Thursday, 16 August 2018

, , ,

REVIEW : Rimmel London Natural Bronzer 022 Sun Bronze

Bronzer bukanlah produk yang penting buatku selama aku memiliki produk-produk kompleksion dengan shade yang sesuai dengan tone kulitku. Sampai akhirnya aku merasa butuh produk ini karena foundation Maybelline Fit Me yang kupunya ternyata jauh lebih terang dari warna kulitku. Selama ini, aku hanya pernah menggunakan 2 produk bronzer, dari NYX dan city color, pun hanya menggunakannya 1 atau 2 kali. Kenapa? Tentu karena aku belum mahir menggunakan bronzer. Pengalamanku memakai bronzer pasti berakhir dengan wajahku yang cemang cemong dan sangat terlihat tidak natural. :))


Kemarin, aku sempat browsing mengenai produk Bronzer yang sudah banyak digunakan orang dan akhirnya aku menemukan Rimmel London. Ya, bronzer keluaran Rimmel London ini sudah banyak digunakan beauty enthusiast karena kualitasnya yang oke dengan harga yang terjangkau. Sebenarnya, masih banyak produk bronzer yang dibilang cukup bagus dan juga terjangkau, tapi entah kenapa dari dulu aku memang penasaran dengan si Rimmel ini. Karena Rimmel ini banyak dijual di online shop, harganya beragam kisaran 100.000 sampai 150.000  untuk tergantung di mana kamu beli.

KEMASAN


Produk ini berbentuk bulat, dengan tutup dari plastik yang menurutku agak ringkih. Dengan kemasan yang seperti itu, memang harus hati-hati banget, sekalinya jatuh kurasa ini akan langsung pecah. Punyaku kegencet-gencet dikitpun retak. Hmm :)


KLAIM

Di bagian kacanya, hanya tertulis "Rimmel London Natural Bronzer", lalu ada keterangan "Waterproof Bronzing Powder". Lalu untuk bagian belakangnya dituliskan keterangan detail tentang produk ini, termasuk klaim bahwa bronzer ini akan memberikan kesan natural, long lasting, dan waterproof.

KANDUNGAN

Talc, Titanium Dioxide, Isostearyl, Neopentanoate, Polybutylene Terephthalate, Magnesium Stearate, Acrylates Copolymer, Phenyl Trimethicone, Polybutene, Methylparaben, Alumunium Hydroxide, Stearic Acid, Ethylene/va Copolymer, Tocopheryl Acetate, Propylparaben, Cocos Nucifera (Coconut) Oil, Paraffinum Liquidium/ Mineral Oil/ Huile Minerale, Parfum/ Fragrance, Aloe Barbadensis Leaf Extract, Butylphenyl, Methylpropional, Benzyl Salicylate, Citronellol, Hexyl Cinnamal, Hydroxisohexyl 3-Cycolohexene Carboxaldehyde, Linalool.
[May Contain: Mica, Iron Oxides (Cl 77491, Cl 77492, Cl 77499), Ultramarines (Cl 77007)]

Sebenarnya aku gak paham kenapa mesti ditulis "May Contain" di tengah-tengah. Ada yang tau? Karena produk ini masih mengandung fragrance, paraben, dan mineral oil, mungkin teman-teman yang punya kulit sensitif perlu mempertimbangkan untuk mencoba produk ini.

AROMA

Tidak ada aroma sama sekali untuk produk ini, tentunya aku suka.

TEKSTUR



Ternyata teksturnya Rimmel ini jauh dari yang kubayangkan. Teksturnya powder yang agak kasar.


PIGMENTASI DAN HASIL


Satu hal yang paling aku sadari akan produk ini adalah pigmentasinya yang biasa aja. Sebenarnya ini masalah selera, beberapa orang ada yang memang suka dengan bronzer yang pigmentasinya biasa aja, tapi ada juga yang lebih suka kalau warnanya lebih keluar. Untuk produk ini aku tampaknya salah pilih shade. Shade yang kupilih tidak jauh berbeda dengan tone kulitku sehingga warnanya menjadi kurang nyata. 

Menurutku ada keuntungan yang kudapat dari bronzer yang pigmentasinya kurang, yaitu aku dapat mengontrolnya dengan mudah. Bronzer yang tidak terlalu nyata akan memberikan kesan natural dan gak dempul, tapi kalau misalkan aku memang butuh pigmentasi yang lebih untuk acara-acara formal, bronzer ini bisa dibuild up sehingga warnanya lebih nyata.


Kemarin kebetulan aku nyobain lagi Foundation Purbasari yang Kuning Gading (kalian bisa cek reviewnya DI SINI) , yang bikin mukaku seperti Winnie The Pooh karena kuning banget. Bronzer ini lumayan membantu menetralkan warna wajahku. Jadi gak kuning-kuning banget.

Atas (Tanpa Penggunaan Bronzer), Bawah (dengan Menggunakan Bronzer)

Klaimnya produk ini long lasting dan waterproof. Yang aku rasakan setelah beberapa jam memakai produk ini, bronzernya menyatu ke kulit dan tidak segelap di awal. Dan waktu aku wudhu, hilang sudah bronzernya. Jadi untuk klaim produk ini yang katanya longlasting dan waterproof, sayangnya tidak terbukti.

Setelah 3 jam pemakaian
Selain itu, yang kusuka dari bronzer ini adalah masa pakainya. Produk ini dapat dipakai selama 30 bulan, yang mana ini lama banget. Mostly produk kecantikan hanya memiliki masa pakai selama 12 bulan, atau paling lama 24 bulan. Buatku yang jarang banget pakai bronzer, ini menguntungkan banget.

Walaupun shade yang kupilih ini kurang gelap untuk dikatakan sebagai bronzer, tapi ini masih bisa menjadi penyelamat foundation yang terlalu putih di wajahku. Jadi tetap, buatku produk ini sangat membantu.

+ Hasil natural
+ Mudah diblend dan menyatu dengan kulit
+ Tidak terlalu pop out, bisa dibuild up
+ Masa pakai 30 bulan

- Kemasan ringkih, mudah retak dan pecah
- Tekstur sedikit kasar
- Sulit dicari, harus online
- Mengandung mineral oil
- Tidak waterproof

Harga : tergantung di mana kamu beli, sekitar 100.000
Nilai : 3/5
Beli lagi? Nggak. Kalau habis, ingin coba brand lain aja.

Continue reading REVIEW : Rimmel London Natural Bronzer 022 Sun Bronze

Tuesday, 7 August 2018

,

Membahas Sisi Gelap Teknologi Melalui TV Series Black Mirror

Entah kenapa belakangan aku banyak mencari referensi series barat. Setelah berkali-kali menonton How I Met Your Mother, Psych, House MD, Pretty Little Liars (karena file nya masih ada di hard disk, tampaknya butuh series baru untuk penyegaran. Alih-alih dapat series dengan cerita yang refreshing, Mas suami malah membawa series gelap berjudul Black Mirror ini.

See the source image
source: google.com
Black Mirror ini sebenarnya sudah muncul dari tahun 2011 yang sekarang sudah mencapai season 5 (on going). TV series yang dilahirkan oleh Charlie Brooker ini hanya berisi 3-4 episode di tiap seasonnya. Tiap episode memiliki cerita dan diperankan oleh tokoh yang berbeda.

Seperti judulnya, Black Mirror hadir membawa tema gelap dan satire tentang manusia modern dan kecanggihan teknologi masa kini, layaknya kaca hitam yang berada di layar gadget kita. Stephen King, The Master of Horror ini pun sempat berkicau tentang betapa ia tertarik dengan Black Mirror, yang kemudian ditanggapi oleh Charlie Brooker.

source: google.com
Aku terkesan dengan ide Black Mirror yang gak cuma bercerita tentang cerahnya dan majunya kehidupan modern di masa mendatang, tapi justru sebaliknya. Dampak-dampak yang menurutku sangat mungkin bisa terjadi di kehidupan mendatang. Bahkan beberapa episode,secara tidak sadar, sudah mulai terjadi di masyarakat kita. Contohnya episode "Nosedive" di season 3. 

Episode ini bercerita tentang suatu keadaan di mana setiap orang memiliki rating/angka. Iya, persis seperti kita memberikan nilai terhadap aplikasi-aplikasi di Playstore, tapi dalam skala yang lebih besar lagi. Semua orang membawa handphone dan memberikan penilaian langsung terhadap orang menggunakan handphonenya, secepat itu.


source: google.com
source: google.com
Kualitas tiap orang dilihat dari besaran ratingnya, termasuk Lacie, seorang cewek yang saat itu memiliki rating 4.2. Ia sedang berusaha untuk meningkatkan ratingnya menjadi 4.5, tapi di sini, hal itu tidak mudah. 

See the source image
source: google.com
Bagaimana cara mendapatkan rating yang tinggi? Lacie harus menjadi seseorang yang menyenangkan dan dicintai oleh orang sekitarnya, harus memiliki karakter yang menyenangkan, kehidupan yang menonjol, agar orang lain memberikan nilai tinggi terhadapnya. Dan kalau mau lebih efektif, Lacie harus bergaul dengan orang-orang yang memiliki lingkaran sosial lebih besar dengan rating yang juga lebih tinggi. Kebayang kan seperti apa dampaknya? Ya, everyone is faking around, include her. She'll do anything for the sake of her number. Dan dia juga sadar, orang lain pun seperti itu. Terkadang ia sengaja memberikan nilai tinggi kepada orang lain hanya agar orang lain membalasnya dengan nilai yang sama.

source: google.com
source: google.com
Kenapa sih mesti capek-capek ratingnya tinggi? Karena rating ini menunjukkan seberapa bernilai diri mereka. Di samping itu, dengan rating yang tinggi, mereka akan memiliki kemudahan dalam mengakses fasilitas-fasilitas umum. Beberapa fasilitas umum diprioritaskan terhadap orang-orang yang memiliki rating tinggi, sehingga semuanya serba mudah, layaknya VIP. Pelayanan khusus lainnya, seperti diskon barang dan properti pun tersedia bagi orang-orang yang memiliki rating di atas 4.5. Yang ratingnya jelek? Perlakuan orang lain menjadi buruk, bahkan saat Lacie terpuruk di rating yang rendah, ia tidak boleh menggunakan pesawat dan diusir dari bandara. 

Keterpurukan Lacie berawal dari niatannya yang ingin mencapai rating 4.5 karena ia ingin membeli rumah dengan harga khusus yang hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang memiliki rating 4.5 ke atas. Long story short, akhirnya dia memutuskan untuk berteman kembali dengan teman masa kecilnya, Naomi yang memiliki rating 4.8. Ia berniat untuk memperluas lingkaran sosialnya dengan orang-orang ber rating tinggi, dengan maksud meningkatkan ratingnya sendiri.
See the source image
source: google.com
Menurutku episode ini memberikan kritikan tajam terhadap dunia social media, di mana kita selalu mencoba menunjukkan seberapa bahagia kita. Bagaimana masyarakat kita sangat tergila-gila dengan "pujian/like/love" atau "nilai" yang diberikan orang lain. Kita takut untuk jujur, karena takut tidak diterima orang lain. Menarik kan?

Episode ini termasuk episode yang ringan jika dibanding dengan episode-episode lain, yang mana aku perlu googling untuk cari penjelasannya. Masing-masing episode memiliki plot yang menarik, namun tetap memiliki tema yang sama.

Aku ingat pertama kalinya aku selesai menonton Black Mirror season 1 episode 1, aku speechless. Begitupun suamiku. Kok tiba-tiba merinding, ngerasa suram, padahal bukan film horror. Setelahnya kita sepakat untuk hanya menonton 1 episode saja kala itu. Nah, beberapa hari kemudian, aku sempat blog walking pengalaman orang-orang yang nonton black mirror ini. Ternyata gak cuma aku, mostly orang-orang yang nonton Black Mirror merasakan hal yang sama.

Aku juga sempat baca artikel yang dimuat di dailyherald.com, judulnya "You Should be Watching Black Mirror -- but Don't Binge It". Ya, menurutku pun lebih baik tidak menonton series ini secara maraton. Alasannya?

1. "It's So Dark"
Seperti yang tadi kubilang. Pengalaman pertama aku nonton aku merasa suram, depresi. Selesai aku nonton episode pertama, aku diam dan banyak menghela nafas.

2. "It Takes Time to Appreciate"
Selalu ada ide cerdas yang terselubung di setiap episode. Aku biasanya googling tentang persepsi orang di episode yang baru saja kutonton. Selain untuk menyamakan persepsi, aku banyak menemukan fakta dan ilmu lain yang sebelumnya tidak kusadari. Biasanya banyak membaca review dari orang-orang, akan banyak "oooh" dariku.

3. "There's No Reason To"
Karena tiap episodenya tidak saling berkaitan, buat apa buru-buru? Ini bukan series Korea yang bikin penasaran kalau gak nonton sekaligus maraton. Enjoy aja!

4. "It's Not About Destination" 
Di kebanyakan series, biasanya kita tidak sabar menunggu bagian di mana sebuah misteri terungkap, atau istilahnya menanti sebuah jawaban (cie). Tapi di black mirror kita hanya perlu mengikuti alurnya, karena Black Mirror tidak begitu saja memberikan jawaban, tapi kita sendiri lah yang mencari jawabannya.

Selain episode Nosedive tadi, masih banyak episode yang kusuka, malah mungkin semuanya! Ada beberapa episode yang ringan dicerna seperti episode Nosedive ini, tapi juga beberapa episode membuatku berpikir kalau tampaknya aku butuh teman untuk diskusi tentang Black Mirror ini. Makanya, aku merekomendasikan series ini ke beberapa temanku, agar aku punya teman untuk diskusi.

Betul kalau Stephen King bilang series ini mengingatkannya dengan The Twilight Zone, karena akupun merasa begitu, but in a good way ya! Kalian ada yang nonton Black Mirror juga? Episode mana yang kalian suka?
Continue reading Membahas Sisi Gelap Teknologi Melalui TV Series Black Mirror

Monday, 6 August 2018

, ,

Innisfree Smart Drawing Blusher 03 (Review)

Cream blush adalah produk yang sering aku hindari karena menurutku produk semacam itu akan lengket di pipi dan menghasilkan lebih banyak minyak di pipi. Such a big no for me yang pada saat itu selalu suka dengan hasil make up matte. Tapi, makin kesini, entah kenapa aku mulai merasa make up yang bikin muka terlihat glowy ataupun berminyak, malah membuat kulit terlihat lebih sehat. Selain itu, menurut beberapa orang yang sudah sering menggunakan cream blush on, produk ini lebih long lasting dibanding dengan blush on yang berbentuk powder.

Ada beberapa produk cream blush on yang dapat ditemukan di pasaran, mulai dari brand lokal dan juga brand luar. Apalagi sekarang brand lokal sudah banyak yang mengeluarkan cream blush yang multi fungsi. Tapi, kali ini aku bakal review cream blush pertama yang aku punya yang berasal dari Brand Korea, yaitu Innisfree Smart Drawing Blusher no 03. Cream blush ini memiliki 3 shade, dan aku kebetulan dapat yang no 03, yang warna peach.


KEMASAN


Di dalam box nya, blusher ini dikemas dalam bentuk tube plastik yang berukuran panjang dan ramping, dan di ujungnya terdapat kuas sebagai aplikatornya. 


Aplikatornya mengingatkan aku dengan L.A Girl Pro Conceal. Ya semacam gitu lah. Sebenarnya aku lebih suka kalau gak ada kuasnya, karena aku gak pernah pakai kuasnya langsung ke wajah. Aku lebih suka keluarin produknya di tangan, baru di oles ke pipi. Tapi mungkin sengaja dibikin kuas biar lebih praktis, kan smart drawing blusher ya? hehe.

KANDUNGAN


Mostly keterangan di kemasannya ini berbahasa Korea, jadi aku kurang paham. Namun, di sini situlis bahwa blusher ini mengandung SPF 26 PA++.

AROMA

Ada sedikit wangi yang tercium. Aku kurang dapat mendeskripsikannya. Wanginya agak sedikit mirip wangi rempah-rempah. Setelah diblend sih aromanya akan menghilang. Jadi gak masalah buatku.

TEKSTUR

Teksturnya creamy yang mudah dibaurkan. Sedikit lengket di awal, tapi lama-lama akan kering. Menurutku untuk produk cream blush on ini lebih bagus yang lama keringnya, agar kita punya waktu untuk membaurkannya secara sempurna.

HASIL


Blusher ini memiliki hint warna peach, dan di antara 3 varian blusher ini, no 03 menurutku yang paling muda warnanya. Sebenarnya untuk warnanya sendiri aku suka banget, warna peach kaya gini bakal bikin wajah terlihat lebih fresh, tapi sayang..  pigmentasinya menurutku kurang oke. Tidak seperti saat menggunakan lipstick/ lipcream yang hanya mengoleskan 3 titik di pipi warnanya langsung keluar. Pada blusher ini aku harus mengeluarkan produk jauh lebih banyak dari itu untuk mendapatkan hasil yang nyata. Kemungkinan besar karena warnanya yang terlalu muda,blusher ini jadi kurang kelihatan di wajahku yang tone kulitnya sawo matang. Menurutku kalau kalian skintonenya kuning langsat/ putih, warna peach ini bakal lebih keliatan.
  
Foto di bawah ini pertama kali aku menggunakan Smart Drawing Blusher:


Walaupun pigmentasinya kurang oke, tapi produk ini bisa dibuild. Jadi kalau emang ingin lebih keliatan, bisa banget untuk ditambah lagi produknya. Tapi kalau kalian suka tampilan yang natural, semu-semu peach di pipi doang sih produk ini bakal bagus banget dan bikin wajah kelihatan lebih cerah.

Kalau orang bilang produk cream blush itu lebih long lasting, menurutku benar. Bahkan warnanya semakin nyata setelah bercampur keringat. Tapi untuk produk Innisfree ini tidak waterproof. Warnanya cepat hilang begitu wajahku terkena air. 

Foto di bawah ini setelah 2-3 jam pemakaian Smart Drawing Blusher :


Kalau ditanya aku suka gak sama produk ini, aku akan jawab cukup suka. Aku biasanya gak pernah pakai blush on sehari-hari karena gak PD. Tapi blusher ini warnanya soft dan warnanya gak terlalu pop out jadi malah keliatan lebih natural. Cuma kalau ditanya worth to buy gak? Menurutku enggak. Lebih baik menggunakan lipcream atau lipstick sebagai cream blush mu. Selain warnanya lebih pop out, irit juga kan! Hehe. Tapi kalau kalian tetep penasaran ingin coba produk ini, kusarankan untuk memilih shade 01 atau 02 yang warnanya lebih pop out.
KESIMPULAN 
+  Tekstur mudah dibaurkan
+ Ada 3 pilihan warna yang cantik-cantik
+ Cukup tahan lama, makin lama warna makin nyata
+ Mengandung SPF 26 PA ++
+ Bisa dibuild
- Aplikator (kuas) nya sulit dipakai 
- Butuh produk yang cukup banyak agar warna telihat nyata
- Tidak waterproof

Harga : tergantung di mana kamu beli, sekitar 90.000 - 150.000 untuk 12 ml
Nilai : 3/5
Beli lagi? Nggak. Kalau habis, ingin coba produk lokal aja :)
Continue reading Innisfree Smart Drawing Blusher 03 (Review)

Wednesday, 1 August 2018

, ,

REVIEW : Farsali Rose Gold Elixir 24k Gold Infused Beauty Oil, Face Oil Untuk Kulit Acne Prone!

Tidak semua produk yang mengandung minyak, tidak dapat digunakan oleh kulit berminyak. Faktanya, kulit berminyak juga membutuhkan minyak di wajahnya untuk menjaga keseimbangan kelembapan kulit wajah, karena kulit yang kurang lembap, akan secara alami memproduksi minyak lebih banyak, sehingga wajah menjadi sangat berminyak. Itu adalah rangkuman dari artikel-artikel yang pernah kubaca. Pada intinya, kulit wajah yang berminyakpun butuh produk yang dapat melembapkan, termasuk yang mengandung minyak.

Dari intro tadi, aku sudah mengulang kata "minyak" berapa kali ya? Hehe. Ya, tentunya review inipun gak jauh-jauh dari minyak. Minyak yang aku bahas kali ini mengandung 24k serpihan emas yang dapat membantu kulit wajah menjadi tampak sehat bercahaya. Salah satu beauty oil yang sempat booming karena beberapa orang menjadikannya sebagai primer dan juga merupakan satu-satunya beauty oil yang kupunya dan kucinta saat ini, yaitu Farsali Rose Gold Elixir 24k Gold Infused Beauty Oil.

Farsali Beauty Oil ini hadir dengan 3 varian, Rose Gold Elixir (botol putih), Unicorn Essence (botol ungu), dan Volcanic Elixir (botol hitam). 

Masing-masing varian punya kegunaan yang berbeda dan gak akan aku bahas di sini karena pasti bakal panjang banget bahasannya. Kalian bisa cek website resminya www.farsali.com , mereka cukup detail untuk informasi produknya. Seperti judulnya, yang akan aku bahas adalah Rose Gold Elixirnya.

HARGA

Untuk ukuran 30 ml, harganya itu $54.00 yaitu sekitar 770 ribu. Tapi, yang aku punya adalah yang versi 10 ml, harganya sekitar 390 ribuan. Walaupun rasanya agak mahal, tapi karena 1 botol ukuran 10 ml ini menurutku cukup untuk berbulan-bulan, menurutku masih terjangkau.

KEMASAN



Botol putih ini dikemas di dalam box. So sorry, boxnya gak sempat aku baca tulisannya apa dan keburu dibuang sama suamiku. Untuk botolnya sendiri terbuat dari kaca berwarna putih. Informasi yang tertera dibotol hanya bertuliskan cara penggunaannya. Di sini tertera bahwa produk ini dibuat di USA, tapi penulisannya di sini ditulis dengan 2 bahasa, Bahasa Inggris dan Perancis. 


Botolnya kokoh dan terdapat pipet yang memudahkan kita untuk mengaplikasikan produknya. Pipetnya berujung agak runcing sehingga produk yang dikeluarkan sangat apik, gak bleberan dan pas takaran tiap tetesnya.

KANDUNGAN

Nah karena boxnya kebuang, aku ambil informasinya dari web resminya aja ya. Mudah mudahan sama dengan yang tercantum di boxnya. .
  • Rosehip Seed Oil
  • Safflower Seed Oil
  • Pumpkin Seed Oil
  • 24k Gold
  • Vitamin E
  • Lemongrass Oil
  • Orange Peel Oil
MANFAAT

Farsali 24k Rose Gold Elixir Oil ini mengandung partikel emas 24 karat yang akan terserap kulit dan membuatnya tampak bercahaya. Bahan dasar dari Farsali Rose Gold Elixir ini adalah Rosehip seed oil. Rosehip seed ini mengandung 77% fatty acids yang terdiri dari kandungan linoleic dan linolenic acids, vitamin C dan Vitamin A (retinol). Semua bahan tersebut sangat penting dalam regenerasi kulit dan mengurangi tampilan kerutan halus, hyperpigmentasi dan stretch mark.

Untuk lebih spesifiknya, ada beberapa fungsi Rose Gold Elixir ini yang bisa kamu manfaatkan, yaitu:
  1. Sebagai pelembab wajah sehari-hari
  2. Sebagai pelembap bibir, baik digunakan sebelum menggunakan lip product
  3. Dicampurkan dengan foundation untuk menghasilkan makeup yang lembap dan glowy
  4. Memperbaiki produk makeup yang sudah kering dengan memberikan beberapa tetes Farsali ini ke produk yang sudah kering (cara pakainya seperti Inglot Duraline)
Tip : Farsali ini juga bisa diteteskan ke brush atau beauty sponge pada saat kalian menggunakan make up agar proses blending lebih mudah dan lebih rata.

Sejujurnya, dari manfaat-manfaat yang telah kusebutkan tadi, hanya 1 fungsi yang biasa kugunakan, yaitu sebagai pelembab, itupun hanya dipakai di malam hari.

CARA PENGGUNAAN



Karena mengandung partikel emas, dianjurkan untuk mengocok produknya sebelum memakai agar partikel emasnya tercampur. Setelah itu tuangkan 2 tetes untuk diaplikasikan ke seluruh wajah dan leher. Untukku 2 tetes yang paling pas. Kalian tinggal sesuaikan takarannya, yang penting tidak perlu terlalu banyak mengaplikasikannya. Kenapa? Nanti aku jelaskan.

TEKSTUR

Teksturnya seperti minyak pada umumnya. Tidak terlalu kental sehingga mudah diaplikasikan ke kulit.

AROMA
Ada aroma jeruk yang mengingatkan aku dengan Scott Emulsion rasa jeruk. Ada yang pernah minum Scott Emulsion waktu kecilnya?

HASIL

Nah di sini aku bakal cerita panjang kayaknya. Setelah aku menggunakan Farsali ini selama 3 bulan, dapat kusimpulkan bahwa cara aku menggunakan Farsali ini sangat berpengaruh terhadap hasil yang didapat. Yang perlu diketahui adalah, Farsali ini memiliki minyak yang sulit diserap kulit. It doesn't absorb into your skin, it's just like sit on top of your skin. Jadi dia gak akan benar-benar nyerap, makanya aku tidak merekomendasikan untuk menggunakan beauty oil ini di pagi atau siang hari kecuali emang kamu suka tampilan yang super dewy. 



Selama 3 bulan ini aku melakukan beberapa eksperimen penggunaan farsali dalam rutinitas skin care malamku untuk mencari tau bagaimana penggunaan Farsali yang tepat agar produk ini dapat bekerja secara optimal di kulit.

Eksperimen yang pertama :
Micellar water >  Facial Wash >  Exfo Toner > Hydrating Toner > Essence >  Farsali
Hasilnya : Terlalu lembap, saking lembapnya muncul beberapa whiteheads di sekitar pipi

Eksperimen kedua : 
Micellar water > Facial Wash > Exfo Toner > Essence > Farsali
Hasilnya : Kering di beberapa bagian dan whiteheads masih ada

Eksperimen terakhir : 
Micellar water > Facial wash > Evian Facial Spray > Essence > Farsali
Hasilnya : Lembap pas, tidak kering, whiteheads jauh berkurang.

Jadi menurutku, dalam penggunaan farsali ini akan lebih baik kalau kita tidak terlalu banyak menggunakan skin care lain sebelumnya. Apalagi untuk jenis kulit oily sepertiku. Dan lagi, takarannya harus pas. Jangan terlalu banyak, karena minyak ini tidak menyerap ke kulit. Kebayang kan jadinya kaya apa kalau terlalu banyak takarannya?

Lalu, selama 3 bulan, apa sih yang aku rasain? Aku ngerasa kulit lebih sehat. Kadar kelembapannya pas. Walaupun sangat berminyak, saat aku menggunakannya dengan tepat, farsali ini sangat membantuku dalam mengurangi whiteheads dan jerawat. Produk ini juga membuat kondisi wajahku lebih stabil, kadar minyak di kulit wajah lebih terkontrol sehingga jarang muncul masalah-masalah di kulit wajah seperti kulit kering ataupun jerawat. Tekstur kulit wajah lebih kenyal dan enak dipegang. Sejauh ini, Farsali adalah produk yang aku andalkan dalam mengatasi masalah kulit wajah, dari mulai melembapkan, sampai untuk mengurangi jerawat.

Jadi kesimpulannya :
+ Mengandung berbagai macam minyak dan partikel emas yang berfungsi baik dalam regenerasi sel kulit
+ Menjaga kelembapan kulit
+ Mengontrol kadar minyak
+ Mengurangi jerawat
+ Membuat kulit lebih halus dan kenyal
+ Kemasannya kokoh dengan kualitas pipet yang oke
+ Hanya 2-3 tetes cukup untuk seluruh bagian wajah

- Hanya direkomendasikan untuk pemakaian di malam hari
- Kurang cocok jika digabungkan dengan terlalu banyak skin care
- Tidak menyerap ke dalam kulit
- Agak mahal
- Sulit dicari, harus online
 
Harga : 390.000/ 10 ml
Beli di? Bisa di web resmi nya farsali.com atau di online shop terpercaya
Nilai : 4/5
Beli lagi? Ya!

Continue reading REVIEW : Farsali Rose Gold Elixir 24k Gold Infused Beauty Oil, Face Oil Untuk Kulit Acne Prone!

Sunday, 1 July 2018

Senka Perfect Whip, Is It Worth the Hype?

Produk yang tiba-tiba booming karena salah satu youtuber sangat merekomendasikannya sebagai facial wash favoritnya ini tiba-tiba banyak terpampang di drugstore. Dengan harga yang cukup terjangkau, banyak yang ingin mencoba produk keluaran Shiseido ini, dan aku salah satunya. Tertarik dengan banyaknya review yang bilang kalau produk ini cocok untuk kulit sensitif, sepertiku, akhirnya aku memutuskan untuk beli ini, Senka Perfect Whip Facial Wash.


KEMASAN

Seperti facial wash pada umumnya, kemasannya berbentuk tube plastik. Sedikit perbedaan hanya terletak pada bagian bawah tube yang memiliki diameter lebih kecil.


KANDUNGAN

Aqua, Stearic Acid, Peg-8, Myristic Acid, Potassium, Hydroxide, Glycerin, Lauric Acid, Alcohol, Butylene Glycol, Glyceryl Stearate Se, Polyquaternium-7, Fragrance, Disodium Edta, Sodium Benzoate, Sodium Metabisulfit, Sodium Hyaluronate Sericin, Potassium Sorbate, Sodium Acetylated Hyaluronate, Citric Acid, Hydrolyzed Silk

AROMA

Produk ini masih mengandung fragrance. Wanginya seperti wangi buah-buahan dan menurutku agak menyengat, karena aku selalu suka produk kecantikan yang tidak mengandung fragrance. Kalaupun mengandung fragrance, wanginya harus yang lembut.

TEKSTUR


Teksturnya kental dan padat. Cukup dengan mengeluarkan produknya sedikit, mampu untuk menghasilkan busa yang banyak. Ini tentu sesuai namanya, Perfect Whip.


HASIL

Sebelum aku bercerita mengenai pengalamanku menggunakan Senka Perfect Whip, aku mengingatkan kembali bahwa jenis kulitku adalah sensitif dan berminyak. Reaksi produk yang tidak cocok di kulit akan cepat terlihat. Itu yang terjadi saat aku menggunakan Senka ini dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Wajahku yang biasanya berminyak, terasa kesat. Kering di beberapa bagian dan timbul beberapa whiteheads yang membuat tekstur wajah menjadi tidak rata, atau istilahku adalah "gradakan".

Kebetulan temanku juga sempat menggunakan facial fash ini dan ia sependapat denganku bahwa Senka Perfect Whip ini tidak jauh berbeda dengan Biore Facial Wash. Tekstur yang kental, wangi parfum yang cukup menyengat, busa yang banyak, dan sensasi kering setelah memakainya :( Kemungkinan karena bahan-bahan yang digunakan memang bukan direkomendasikan untuk kulit sensitif, karena masih mengandung fragrance dan alkohol di dalamnya. Tapi, di luar itu, yang namanya skin care emang cocok-cocokkan. Buktinya produk ini ngehype banget, bahkan beberapa orang yang memiliki kulit sensitif bisa cocok menggunakan produk ini. Tapi buat aku, masih banyak facial wash lain yang lebih oke dan lembut di wajah dengan harga yang setara dengan Senka ini.

KESIMPULAN
+ Teksturnya kental dan menghasilkan banyak busa
- Masih mengandung alkohol dan fragrance
- Membuat wajah kering
- Menimbulkan whitehead di beberapa bagian
- Tidak cocok untuk kulit sensitif/ kering

Harga : tergantung di mana kamu beli, 60.000 - 85.000 untuk 100 ml
Beli di? Online atau Drugstore. Sejauh ini aku lihat di Watson.
Nilai : 1/5
Beli lagi? Sorry, No.

PS: Aku gak suka menimbun barang yang gak akan aku pakai sama sekali. Jadi, buat teman-teman yang cocok dengan produk ini, kalian bisa DM aku di IG @anisafirdausi atau tulis komentar di bawah sini. Aku akan kasih produk ini tanpa syarat kecuali ongkir ditanggung sendiri ya. Pengiriman bisa dari Lampung ataupun Bandung.
Continue reading Senka Perfect Whip, Is It Worth the Hype?

Monday, 14 May 2018

Imperfect/ I'm Perfect, Cerita Meira Anastasia tentang Mencintai Diri Sendiri




Semenjak langganan Gramedia Digital, aku lebih aware dengan buku-buku baru. Ini adalah salah satu buku yang menarik perhatianku. Awalnya karena judulnya, lalu begitu aku lihat penulisnya ternyata Mamak Meira, yang juga adalah istri dari Ernest Prakasa, secepat itu aku langsung download!


Buku ini bercerita banyak tentang proses Meira mencintai dirinya sendiri. Tentang bagaimana perjuangannya meningkatkan self acceptance, tentang betapa dulu ia sangat insecure, bagaimana pentingnya kita membahagiakan diri kita sendiri. 

Sejujurnya, aku tidak begitu mengikuti social media Meira ataupun Ernest Prakasa. Maka, setelah aku baca bukunya, tentang permasalahan yang ia rasakan sebagai ibu dari 2 anak dan menjadi istri seorang artis, aku cukup terkejut. Banyak part-part yang sangat menyentuh emosiku, terutama cerita tentang betapa insecurenya dia dahulu. Ada juga part yang membuat aku ikut marah dan sedih, betapa sadisnya netizen berkomentar di foto-foto Instagramnya. 

Mungkin beberapa orang bakal bilang "ya udahlah namanya juga social media, harus siap dibully", (no, it's not okay to bully anyone!) atau misalnya "ya elah baperan amat. bercanda kali ah.". Ini yang banyak terjadi sekarang, padahal kita tahu bahwa setiap orang berbeda. Ada orang yang lebih perasa dan tidak bisa menganggap angin lalu bercandaan orang. Ini bukan lebay, please. Kalian harus tau, bagi orang-orang yang level insecuritynya tinggi, ini bisa memicu depresi!
"Jadi, kalau ada dari kamu yang sempat berpikir 'Yaelah apaan sih, baca komen kayak gitu aja langsung bete,';mungkin enggak sih kalau sebenarnya yang perlu diperbaiki adalah sikap orang yang tega menulis komentar seperti itu, bukan orang yang merasa tersakiti atau sensitif terhadap komentarnya." (I'mperfect, 11)
Sebenarnya ini bukan pertama kali aku melihat komentar-komentar jahat netizen di foto artis. Kalau kalian follow instagram gosip, tentunya hal tersebut sudah biasa. Tapi tetap, mau sesering apapun aku melihat komentar tersebut, aku tetap marah melihat orang-orang ini, yang mungkin (sadly) tidak punya kerjaan selain mengadili orang lain lewat media. Ini juga dibahas oleh Meira, bahwa mostly netizen-netizen berjempol jahat ini adalah perempuan. Kenapa sih kenapa?

Aku juga bingung kenapa justru perempuan yang sering menjatuhkan perempuan lainnya. Tapi tunggu, mungkin dulu akupun pernah begitu. Jujur, dulu aku sering melihat Instagram orang lain, baik itu selebram atau siapapun itu, bawaannya ingin nyinyir, tapi aku memang tidak punya nyali sampai harus menulis komentar jahat di kolom komentarnya. Tapi aku menyadari, apa yang aku rasakan dahulu adalah bentuk luapan rasa insecure ku. Iya, semuanya muncul begitu saja kala aku sedang tidak percaya diri. Saat aku tidak bisa percaya diri, kenapa orang-orang ini bisa? Jadi untuk menjaga egoku, dulu aku mencari cela di orang itu. Yah begitulah, dan aku sadar bahwa itu salah dan aku tidak boleh seperti itu lagi. Dan mungkin itu adalah satu yang dirasakan oleh para netizen jahat itu. Itulah kenapa menurutku kepercayaan diri itu hal yang sangat penting.

Di buku ini, Meira juga membantu kita untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Memperbaiki diri ke arah yang lebih positif dan menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Ada beberapa hal yang Meira lakukan untuk membuat dirinya lebih baik lagi, secara psikis dan fisik. Dan jangan salah, yang memotivasinya untuk menjadi lebih baik justru komentar negatif dari suaminya. Bagaimanapun juga, jangan membatasi diri menjadi lebih baik dengan dalih sudah puas dengan diri sendiri.
"Kadang, kita merasa baik-baik saja, padahal kita hanya terlalu takut untuk mengakui kalau ada yang harus diperbaiki. Takut mengakui ada yang salah dengan cara kita menjalani hidup. Takut karena harus berubah.
Kesimpulannya, komentar negatif tentang fisik bisa berdampak positif pada "korban" kalau si "pelaku" secara sadar melakukan itu untuk kebaikan, bukan hanya untuk kepuasannya. Tentu perlu cara yang baik pula untuk menyampaikan komentar itu. Bukan dengan ejekan dan kata-kata menyakitkan, tapi dengan penuh kasih sayang dan empati. " (I'mperfect, 31)
Satu hal yang harus kita pahami adalah, we can't please everyone, whatever we do, some people won't like it. Mau secantik Raisa, sekaya Bill Gates, sepintar Cak Lontong, pasti bakal selalu ada orang yang gak suka sama kita. Gak percaya? Well, I prove you.

Aku sudah main ke Instagram Raisa, si cantik anggun yang menurutku sudah masuk kategori manusia tercantik parah sulit dicela, kupikir aku gak akan menemukan komentar jelek di Instagramnya, tapi ternyata..
"Cantik cantik tapi lututnya hitam.."
See?

Ya sudahlah. Kita tidak perlu berubah demi kesenangan, kebahagiaan, atau kepuasaan orang lain. Bahagialah untuk diri sendiri dan orang-orang yang tulus sayang sama kita. Dan buat teman-teman yang masih senang bully orang lain, sudahlah. We need more love and less hate!
"Dan yang paling penting, berubahlah karena kamu merasa perubahan itu akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik lagi daripada sebelumnya. Bukan HANYA karena apa yang orang pikirkan tentangmu. Atau karena orang lain yang memintamu berubah." (I'mperfect,32)
Overall, aku suka banget bukunya Mamak Meira ini. Aku bisa merasakan hal yang sama sebagai seorang perempuan yang pernah ada di level insecurity tingkat tinggi, dan bagaimana sulitnya merasa bahagia dengan diri sendiri. Tapi semua butuh waktu dan proses. Nikmati setiap proses. Be proud of each step you take toward reaching that goal. 

Btw, bukunya ini bisa dibeli di Gramedia dan katanya sold out mulu. Well done, Mamak Meira. I'm inspired!

"Do your little bit of good where you are, it's those little bits of good put together that overwhelm the world." -Desmond Tutu-
Continue reading Imperfect/ I'm Perfect, Cerita Meira Anastasia tentang Mencintai Diri Sendiri

Wednesday, 2 May 2018

Newly Married Life in Lampung : Adaptasi Kulit!

Setelah mendapat kabar bahwa si Mas dimutasi ke Lampung, tepatnya di Pringsewu pada Januari kemarin, aku berdiskusi dengan keluarga dan juga si Mas perihal pekerjaanku, dan pada akhirnya aku harus ikhlas melepas pekerjaan yang telah kujalani selama 2 tahun demi mengabdi kepada suami di Lampung. Wohoo.

Aku belum pernah sekalipun ke Lampung. Satu-satunya wilayah yang pernah kukunjungi di Pulau Sumatra adalah Palembang, itupun waktu aku kecil. Satu-satunya yang terlintas saat berpikir tentang Lampung adalah gajah main barbel. Jakarta punya Agung Hercules yang bisa joget barbel, tapi kupikir dia akan jobless jika tinggal di Lampung. Kalah sama gajah. Apa sih kamu, Nis.

Sebelum pindah ke Lampung aku memang sudah prepare ini itu, terutama masalah perawatan kulit (as you know, kulitku sensitif banget dengan perubahan air dan cuaca). Beberapa bulan sebelum menikah, aku memang rutin menggunakan perawatan Erha Clinic untuk membuat kondisi kulitku tetap stabil sampai hari pernikahanku. Setelahnya, aku mulai mengurangi penggunaannya dan berencana untuk menggantinya dengan skincare drugstore yang sebelumnya biasa kupakai. Tapi yang bikin degdegan tentu saja, efek ketergantungannya. Kenapa? karena dulu aku pernah berjuang untuk mengembalikan kondisi kulit setelah menggunakan krim dokter, dan itu membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak singkat. 

Jadi, saat pindah ke Lampung, aku tetap membawa skincare dari Erha Clinic, kalau-kalau suatu saat kulitku bermasalah. Dan benar saja, perubahan cuaca dan air di sini membuat kulitku menjadi gradakan, kasar dan berminyak, ngerti kan? Padalah saat itu aku juga sudah memakai krim dokter Erha. Biasanya dengan krim dokter hanya butuh waktu beberapa hari untuk menbuat kulitku lebih baik. Tapi karena sudah 2 minggu tidak ada perubahan, jadi aku berasumsi bahwa ini karena air di sini yang tidak cocok dengan kulitku. Aku bisa menyimpulkan seperti itu karena aku merasa setiap kali aku selesai wudhu atau cuci muka, aku merasa kulit wajahku terlalu kering atau kadang terasa lengket. 

Setelahnya, setiap aku wudhu atau mencuci wajah, aku selalu membersihkannya kembali menggunakan kapas yang sudah kuberi air mineral. Tadinya sih mau sekalian cuci muka pakai air mineral, tapi ternyata harga air galon tidak murah. Hmm. Dan ternyata dugaanku benar. Sekitar seminggu setelahnya, wajahku membaik. Berarti aku benar, bahwa ini karena aku tidak cocok dengan airnya. Setelah aku tahu penyebab masalah kulitku, aku mengurangi penggunaan krim dokter dan mulai beralih ke skincare drugstore yang biasa kupakai.

Tentu saja, karena aku sekarang sudah tidak bekerja kantoran, aku sangat bisa meminimalisir penggunaan make up dan itu sangat membantu penyembuhan kulitku. Selain itu, ada 1 item yang menjadi holy grailku baru-baru ini, dan menjadi the one and only skincare yang kupakai saat kulitku bermasalah. Dan tentunya, ini murah banget!  I'll tell you soon! XO.


Continue reading Newly Married Life in Lampung : Adaptasi Kulit!