Showing posts with label uncatagorized. Show all posts
Showing posts with label uncatagorized. Show all posts

Friday, 25 August 2023

,

Frugal Living; Seni Mengelola Keuangan dengan Bijak

Banyak orang menyalahartikan frugal living, menyamakannya dengan hidup yang pelit dan menyiksa, padahal maknanya jauh dari itu. Lalu, apa sebenarnya frugal living tersebut? Kalau meninjau dari bahasa Inggris, sudah jelas, jika frugal living memiliki arti gaya hidup yang hemat. Tidak salah, namun sebetulnya pengertiannya jauh lebih luas. Frugal living memiliki konsep dan tujuan yang jelas, tidak hanya sekedar hidup yang irit, memotong anggaran biaya, dan membeli barang-barang yang super murah. Frugal living adalah konsep hidup yang fokus pada prioritas keuangan, sebuah strategi yang digunakan untuk mencapai visi dari keuangan seseorang. Seseorang yang menerapkan frugal living, sudah paham apa tujuan keuangan mereka. Mereka memiliki deretan impian, visi misi hidup, dan tujuan hidup di masa depan, dan untuk mencapai semuanya, mereka butuh strategi dalam pengelolaan keuangannya, yaitu dengan menerapkan frugal living.

Frugal Living, Seni Mengelola Keuangan

Seperti yang saya sebut tadi, bahwa frugal living bukan berarti memangkas anggaran secara membabi buta. Yang tadinya anggaran belanja bulanan adalah 5 juta, lalu tiba-tiba dipangkas menjadi 500 ribu. Atau misal yang tadinya makan 3x sehari, lalu tiba-tiba dikurangi menjadi 1x sehari (itupun dengan mie instant. duh!). Frugal living fokus di masa depan, ketika seseorang tiba-tiba memangkas jatah makannya supaya dapat menabung lebih banyak, secara tidak langsung, ia juga mengorbankan kesehatannya di masa depan, yang mana tidak sejalan dengan konsep frugal living yang memprioritaskan kesejahteraan masa depan. Membeli barang yang serba murah juga bukan berarti frugal living, jika barang tersebut memiliki kualitas yang buruk dan mudah rusak. Seseorang yang memahami dan menerapkan frugal living, akan memilih membeli barang yang lebih mahal namun punya kualitas yang baik sehingga bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Menerapkan frugal living di kehidupan sehari-hari tidaklah sulit, hanya butuh disiplin, konsistensi, dan keoptimisan dalam mencapai tujuan hidup. Ada beberapa tips sederhana yang dapat dilakukan untuk melatih diri dalam menerapkan frugal living, di antaranya:

1. Memiliki Tujuan Hidup yang Jelas

Membuat daftar impian akan 'membangunkan' kita. Tuliskan daftar-daftar impianmu di dalam buku, sesuai tingkat prioritasnya. Misalnya, bagi yang muslim, pergi naik haji adalah sebuah impian yang besar. Mengingat biayanya tidak murah, perlu bagi kita untuk menyisihkan uang sejak dini, supaya alokasinya tidak terlalu besar dan memberatkan. Jika tidak dituliskan, kita kerap kali lupa akan tujuan-tujuan hidup yang membutuhkan uang dalam hal pencapaiannya. Menuliskan impian secara terperinci juga dapat memberikan semangat, memotivasi kita dalam hal pencapaiannya, juga sebagai pengingat bahwa frugal living yang diterapkan ini tidak akan sia-sia.

Mempersiapkan biaya-biaya untuk hal-hal penting dalam hidup juga termasuk impian-impian yang perlu dicatat. Biaya menikah, persalinan, sekolah anak, semuanya adalah momen penting yang membutuhkan persiapan jauh-jauh hari. Dengan mengingat momen-momen tersebut, kita akan lebih bijak dalam mengatur keuangan, selalu mengingat kalau kita tidak hidup hanya untuk hari ini saja, masih ada hari-hari besok yang mesti dihadapi.

2. Keinganan vs Kebutuhan

Lapar mata adalah penyakit yang serius dalam hal perencanaan keuangan, apalagi teknik marketing saat ini sudah luar biasa pintar dan tepat sasaran. Hanya sekali saja saya terpikir ingin beli tools make up, namun iklan mengenai produk tersebut bisa berulang kali muncul di laman social media saya. Saya punya tips untuk lebih bijak dalam membedakan antara keinginan dan kebutuhan, yaitu dengan menunggu hingga 1 minggu. Jika itu hanya keinginan, biasanya lewat seminggu, keinginan itu akan berkurang dan pada akhirnya, lupa. Tapi, jika itu kebutuhan, intensitas untuk memikirkannya akan lebih intens dan tidak akan berkurang meski sudah lewat dari seminggu. 

3. Hindari Utang Konsumtif

Sebisa mungkin, hindari kredit untuk barang-barang yang tidak perlu. Memaksakan diri untuk memiliki barang yang tidak mampu kita beli, hanyalah memberatkan kita di masa depan. Lebih baik menabung hingga kita mampu untuk membelinya. Tanamkan dalam mindsetmu, jika satu barang tidak mampu kau beli, berarti memang barang itu bukan untukmu. Hindari berhutang apalagi hanya sekedar untuk gengsi semata.

4. Bukan Pelit

Seperti yang tadi saya bilang di awal, kalau menerapkan frugal living ini tidak sama dengan pelit. Seorang yang pelit, akan merasa rugi jika mengeluarkan uangnya, meski itu untuk kepentingan dirinya sendiri. Kembali ke poin ketiga, ada barang-barang yang bukan saja kebutuhan, namun bisa jadi sebuah investasi. Katakanlah kamu bekerja di bagian marketing, yang mengharuskanmu bertemu dengan calon-calon klien. Bukan halnya skill komunikasi dan sosialisasi yang mumpuni, tapi berpenampilan rapi dan menarik juga adalah suatu keharusan, termasuk suatu bentuk investasi, untuk mendapatkan klien yang lebih banyak lagi. Untuk berpenampilan menarik, tentu kamu perlu mengeluarkan uang, untuk skincare dan make up, outfit yang rapi dan menarik, parfum, dan hal-hal lainnya yang menunjang penampilanmu menjadi lebih menarik. Kalau sudah begitu, jangan memandangnya sebagai suatu keborosan, lihatlah sebagai bentuk investasi terhadap diri sendiri.

5. Murah, tapi Jangan Murahan

Kadang kita keliru untuk membeli sebuah barang. Merasa beruntung saat menemukan produk yang super murah. Fokus kita hanya pada harganya semata, tidak memerhatikan kualitasnya. Padahal kalau cermat, membeli barang terlampau murah dengan kualitas buruk, akan membuatmu harus membeli produk yang sama dalam waktu yang berdekatan, dan jatuhnya justru suatu pemborosan. Lebih baik membeli produk yang lebih mahal dengan kualitas yang baik sehingga akan bertahan dalam waktu yang lama. Ini baru disebut frugal living
6. Tidak Terpengaruh Tren

Begitu banyak tren yang bermunculan, kadang membuat kita impulsif menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu, sekedar FOMO. Tren fashion, kecantikan, dan lifestyle contohnya, tidak semua tren memberikan efek yang positif. Beberapa tren hanya memberikan kepuasan sesaat, tidak ada manfaat jangka panjangnya, justru hanya akan membuat kita menyesal pada akhirnya. 

Itu adalah 6 poin yang harus kamu pahami saat kamu memutuskan untuk menerapkan frugal living pada hidupmu. Sebetulnya tidak sulit, hanya soal pembiasaan dan kedisiplinan (yang sebetulnya cukup sulit juga, ya!). Tapi sebetulnya, konsep ini memang terasa berat di awal saja, tapi di masa depan, kamu akan bersyukur karena telah memilih frugal living sebagai salah satu pilihanmu dalam menjalani hidup.


Continue reading Frugal Living; Seni Mengelola Keuangan dengan Bijak

Thursday, 13 July 2023

, ,

3 Ide Kudapan Anak Yang Menyehatkan dan Dapat Melatih Motorik Halus

Saya termasuk ibu-ibu yang overthinking soal makanan anak, apalagi buat Arsy yang hubungannya dengan makanan tuh kurang harmonis, persis seperti saya waktu kecil. Selama ini, sebisa mungkin harus saya menyiapkan makanan yang sehat, menghindari makanan-makanan yang gak penting, yang gak diperlukan oleh tubuh. Masalahnya, seringkali makanan yang sehat, justru gak menarik. Beda cerita kalau makanan-makanan 'micin', dia dengan sukarela bisa makan berbungkus-bungkus tanpa disuruh. Tapi kan, ngeri ya, parents


Beruntungnya, akhir-akhir ini, saya justru menemukan makanan yang jadi favorit anak untuk dicamil di tengah-tengah jam makan. Bukan karena rasanya enak, tapi prosesnya menyenangkan, seperti sedang bermain bersama. Apa saja sih?

1. Telur Rebus

Kandungan Telur Rebus

Khususnya telur puyuh rebus, adalah cemilan andalan saya untuk si nona. Dulu, si non ini paling anti makan kuning telur, sepertinya karena seret dan susah ditelan. Tapi sekarang, justru yang jadi favorit malah kuning telurnya. Haduh, ada-ada aja emang! Makan telur rebus ini jadi aktivitas yang menyenangkan karena si non menikmati meretakkan kulit telur dan mengupasnya. Si non merasa aktivitas mengupas kulit telur ini seperti sebuah permainan. Ya memang sih, permainan motorik halus yang mengenyangkan perut. Hehe. Biasanya, dalam sekali nyemil, si non bisa makan 3-5 butir telur puyuh, sekitar 70 kalori, 5 gr protein, 5 gr lemak. Lumayan, kan! Belum lagi zat dan vitamin yang punya segudang manfaat buat tubuhnya!

2. Edamame

Kandungan Edamame

Sama seperti mengupas kulit telur, mengupas kacang edamame juga menyenangkan buat si non. Dia senang tiap kali menemukan edamame yang berisi lebih dari 2 biji. Selain melatih motorik halus, mengupas makanan-makanan ini juga melatih kemandirian lewat practical life. Untuk edamamenya sendiri, sudah jelas ya, kacang satu ini punya banyak manfaat. Kadar proteinnya tinggi, bagus untuk pertumbuhan anak. 

3. Cireng

Kalau yang satu ini sebenarnya makanan favorit saya, hehe. Berbeda dengan tepung terigu yang gak semua cocok karena mengandung gluten, tepung tapioka tidak mengandung gluten sehingga aman bagi siapapun. Bahkan, banyak yang mengatakan kalau cireng ini justru memiliki banyak manfaat, asal diolah dengan benar. Nah, proses membuat cireng ini juga menyenangkan. Si non bilangnya sih seperti sedang bermain playdough. Meski saya sangat yakin kalau pada proses membuat cireng ini rasanya seperti sedang mandi tepung, karena tepung jadi bertebaran kemana-mana, tapi rasanya menyenangkan. Apalagi kalau melihat anak juga happy.

Banyak resep yang bertebaran di luar sana, yang saya pakai adalah yang paling sederhana, apalagi karena si non akan terlibat di dalamnya, jadi pakai bahan yang basic dulu aja. Bahan-bahan yang digunakan adalah 250 tepung tapioka, 250 ml air panas, garam/ penyedap, bawang putih bubuk sekitar 1 sdm. Semuanya dicampurkan saja, dan supaya lebih wangi, biasanya saya masukkan irisan bawang daun. Setelahnya, tinggal diuleni, dan dibentuk deh. Selain prosesnya menyenangkan, si non suka banget sama cireng ini. Tapi ingat, cireng ini hanya sebagai camilan ya, tetap harus makan makanan yang tinggi nutrisinya!
Nah, itu adalah 3 camilan andalan saya. Banyak manfaatnya untuk tubuh anak, dari dalam dan luar juga. Selain melatih motorik halus, menambah berat badan anak, dan  melatih kemandirian, juga membuat hubungan ibu dan anak semakin erat! Bahan-bahan yang digunakanpun adalah bahan-bahan yang mudah didapatkan, dan kalau mau lebih praktis, parents bisa coba aplikasi yang jadi sahabat ibu di rumah, yaitu Sayurbox


Sayurbox menyediakan berbagai macam kebutuhan rumah tangga, dari mulai sayuran, buah, daging-dagingan, makanan beku, dan lainnya. Cara penggunaannya sangat mudah, harganyapun terjangkau dan sering ada diskon, dan yang paling penting, kualitasnya super segarr! Jadi tinggal duduk manis di rumah, tau-tau semua kebutuhan sudah ada depan pintu!
Continue reading 3 Ide Kudapan Anak Yang Menyehatkan dan Dapat Melatih Motorik Halus

Wednesday, 12 July 2023

, ,

Sering Sulit Mengontrol Emosi Negatif depan Anak? Simak Tips dari Carla Naumburg

Artikel ini ditulis berdasarkan buku yang saya baca beberapa tahun yang lalu, dan baru selesai dibaca beberapa bulan yang lalu. Ya, semenjak jadi ibu, saya menjadi slow reader, tapi gak apa, lumayan. Okay, buku ini berjudul How to Stop Losing Your Sh*t with Your Kids, karya Carla Naumburg, Phd, seorang penulis, pekerja sosial, dan juga seorang ibu. Alasan saya ingin mereview buku ini karena saya yakin, sedikit banyaknya, buku ini dapat membantu memahami apa yang parents rasakan dan alami, khususnya saya. Menariknya lagi, karena Carla juga seorang ibu, bukunya terasa sangat relate dengan apa yang saya alami sehari-hari, dikemas dengan bahasa yang lucu dan menarik, membacanya seperti membaca diary seorang ibu yang sayang tapi juga gemas dengan anak-anaknya.

Mengontrol Emosi

Dari mulai memasuki usia 3 tahun, Arsy sudah memasuk perilaku yang "challenging", saya gak akan bilang perilaku nakal, bandel, sulit diatur, menyebalkan, atau yang lainnya, because she's a toddler! Masa iya mau berharap anak usia 3 tahun diam, baca buku, kontemplasi, dan yang lainnya (meski sesekali Arsy juga sering melakukan ini hehe). Di hari-hari tenang, mudah saja untuk mengelola emosi, level kesabaran masih tinggi, sesekali turun, tapi istirahat sejenakpun dapat kembali normal. Tapi memang, saya merasa hari-hari tenang adalah hari yang langka. Sangat jarang rasanya saya melewati satu hari tanpa berteriak gemas "Arsyyyyyy!!"

How To Stop Losing Your Shit with Your Kids Carla Naumburg

Sebelum memberikan tips untuk mengelola emosi negatif di sekitar anak, Carla berulang kali menuliskan bahwa parenting itu sulit, dan hampir semua orang tua  merasakan hal yang sama. Perasaan-perasaan menyesal yang datang setelah memarahi anak, atau sekedar perasaan lelah setiap menemani anak bermain, memang hal yang wajar dirasakan orang tua. Jika dibiarkan berlarut-larut, rasa sesal ini bisa jadi berkembang menjadi perasaan gagal menjadi orang tua. Bukan membenarkan perilaku orang tua yang memarahi anaknya, tapi Carla memahami bahwa emosi-emosi itu adalah hal yang manusiawi. Namun, diwajibkan bagi kita untuk selalu belajar menjadi orang tua yang lebih baik setiap harinya, dengan menambah ilmu dan wawasan soal mengelola emosi ini.

Kenapa kita harus belajar untuk mengelola amarah pada anak?
1. Marah tidak baik untuk orang tua, karena dapat memicu stres. Juga, stres dapat menjadi pemicu orang tua mudah marah, begitu seterusnya, rasanya pantas disebut lingkaran setan.
2. Marah tidak baik untuk anak, karena akan mempengaruhi perkembangan otak dan badannya, dan sangat rentan untuk terkena efek negatif lainnya
Yang harus dicatat di benak kita, para orang tua adalah, the calmer we can get (and stay), the calmer our kids will be as well. Semakin tenang orang tua, anakpun akan semakin tenang. Ingat bahwa anak-anak adalah peniru yang ulung, mereka sangat cepat belajar.

Tentang Tombol Marah/ Tombol Merah/ Tombol Godzilla

Dalam bukunya, Carla Naumburg juga membahas soal ini. Ia mengilustrasikan bahwa tiap orang tua memiliki semacam "tombol marah" (kalau saya sering bilangnya tombol Godzilla) di badannya, dan anak-anak akan selalu tertarik untuk menekan tombol tersebut. Maka, ia menuliskan hal-hal yang dapat membantu para orang tua, bukan untuk menghilangkan tombol marah itu (well, we're still a human!), tapi untuk membuat tombolnya menjadi kecil, tidak menyala, sehingga tidak mudah 'ditekan' oleh anak. Seringkali, tombol ini lebih besar dan menyala pada ibu dibanding ayah, karena ibu lebih rentan terkena stres akibat kelelahan dan kekurangan waktu untuk diri sendiri. Ada beberapa poin yang dibahas oleh Carla, yang harus jadi perhatian khusus para orang tua, dalam rangka mengelola emosinya sehingga tidak mudah berubah menjadi Godzilla.

Carla Naumburg

1. Kelelahan

Banyak orang tua yang mengabaikan soal energi yang ada pada dirinya. Padahal, tidur cukup adalah suatu keharusan. Banyak orang tua yang menahan kantuk demi bisa me time (iya, ini saya juga!), dan lebih memilih minum kopi demi tetap terjaga, padahal badan sudah merengek untuk minta diistirahatkan. Kelelahan dan kebanyakan kafein ini akan memudahkan orang tua terkena stres, apalagi ketika dihadapkan oleh emosi anak yang tidak terduga. Dengan keadaan seperti ini, "tombol marah" pada ibu akan terlihat mencolok, berukuran besar, dan menarik untuk ditekan oleh anak.

2. Terlalu Banyak Input

Masih ada orang yang beranggapan jadi ibu rumah tangga adalah hal yang mudah, karena hanya mengelola tempat yang berukuran ya... gak besar-besar amat. Padahal ibu rumah tangga itu ya bukan asisten rumah tangga. Bukan soal menyapu, mengepel, menyetika, dan yang lainnya. Tapi, justru, kebanyakan kesibukan ada di dalam kepala yang kecil ini. Mengurus anak adalah tanggung jawab yang sangat luar biasa, bukan hanya tentang memberinya makan, memandikannya, dan menemaninya bermain, tapi juga tentang belajar untuk selalu memberikan yang terbaik, meski gak sempurna. Ketakutan akan pengasuhan yang salah pada anak juga membuat pikiran tidak tenang. Maka, gak sedikit orang tua, yang berusaha keras untuk menjadi lebih baik dengan mengikuti setiap seminar parenting di manapun, demi memberikan yang terbaik. 

Niatnya memang baik, tapi menurut Carla, terlalu banyak informasi yang didapat dari berbagai ahli, bisa menjadi buruk ketika kita tidak bisa menyaringnya. Bayangkan, setiap ahli punya metode yang berbeda, punya pengalaman yang berbeda, pendapat yang berbeda, value hidup yang berbeda, kalau kita gak pintar-pintar menyaring, jutru kita yang akan kewalahan dan keblinger dengan semua informasi tersebut. Ada ahli yang mrekomendasikan pemberian sleep training pada anak, ada juga yang tidak. Ada yang mengajarkan anak untuk selalu disiplin, ada juga yang memberikan kebebasan berbatas. Tidak semua pendapat dari ahli harus kita implementasikan. Harus paham betul, value hidup kita apa, anak kita seperti apa, apa yang ia butuhkan, tidak semuanya harus kita ikuti. Karena pada akhirnya, kita adalah orang tua dari anak kita, maka kita yang paling tau apa yang mereka butuhkan.

3. Bukan Tidak Boleh Marah

Sepanjang ini saya menulis, bukan untuk melarang orang tua untuk marah. Marah adalah salah satu emosi manusia yang sangat diperlukan. Tapi, apa yang Carla sampaikan adalah tentang pengelolaannya. Bagaimana agar kita selalu hadir depan anak tanpa membawa "tombol merah besar" di dada. Karena jika tidak, tombol merah itu akan memancing anak, akan dengan mudah anak temukan dan tekan, yang akan membuat Mama berubah menjadi Godzilla. Selalu ingat, bahwa ketika kita lebih tenang, cukup istirahat, cukup nutrisi, tombol merah tersebut akan mengecil dan redup, akan sulit ditekan anak. Jadi ingat ya, yang dipelajari di sini adalah tentang menjaga kondisi kita untuk tetap fit, tetap waras, tetap tenang, supaya anak tidak mudah untuk menekan tombol Godzilla kita.
Baca Juga : 7 Rekomendasi Tempat Makan Kids Friendly di Bandung

4. Semakin Sering Marah, Semakin Sering Terulang

Pernah gak sih parents, seharian rasanya marah-maraaaaah terus. Saya sering banget, kalau mood di pagi hari sudah jelek, sudah kesal, sudah marah-marah, maka akan begitu seterusnya dalam sehari. Ada penjelasannya memang, karena ketika tombol merah kita sudah sering ditekan, dia akan lebih sering merah dan akan ditekan lagi di masa depan. 

5. Pemicu Bisa Bermacam-Macam
 
Pemicu stres tiap orang tua itu berbeda-beda, maka ini pentingnya mengenal diri sendiri. Kita harus tau mana hal yang mudah kita toleransi, mana yang mudah membuat kita marah. Ada parents yang santai saja kalau rumah berantakan, tapi ada juga parents OCD yang stres luar biasa ketika anaknya membuat kebun binatang menggunakan peralatan rumah tangga. Mengenal triggers yang kita miliki, akan memudahkan kita membuat antisipasinya. Contohnya, masih dengan kasus yang sama, aktivitas anak memang akan selalu seperti itu, membuat rumah berantakan, tidak mungkin untuk menyuruh mereka tidak melakukan apapun, maka kita bisa komunikasikan pada pasangan untuk membagi tugas, atau bisa juga, membuat ruangan khusus bermain untuk anak, sehingga ruang kontrolnya lebih sempit, dan orang tua tidak terlalu kewalahan.

Momen-momen penting dalam hidup juga kadang bisa menjadi pemicu stres, misalnya ketika ternyata seorang ibu diberi rezeki untuk mengandung lagi. Meskipun itu adalah suatu berkah, kadang hormon bisa membuat suasana hati menjadi tidak stabil. Atau misalnya ketika mendapatkan promosi kerja, hal tersebut juga dapat membuat suatu kondisi yang berbeda dan perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. 

6. Awareness, Acceptance, Action, and BURPs

Poin terakhir yang akan saya ulas adalah inti dari tulisan ini. Bagaimana untuk mengelola emosi parents, bagaimana untuk menjaga tombol Godzilla inti untuk tidak membesar dan menyala. Yang pertama adalah Aware, kesadaran. Seperti yang tadi bilang, setiap orang punya triggers yang berbeda. Misal, parents tau bahwa anak akan melakukan sesuatu yang parents gak suka, kembali ke contoh, soal rumah yang berantakan. Ketika anak akan menumpahkan mainannya, parents harus sudah menyadari kalau hal tersebut akan membuat parents marah. Antisipasi tersebut akan membuat parents lebih siap dan lebih mudah masuk ke tahap selanjutnya, yaitu Acceptance.

Acceptance atau soal menerima, adalah tahap kedua. Ketika kita menyadari hal tersebut adalah salah satu pemicu marah kita, kita menerima bahwa kita akan marah karena hal ini. Melawan perasaan ingin marah ini, bukan hal yang tepat, karena sistem saraf kita gak peduli bahwa ini waktu yang tidak tepat untuk marah, dan memaksa diri untuk tidak marah malah akan membuat parents menjadi semakin ingin marah. 
Baca Juga : Drama Trimester 4, Drama Berusaha Menjadi Ibu Sempurna
Action, ini soal aksi yang akan dilakukan. Apakah akan tetap marah? Untuk beberapa hal, bisa saja kita mengatasinya dengan menghilangkan hal-hal yang dapat memicu kita marah. Namun, dengan kasus di atas, tidak mungkin kita melarang anak untuk tidak bermain sama sekali, supaya rumah tetap rapi. Maka, parents harus siap untuk menghadapinya. Yang biasa saya lakukan saat saya menghadapi hal-hal yang memicu saya adalah menjauh dari anak untuk sesaat. Inhale-exhale, peluk diri sendiri, usap dada, pokoknya melakukan hal-hal yang membuat saya lebih tenang. Ketika perasaan sudah membaik, saya akan kembali lagi ke Arsy dengan harapan tetap bisa tenang. Seringkali sukses, tapi tidak jarang kecolongan juga, jika pemicu stressnya luar biasa besar. Kalau sudah seperti itu, istigfar, lalu minta maaf ke anak, berdoa sama Allah semoga momen buruk tadi tidak terekam di memorinya. Afterall, we're only a human.

Poin selanjutnya, adalah BURPs, ini adalah singkatan dari Button Reduction Practice, langkah terakhir. Menerapkan awareness, acceptance, dan action di setiap hari secara rutin, lama-lama akan membentuk habbit tersendiri. Setiap kita akan menghadapi situasi yang memicu amarah kita, kita akan mawas diri, sudah punya semacam peringatan di kepala, bahwa kita akan marah, dan kita harus mempersiapkan diri untuk itu. Saya sendiri, masih berlatih, kadang (atau mungkin sering, ya) lepas kontrol berteriak kesal, namun BURPs ini adalah latihan panjang, terus menerus selama saya jadi orang tua, dan ini sangat membantu di keseharian saya. Sepakat kan kalau marah-marah itu menguras energi yang cukup banyak? Sangat melelahkan dan stressful, gak cuma buat kita, tapi juga bagi anak. Semangat, parents!
Continue reading Sering Sulit Mengontrol Emosi Negatif depan Anak? Simak Tips dari Carla Naumburg

Monday, 5 December 2022

, ,

Rekomendasi Series Remaja Bertema Misteri Pembunuhan

Dari dulu, saya paling senang menonton film atau series yang penuh teka-teki. Film dengan tema crime dan misteri, pasti selalu jadi pilihan utama saya. Apalagi, kalau settingnya sekolahan. Genre misteri yang set up nya sekolah, menurut saya lebih memberikan banyak warna, juga bikin kangen masa-masa waktu sekolah (meski saya gak pernah ya menjadi bagian dari tindak kriminal di sekolah). Kalau kamu punya ketertarikan yang sama dengan saya, kamu boleh cek series yang akan saya ulas di sini.

1. Pretty Little Liars 

Sinopsis Pretty Little Liars

Ini adalah series genre crime mystery dengan set up sekolah yang pertama kali saya tonton. Pretty Little Liars bercerita tentang 5 sahabat (Alison, Hanna. Spencer, Aria, dan Emily). Kelima sahabat ini dekat sejak mereka kecil, namun menjadi renggang semenjak tragedi yang menimpa Alison. Alison (yang paling dominan di antara kelimanya), tiba-tiba menghilang pada saat kelimanya sedang mengadakan pesta di tempat Spencer. Setahun setelahnya, Alison ditemukan tewas terkubur di halaman belakang rumahnya. Sejak saat itu, keempat anggota lainnya, mulai mendapatkan pesan misterius dari seseorang yang mengaku 'A'. Teror dari 'A' ini gak main-main, entah bagaimana caranya, ia bisa mengetahui semua rahasia 4 sahabat tersebut. Teror yang awalnya disangka sebagai ancaman-ancaman iseng, berujung dengan ancaman pembunuhan nyata. 

Series ini terdiri dari 7 season, dengan jumlah episode sebanyak 20an di setiap seasonnya. Ini termasuk series yang selalu saya tunggu-tunggu tayangnya, karena di setiap akhir episode, seringkali memunculkan clue mengenai 'A'. Tapi sayangnya, series ini mulai menjenuhkan ketika masuk season-season akhir. Mulai season 4, saya ngerasa karakternya semakin banyak, banyak yang terlibat dan plotnya jadi super bercabang. Apalagi, tokoh 'A' yang semakin gak masuk akal karena rasanya jadi seperti dewa banget, selalu selangkah di depan, cerdas luar biasa.

Yang bikin saya bertahan pada akhirnya adalah chemistry yang terjadi pada pemain, pemain utama maupun pemain pendukung. Jadi, yang tadinya fokus dengan kasus Alison dan misteri 'A', ujung-ujungnya saya malah menanti-nanti adegan yang memunculkan karakter favorit saya, Spencer. Ah I love her! Anyway, PLL ini juga diadaptasi ke series Indonesia dengan judul yang sama. Salah satu pemainnya Anya Geraldine, kalau gak salah. Saya baru nonton 1 episode dan gak lanjut lagi karena beberapa alasan, salah satunya pemilihan artis yang memerankan karakter-karakternya, kayak kurang pas aja.

2. Riverdale

Sinopsis Riverdale

Sama-sama memiliki latar belakang sekolah, series ini memiliki premis tentang misteri kematian misterius seorang remaja lelaki bernama, Jason Blossom, yang ditemukan mengambang di sungai. Inti ceritanya adalah petualangan Archie dan kawan-kawannya dalam memecahkan misteri pembunuhan Jason. Sebenarnya, agak berat untuk memasukkan series ini ke dalam list series remaja. Meskipun, karakter-karakternya adalah anak sekolahan, namun keterlibatan orang-orang di kota kecil ini cukup rumit. Sama seperti Pretty Little Liars, karakter dalam series ini lumayan banyak (banget), tapi pada series Riverdale, sepertinya lebih banyak orang-orang dewasanya. Malah, menurut saya, ini jadi seperti drama orang tua mereka, karena mereka betul-betul seterlibat itu dalam setiap masalah. 

Baca Juga : Hidup Biasa-Biasa Saja Ala Alain de Botton

Jika dibandingkan dengan Pretty Little Liars, Riverdale punya plot yang lebih bercabang lagi. Berbeda dari Pretty Little Liars selama 7 season fokus di A, Riverdale seperti punya fokus yang berbeda di tiap season, sehingga misteri kematian Jason Blossom sulit untuk dikatakan sebagai premis series ini. Sama seperti kesan menonton PLL yang tak kunjung usai, akhirnya, saya menikmati Riverdale bukan lagi karena plot ceritanya, namun lebih karena pemain-pemain yang punya chemistry satu sama lain, I'm in love with Cami of course

3. One Of Us Is Lying

Sinopsis One of Us is Lying

Series ini baru saja menyelesaikan season 2 nya. Melihat ending season 2nya, saya rasa masih akan ada season selanjutnya. Jadi apa yang saya tulis ini, hanya berdasar apa yang saya tonton selama 2 season. One of Us is Lying bercerita tentang 5 remaja, Simon, Browyn, Nate, Addy, dan Cooper yang secara janggal sama-sama mendapatkan hukuman disiplin sepulang sekolah. Di ruangan disiplin hanya ada mereka dan 1 guru pengawas. Tragedi terjadi saat Simon meminum air yang disediakan di ruang tersebut dengan gelas yang juga tersedia. Tak berselang lama, Simon terlihat seperti sesak, nafasnya tersenggal-senggal, meminta pertolongan. Sang guru sedang di luar ruangan, keempat siswa lainnya mencoba mencari pertolongan, namun semuanya terlambat. Simon tewas karena alergi kacang, yang ternyata ada dalam air yang dia minum. Dari penyelidikan polisi, disimpulkan bahwa tewasnya Simon adalah karena pembunuhan.

Misteri pembunuhan Simon menjadi berita besar, apalagi karena orang tuanya Simon merupakan pejabat setempat. Keempat remaja yang berada di tempat dan waktu yang sama dengan Simon saat itu, menjadi tersangka utama, orang-orang memanggil mereka Murder Club. Merasa tidak bersalah, Murder Club mulai bekerja sama mencari tau dalang dibalik semuanya, yang berujung dengan petualangan yang rumit. Pasalnya, hampir seisi sekolah membenci Simon. Ia seperti black box, menyimpan semua rahasia murid-murid sekolah. Simon memiliki situs yang secara rutin memuat tentang rahasia-rahasia kelam yang dimiliki para murid. Jadi, banyak orang-orang di luar Murder Club yang punya motif untuk melakukan pembunuhan terhadap Simon.

Baca Juga : 5 Love Language, Memahami Bahasa Cinta Pasangan

One Of Us Is Lying ini agak mirip dengan Pretty Little Liars. Vibes anak sekolahnya sangat terasa. Cuma, untuk masalah kemampuan acting dan chemistry, saya ngerasa ada yang off gitu dari series ini. Lalu juga, sering saya mendengar dialog cringe yang bikin saya bergumam "naon sih?". Ada sedikit harapan ketika melihat Browyn, si paling cerdas, menjadi bagian dari petualangan tersebut, karena ya... pintar, seperti bagaimana Spencer di Pretty Little Liars banyak menemukan solusi kreatif, meskipun selalu kacau di urusan percintaan. Tapi, ternyata memang tidak sesuai ekspektasi. Melelahkan dan gemas rasanya melihat si pintar ini yang justru sering blunder dan membawa masalah baru pada teman-temannya. Termaafkan karena hubungan romantisnya dengan Nate yang lumayan menyegarkan mata.

Itu adalah 3 rekomendasi series remaja dengan tema misteri pembunuhan. Adakah yang jadi favorit kamu? Atau ada series lain yang kamu ingin rekomendasikan? Let me know!

Continue reading Rekomendasi Series Remaja Bertema Misteri Pembunuhan