Showing posts with label JALAN-JALAN. Show all posts
Showing posts with label JALAN-JALAN. Show all posts

Wednesday, 6 July 2022

, , , ,

Jalan-Jalan Bawa Bocil ke Tahura

Jadi orang tua emang harus mikir terus, salah satunya ya ini, mikirin aktivitas apalagi yang mau dikasih ke anak, supaya anak gak bosan di rumah terus. Main di playground udah keseringan, kali ini saya ingin mengajak si non ke tempat yang dekat dengan alam. Selain untuk anak, saya juga merasa butuh refreshing menghirup udara segar. Jadilah, kami (saya dan suami) memutuskan untuk pergi ke Tahura (Taman Hutan Raya) yang beralamat di Ir. H. Djuanda. Banyak destinasi yang menarik di Tahura, namun yang jadi incaran kami adalah penangkaran rusanya. Alasannya ya sederhana, karena si non super excited kalau udah lihat binatang.

Kami berangkat dari rumah pada pukul 06.30, tadinya mau lebih pagi lagi, supaya dapat udara yang super fresh dan menghindari kerumunan orang. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, karena gak macet juga. Selama di perjalanan, saya nyuapin sarapan si non dan suami, supaya sesampainya di sana, tenaga kita sudah full dan siap untuk jalan jauh. Sesampainya di sana, sudah banyak gerombolan orang, ada pasangan-pasangan yang mungkin mau olahraga bareng dan banyak rombongan ibu bapak yang berkumpul di area parkir, sepertinya menunggu rekannya yang lain.

Tiket masuknya hanya 10.000 saja, si non belum dihitung jadi saya cukup membayar 20.000 dan untuk tiket mobil sebesar 12.000. Saya sempat tanya soal tempat penangkaran rusa, Bapak penjual tiketnya bilang kalau lokasinya bisa ditempuh sekitar 30 menit. Wah, kalau 30 menit doang mah dekat lah. Cincay.

Tapi begitu saya lihat peta yang dipajang, kok agak beda ya. Untuk sampai ke penangkanan rusa, harus melewati goa jepang, goa belanda, dan dari situ pun masih harus menempuh sekitar 1 kiloan lagi. Tapi, karena pagi-pagi masih semangat dan optimis, hajar aja lah! Saya gak bawa tas, suami bawa ransel yang isinyapun hanya air minum dan baju ganti si non, jadi gak ada beban untuk jalan jauh. Jalan di Tahura terasa sangat menyenangkan pagi itu, udaranya sangat segar, dan waktu itu juga belum ramai. Bahkan dalam jangkauan 100 meter pun saya gak lihat ada orang lain. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Ada deretan warung-warung sepanjang jalan, jadi sebetulnya gak perlu khawatir kalau lelah, lapar, atau haus di perjalanan, banyak tempat untuk istirahat. Kami melewati Goa Jepang dan melanjutkan perjalanan, gak tertarik buat masuk karena saya parnoan kalau bawa anak. Kebanyakan nonton setan-setanan bikin parno gak masuk akal emang. Kami juga melewati tebing yang sering dipakai orang untuk foto-foto, dan di sana jugalah kami melihat banyak monyet-monyet imut yang bergelantungan di pohon. Wah, itu adalah pemandangan yang menyenangkan buat si non. Dia seneng banget liat monyet sementara saya degdegan karena sepengetahuan saya, mereka-mereka ini usil dan suka ambil barang bawaan kita. Tapi, untungnya aman-aman aja.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Setelah itu, lanjut lagi. Kami jalan pelan ketika melewati sebuah bangunan yang unik dengan bendera Belanda terbentang di depannya. Aneka mainan anak terpajang di atas meja depan cafe tersebut, lalu juga ada buku menunya. Holland Spot, namanya. Wah, lucu. Tapi, karena saya masih fokus ke tujuan awal, yaitu penangkaran rusa, saya tetap jalan meninggalkan cafe bernama Holland Spot itu.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Setelah melewati Goa Belanda, saya udah mulai sedikit ngos-ngosan, karena gak cuma jalan, kadang saya dan si non berlarian kejar-kejaran yang lumayan menguras energi. Akhirnya, kami istirahat dulu di warung sambil menikmati kelapa muda dan jagung bakar. Harga kelapa muda nya 15ribu sedangkan jagung bakarnya 20ribu. Mahal, tapi ya namanya juga tempat wisata. Lucunya, waktu saya sedang menikmati kelapa muda dan menyimpan jagung bakarnya di meja, seekor monyet besar lompat ke meja, mengambil jagung, dan pergi melompat ke pohon. Kaget sih iya, tapi gak kesel soalnya si non jadi bisa liat adegan yang langka itu.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Matahari udah mulai naik, udah mulai hangat, kami langsung bergegas. Tadinya, kami mau melanjutkan perjalanan, karena sudah berkali-kali si non bilang ingin lihat rusa. Tapi, begitu saya lihat petunjuk arah yang menunjukkan kalau lokasi yang kami tuju masih berjarak 1,5 km lagi, saya jadi ragu mau lanjut atau tidak. Perjalanan kami selama dan sejauh tadi ternyata belum sampai setengah perjalanannya. Saya tanya si non, dia bilang tetap mau lanjut, bilang gak capek. Tapi, dia kan gak tau 1,5 km itu sejauh apa, saya langsung mengurungkan niat dan bilang sama suami untuk putar balik aja. Lihat rusanya nanti aja di kebun binatang atau di Ciwidey. Haha.

Gak jauh dari kita putar balik, kami melwati tempat tadi, Holland Spot. Karena penasaran, akhirnya kami mampir dan memesan cemilan sambil melihat-lihat mainan yang berjejeran di atas meja. Ternyata mainan itu boleh dipinjam selama kita makan di sana, si non senang sekali, dia bolak balik pilih mainan yang ia sukai. Kakak-kakak pelayannya super ramah dan baik sekali. Kalau kita pesan pancake, kita boleh melihat prosesnya atau bahkan boleh masak sendiri. Si non ditawari, tapi tentu saja dia gak mau haha. Cuma, dengan menonton kakaknya memasak pancake dan menghias toppingnya saja, dia sudah terhibur. Saya pikir,cafe-cafe di tempat wisata begini cuma menonjol di harga aja, untuk rasa nomor sekian. Ternyata saya salah, bala-balanya harganya 25ribu tapi isinya 8 dan ukurannya besar-besar, dan yang terpenting rasanya enak! Ya bala-bala rumahan lah, dilengkapi dengan cengek dan saus kacang. Pancakenya seharga 35ribu, dapat 6 depan ukuran mini, teksturnya lembut, toppingnya banyak, dan rasanya enak. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Karena tempatnya enak, saya lumayan lama berdiam di sana. Apalagi di dalamnya juga ada perpustakaan kecil. Si non meminjam majalah Bobo, lalu kemudian Kakak pelayan yang melihat langsung menghampiri kami dan meminjamkan si non crayon untuk mewarnai. Baik banget! Makin anteng aja si non di sana, sampai sulit diajak pulang. Tapi, karena hari sudah semakin siang, dan saya mulai mengantuk karena angin sepoi-sepoi, kami memutuskan untuk pulang. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Meskipun gak jadi lihat rusa, tapi banyak hal lain yang jadi pengalaman buat si non, contohnya berjalan di jembatan, melihat monyet mengambil jagung, melihat binatang lain sepanjang perjalanan seperti cacing, laba-laba, juga kucing-kucing yang berkeliaran di sana, serta bunga-bunga cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Yang terpenting, ia tau kalau alam semesta ini luas dan indah sekali, dan semuanya ini ada pemiliknya, Yang Maha Segalanya. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung
Continue reading Jalan-Jalan Bawa Bocil ke Tahura

Saturday, 2 February 2019

, , , ,

REVIEW : Imah Seniman Resort Lembang, Menginap di Tengah Hutan!

Kalau kemarin saya sudah cerita tentang pengalaman bermalam di tepi danau, kali ini berbeda. Masih di sekitar Lembang, resort dengan sentuhan alam lainnya, yaitu Imah Seniman Resort. Sejujurnya, saya merasa Imah Seniman ini gak seeksis Sapulidi. Malah saya baru tahu tahun ini, dari Mas Suami.Tapi, gak tau juga kalau ternyata sebetulnya saya yang gak update.

Sekilas saya lihat di google, foto-foto yang keluar tentang Imah Seniman ini gak terlalu menarik. Tempat dan konsepnya setipe dengan Sapulidi. Tadinya saya mau skip aja, tapi waktu lihat review-reviewnya kok kayaknya menarik. Jadi sehari sebelum saya check in, saya booking tipe Suite Forest View dengan harga 588.000 melalui Traveloka.

 Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View


Informasi Resort

Imah Seniman Resort, Resto And Gallery
Alamat: Jalan Kolonel Masturi No.8, Cikahuripan, Lembang, Gudangkahuripan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391
Telepon: (022) 2787768  
Website : www.imahseniman.com 

Imah Seniman ini ternyata lebih luas dari yang saya bayangkan. Konsepnya jauh di atas Sapulidi. Kamarnya lebih banyak dengan tipe-tipe kamar dan harga yang variatif. Sebetulnya, di sini juga ada tipe kamar tepi danau seperti Sapulidi, tapi untuk suasana yang berbeda, saya pilih kamar yang di tengah-tengah hutan. Kamar hutan ini harganya sedikit lebih mahal dari pada kamar tepi danau. Saya gak tau pasti apa alasannya, tapi jika dibandingkan dengan pengalaman saya bermalam di kamar tepi danaunya Sapulidi, saya merasa kamar di tengah hutan ini lebih sejuk, adem, menenangkan, dan menyegarkan penglihatan.

Tadinya saya mau foto resort ini mulai dari gerbang depannya, tapi sayangnya saat itu hujan, jadi agak rempong. Area Imah Seniman ini sangat luas, untuk resortnya saya perlu masuk lagi ke dalam sekitar 500 meter menggunakan mobil. Buat teman-teman yang gak bawa mobil, jangan khawatir, pihak Imah Seniman menyediakan mobil untuk mengantar tamunya ke kamar. Lalu dari parkiran mobil ke kamarpun, saya harus jalan sekitar 200 meter melewati pepohonan, jembatan kayu, dan sungai.

Basah dan lelah karena lari-lari di tengah hujan, terbayarkan ketika saya sampai di kamar. Kamar ini gak ada balkonnya, tepat di tengah pepohonan, tapi dindingnya terbuat dari kaca. Jadi saya bisa lihat pemandangan di luar tanpa harus ke luar kamar. Cuma mungkin harus hati-hati kalau mau ganti baju atau ina inu jangan lupa ditutup gordennya rapat-rapat, karena keliatan jelas banget dari luar.

Perbedaan mencolok yang saya rasakan begitu sampai di sini adalah, tempat ini jauh lebih bersih dari Sapulidi Resort. Padahal, berdasarkan survey saya di google, saya berasumsi Imah Seniman ini bakal lebih gelap dan gak terawat. Jadi teman-teman, betul kalau ada yang bilang foto gak selalu sama dengan aslinya, di foto jelek, belum tentu aslinya juga jelek. Begitupun sebaliknya, di foto sih cantik, pas dizoom ternyata artis korea #ifyouknowwhatimean.

 Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Fasilitas sama dengan Sapulidi, kasur tipe king, TV, meja, kursi, pembuat teh/kopi, air mineral, dan wi-fi. Lalu, tentu saja, jangan berharap sama wifinya.

Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Bedanya dengan Sapulidi, di sini kamar mandinya lebih luas. Lalu, antara bathtub dan toilet gak ada pembatasnya. Jadi kalau misalnya kamu lagi berendam di bathtub terus tiba-tiba teman sekamarmu ingin BAB ya pilihannya cuma 2, keluar atau diam dan menikmati aroma-aroma fantastis.


Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Bathtub di sini gak kalah lucunya dengan bathtub Sapulidi. Ukurannya 2x lipatnya, sehingga mungkin cukup untuk 4 orang. Saya sempat mengomel lagi, kenapa resort di Lembang ini bikin bathtub udah kayak bikin kolam ikan, referensinya dari mana? Kerannya sih lumayan kenceng, tapi... airnya gak panas-panas. Saya sempat nanya ke pegawainya, katanya kapasitas air panasnya hanya 50 liter, dan kalau habis, harus menunggu 30 menit - 1 jam agar kembali panas. Tapi, saya nunggu sampai 1 setengah jam, airnya masih hangat suam-suam kuku. Jadi sama seperti Sapulidi, bathtubnya juga gak kepakai. Kecuali kamu mau berendam pakai air setengah hangat. Saya jadi heran kenapa resort-ressort ini bikin bathtub segede gaban tapi kuantitas dan kualitas air hangatnya gak memadai gitu loh. Kan PHP. Bingung Moana.

Setelah selesai bersih-bersih dan ganti baju, tadinya kami berencana untuk mencari makan malam di luar. Tapi berhubung hujannya masih deras dan saya lagi gak mood hujan-hujanan, akhirnya kami pesan ke restonya Imah Seniman. Saya pikir harganya bakal mirip-mirip sama Sapulidi, tapi ternyata, selain menu masakan Imah Seniman gak sebanyak Sapulidi, harganya pun lebih mahal. Waktu itu saya beli nasi timbel komplit (nasi, ayam, tahu, tempe, sayur asam) harganya 56.000. Rasanya B aja. 

Beda dengan Sapulidi yang sarapannya terbatas dan diantar ke kamar, resort Imah Seniman menyediakan sarapan seperti hotel-hotel pada umumnya, walaupun gak begitu variatif. Restorannya di tepi danau, konsepnya lucu, seperti saung yang berjejeran. Sayangnya saya gak sempat foto karena gak bawa kamera maupun HP ke luar. 

Di Imah Seniman ini saya gak terlalu banyak explore sana sini. Selain karena hujan, waktu kami mepet-mepet karena masih ada tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Kalau ada kesempatan, saya sih ingin ke sini lagi. Suasanyanya tenang, adem, harganyapun gak begitu mahal. Kalau kamu ngerasa penat dan ingin staycation di tempat yang tenang, kamu mungkin harus coba menginap di sini! 
Continue reading REVIEW : Imah Seniman Resort Lembang, Menginap di Tengah Hutan!

Wednesday, 14 November 2018

, , ,

Explore Lampung: Berburu Foto Unik di Lampung Walk 3D

Minggu kemarin seharusnya adalah jadwal saya pulang ke Bandung. Tapi ternyata di hari yang sama, suami dapat jadwal pelatihan di kantor Bandar Lampung. Mau gak mau, rencana ke Bandung batal dan diganti dengan liburan di Tanjung Karang. Awalnya, kami memang gak merencanakan apa-apa. Staycation atau sekedar jalan-jalan di mall juga udah jadi hiburan. Tapi, karena sayang waktu, akhirnya kami googling tempat-tempat yang lagi ngehits, dan akhirnya saya nemu instagram Lampung Walk. Lampung Walk ini arena hiburan yang terletak di Jl. Urip Sumoharjo No. 61 Way Halim. Di dalamnya tersedia kolam renang, lapangan olahraga, foodcourt, dan yang terakhir yaitu yang saya tuju, area 3D nya.


Kalau di kota-kota besar lainnya, mungkin sudah banyak tempat dengan konsep seperti ini, tempat yang memang ditujukan untuk orang-orang yang hobi moto, atau difoto. Walaupun saya sedikit banci foto, tapi ini pertama kalinya saya datang ke tempat beginian.


Tiket masuk Lampung Walk 3D adalah 30.000, sedangkan untuk hari Sabtu Minggu 40.000. Untuk anak di bawah 1 tahun dan lansia di atas 65 tahun, free entry! Setelah bayar, kita diminta untuk melepas sepatu dan menyimpan minuman apapun, mungkin takut tumpah dan ngotorin spot-spotnya?

Ruangan 3D yang gak terlalu besar ini, dibikin padat dan full oleh background gambar-gambar 3d tentunya. Sangat terlihat kalau tim 3D Lampung Walk ini memanfaatkan ruangannya dengan optimal, sama sekali gak membiarkan dinding kosong tanpa background. Bagus sih, tapi minusnya, kalau pengunjungnya banyak, bakal numpuk-numpuk saking minim space kosongnya. Tapi mungkin juga, tata ruangnya dibikin seperti itu karena pengunjungnya memang gak pernah penuh. Kenapa saya bisa bilang gitu? Karena pada saat saya kesana, areanya sepi, gak nyampai 15 orang rasanya. Padahal saya datang di Hari Minggu. 

Ada puluhan background di lorong-lorong area, dan beberapa ruangan terpisah yang didesign khusus dengan tema-tema tertentu. Menurut saya, ruangan-ruangan ini yang punya daya tarik si Lampung walk ini. Ada dunia awan, dunia bola, lalu ada 3 ruangan lagi dengan lampu-lampu, kristal, dan cermin di dalamnya.

Ini beberapa foto yang saya dapat :

Dunia Awan Lampung Walk 3D
Dunia Bola Lampung Walk 3d
Ruangan Lampu 1 Lampung Walk 3D
Ruangan Lampu 2 Lampung Walk 3D
Ruangan Lampu 3 Lampung Walk 3D
Orang-orang bilang foto saya di sini bagus, padahal sebenarnya yang bagus itu backgroundnya. Coba aja kamu foto kulkas di sini, saya yakin hasilnya juga bakal tetap kece.

Dari pengalaman saya kemarin, saya rasa saya perlu share beberapa tips buat kalian yang berminat datang ke tempat-tempat seperti ini, yaitu:

1. Pastikan baterai kamera / HP terisi penuh
Kemarin saya bawa kamera dan HP, dan dua-duanya kepakai. Ada beberapa spot yang lebih bagus diambil memakai kamera, tapi ada juga yang lebih bagus memakai handphone. Makanya saya agak bete waktu HP lowbat.

2. Jangan datang sendirian
Kalau datang sendiri, mesti selfie dong? Gak seru banget. Minimal ajak seorang teman kamu, tapi ajak yang suka moto atau difoto. Kan bete juga kalau udah sampai sana tapi fotonya cuma sedikit. Kemarin saya difotoin suami. Foto saya numpuk di kamera, sedangkan foto dia cuma secuil nyempil-nyempil di antara foto saya. Tapi toh dia sendiri yang seneng moto, saya seneng difoto. Simbiosis mutalisme toh?

3. Enjoy!
Waktu masuk di ruangan, sangat mungkin ada orang lain yang nyempil, atau ngeliatin kita di foto. Cuek-cuek aja. Awal-awal saya dan suami ketawa-ketawa sendiri karena malu diliatin mulu sama orang-orang. Tapi lama-lama jadi bodo amat. Tujuan saya ke sini kan emang mau foto-foto, tempat inipun memang untuk foto-foto, lah ngapain malu-malu segala yak. Kecuali kalau saya datang ke sini dan malah botram gelar tikar.

Buat saya, datang ke Lampung Walk 3D ini menyenangkan, nambahin stok foto buat saya upload di social media, ataupun buat dicetak buat kenang-kenangan. Kalau misalnya mereka punya rencana untuk rombak dan bikin spot baru, mungkin kapan-kapan saya bakal datang lagi. Kalau kalian gimana? Tertarik buat main-main ke sini?
Continue reading Explore Lampung: Berburu Foto Unik di Lampung Walk 3D