Showing posts with label TRAVELING. Show all posts
Showing posts with label TRAVELING. Show all posts

Tuesday, 11 July 2023

, , ,

7 Rekomendasi Tempat Makan Kids Friendly di Bandung

Tempat makan yang kids friendly memang menjadi incaran banyak orang saat ini. Konsep yang menyenangkan, akan membuat anak-anak menjadi lebih "anteng" atau tidak mudah bosan, dan juga lebih happy. Semenjak jadi ibu, pertimbangan saya dalam mencari rumah makan sudah berbeda dengan ketika saya single. Dulu yang dicari adalah atmosfernya, keestetikaannya, menu makanannya, dan harganya. Kalau sekarang, keempat poin tersebut sudah tergeser dengan 1 poin yang lebih penting, "apakah tempatnya ramah untuk anak-anak?

Rekomendasi Tempat Makan Kids Friendly di Bandung

Meski tempatnya cantik, makanannya enak, dan harganya murah, namun kalau tidak ada high chair, non smoking area, dan tidak ada makanan yang cocok untuk anak saya, kemungkinan besar akan saya skip. Bahkan sekarang, gak sedikit tempat makan yang menyediakan mini playground atau menempatkan hewan peliharaan di dalamnya sebagai daya tarik bagi pengunjung yang membawa anak. Makanya, saya menulis artikel ini dalam upaya membantu orang tua yang buntu soal opsi rumah makan yang nyaman untuk anak-anak, semuanya berada di kawasan Bandung.

1. Love Unicorn Cafe

Love Unicorn Cafe
Source: Instagram @loveuniqorn

Alamat : Jl. Bengawan No.33, Cihapit, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114

Seperti namanya, Love Unicorn Cafe ini betul-betul layaknya cafe bagi pecinta Unicorn. Dekorasinya penuh dengan warna-warna pastel dengan berbagai macam bentuk Unicorn. Uniknya, makanannya pun dibuat menarik. Ada spaghetti dengan warna pelangi, lalu dessert warna-warna pelangi yang bakal menarik perhatian anak-anak. Dekorasinya betul-betul dipenuhi oleh aksesoris Unicorn. Bagi yang anaknya visual banget, tempat ini memang bakal over stimulated banget. Tapi, karena biasanya saya juga gak pernah berlama-lama di tempat makan, Love Unicorn Cafe ini cukup bisa bikin saya makan dengan tenang sementara si kecil main dengan boneka-boneka unicorn. Selain boneka unicorn yang melimpah, banyak juga spot-spot menarik bagi yang suka foto-foto. Minusnya, area indoornya agak sumpek, mungkin karena tempatnya yang gak luas-luas banget, namun dekorasinya yang super meriah, jadi ruangannya terkesan sempit. 

2. 150 Coffee Garden

150 Coffee Garden Bandung
Source: Instagram @150coffeegarden

Alamat : Jl. Sulaksana No.50, Cicaheum, Kec. Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat 40282

Restoran ini menarik karena punya area outdoor yang cukup luas, sesuai dengan namanya, garden. Selain untuk mengenyangkan perut, datang ke tempat ini juga memanjakan mata. Banyak sekali tanaman hias di sekitar restoran. Ada area kolam ikan yang luas, di dalamnya banyak impun dan ikan-ikan besar, juga kura-kura. Anak saya bisa anteng hanya dengan melihat pancuran air di kolam ikan, dan kura-kura yang berenang di sekitarnya. Selain itu, ada juga area rumput yang luas, bisa digunakan anak-anak untuk berlarian tanpa menabrak sesuatu. Minusnya memang soal makanan. Menunya kurang variatif, tapi lumayan lah untuk bisa menikmati venuenya. Oh ya, area rumput ini tidak selalu bisa dipakai, terutama saat dijadikan venue wedding

3. Nara Park

Nara Park Bandung
Source: Instagram @narabandung

Alamat: Jl. Rancabentang No.28, Ciumbuleuit, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40142

Nara Park ini kayaknya udah gak asing buat ibu-ibu. Selain karena tempatnya enak, areanya luas, pilihan makanannya variatif, karena di dalamnya terdiri berbagai macam cafe, dan rata-rata makanannya enak-enak, juga ada banyak spot buat anak bermain. Biasanya, banyak anak-anak yang berlarian sambil bermain gelembung sabun yang dijual di area tersebut. Di sana juga ada beberapa binatang peliharaan yang menarik perhatian anak-anak, misalnya kura-kura yang ukurannya jumbo, yang saya lupa namanya. Saya bisa berlama-lama berdiam di Nara, karena memang tempatnya senyaman ini. Minusnya hanya pada lokasi yang cukup jauh dari tempat tinggal saya, dan juga ketersediaan tempatnya, apalagi saat weekend, seringkali harus menunggu, karena memang seramai itu.

4. Baker Street

Baker Street Bakery Bandung
Source: Instagram @bakerstbakery

Alamat: Jl. Cimandiri No.18, Citarum, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115
 
Kalau ini sebetulnya biasa saja, cafe pada umumnya. Yang bikin menarik adalah tersedianya playground di dalamnya. Harga tiket masuk per anaknya sekitar 35.000 sampai 50.000, saya lupa. Memang agak pricey sih jika melihat areanya yang tidak seberapa. Tapi, untuk alternatif tempat makan, biar gak bosan, bisa dicoba.

5. Miss Bee Providore

Miss Bee Providore Bandung
Source: Instagram @missbee_providore

Alamat: Jl. Rancabentang No.11A, Ciumbuleuit, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40142

Cafe di wilayah yang sama dengan Nara Park ini juga sangat terkenal dengan tempatnya yang nyaman dan ramah untuk anak. Area outdoornya banyak, ada ayunan di antara pepohonan,  dan ada binatang peliharaan juga. Selain itu, playground juga tersedia di indoor. Suasananya enak, tempatnya luas, banyak pepohonan yang benar-benar menyejukkan mata. Harganya memang lumayan pricey, namun dengan ambience yang didapat, menurut saya ya sepadan. Gak cuma menyenangkan buat anak, buat orang tua pun rasanya refreshing. Buat saya, Miss Bee Providore ini juara soal kenyamanan dan keseruan untuk anak dan orang tua.

6. Imah Djoglo

Imah Djoglo Bandung
Source: Instagram @imah_djoglo

Alamat: Jl. Sumber Endah No.31, Babakan Ciparay, Kec. Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat 40223

Nah, yang ini rasanya paket lengkap. Bukan sekedar restoran biasa, di dalamnya terdapat playground dan minizoo. Pokoknya kalau di sini, anak bakal anteng, karena banyak opsi hiburan untuk mereka. Tidak ada biaya tambahan untuk masuk ke area bermain tersebut, kecuali jika ingin memberi makan binatang yang ada di sana. Letaknya di sekitar perumahan, minusnya, tempat parkirnya gak seluas itu, dan untuk area yang dekat dengan kandang hewan, terkadang aromanya jadi kurang enak.

7. Pillow Cake Cafe

Pillow Cake Cafe Bandung
Source: Instagram @pillowcakebdg

Alamat 1: Jl. Aceh No.15, Babakan Ciamis, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40117
Alamat 2 : Jl. Terusan Buah Batu No.225a, Kujangsari, Kec. Bandung Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat
Alamat 3 : Gg. Dakota Raya No.48, Sukaraja, Kec. Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40175
Alamat 4 : Jl. Ir. H. Juanda No.81, Lb. Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40132

Cafe ini juga unik. Tersedia kolam pasir, air mancur melody, kolam renang anak, dan jumping castle.  Kalau di sini sih, saya merasa, dibanding makan, memang anak akan lebih fokus main dan malah susah disuruh makan kecuali dia kelaparan banget hahaha. Pillow Cake ini ada beberapa cabang, namun khusus kolam renang anak hanya ada di outlet pusatnya di Jl. Aceh. Untuk main di kolam bola dan kolam renangnya, kena charge mulai dari 30ribuan. Sebetulnya jadi agak pricey ya, mending sekalian , ke kolam renang betulan. Tapi, lagi-lagi, ini soal mencari tempat makan yang ramah anak. Selain itu, dekorasinya cantik, menarik, dan gak ngebosenin. Jadi selain bisa menikmati makanannya, anak-anak bisa main, juga bisa foto-foto di tempat yang cute ini. Dessert di sini juga gemes-gemes sih, worth to try!

Nah, itu adalah 7 rekomendasi tempat makan kids friendly di Bandung. Cocok untuk ibu-ibu yang mau playdate bareng teman sekaligus anak-anaknya. Win-win solution, anak senang, ibu tenang!

Continue reading 7 Rekomendasi Tempat Makan Kids Friendly di Bandung

Monday, 24 April 2023

, , ,

Review Hotel Mambruk, Hotel di Anyer dengan Pantai Pribadi yang Cantik

Mencari hotel di sekitaran pantai Anyer memang sangat tricky. Pilihannya banyak betul, range harganyapun beragam. Eh eh, loh kenapa jadi tiba-tiba ngomongin pantai Anyer? Gini ceritanya..

Beberapa minggu sebelumnya,

 "Lihat deh, Sy. Awannya indah sekali ya, Masya Allah... Allah hebat sekali bisa menciptakan hal-hal indah. Lihat bunga itu juga indah, Allah memang menyukai hal-hal indah..", itu adalah celetukan-celetukan yang biasa saya ucapkan sehari-hari kepada Arsy. Saya selalu ingat pesan dari Ustadz Hasan Faruqi, menumbuhkan fitrah iman anak bukan diawali dengan menghafal surat ataupun doa-doa pendek, tapi dengan mengenal Tuhannya, mencintai dan mengagumi Tuhannya. Lucunya, tinggal di kota membuat saya mengulang hal-hal yang sama. Sejauh mata memandang, langit hanya sebatas awan. Jika beruntung, saya bisa menunjukkan bintang dan bulan yang indah di malam hari. Namun, seringkali, pertanyaan Arsy mengikuti pengalaman yang ia proses melalui panca indranya. Karena rutinitas kami hanya disitu-situ saja, pertanyaannya gak jauh-jauh seputar, "Ma, Allah menciptakan lampu juga? Kalau trotoar? Kalau gedung? Kalau sekolahan?"  Mendengarnya, saya langsung merasa perlu untuk mengajak Arsy jalan-jalan, ke luar dari rutinitas perkotaan yang selalu sibuk ini.

Keputusan untuk berlibur ini juga didukung oleh kabar dari Kukuh yang ternyata mendapat jatah untuk cuti seminggu. Setelah memikirkan banyaknya pilihan liburan dan melewati berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk berlibur ke pantai. Pasalnya, Arsy belum pernah ke pantai dan saya yakin betul dia akan suka sekali dengan pantai, karena dia suka dengan air. Pernah sekali ia datang ke pantai, tapi sungguh pengalaman yang kurang berkesan karena pantainya kecil di dalam Ancol, tanpa ombak, dan saya agak sulit membedakan apakah itu adalah pantai atau selokan karena saking kotornya dengan sampah yang bertebaran di mana-mana. Sedihnya..

Baca Juga : Review Hotel Mercure Convention Center Ancol

Maka, kali ini, saya memutuskan untuk mencari pantai yang gak terlalu ramai. Teman saya menyarankan Pantai Santolo, pantai indah yang belum begitu banyak pengunjungnya. Saya pernah ke sana satu kali, dan memang sungguh indah, namun perjalanannya memang penuh ketegangan, dikarenakan aksesnya yang belum terlalu bagus. Takut tidak menikmati perjalanan, akhirnya kami memutuskan pantai yang aksesnya lebih mudah, tapi tetap tidak terlalu banyak didatangi. Akhirnya, terbesitlah pantai di Anyer. Pantai di kawasan Anyer memang banyak sekali pilihannya, bertanya pada salah satu kerabat yang paham kawasan Anyer, ia menyarankan untuk menginap di dalam satu hotel yang bernama Hotel Mambruk Anyer. Menurutnya, Hotel Mambruk Anyer ini merupakan hotel yang terbilang baru di kawasan itu, punya pantai pribadi, sehingga sudah pasti tidak akan seramai pantai publik. 

Hotel Mambruk Anyer

Mencari kamar kosong di Hotel Mambruk Anyer ini cukup sulit, karena hampir setiap hari full booked (entah karena pada saat itu sedang ada diskon 30% untuk semua room), tapi akhirnya saya beruntung mendapatkan sisa 1 kamar untuk menginap 3 hari 2 malam. Rate yang saya dapatkan saat ini sangat lumayan, kamar superior sudah termasuk breakfast menjadi 1,5 juta saja semalam, dari yang asalnya 2 juta. 

Memang namanya hidup, ada aja yang bikin deg degan. 10 hari sebelum keberangkatan, Arsy tiba-tiba demam. Gejalanya sangat mirip dengan yang dialaminya di awal tahun pada saat ia tipes. Lidah putih, demam hanya di malam hari, dan ini berlangsung berhari-hari. H-4 keberangkatan, badannya masih sedikit demam, saya sudah bilang sama Kukuh untuk menghubungi pihak hotel, bertanya apakah bisa cancel dan refund, dan kalau memang tidak mungkin untuk direfund, saya minta Kukuh untuk menawarkannya ke teman atau adiknya yang kira-kira bisa memanfaatkan room hotelnya. Selain kondisi Arsy, cuaca kala itu sedang sering-seringnya hujan. Meski pagi hari cerah, pasti tidak berlangsung lama, siang sampai malam rata diguyur hujan. Beberapa kali saya melihat postingan orang-orang yang menginap di Hotel Mambruk, yang saya perhatikan adalah backgroundnnya, dan rata-rata saya lihat langitnya gelap, dan pengunjung anak-anak memakai jaket atau kaos berlengan panjang. "Wah, kalau gini mah, Arsy bisa masuk angin", pikir saya. Ya sudah, ikhlaskan, La hawla wala quwata ila billah. Kalau memang Allah mengizinkan, kita akan pergi, kalau memang ini bukan saat yang tepat, ya sudah, harus ikhlas.

Alhamdulillah. H-2 perjalanan, kondisi Arsy sudah jauh lebih baik. Demamnya sudah tidak muncul kembali, lidahnya sudah tidak putih, sudah terlihat lebih bersemangat. Saking semangatnya, dia yang tau bahwa kami punya rencana untuk ke pantai, bolak balik menagih janji, 'Arsy mau ke pantai!". Sempat dilema, karena takutnya "karugrag", tapi meminta saran dari Ibu, Ibu bilang tidak apa pergi ke pantai, siapa tau justru dia happy, dan suasana pantai bisa bikin Arsy jadi semakin sehat dan kembali ceria. Dipikir-pikir, ada benarnya juga. Diam di rumah selama seminggu, bagi saya saja rasanya memuakkan, apalagi bagi anak-anak yang dunianya harusnya penuh dengan aktivitas bermain dan bertualang. Maka, dalam waktu 2 hari, kami mempersiapkan semua yang akan dibutuhkan nanti di pantai, termasuk obat-obatan Arsy, jaga-jaga kalau demamnya muncul kembali.

Kami berangkat di Hari Minggu, pagi hari, sekitar pukul 07.00, Sarapan di jalan menjadi pilihan terbaik, untuk menghindari macet dan menghemat waktu juga. Selama perjalanan, cuaca gak menentu. Dalam 1 waktu, langit sangat cerah, sinar matahari menembus kaca mobil, silau, lalu 15 menit kemudian tiba-tiba awan menjadi gelap, tak ada lagi sinar matahari. Begitu terus. Kami juga sempat was-was waktu masuk Jakarta, hujannya amat sangat deras, langitnya gelap, waah.. betul-betul bukan cuaca yang tepat untuk berpiknik. Tapi, saya tetap berdoa, semoga cuaca di pantai nanti akan berbeda.

Kamar di Hotel Mambruk Anyer

Sesampainya di hotel, memang ternyata hotelnya berbeda dengan yang saya bayangkan. Di bayangan saya, Hotel Mambruk ini ya seperti hotel pada umumnya, gedung bertingkat dengan banyak kamar. Tapi ternyata, kamarnya berupa cottage, tidak bertingkat, dan tersebar di area hotel. Bahkan untuk lobbynya pun, tidak di dalam gedung. Unik, kami mengantri di belakang mobil yang terparkir depan lobby, pengemudinya sedang check in di bagian resepsionis. Setelah selesai check in, mobil depan langsung dipandu oleh room service untuk menuju cottagenya. Setelahnya giliran kami, setelah check in, kami diarahkan menuju salah satu cottage. 

Halaman Hotel Mambruk Anyer

Sesampainya di cottage, Kukuh langsung jalan-jalan di sekitarnya, mencari tahu sedekat apa kami dengan pantai. Maklum, ia agak-agak parno, mengingat Anyer baru saja diterpa oleh tsunami beberapa tahun lalu. Ia juga sudah memastikan titik-titik yang harus segera dituju jika terjadi gempa. Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa. Kami sampai hotel kisaran Ashar, cuacanya suprisingly sangat cerah, panas, tidak ada mendung sedikitpun. Maka setelah istirahat sebentar, kami menuju pantai di sore harinya. Berkali-kali mengucap syukur karena semua yang dikhawatirkan tidak terjadi. Saya bisa mengajak Arsy bermain di pantai tanpa merasa khawatir.

Fasilitas Hotel Mambruk Anyer

Restoran Hotel Mambruk Anyer

Pertama kali bermain ombak, Arsy agak-agak takut. Maklum, kala itu pertama kalinya ia merasakan air yang bergelombang seperti itu. Tapi, tidak butuh waktu lama, ia mulai menikmati dan memaksa saya untuk mengajaknya terus ke tengah-tengah pantai. 

Di malam harinya, karena kami merasa kehabisan tenaga dan agak malas untuk keluar Hotel, kami memutuskan untuk makan malam di restauran hotel. Sebenarnya, rasanya enak, hanya saja porsinya sedikit dengan harga yang lumayan fantastis. Hehe. Hari setelahnya, barulah kami mencoba makan seafood yang lumayan terkenal, di Ikan Bakar BM. Di sana, harganya masih masuk akal, dengan rasa yang luar biasa tidak mengecewakan.

Mengenalkan pantai, laut, pemandangan langit yang terbenam pada Arsy, membuatnya terperangah. Begitu indahnya, cantiknya ciptaan Allah. Sangat menyenangkan rasanya, mengenalkan betapa indah alam semesta ini lewat mata kepala sendiri, bukan lagi lewat layar ataupun buku. Bahkan, di malam hari, saya berkali-kali mengucap tasbih tiap melihat langitnya. Meskipun sudah malam, langit tidak segelap itu, banyak sekali bintang dan bulan yang bersinar dengan terangnya, bahkan kami bisa mengamati pergerakan awan sejelas itu. Minimnya polusi, membuat saya bisa melihat langit yang sesungguhnya.

Pemandangan Langit Malam Anyer

Saya betul-betul menikmati perjalanan kali ini. Tidak hanya saya, Kukuh dan Arsy pun terlihat sangat senang, apalagi Arsy. Sampai sekarang, pantai menjadi tempat favoritnya. Alhamdulillah. Jadi, kalau teman-teman kebingungan memilih hotel di Pantai Anyer, bisa coba Hotel Mambruk Anyer ini. Sangat memuaskan.

Continue reading Review Hotel Mambruk, Hotel di Anyer dengan Pantai Pribadi yang Cantik

Thursday, 17 November 2022

,

REVIEW Hotel Mercure Convention Center Ancol


Cuti 2 hari kemarin, dimanfaatkan oleh Pak Su untuk liburan santai di daerah Jakarta. Destinasi awalnya sebetulnya bukan ke sana, banyak wishlist yang belum kesampaian. Tapi bagaimanapun juga, banyak yang harus dipertimbangkan untuk berpergian ke tempat-tempat yang kami harapkan tersebut, dan kala itu, kami memutuskan untuk menunda wishlist dan memilih untuk melakukan wisata Ancol, yang dirasa gak banyak menguras waktu dan energi. Destinasi utamanya adalah Sea World. Sudah pasti karena mempertimbangkan nona manis (dan juga saya) yang senang sekali lihat ikan. Terakhir kali kami pergi ke Jakarta Aquarium, koleksi ikannya lebih terbatas meskipun dekorasi dan kenyamanan tempat tetap Jakarta Aquarium juaranya

Liburan kali ini kami menginap di Hotel Mercure Convention Center Ancol. Memang sengaja mencari hotel di dalam Ancol supaya gak repot keluar masuknya, hemat waktu juga. Sebetulnya ada pilihan lain yaitu Putri Duyung Resort dan Discoery Ancol. Untuk Putri Duyung, kamarnya sudah penuh, sedangkan Discovery Ancol baru saja dipakai suami menginap pada saat acara kantor bulan kemarin, jadi kami mencari pengalaman baru di Hotel Mercure Convention Center Ancol. Lokasinya dekat dengan Pantai Indah, salah satu pantai kecil yang ada di Ancol.

Kami check in pada Hari Minggu, tanggal 7 November 2022. Sambil menunggu Pak Su check in dan mengurus administrasi lainnya, saya dan nona manis duduk di lobby sambil melihat om-om badut yang sedang membuat balon. Ternyata mereka memang membagi-bagikan balon gratis untuk anak-anak di hotel. Om badutnya baik dan ramah, si nona minta 2 balon dengan bentuk berbeda dan langsung dibikinkan oleh mereka. Thanks, Om Badut!

Seselesainya check in, saya langsung menuju kamar 301. Saat itu kami memesan kamar tipe suite. Semenjak punya anak, kami seringkali memesan kamar yang ada sofanya, buat kasur cadangan karena seringkali pak su terseret-seret di kasur karena kehebohan saya dan nona saat tidur. Untuk tipe suite, harga sewanya sekitar 1,7 juta per malam, tergantung di mana bookingnya. Sudah pasti, booking di marketplace dengan di hotelnya langsung akan berbeda. 

Review Hotel Mercure Ancol

Kamar ini memiliki 2 toilet. 1 toilet di kamar tidur dan 1 lagi di dekat pintu masuk. Toilet yang dekat pintu masuk tampaknya hanya untuk tamu, karena dekat dengan ruang tengah. Ruang tengahnya cukup luas. Selain ada soa panjang, ada kursi dekat balkon yang juga bisa dipakai untuk bersantai. Ada greeting card dari pihak hotel dan juga welcome snack di toples-toples mungil. 

Sebetulnya, gak banyak yang bisa saya ceritain tentang kamarnya, karena semuanya biasa aja. Bahkan ada beberapa komplain yang saya utarakan pada pihak managemen, seperti nihilnya gula tropicana slim dan sisir (yang menurut saya, itu semua sudah menjadi basic tools/item di sebuah hotel, apalagi ini hotel bintang 4). Tapi kalau kalian penasaran, saya sempat bikin postingannya berupa video yang bisa dilihat di sini Video Review Hotel Mercure Ancol. Khusus di blog ini, saya lebih tertarik untuk mereview fasilitas di area hotel yang bisa kita nikmati saat menginap di Hotel Mercure Ancol.

1. Playground

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Playground Hotel Mercure Ancol cukup luas dengan berbagai permainan. Ada mba yang menjaganya jadi cukup aman. Ada kolam bola, kuda-kudaan, rumah-rumahan, dan kalau mau mewarnai juga bisa. Ini bisa jadi opsi buat hiburan anak kalau lagi suntuk di kamar.

2. Taman / Lapangan

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Hotel Mercure Ancol punya lapangan yang luas. Kalau punya anak yang 'kinestetik' banget, pasti bahagia datang ke sini. Bisa main bola, karena sudah tersedia gawang mini yang bisa dipakai. Atau sekedar berlarian kesana kemari pun menyenangkan, apalagi dekorasi taman dan lapangnya juga menarik, apalagi di malam hari, lampu yang melingkari pohon-pohon, membuatnya terlihat cantik.

3. Kolam Renang

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Ada 2 kolam renang yang bisa kita nikmati di Hotel Mercure Ancol, yang ketinggiannya sekitar 140 cm, dengan yang hanya 70 cm an untuk anak-anak. Ada 2 seluncuran yang tersedia, namun hanya 1 yang boleh dipakai, mungkin karena belum di maintenance selama covid, saya kurang tau.

4. Pantai Indah Ancol

Lewat pintu belakang lobby Hotel Mercure Ancol, melewati lapangan dan kolam renang, kalian bisa langsung jalan ke Pantai Indah Ancol. Saya pikir, pantainya adalah pantai dengan pasir putih yang persis terletak di belakang hotel, seperti yang saya lihat dari atas ketika saya naik Gondola. Ternyata, pantai pasir putih itu bukan untuk umum, melainkan khusus untuk club jetski di sana. Sedih. Akhirnya, karena si non ngebet banget ke pantai, kita mainnya di pantai indah ancol. Karena gak begitu luas, jadi terasa sekali penuhnya. Saya sengaja cari spot di dekat bebatuan, yang agak kosong. Airnya tentu saja, kurang lebih mirip dengan kali di sungai yang penuh dengan sampah dan berwarna coklat milo. Tentu si non tidak berenang, hanya bermain pasirpun sudah cukup menyenangkan baginya.

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

5 Restoran Sunda Kelapa

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Restoran hotel ini cukup luas, ada area indoor dan outdoornya yang menghadap ke lapang. Buat saya, spot outdoornya menaik, apalagi kalau kalian dinner. Lampu-lampu di tamannya meriah. Saya gak nyoba makan di sana, selain sarapan ya. Kalau untuk sarapan sih, standar aja, cuma memang pilihannya gak terlalu banyak untuk hotel bintang 4. 


Jadi itu, hal-hal yang bisa dinikmati ketika kamu menginap di Hotel Mercure Ancol. Hotel ini cocok untuk kalian yang ingin liburan di Ancol untuk beberapa waktu, dan tidak ingin membuang waktu keluar masuk Ancol. Hal positif tentang hotel ini adalah, meskipun ada beberapa hal yang bikin saya gak sreg, seperti beberapa fasilitas dan tools hotel yang kurang lengkap, semuanya termaafkan ketika saya membuat komplain ke managemennya dan langsung ditanggapi dengan cepat. Semoga kelak saya main ke Ancol, saya menginap di sana, semua hal yang saya kritisi tadi sudah berubah lebih baik lagi.
Continue reading REVIEW Hotel Mercure Convention Center Ancol

Wednesday, 6 July 2022

, , , ,

Jalan-Jalan Bawa Bocil ke Tahura

Jadi orang tua emang harus mikir terus, salah satunya ya ini, mikirin aktivitas apalagi yang mau dikasih ke anak, supaya anak gak bosan di rumah terus. Main di playground udah keseringan, kali ini saya ingin mengajak si non ke tempat yang dekat dengan alam. Selain untuk anak, saya juga merasa butuh refreshing menghirup udara segar. Jadilah, kami (saya dan suami) memutuskan untuk pergi ke Tahura (Taman Hutan Raya) yang beralamat di Ir. H. Djuanda. Banyak destinasi yang menarik di Tahura, namun yang jadi incaran kami adalah penangkaran rusanya. Alasannya ya sederhana, karena si non super excited kalau udah lihat binatang.

Kami berangkat dari rumah pada pukul 06.30, tadinya mau lebih pagi lagi, supaya dapat udara yang super fresh dan menghindari kerumunan orang. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, karena gak macet juga. Selama di perjalanan, saya nyuapin sarapan si non dan suami, supaya sesampainya di sana, tenaga kita sudah full dan siap untuk jalan jauh. Sesampainya di sana, sudah banyak gerombolan orang, ada pasangan-pasangan yang mungkin mau olahraga bareng dan banyak rombongan ibu bapak yang berkumpul di area parkir, sepertinya menunggu rekannya yang lain.

Tiket masuknya hanya 10.000 saja, si non belum dihitung jadi saya cukup membayar 20.000 dan untuk tiket mobil sebesar 12.000. Saya sempat tanya soal tempat penangkaran rusa, Bapak penjual tiketnya bilang kalau lokasinya bisa ditempuh sekitar 30 menit. Wah, kalau 30 menit doang mah dekat lah. Cincay.

Tapi begitu saya lihat peta yang dipajang, kok agak beda ya. Untuk sampai ke penangkanan rusa, harus melewati goa jepang, goa belanda, dan dari situ pun masih harus menempuh sekitar 1 kiloan lagi. Tapi, karena pagi-pagi masih semangat dan optimis, hajar aja lah! Saya gak bawa tas, suami bawa ransel yang isinyapun hanya air minum dan baju ganti si non, jadi gak ada beban untuk jalan jauh. Jalan di Tahura terasa sangat menyenangkan pagi itu, udaranya sangat segar, dan waktu itu juga belum ramai. Bahkan dalam jangkauan 100 meter pun saya gak lihat ada orang lain. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Ada deretan warung-warung sepanjang jalan, jadi sebetulnya gak perlu khawatir kalau lelah, lapar, atau haus di perjalanan, banyak tempat untuk istirahat. Kami melewati Goa Jepang dan melanjutkan perjalanan, gak tertarik buat masuk karena saya parnoan kalau bawa anak. Kebanyakan nonton setan-setanan bikin parno gak masuk akal emang. Kami juga melewati tebing yang sering dipakai orang untuk foto-foto, dan di sana jugalah kami melihat banyak monyet-monyet imut yang bergelantungan di pohon. Wah, itu adalah pemandangan yang menyenangkan buat si non. Dia seneng banget liat monyet sementara saya degdegan karena sepengetahuan saya, mereka-mereka ini usil dan suka ambil barang bawaan kita. Tapi, untungnya aman-aman aja.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Setelah itu, lanjut lagi. Kami jalan pelan ketika melewati sebuah bangunan yang unik dengan bendera Belanda terbentang di depannya. Aneka mainan anak terpajang di atas meja depan cafe tersebut, lalu juga ada buku menunya. Holland Spot, namanya. Wah, lucu. Tapi, karena saya masih fokus ke tujuan awal, yaitu penangkaran rusa, saya tetap jalan meninggalkan cafe bernama Holland Spot itu.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Setelah melewati Goa Belanda, saya udah mulai sedikit ngos-ngosan, karena gak cuma jalan, kadang saya dan si non berlarian kejar-kejaran yang lumayan menguras energi. Akhirnya, kami istirahat dulu di warung sambil menikmati kelapa muda dan jagung bakar. Harga kelapa muda nya 15ribu sedangkan jagung bakarnya 20ribu. Mahal, tapi ya namanya juga tempat wisata. Lucunya, waktu saya sedang menikmati kelapa muda dan menyimpan jagung bakarnya di meja, seekor monyet besar lompat ke meja, mengambil jagung, dan pergi melompat ke pohon. Kaget sih iya, tapi gak kesel soalnya si non jadi bisa liat adegan yang langka itu.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Matahari udah mulai naik, udah mulai hangat, kami langsung bergegas. Tadinya, kami mau melanjutkan perjalanan, karena sudah berkali-kali si non bilang ingin lihat rusa. Tapi, begitu saya lihat petunjuk arah yang menunjukkan kalau lokasi yang kami tuju masih berjarak 1,5 km lagi, saya jadi ragu mau lanjut atau tidak. Perjalanan kami selama dan sejauh tadi ternyata belum sampai setengah perjalanannya. Saya tanya si non, dia bilang tetap mau lanjut, bilang gak capek. Tapi, dia kan gak tau 1,5 km itu sejauh apa, saya langsung mengurungkan niat dan bilang sama suami untuk putar balik aja. Lihat rusanya nanti aja di kebun binatang atau di Ciwidey. Haha.

Gak jauh dari kita putar balik, kami melwati tempat tadi, Holland Spot. Karena penasaran, akhirnya kami mampir dan memesan cemilan sambil melihat-lihat mainan yang berjejeran di atas meja. Ternyata mainan itu boleh dipinjam selama kita makan di sana, si non senang sekali, dia bolak balik pilih mainan yang ia sukai. Kakak-kakak pelayannya super ramah dan baik sekali. Kalau kita pesan pancake, kita boleh melihat prosesnya atau bahkan boleh masak sendiri. Si non ditawari, tapi tentu saja dia gak mau haha. Cuma, dengan menonton kakaknya memasak pancake dan menghias toppingnya saja, dia sudah terhibur. Saya pikir,cafe-cafe di tempat wisata begini cuma menonjol di harga aja, untuk rasa nomor sekian. Ternyata saya salah, bala-balanya harganya 25ribu tapi isinya 8 dan ukurannya besar-besar, dan yang terpenting rasanya enak! Ya bala-bala rumahan lah, dilengkapi dengan cengek dan saus kacang. Pancakenya seharga 35ribu, dapat 6 depan ukuran mini, teksturnya lembut, toppingnya banyak, dan rasanya enak. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Karena tempatnya enak, saya lumayan lama berdiam di sana. Apalagi di dalamnya juga ada perpustakaan kecil. Si non meminjam majalah Bobo, lalu kemudian Kakak pelayan yang melihat langsung menghampiri kami dan meminjamkan si non crayon untuk mewarnai. Baik banget! Makin anteng aja si non di sana, sampai sulit diajak pulang. Tapi, karena hari sudah semakin siang, dan saya mulai mengantuk karena angin sepoi-sepoi, kami memutuskan untuk pulang. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Meskipun gak jadi lihat rusa, tapi banyak hal lain yang jadi pengalaman buat si non, contohnya berjalan di jembatan, melihat monyet mengambil jagung, melihat binatang lain sepanjang perjalanan seperti cacing, laba-laba, juga kucing-kucing yang berkeliaran di sana, serta bunga-bunga cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Yang terpenting, ia tau kalau alam semesta ini luas dan indah sekali, dan semuanya ini ada pemiliknya, Yang Maha Segalanya. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung
Continue reading Jalan-Jalan Bawa Bocil ke Tahura

Thursday, 25 November 2021

Grand Tropic Suites Hotel, Hotel Murah Mewah di Kawasan Jakarta Barat

Hai!
Saya padahal sudah janji untuk melanjutkan postingan sebelum ini, tentang review duo Avoskin Retinol, tapi mohon maaf harus saya seling dengan postingan yang ini. Ini darurat, urgen, perihal pemeliharaan ingatan. Saya mau sharing sekaligus review tentang hotel yang dijadikan menginap saya selama 3 hari di ibu kota, yang lumayan mengesankan. Harus saya tulis dan share secepatnya, mumpung saya masih ingat.
 

Nama hotelnya adalah Grand Tropic Suites Hotel. Terletak di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Bukan tanpa alasan saya memilih hotel tersebut. Saya memang sengaja mencari tempat menginap yang berada di kawasan Tanjung Duren, dekat dengan Jakarta Aquarium & Safari, salah satu destinasi yang saya tuju. Muncullah 2 opsi, yaitu hotel ini, dan yang lainnya adalah Hotel Pullman. Tentu saja, harga menjadi pertimbangan. Saya takjub begitu melihat biaya menginap di Grand Tropic Suites untuk kelas deluxe dengan luas kamar 74m² hanyalah 500 ribu saja, tanpa sarapan, tapi tetap saja masih terbilang murah! Bahkan untuk kelas bisnis dengan luas 48m² gak sampai 400 ribu! Hotel di Bandung dengan luas kamar yang 36 m² saja, biasanya gak kurang dari 600 ribu. Karena saya orangnya agak skeptis, sering parnoan, maka saya cari tau lebih banyak tentang hotel ini, takut siapa tau ada kisah di balik hotel ini, atau siapa tau pernah disebut sebut di jurnal risa. Tapi ternyata nggak. Yang saya dapatkan justru review-review yang positif. Hal-hal yang dikritisi hanyalah seputar pelayanan yang kurang cepat dikarenakan adanya pengurangan SDM. Maka dari itu, saya langsung booking hotel ini untuk 3 hari 2 malam di kelas deluxe. Kenapa saya pilih deluxe? Supaya lebih luas untuk area "aktif"nya Arsy dan karena ada 2 kamar, supaya saya dan Mas punya tempat untuk kencan malam :)

Setelah perjalanan Bandung-Jakarta yang cukup lengang, akhirnya saya sampai juga di Grand Tropic Suites Hotel. Bangunannya tampak sudah berumur, jadul, apalagi begitu masuk basement yang gelap, saya mulai parno lagi. Lampunya remang-remang, saya langsung merasa sedang ada di film Silent Hill. Ruangan depan lift basement pun bukan seperti hotel-hotel modern, saya mulai underestimate, sampai akhirnya pintu lift terbuka. Syukurlah, bagian dalam lift terlihat betul sudah direnovasi. 

Hotel ini besar, seperti apartemen karena banyak pilihan kamar dan kamarnya pun luar biasa luas-luas. Bahkan, ada penthouse juga yang luasnya mencapai 500m², menakjubkan! Tapi sayangnya, hotel sebesar ini memiliki lobby yang kecil dengan meja resepsionis yang hanya dijaga 2 orang. Mungkin, ini yang menjadi dasar dari kritik-kritik orang yang merasa pelayanannya lama. Kalau hotelnya besar dan kamarnya banyak, tamu yang datang juga gak akan sedikit, cukupkah hanya 2 orang yang bertugas melayani? Sepertinya ya akan repot juga. Selain itu, sandal hotel gak kita langsung dapatkan di kamar, kita harus memintanya sendiri. Ribet juga sih, harus bolak balik hanya perkara sendal.

 
Setelah selesai check in dan meninggalkan deposit di resepsionis, saya menuju ke lantai 15. Seperti yang saya duga, ternyata lorong-lorong kamarnya masih jadul juga. Tapi, begitu masuk kamar... wah, saya langsung gak nyesel buat ambil kamar di sini. Pertama, LUAS. Kedua, BERSIH. Ketiga, interiornya RAPI. Awalnya, saya agak-agak cemas karena ruangannya terlalu luas, banyak sekat, dan tempat-tempat tersembunyi, takut susah mengawasi Arsy, karena dia lagi senang sembunyi-sembunyi. Kamar tidurnya ada 2, 1 kamar dengan kasur size queen, 1 kamar lagi berisi kasur size single. Kamarnya cukup, gak bisa dibilang luas, tapi ya gak sempit-sempit amat. Apalagi untuk kamar kedua, yang berisi kasur single, di dalamnya terdapat closet yang sering dipakai Arsy untuk bersembunyi.
 

 
 
 
Selain 2 kamar tidur, ada juga meja makan, livingroom, dan (bekas) kitchen set. Saya bilang bekas karena memang seharusnya ini menjadi kitchen set, namun tempat kompornya sudah ditutup sehingga ya gak bisa dipakai masak-masak. Kalaupun kitchen set ini masih berfungsi, saya cukup yakin bakal terlalu malas untuk masak sendiri. Livingroom menjadi areaa utama tempat saya sekeluarga bercengkrama. Tempatnya luas dan dilengkapi TV. Jadi, saya bisa bersantai sambil menonton TV dan Arsy bermain susun balok di lantai.
 
 

 
Kamar mandinya bersih, toiletries sudah disediakan dengan lengkap. Gak ada masalah kalau saja saya gak punya balita. Saya gak ada masalah dengan toilet jongkok ataupun duduk, selama semprotannya ada. Saya paling kesal dengan jenis toilet yang tidak dilengkapi dengan semprotan terpisah. Saya juga bingung sih, rata-rata toilet sekarang diganti dengan toilet yang semprotannya otomatis keluar dari bawah (maaf, saya gak ngerti nama jenis toiletnya). Mungkin maksudnya supaya lebih praktis dan menjaga toilet agar tetap kering, Tapi kan, sulit untuk balita yang masih memakai pampers dan masih dicebokin. Aduh, saya bingung jelasinnya, intinya sih saya kesulitan tiap kali harus membersihkan Arsy setiap habis pup.

 
Selain bersantai di livingroom, saya juga bisa mengajak Arsy jalan-jalan ke lobby. Kolam ikannya besar, bagus, dan terawat. Bahkan, ada kura-kura juga! Cukup menjadi hiburan bagi anak-anak seusia Arsy. Lalu, setelahnya, kami juga berenang di kolam renang yang ada dekat lobby. Kolam renangnya dibagi 2, ada kolam anak, ada juga kolam dewasa yang dilengkapi dengan air terjun buatan. Saya bisa bilang menghabiskan 2 malam di Hotel Grand Tropic Suites adalah keputusan yang tepat. Lain kali, kalau saya ada kesempatan untuk ke Jakarta Barat lagi, mungkin saya akan kembali ke sini. Terima kasih, Grand Tropic Suites!
Continue reading Grand Tropic Suites Hotel, Hotel Murah Mewah di Kawasan Jakarta Barat

Tuesday, 17 September 2019

Mengulang Yogyakarta dengan Suasana Berbeda

"Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat, 
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama, suasana Jogja"
 
(KLa Project - Yogyakarta)

Penggalan lirik lagu KLa Project ini selalu bikin saya rindu masa-masa kecil bersama keluarga. Saya bukan orang Jogja, begitupun Ibu dan Bapak. Tapi, masa kecil Bapak dihabiskan di Jogja, beliau tinggal di sana lama bersama Bu Lek dan Pak Lek nya, yang saya panggil Mbah. Jadi, bagi Bapak, Mbah sudah seperti orang tua sendiri

Sewaktu saya kecil sampai saya kuliah, kami sekeluarga sering menyempatkan diri untuk pergi ke Jogja, baik sekedar berkunjung ke Mbah ataupun memang berencana untuk liburan di sana. Dulu, semua serba mudah untuk direncanakan, karena kakak dan saya belum menikah, apalagi adik. Liburan ke Jogja hampir menjadi rutinitas kami tiap tahun. Biasanya kami berlima pergi menggunakan mobil, dan seringkali Bapak membawa supirnya, agar perjalanan gak terasa berat.

Tapi, beberapa tahun kebelakang, rutinitas ini menjadi berhenti. Aktivitas kami gak seperti dulu lagi. Kakak yang sudah menikah dan memiliki seorang putri, tinggal di Jakarta, adikpun baru saja diterima di salah satu perusahaan e-commerce di Jakarta. Saya menikah dan ikut suami ke Lampung, menyisakan hanya Ibu dan Bapak di Bandung. Waktu yang sempit untuk bertemu membuat kami sulit merencanakan liburan ke Jogja. Jangankan merencanakan liburan, untuk sekedar bertemu bertatap muka dengan formasi komplitpun sangat sulit. Sampai akhirnya, suatu hari, kami sepakat untuk mengambil waktu cuti di tanggal yang sama untuk merencanakan liburan di Jogja, tentu saja berkunjung ke Mbah masuk ke dalam agenda.

Ternyata merencanakan perjalanan kali ini gak semudah dulu. Dulu, dengan formasi 5-6 orang, kami dapat dengan mudah menggunakan mobil untuk pergi ke Jogja. Tapi sekarang, formasinya sudah menjadi 8-9 orang, gak memungkinkan bagi kami untuk menggunakan 1 mobil, kecuali kita bersedia dempet-dempetan macam ikan asin dijemur, selama 12 jam. Sempat terpikir untuk menggunakan 2 mobil, tapi rasanya kok ya garing banget gak bisa sama-sama. Mau nyewa mobil yang lebih besar, budgetnya gak cukup, apalagi kita harus menyewa supir dari luar. 

Melewati perdebatan panjang, akhirnya Bapak mengusulkan jika kami lebih baik menggunakan kereta. Selain kami bisa pergi bersama-sama, Bapak gak perlu nyetir, sehingga tenaganya bisa disimpan untuk menikmati liburan di sana. Saya sih gak banyak komentar. Sebetulnya, saya setuju dengan Bapak. Tapi, selama ini kami belum pernah liburan bersama menggunakan kereta. Kendala muncul pada saat pemesanan tiket.  Saya, kakak, dan adik, merasa gak enak jika mengandalkan Ibu dan Bapak untuk membeli tiket kereta api di stasiun Bandung. Saya takut Bapak dan Ibu bingung cara pesannya, bingung milih kursinya, yaah.. hal-hal teknis semacam itulah. 

Untungnya, zaman sekarang sudah serba canggih, serba digital. Saya bisa mengakses dan memesan tiket kereta api via online, yaitu melalui aplikasi Pegipegi. Jadi, dengan saya di Lampung, kakak dan adik di Jakarta, serta Ibu dan Bapak di Bandung, kami tetap bisa sama-sama mengakses jadwal kereta api, juga bisa melihat dan memilih kursi bersama-sama. Rasanya seperti berdiskusi tanpa bertatap muka. 

Meskipun via online, teknis pemesanan tiketnya sangat mudah dan gak bikin pusing. Fitur dari Pegipegi ini sangat user friendly, sehingga saya yang baru pertama kali menggunakannya pun gak merasa bingung. Caranya :
  1. Masuk ke Page Pegipegi atau bisa juga menggunakan aplikasinya di handphone
  2. Buat account dengan menggunakan email aktif (karena e-tiket akan dikirim melalui email)
  3. Setelah masuk ke aplikasi, pilih layanan yang ingin digunakan, yaitu kereta api
  4. Pesan tiket kereta api dengan mengisi asal dan tujuan kereta, tanggal keberangkatan, dan jumlah penumpang
  5. Setelahnya akan keluar pilihan kereta, lengkap dengan tipe kereta, jam keberangkatan, dan ketersediaan kursi 
  6. Jika sudah menemukan jadwal dan kereta yang sesuai, lanjutkan dengan mengisi data penumpang
  7. Setelah semua data penumpang sudah tercatat, kita bisa langsung pilih kursi yang kita inginkan
  8. Jika semua sudah terisi, kita tinggal melakukan pembayaran. Pembayaran bisa melalui transfer bank, transfer ATM, virtual account, kartu kredit, internet banking, bahkan bisa juga bayar melalui alfamart/ indomart
Nah, jika semua langkah di atas sudah dilakukan, cek emailmu. Kamu akan menerima e-tiket yang bisa kamu tukarkan dengan tiket fisik di stasiun nanti. Mudah kan? Saking mudahnya, kami akhirnya memesan tiket sendiri-sendiri khusus tiket pulangnya, karena kami akan pulang ke daerah-daerah yang berbeda, kakak dan keluarga kecilnya akan melanjutkan ke Surabaya, adik kembali ke Jakarta, dan saya ke Bandung bersama suami, Ibu, dan Bapak. Dan akhirnya, pemesanan tiket untuk berlibur ke Jogja, sukses tanpa ribet!

Sesampainya kami di Jogja, kami merental mobil pada kenalannya Bapak, sehingga mendapat potongan harga. Dempet-dempetan selama di Jogja sih gak masalah, jadi kami hanya menyewa 1 mobil saja. Setelah bersilaturahim dengan Mbah, kami mengunjungi objek-objek wisata yang gak asing, yang sebetulnya sudah sering kami kunjungi, tapi entah kenapa rasanya selalu ingin kembali. Candi Borobudur, Pantai di Gunung Kidul, dan tentunya Malioboro selalu ada di dalam agenda kami.



Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima, menjajakan sajian khas berselera 
Orang duduk bersila 
Musisi jalanan mulai beraksi
(KLa Project - Yogyakarta) 

Bisa dibilang, kami sebetulnya jarang belanja di Malioboro, kecuali di Mirota (ya, sama aja ya!). Hehe.. Maksudnya, yang bikin kami selalu kembali ke Malioboro bukanlah barang-barang yang dijual di sana, tapi justru suasananya. Agenda belanja pasti ditutup dengan makan gudeg lesehan di sepanjang jalan Malioboro yang sudah pasti bakal dikunjungi oleh musisi-musisi jalanan dengan suara yang merdu. 

Hari besoknya, kami mendatangi pantai-pantai di Gunung Kidul. Salah satu yang menjadi favorit kami adalah Pantai Indrayanti. Pantai ini masih bersih walaupun gak sejernih dulu ketika saya pertama kali ke sini. Bedanya lagi, kali ini saya gak berenang di pantai karena gak bawa baju ganti, hanya sekedar bermain-main air saja. Tapi, itupun sudah cukup menyenangkan, apalagi ditambah menikmati kelapa di pinggir pantai dengan angin yang sepoi-sepoi. Di sini kami menghabiskan waktu cukup lama, gak peduli teriknya matahari yang pastinya bikin kulit menggosong. Lucu rasanya mengingat dulu kami hanya berlima, foto kemana-mana berlima. Sekarang, kami sudah bertambah anggota keluarga, yang membuat liburan kali ini semakin seru dan ramai.


 

 

Hari terakhir, kami habiskan di rumah Mbah. Meskipun hanya di rumah, rumah Mbah yang luas kebunnya lebih luas dibanding dengan rumahnya, selalu membuat kita senang walau sekedar berjalan-jalan dan menonton Pak Dek yang memanjat dan memanen kelapa. Meskipun hanya sebentar, namun liburan kali ini terasa sangat bermakna, membuat saya bernostalgia dengan masa-masa kecil, masa-masa menghabiskan waktu dengan keluarga. Semoga kami masih diberikan kesempatan untuk dapat berkumpul bersama-sama seperti ini lagi. Semoga.

 
 
 Kotamu hadirkan senyummu abadi 
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
(KLa Project - Yogyakarta)
Continue reading Mengulang Yogyakarta dengan Suasana Berbeda