paling mudah. Tinggal dioles ke bagian ulu hati, tempat asam lambung naik.
![]() |
| Source : drjockers.com |
Nah, setelah saya mencari banyak informasi, ternyata saat EO dihirup, saraf-saraf kecil yang ada di dalam organ tersebut mengirim sinyal ke otak, menstimulasi sistem limbik, yaitu bagian otak yang mengontrol emosi, perilaku dan unconscious physiological function seperti bernapas, detak jantung, dan tekanan darah. Menurut pakar-pakar EO terdahulu, menghirup adalah cara kerja paling ampuh untuk memunculkan manfaat EO. Beda lagi jika kita menggunakannya dengan cara dioles. Saat dioles, kulit kita akan menyerap komponen-komponen tersebut dan meneruskannya ke aliran darah lewat pori-pori kulit.
Efek jangka pendek dari penggunaan YLEO Digize ini kurang lebih mirip seperti saat saya menggunakan kayu putih. Ada sensasi mint (dingin dan hangat yang bersamaan), dan meredakan rasa sakit seketika. Bedanya. sensasi mint Digize lebih strong dan lebih tahan lama dibandingkan dengan kayu putih. Padahal saya hanya menggunakannya 1-2 tetes saja.
Selain itu, saya merasa sudah bisa beradaptasi dengan aroma si Digize. Kalau dulu, saya mesti tahan napas tiap memakainya, kalau sekarang mencium aromanya malah membuat saya lebih tenang dan rileks. Kata teman saya sih, kalau aromanya mulai dirasa menanangkan, itu tandanya saya sudah mulai sembuh.
Setelah menggunakan YLEO Digize ini, saya jadi gak skeptis lagi. Saya gak merasa aneh lagi dengan hype nya produk EO. Gak merasa rugi harus bayar mahal untuk botol-botol kecil ini. Jika dibandingkan saya yang bolak balik ke dokter spesialis penyakit dalam, beli EO ini ya jauh lebih murah.
Gak lama setelah itu, sahabat saya kirim paket ke rumah yang isinya YLEO Stress Away. Sesama pejuang maag, dia juga tau betul kalau stress bisa jadi penyebab utamanya. Beda dengan Digize, Stress Away ini wanginya lebih layak dihirup. Saya biasa menggunakan diffuser untuk menghirup aromanya. Betul saja, aromanya memberikan efek rileks dan tenang, apalagi kalau sambil dengar lagu-lagu klasik. Wiiih.. berasa lagi ada di taman yang banyak bunga dan kupu-kupunya gitu. *Sakarepmu, Nis!*
Akhirnya, duo combo YLEO Digize dan Stress Away ini sekarang menjadi penyelamat lambung saya. Kelak saya punya anak, mudah-mudahan Tuhan kasih saya rezeki yang cukup untuk beli YLEO sepaket. Mari bantu aminkan, buibu. Aamiin...
