Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Friday, 17 January 2025

, ,

Menjadi Ibu, Menjadi Bunglon

Dulu saya menduga kalau menjadi Ibu Rumah Tangga adalah senyaman-nyamannya pekerjaan bagi kaum introvert. Maka, setiap kali orang membahas soal cita-citanya, dengan lantang saya menjawab bahwa saya ingin menjadi ibu rumah tangga. Alasannya, supaya bisa banyak di rumah dan tidur siang, ini serius. Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga sejak usianya 20 tahun, dan kala itu saya sering melihat beliau tidur siang dan jarang menghabiskan waktu di luar rumah. Cocok banget, saya suka sekali tidur dan saya suka mengurung diri di rumah, saya ingin menjadi ibu rumah tangga!

Saya sudah melakukan beberapa pekerjaan sebelum menikah, hampir semua adalah pekerjaan yang berhubungan dengan manusia, tentu saja, karena saya lulusan bidang ilmu yang kerjanya ngurusin dalemannya orang. Sebagai seorang yang telat menyadari bahwa dirinya seorang introvert, adalah sebuah kesalahan besar ketika saya memilih jurusan kuliah yang kerjaannya berhubungan dengan manusia. Mulai dari teori-teori sampai praktikumnya. Sebelumnya, saya punya memori yang menyenangkan soal praktikum, terutama biologi. Rasanya menyenangkan meneliti makhluk hidup, memuaskan rasa penasaran soal apa yang terjadi di dalamnya. Sayangnya, ini gak berlaku di manusia. Praktikum yang saya jalani pada saat kuliah, sangat-sangat menguras emosi. Masuk akal jika semuanya terasa begitu berat dan berbeda. Kodok yang dibelek, gak akan tiba-tiba tidak hadir karena ada urusan lain, atau terlambat karena terjebak macet, atau tiba-tiba menghilang. Terlalu banyak variabel yang bergantung pada subjek penelitian, sangat sulit diprediksi, dan amat sangat menyebalkan. Saya ingat pernah menangis dalam angkot, magrib-magrib, sepulang dari praktikum, karena si subjek bercerita soal pengalaman pahit dengan dosennya, secara emosional. Marah-marah, tunjuk-tunjuk muka, sumpah serapah keluar tepat depan wajah saya seakan saya sedang cosplay menjadi dosennya. Sesampainya di rumah, penyiksaan masih berlanjut, saya harus membuat laporan atas praktikum tersebut, yang berarti saya harus mendengarkan rekaman praktikum tersebut berulang-ulang selama 3 hari berturut-turut. 

Karena tidak mau terus-terusan merasa tersiksa, akhirnya saya memaksa diri untuk beradaptasi dengan keadaan, menjadi bunglon, mengubah sudut pandang, mencoba tertarik dengan manusia sampai pada akhirnya, lulus. Pekerjaan (formal) pertama saya adalah menjadi HRD di salah satu perusahaan FnB di Indonesia, sebuah perusahaan keluarga yang gerainya tersebar di seluruh Indonesia. Karena saat itu perusahaan ini masih berkembang, struktur organisasinya masih sangat sederhana, tiap kota hanya ada 1 HRD yang mengerjakan semuanya, dari mulai rekruitmen, training, administrasi kepegawaian, pembuatan KPI, dan sesekali mendampingi atasan dalam perencanaan bisnis. Sebetulnya pekerjaannya menyenangkan, kalau saja saya punya 5 kepala dan 10 tangan. Maka dari itu, saya mulai melamar kerja di tempat lain.

Pekerjaan setelahnya adalah pekerjaan formal terlama saya, dan yang paling menyenangkan. Perusahaan ini memang khusus mengelola SDM di berbagai perusahaan, jadi tentu berhubungan dengan banyak klien, banyak manusia. Lagi-lagi, menjadi bunglon. Kali ini saya tidak keberatan, karena bunglon ini berdiam di pohon-pohon rimbun dengan berbagai macam buah-buahan. Tidak ada alasan saya keluar dari tempat tersebut selain alasan saya harus menikah dan pindah ke luar kota, luar provinsi, luar pulau. Atasan sempat menawarkan saya untuk mengisi posisi di kota yang baru saya tempati, namun karena lokasinya terlampau jauh dari kantor suami, dengan berat hati saya tolak. Lagipula, setelah bertahun-tahun mengabdi pada perusahaan dan menjadi makhluk super sosial, mungkin ini saatnya saya mengejar cita-cita saya, memuaskan tangki introvert, menjadi Ibu Rumah Tangga, ngajedog di rumah dan tidur siang sepuasnya.

1 tahun menjadi ibu rumah tangga, saya akhirnya punya anak, betulan jadi ibu-ibu. Sebelum memutuskan menjadi ibu, sebisa mungkin saya menyiapkan diri untuk menghadapi hal-hal yang akan terjadi ke depannya  Katanya, kekurangan tidur di malam hari adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tidak menjadi soal, saya bisa kompromi dengan  tidur di siang hari bersama bayi, meski tidak sekenyang dulu. Lagipula, periode bayi ini hanya sesaat, kelak anak saya sekolah, saya pastinya akan lebih santai dan bisa bermalas-malasan di rumah. Lagi-lagi, saya pikir begitu. Tapi ternyata, bersamaan dengan hadirnya bayi dalam hidup saya, hadir juga tantangan lain yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Punya bayi ternyata memaksa saya untuk menjadi seorang extrovert! Maksudnya?

Mulai dari saat bayi lahir, semua orang penasaran ingin jumpa. Dalam 1 bulan, menerima tamu-tamu yang ingin menyelamati dan mendoakan kami adalah hal yang biasa dan menyenangkan untuk  dihadapi. Tapi, bulan-bulan selanjutnya, apapun aktivitas yang saya lakukan sambil membawa si bayi, saya harus berramah tamah ria setiap bertemu dengan orang lain. Membawa anak jalan-jalan pakai stroller di sepanjang komplek, membawa anak ke rumah sakit untuk imunisasi, belanja bulanan, pasti ada saja orang asing menghampiri yang mengajak ngobrol. Diawali dengan pertanyaan-pertanyaan seputar bayi yang gak jauh-jauh dari "ini berapa bulan, teh?, berlanjut dengan beratnya berapa, lahir normal atau sc, anak keberapa, lahir di mana, tanggal berapa, dokternya siapa, biaya lahiran berapa, kamu di mana, dengan siapa, semalam berbuat apa (yang tau lagu ini, kalian udah rutin minum tolak angin gak, sekarang?). Intinya, saya merasa bayi bagaikan magnet bagi manusia yang ada di sekelilingnya, dan bagi saya yang memiliki energi terbatas untuk menghadapi anak cucu Adam ini, rasanya amat sangat melelahkan.

Bayi dikatakan juga memiliki kebutuhan sosial, meski tampaknya seperti tidak memahami apa yang kita lakukan, mereka merespon. Seperti spons, mereka menyerap semua stimulus, informasi yang ada di sekitarnya. Saya mencoba menjadi ibu yang bertanggung jawab, ingin menghadirkan stimulus-stimulus yang baik, menjadi contoh yang baik. Itulah pertama kalinya saya berkompromi, mengalah dengan ketidaknyamanan saya bercengkrama dengan manusia dalam frekuensi yang lebih tinggi dari biasanya. Meski saya dikenal judes, senang menyendiri, ngamar dibanding nongkrong-nongkrong dengan banyak orang, bukan berarti anak saya harus seperti itu juga. Tapi juga, saya bukan memaksa anak menjadi extrovert, ini tidak ada hubungannya dengan kelak dia menjadi introvert atau extrovert. Poinnya adalah soal keinginan saya untuk memberikan dia kesempatan untuk berkembang tanpa batas. Jadi, jika kelak anak saya memang introvert, itu murni karena dirinya, bukan karena saya yang memberi ruang sempit untuk bersosialisai. 

Memasuki usia batita, kemampuan anak dalam menyerap informasi semakin meningkat. Observasi semakin tajam, membuat saya semakin berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Salah satu hal yang meningkat drastis adalah, dia tertarik melihat orang lain, dia penasaran dengan makhluk-makhluk lain, selain ibunya. Maka masuklah saya pada fase yang sampai saat ini masih berjalan, mencarikan Arsy teman untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Beberapa kali saya ikutkan Arsy untuk ikut klub-klub, berkenalan dengan orang tua yang memiliki anak-anak seusia Arsy, playdate ke sana kemari Saya, masih seperti ini. Menjadi bunglon, menjadi apa saja yang Arsy butuhkan, bahkan dengan menembus dinding yang ada di sekeliling saya selama ini, jika untuk kebaikan Arsy, I'll do it without hesitation.



Kalau dipikir-pikir lagi, saya keliru memahami apa yang dihadapi ibu saya saat itu. Beliau bukan tidur siang, namun beristirahat karena kehabisan energi dalam mengasuh 3 anak yang "manis". Semuanya jadi terasa jelas, kenapa selama ini orang-orang sering bilang kalau jadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat berat. Ternyata job descnya macam-macam, tidak terbatas, tidak bisa untuk bilang "tidak bisa", tiada hari tanpa berkompromi dengan situasi yang tak terduga, dan yang paling penting adalah perlunya kemampuan beradaptasi di atas rata-rata, harus tetap perform meski di bawah tekanan. Tapi, yang paling epic adalah, justru keadaan ini membuat saya memaksa diri untuk melakukan hal-hal baru yang tidak pernah saya coba sebelumnya. 

Ada 1 privilige yang saya miliki saat ini yaitu dikelilingi oleh ibu-ibu extrovert yang memahami bahwa saya adalah si introvert yang mudah lelah jika bercengkrama dengan mereka. Maka mereka sudah tak heran lagi melihat saya menyendiri di dalam rumah pohon playground, di kolong perosotan playground, pojok-pojok tak terlihat yang lumayan nyaman untuk saya tempati. Bagaimanapun juga, introvert butuh charging, demi keamanan dan kenyamanan bersama, baik bagi ibunya, maupun anaknya, bahkan lingkungan sekitarnya.

Segala upaya dan pengorbanan tanpa batas ini, tidak akan muncul jika bukan Arsy yang mendorongnya  dan Tuhan yang memunculkannya. Hingga pada akhirnya, saya meyakini bahwa tidak ada satupun yang mampu untuk memberi upah yang sepadan bagi ibu rumah tangga, kecuali Tuhan. Limpahan pahala bagimu, ibu-ibu, Insya Allah.

Continue reading Menjadi Ibu, Menjadi Bunglon

Thursday, 13 July 2023

, ,

3 Ide Kudapan Anak Yang Menyehatkan dan Dapat Melatih Motorik Halus

Saya termasuk ibu-ibu yang overthinking soal makanan anak, apalagi buat Arsy yang hubungannya dengan makanan tuh kurang harmonis, persis seperti saya waktu kecil. Selama ini, sebisa mungkin harus saya menyiapkan makanan yang sehat, menghindari makanan-makanan yang gak penting, yang gak diperlukan oleh tubuh. Masalahnya, seringkali makanan yang sehat, justru gak menarik. Beda cerita kalau makanan-makanan 'micin', dia dengan sukarela bisa makan berbungkus-bungkus tanpa disuruh. Tapi kan, ngeri ya, parents. 


Beruntungnya, akhir-akhir ini, saya justru menemukan makanan yang jadi favorit anak untuk dicamil di tengah-tengah jam makan. Bukan karena rasanya enak, tapi prosesnya menyenangkan, seperti sedang bermain bersama. Apa saja sih?

1. Telur Rebus

Kandungan Telur Rebus

Khususnya telur puyuh rebus, adalah cemilan andalan saya untuk si nona. Dulu, si non ini paling anti makan kuning telur, sepertinya karena seret dan susah ditelan. Tapi sekarang, justru yang jadi favorit malah kuning telurnya. Haduh, ada-ada aja emang! Makan telur rebus ini jadi aktivitas yang menyenangkan karena si non menikmati meretakkan kulit telur dan mengupasnya. Si non merasa aktivitas mengupas kulit telur ini seperti sebuah permainan. Ya memang sih, permainan motorik halus yang mengenyangkan perut. Hehe. Biasanya, dalam sekali nyemil, si non bisa makan 3-5 butir telur puyuh, sekitar 70 kalori, 5 gr protein, 5 gr lemak. Lumayan, kan! Belum lagi zat dan vitamin yang punya segudang manfaat buat tubuhnya!

2. Edamame

Kandungan Edamame

Sama seperti mengupas kulit telur, mengupas kacang edamame juga menyenangkan buat si non. Dia senang tiap kali menemukan edamame yang berisi lebih dari 2 biji. Selain melatih motorik halus, mengupas makanan-makanan ini juga melatih kemandirian lewat practical life. Untuk edamamenya sendiri, sudah jelas ya, kacang satu ini punya banyak manfaat. Kadar proteinnya tinggi, bagus untuk pertumbuhan anak. 

3. Cireng

Kalau yang satu ini sebenarnya makanan favorit saya, hehe. Berbeda dengan tepung terigu yang gak semua cocok karena mengandung gluten, tepung tapioka tidak mengandung gluten sehingga aman bagi siapapun. Bahkan, banyak yang mengatakan kalau cireng ini justru memiliki banyak manfaat, asal diolah dengan benar. Nah, proses membuat cireng ini juga menyenangkan. Si non bilangnya sih seperti sedang bermain playdough. Meski saya sangat yakin kalau pada proses membuat cireng ini rasanya seperti sedang mandi tepung, karena tepung jadi bertebaran kemana-mana, tapi rasanya menyenangkan. Apalagi kalau melihat anak juga happy.

Banyak resep yang bertebaran di luar sana, yang saya pakai adalah yang paling sederhana, apalagi karena si non akan terlibat di dalamnya, jadi pakai bahan yang basic dulu aja. Bahan-bahan yang digunakan adalah 250 tepung tapioka, 250 ml air panas, garam/ penyedap, bawang putih bubuk sekitar 1 sdm. Semuanya dicampurkan saja, dan supaya lebih wangi, biasanya saya masukkan irisan bawang daun. Setelahnya, tinggal diuleni, dan dibentuk deh. Selain prosesnya menyenangkan, si non suka banget sama cireng ini. Tapi ingat, cireng ini hanya sebagai camilan ya, tetap harus makan makanan yang tinggi nutrisinya!
Nah, itu adalah 3 camilan andalan saya. Banyak manfaatnya untuk tubuh anak, dari dalam dan luar juga. Selain melatih motorik halus, menambah berat badan anak, dan  melatih kemandirian, juga membuat hubungan ibu dan anak semakin erat! Bahan-bahan yang digunakanpun adalah bahan-bahan yang mudah didapatkan, dan kalau mau lebih praktis, parents bisa coba aplikasi yang jadi sahabat ibu di rumah, yaitu Sayurbox. 


Sayurbox menyediakan berbagai macam kebutuhan rumah tangga, dari mulai sayuran, buah, daging-dagingan, makanan beku, dan lainnya. Cara penggunaannya sangat mudah, harganyapun terjangkau dan sering ada diskon, dan yang paling penting, kualitasnya super segarr! Jadi tinggal duduk manis di rumah, tau-tau semua kebutuhan sudah ada depan pintu!
Continue reading 3 Ide Kudapan Anak Yang Menyehatkan dan Dapat Melatih Motorik Halus

Wednesday, 12 July 2023

, ,

Sering Sulit Mengontrol Emosi Negatif depan Anak? Simak Tips dari Carla Naumburg

Artikel ini ditulis berdasarkan buku yang saya baca beberapa tahun yang lalu, dan baru selesai dibaca beberapa bulan yang lalu. Ya, semenjak jadi ibu, saya menjadi slow reader, tapi gak apa, lumayan. Okay, buku ini berjudul How to Stop Losing Your Sh*t with Your Kids, karya Carla Naumburg, Phd, seorang penulis, pekerja sosial, dan juga seorang ibu. Alasan saya ingin mereview buku ini karena saya yakin, sedikit banyaknya, buku ini dapat membantu memahami apa yang parents rasakan dan alami, khususnya saya. Menariknya lagi, karena Carla juga seorang ibu, bukunya terasa sangat relate dengan apa yang saya alami sehari-hari, dikemas dengan bahasa yang lucu dan menarik, membacanya seperti membaca diary seorang ibu yang sayang tapi juga gemas dengan anak-anaknya.

Mengontrol Emosi

Dari mulai memasuki usia 3 tahun, Arsy sudah memasuk perilaku yang "challenging", saya gak akan bilang perilaku nakal, bandel, sulit diatur, menyebalkan, atau yang lainnya, because she's a toddler! Masa iya mau berharap anak usia 3 tahun diam, baca buku, kontemplasi, dan yang lainnya (meski sesekali Arsy juga sering melakukan ini hehe). Di hari-hari tenang, mudah saja untuk mengelola emosi, level kesabaran masih tinggi, sesekali turun, tapi istirahat sejenakpun dapat kembali normal. Tapi memang, saya merasa hari-hari tenang adalah hari yang langka. Sangat jarang rasanya saya melewati satu hari tanpa berteriak gemas "Arsyyyyyy!!"

How To Stop Losing Your Shit with Your Kids Carla Naumburg

Sebelum memberikan tips untuk mengelola emosi negatif di sekitar anak, Carla berulang kali menuliskan bahwa parenting itu sulit, dan hampir semua orang tua  merasakan hal yang sama. Perasaan-perasaan menyesal yang datang setelah memarahi anak, atau sekedar perasaan lelah setiap menemani anak bermain, memang hal yang wajar dirasakan orang tua. Jika dibiarkan berlarut-larut, rasa sesal ini bisa jadi berkembang menjadi perasaan gagal menjadi orang tua. Bukan membenarkan perilaku orang tua yang memarahi anaknya, tapi Carla memahami bahwa emosi-emosi itu adalah hal yang manusiawi. Namun, diwajibkan bagi kita untuk selalu belajar menjadi orang tua yang lebih baik setiap harinya, dengan menambah ilmu dan wawasan soal mengelola emosi ini.

Kenapa kita harus belajar untuk mengelola amarah pada anak?
1. Marah tidak baik untuk orang tua, karena dapat memicu stres. Juga, stres dapat menjadi pemicu orang tua mudah marah, begitu seterusnya, rasanya pantas disebut lingkaran setan.
2. Marah tidak baik untuk anak, karena akan mempengaruhi perkembangan otak dan badannya, dan sangat rentan untuk terkena efek negatif lainnya
Yang harus dicatat di benak kita, para orang tua adalah, the calmer we can get (and stay), the calmer our kids will be as well. Semakin tenang orang tua, anakpun akan semakin tenang. Ingat bahwa anak-anak adalah peniru yang ulung, mereka sangat cepat belajar.

Tentang Tombol Marah/ Tombol Merah/ Tombol Godzilla

Dalam bukunya, Carla Naumburg juga membahas soal ini. Ia mengilustrasikan bahwa tiap orang tua memiliki semacam "tombol marah" (kalau saya sering bilangnya tombol Godzilla) di badannya, dan anak-anak akan selalu tertarik untuk menekan tombol tersebut. Maka, ia menuliskan hal-hal yang dapat membantu para orang tua, bukan untuk menghilangkan tombol marah itu (well, we're still a human!), tapi untuk membuat tombolnya menjadi kecil, tidak menyala, sehingga tidak mudah 'ditekan' oleh anak. Seringkali, tombol ini lebih besar dan menyala pada ibu dibanding ayah, karena ibu lebih rentan terkena stres akibat kelelahan dan kekurangan waktu untuk diri sendiri. Ada beberapa poin yang dibahas oleh Carla, yang harus jadi perhatian khusus para orang tua, dalam rangka mengelola emosinya sehingga tidak mudah berubah menjadi Godzilla.

Carla Naumburg

1. Kelelahan

Banyak orang tua yang mengabaikan soal energi yang ada pada dirinya. Padahal, tidur cukup adalah suatu keharusan. Banyak orang tua yang menahan kantuk demi bisa me time (iya, ini saya juga!), dan lebih memilih minum kopi demi tetap terjaga, padahal badan sudah merengek untuk minta diistirahatkan. Kelelahan dan kebanyakan kafein ini akan memudahkan orang tua terkena stres, apalagi ketika dihadapkan oleh emosi anak yang tidak terduga. Dengan keadaan seperti ini, "tombol marah" pada ibu akan terlihat mencolok, berukuran besar, dan menarik untuk ditekan oleh anak.

2. Terlalu Banyak Input

Masih ada orang yang beranggapan jadi ibu rumah tangga adalah hal yang mudah, karena hanya mengelola tempat yang berukuran ya... gak besar-besar amat. Padahal ibu rumah tangga itu ya bukan asisten rumah tangga. Bukan soal menyapu, mengepel, menyetika, dan yang lainnya. Tapi, justru, kebanyakan kesibukan ada di dalam kepala yang kecil ini. Mengurus anak adalah tanggung jawab yang sangat luar biasa, bukan hanya tentang memberinya makan, memandikannya, dan menemaninya bermain, tapi juga tentang belajar untuk selalu memberikan yang terbaik, meski gak sempurna. Ketakutan akan pengasuhan yang salah pada anak juga membuat pikiran tidak tenang. Maka, gak sedikit orang tua, yang berusaha keras untuk menjadi lebih baik dengan mengikuti setiap seminar parenting di manapun, demi memberikan yang terbaik. 

Niatnya memang baik, tapi menurut Carla, terlalu banyak informasi yang didapat dari berbagai ahli, bisa menjadi buruk ketika kita tidak bisa menyaringnya. Bayangkan, setiap ahli punya metode yang berbeda, punya pengalaman yang berbeda, pendapat yang berbeda, value hidup yang berbeda, kalau kita gak pintar-pintar menyaring, jutru kita yang akan kewalahan dan keblinger dengan semua informasi tersebut. Ada ahli yang mrekomendasikan pemberian sleep training pada anak, ada juga yang tidak. Ada yang mengajarkan anak untuk selalu disiplin, ada juga yang memberikan kebebasan berbatas. Tidak semua pendapat dari ahli harus kita implementasikan. Harus paham betul, value hidup kita apa, anak kita seperti apa, apa yang ia butuhkan, tidak semuanya harus kita ikuti. Karena pada akhirnya, kita adalah orang tua dari anak kita, maka kita yang paling tau apa yang mereka butuhkan.

3. Bukan Tidak Boleh Marah

Sepanjang ini saya menulis, bukan untuk melarang orang tua untuk marah. Marah adalah salah satu emosi manusia yang sangat diperlukan. Tapi, apa yang Carla sampaikan adalah tentang pengelolaannya. Bagaimana agar kita selalu hadir depan anak tanpa membawa "tombol merah besar" di dada. Karena jika tidak, tombol merah itu akan memancing anak, akan dengan mudah anak temukan dan tekan, yang akan membuat Mama berubah menjadi Godzilla. Selalu ingat, bahwa ketika kita lebih tenang, cukup istirahat, cukup nutrisi, tombol merah tersebut akan mengecil dan redup, akan sulit ditekan anak. Jadi ingat ya, yang dipelajari di sini adalah tentang menjaga kondisi kita untuk tetap fit, tetap waras, tetap tenang, supaya anak tidak mudah untuk menekan tombol Godzilla kita.
Baca Juga : 7 Rekomendasi Tempat Makan Kids Friendly di Bandung

4. Semakin Sering Marah, Semakin Sering Terulang

Pernah gak sih parents, seharian rasanya marah-maraaaaah terus. Saya sering banget, kalau mood di pagi hari sudah jelek, sudah kesal, sudah marah-marah, maka akan begitu seterusnya dalam sehari. Ada penjelasannya memang, karena ketika tombol merah kita sudah sering ditekan, dia akan lebih sering merah dan akan ditekan lagi di masa depan. 

5. Pemicu Bisa Bermacam-Macam
 
Pemicu stres tiap orang tua itu berbeda-beda, maka ini pentingnya mengenal diri sendiri. Kita harus tau mana hal yang mudah kita toleransi, mana yang mudah membuat kita marah. Ada parents yang santai saja kalau rumah berantakan, tapi ada juga parents OCD yang stres luar biasa ketika anaknya membuat kebun binatang menggunakan peralatan rumah tangga. Mengenal triggers yang kita miliki, akan memudahkan kita membuat antisipasinya. Contohnya, masih dengan kasus yang sama, aktivitas anak memang akan selalu seperti itu, membuat rumah berantakan, tidak mungkin untuk menyuruh mereka tidak melakukan apapun, maka kita bisa komunikasikan pada pasangan untuk membagi tugas, atau bisa juga, membuat ruangan khusus bermain untuk anak, sehingga ruang kontrolnya lebih sempit, dan orang tua tidak terlalu kewalahan.

Momen-momen penting dalam hidup juga kadang bisa menjadi pemicu stres, misalnya ketika ternyata seorang ibu diberi rezeki untuk mengandung lagi. Meskipun itu adalah suatu berkah, kadang hormon bisa membuat suasana hati menjadi tidak stabil. Atau misalnya ketika mendapatkan promosi kerja, hal tersebut juga dapat membuat suatu kondisi yang berbeda dan perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. 

6. Awareness, Acceptance, Action, and BURPs

Poin terakhir yang akan saya ulas adalah inti dari tulisan ini. Bagaimana untuk mengelola emosi parents, bagaimana untuk menjaga tombol Godzilla inti untuk tidak membesar dan menyala. Yang pertama adalah Aware, kesadaran. Seperti yang tadi bilang, setiap orang punya triggers yang berbeda. Misal, parents tau bahwa anak akan melakukan sesuatu yang parents gak suka, kembali ke contoh, soal rumah yang berantakan. Ketika anak akan menumpahkan mainannya, parents harus sudah menyadari kalau hal tersebut akan membuat parents marah. Antisipasi tersebut akan membuat parents lebih siap dan lebih mudah masuk ke tahap selanjutnya, yaitu Acceptance.

Acceptance atau soal menerima, adalah tahap kedua. Ketika kita menyadari hal tersebut adalah salah satu pemicu marah kita, kita menerima bahwa kita akan marah karena hal ini. Melawan perasaan ingin marah ini, bukan hal yang tepat, karena sistem saraf kita gak peduli bahwa ini waktu yang tidak tepat untuk marah, dan memaksa diri untuk tidak marah malah akan membuat parents menjadi semakin ingin marah. 
Baca Juga : Drama Trimester 4, Drama Berusaha Menjadi Ibu Sempurna
Action, ini soal aksi yang akan dilakukan. Apakah akan tetap marah? Untuk beberapa hal, bisa saja kita mengatasinya dengan menghilangkan hal-hal yang dapat memicu kita marah. Namun, dengan kasus di atas, tidak mungkin kita melarang anak untuk tidak bermain sama sekali, supaya rumah tetap rapi. Maka, parents harus siap untuk menghadapinya. Yang biasa saya lakukan saat saya menghadapi hal-hal yang memicu saya adalah menjauh dari anak untuk sesaat. Inhale-exhale, peluk diri sendiri, usap dada, pokoknya melakukan hal-hal yang membuat saya lebih tenang. Ketika perasaan sudah membaik, saya akan kembali lagi ke Arsy dengan harapan tetap bisa tenang. Seringkali sukses, tapi tidak jarang kecolongan juga, jika pemicu stressnya luar biasa besar. Kalau sudah seperti itu, istigfar, lalu minta maaf ke anak, berdoa sama Allah semoga momen buruk tadi tidak terekam di memorinya. Afterall, we're only a human.

Poin selanjutnya, adalah BURPs, ini adalah singkatan dari Button Reduction Practice, langkah terakhir. Menerapkan awareness, acceptance, dan action di setiap hari secara rutin, lama-lama akan membentuk habbit tersendiri. Setiap kita akan menghadapi situasi yang memicu amarah kita, kita akan mawas diri, sudah punya semacam peringatan di kepala, bahwa kita akan marah, dan kita harus mempersiapkan diri untuk itu. Saya sendiri, masih berlatih, kadang (atau mungkin sering, ya) lepas kontrol berteriak kesal, namun BURPs ini adalah latihan panjang, terus menerus selama saya jadi orang tua, dan ini sangat membantu di keseharian saya. Sepakat kan kalau marah-marah itu menguras energi yang cukup banyak? Sangat melelahkan dan stressful, gak cuma buat kita, tapi juga bagi anak. Semangat, parents!
Continue reading Sering Sulit Mengontrol Emosi Negatif depan Anak? Simak Tips dari Carla Naumburg

Monday, 24 April 2023

, , ,

Review Hotel Mambruk, Hotel di Anyer dengan Pantai Pribadi yang Cantik

Mencari hotel di sekitaran pantai Anyer memang sangat tricky. Pilihannya banyak betul, range harganyapun beragam. Eh eh, loh kenapa jadi tiba-tiba ngomongin pantai Anyer? Gini ceritanya..

Beberapa minggu sebelumnya,

 "Lihat deh, Sy. Awannya indah sekali ya, Masya Allah... Allah hebat sekali bisa menciptakan hal-hal indah. Lihat bunga itu juga indah, Allah memang menyukai hal-hal indah..", itu adalah celetukan-celetukan yang biasa saya ucapkan sehari-hari kepada Arsy. Saya selalu ingat pesan dari Ustadz Hasan Faruqi, menumbuhkan fitrah iman anak bukan diawali dengan menghafal surat ataupun doa-doa pendek, tapi dengan mengenal Tuhannya, mencintai dan mengagumi Tuhannya. Lucunya, tinggal di kota membuat saya mengulang hal-hal yang sama. Sejauh mata memandang, langit hanya sebatas awan. Jika beruntung, saya bisa menunjukkan bintang dan bulan yang indah di malam hari. Namun, seringkali, pertanyaan Arsy mengikuti pengalaman yang ia proses melalui panca indranya. Karena rutinitas kami hanya disitu-situ saja, pertanyaannya gak jauh-jauh seputar, "Ma, Allah menciptakan lampu juga? Kalau trotoar? Kalau gedung? Kalau sekolahan?"  Mendengarnya, saya langsung merasa perlu untuk mengajak Arsy jalan-jalan, ke luar dari rutinitas perkotaan yang selalu sibuk ini.

Keputusan untuk berlibur ini juga didukung oleh kabar dari Kukuh yang ternyata mendapat jatah untuk cuti seminggu. Setelah memikirkan banyaknya pilihan liburan dan melewati berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk berlibur ke pantai. Pasalnya, Arsy belum pernah ke pantai dan saya yakin betul dia akan suka sekali dengan pantai, karena dia suka dengan air. Pernah sekali ia datang ke pantai, tapi sungguh pengalaman yang kurang berkesan karena pantainya kecil di dalam Ancol, tanpa ombak, dan saya agak sulit membedakan apakah itu adalah pantai atau selokan karena saking kotornya dengan sampah yang bertebaran di mana-mana. Sedihnya..

Baca Juga : Review Hotel Mercure Convention Center Ancol

Maka, kali ini, saya memutuskan untuk mencari pantai yang gak terlalu ramai. Teman saya menyarankan Pantai Santolo, pantai indah yang belum begitu banyak pengunjungnya. Saya pernah ke sana satu kali, dan memang sungguh indah, namun perjalanannya memang penuh ketegangan, dikarenakan aksesnya yang belum terlalu bagus. Takut tidak menikmati perjalanan, akhirnya kami memutuskan pantai yang aksesnya lebih mudah, tapi tetap tidak terlalu banyak didatangi. Akhirnya, terbesitlah pantai di Anyer. Pantai di kawasan Anyer memang banyak sekali pilihannya, bertanya pada salah satu kerabat yang paham kawasan Anyer, ia menyarankan untuk menginap di dalam satu hotel yang bernama Hotel Mambruk Anyer. Menurutnya, Hotel Mambruk Anyer ini merupakan hotel yang terbilang baru di kawasan itu, punya pantai pribadi, sehingga sudah pasti tidak akan seramai pantai publik. 

Hotel Mambruk Anyer

Mencari kamar kosong di Hotel Mambruk Anyer ini cukup sulit, karena hampir setiap hari full booked (entah karena pada saat itu sedang ada diskon 30% untuk semua room), tapi akhirnya saya beruntung mendapatkan sisa 1 kamar untuk menginap 3 hari 2 malam. Rate yang saya dapatkan saat ini sangat lumayan, kamar superior sudah termasuk breakfast menjadi 1,5 juta saja semalam, dari yang asalnya 2 juta. 

Memang namanya hidup, ada aja yang bikin deg degan. 10 hari sebelum keberangkatan, Arsy tiba-tiba demam. Gejalanya sangat mirip dengan yang dialaminya di awal tahun pada saat ia tipes. Lidah putih, demam hanya di malam hari, dan ini berlangsung berhari-hari. H-4 keberangkatan, badannya masih sedikit demam, saya sudah bilang sama Kukuh untuk menghubungi pihak hotel, bertanya apakah bisa cancel dan refund, dan kalau memang tidak mungkin untuk direfund, saya minta Kukuh untuk menawarkannya ke teman atau adiknya yang kira-kira bisa memanfaatkan room hotelnya. Selain kondisi Arsy, cuaca kala itu sedang sering-seringnya hujan. Meski pagi hari cerah, pasti tidak berlangsung lama, siang sampai malam rata diguyur hujan. Beberapa kali saya melihat postingan orang-orang yang menginap di Hotel Mambruk, yang saya perhatikan adalah backgroundnnya, dan rata-rata saya lihat langitnya gelap, dan pengunjung anak-anak memakai jaket atau kaos berlengan panjang. "Wah, kalau gini mah, Arsy bisa masuk angin", pikir saya. Ya sudah, ikhlaskan, La hawla wala quwata ila billah. Kalau memang Allah mengizinkan, kita akan pergi, kalau memang ini bukan saat yang tepat, ya sudah, harus ikhlas.

Alhamdulillah. H-2 perjalanan, kondisi Arsy sudah jauh lebih baik. Demamnya sudah tidak muncul kembali, lidahnya sudah tidak putih, sudah terlihat lebih bersemangat. Saking semangatnya, dia yang tau bahwa kami punya rencana untuk ke pantai, bolak balik menagih janji, 'Arsy mau ke pantai!". Sempat dilema, karena takutnya "karugrag", tapi meminta saran dari Ibu, Ibu bilang tidak apa pergi ke pantai, siapa tau justru dia happy, dan suasana pantai bisa bikin Arsy jadi semakin sehat dan kembali ceria. Dipikir-pikir, ada benarnya juga. Diam di rumah selama seminggu, bagi saya saja rasanya memuakkan, apalagi bagi anak-anak yang dunianya harusnya penuh dengan aktivitas bermain dan bertualang. Maka, dalam waktu 2 hari, kami mempersiapkan semua yang akan dibutuhkan nanti di pantai, termasuk obat-obatan Arsy, jaga-jaga kalau demamnya muncul kembali.

Kami berangkat di Hari Minggu, pagi hari, sekitar pukul 07.00, Sarapan di jalan menjadi pilihan terbaik, untuk menghindari macet dan menghemat waktu juga. Selama perjalanan, cuaca gak menentu. Dalam 1 waktu, langit sangat cerah, sinar matahari menembus kaca mobil, silau, lalu 15 menit kemudian tiba-tiba awan menjadi gelap, tak ada lagi sinar matahari. Begitu terus. Kami juga sempat was-was waktu masuk Jakarta, hujannya amat sangat deras, langitnya gelap, waah.. betul-betul bukan cuaca yang tepat untuk berpiknik. Tapi, saya tetap berdoa, semoga cuaca di pantai nanti akan berbeda.

Kamar di Hotel Mambruk Anyer

Sesampainya di hotel, memang ternyata hotelnya berbeda dengan yang saya bayangkan. Di bayangan saya, Hotel Mambruk ini ya seperti hotel pada umumnya, gedung bertingkat dengan banyak kamar. Tapi ternyata, kamarnya berupa cottage, tidak bertingkat, dan tersebar di area hotel. Bahkan untuk lobbynya pun, tidak di dalam gedung. Unik, kami mengantri di belakang mobil yang terparkir depan lobby, pengemudinya sedang check in di bagian resepsionis. Setelah selesai check in, mobil depan langsung dipandu oleh room service untuk menuju cottagenya. Setelahnya giliran kami, setelah check in, kami diarahkan menuju salah satu cottage. 

Halaman Hotel Mambruk Anyer

Sesampainya di cottage, Kukuh langsung jalan-jalan di sekitarnya, mencari tahu sedekat apa kami dengan pantai. Maklum, ia agak-agak parno, mengingat Anyer baru saja diterpa oleh tsunami beberapa tahun lalu. Ia juga sudah memastikan titik-titik yang harus segera dituju jika terjadi gempa. Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa. Kami sampai hotel kisaran Ashar, cuacanya suprisingly sangat cerah, panas, tidak ada mendung sedikitpun. Maka setelah istirahat sebentar, kami menuju pantai di sore harinya. Berkali-kali mengucap syukur karena semua yang dikhawatirkan tidak terjadi. Saya bisa mengajak Arsy bermain di pantai tanpa merasa khawatir.

Fasilitas Hotel Mambruk Anyer

Restoran Hotel Mambruk Anyer

Pertama kali bermain ombak, Arsy agak-agak takut. Maklum, kala itu pertama kalinya ia merasakan air yang bergelombang seperti itu. Tapi, tidak butuh waktu lama, ia mulai menikmati dan memaksa saya untuk mengajaknya terus ke tengah-tengah pantai. 

Di malam harinya, karena kami merasa kehabisan tenaga dan agak malas untuk keluar Hotel, kami memutuskan untuk makan malam di restauran hotel. Sebenarnya, rasanya enak, hanya saja porsinya sedikit dengan harga yang lumayan fantastis. Hehe. Hari setelahnya, barulah kami mencoba makan seafood yang lumayan terkenal, di Ikan Bakar BM. Di sana, harganya masih masuk akal, dengan rasa yang luar biasa tidak mengecewakan.

Mengenalkan pantai, laut, pemandangan langit yang terbenam pada Arsy, membuatnya terperangah. Begitu indahnya, cantiknya ciptaan Allah. Sangat menyenangkan rasanya, mengenalkan betapa indah alam semesta ini lewat mata kepala sendiri, bukan lagi lewat layar ataupun buku. Bahkan, di malam hari, saya berkali-kali mengucap tasbih tiap melihat langitnya. Meskipun sudah malam, langit tidak segelap itu, banyak sekali bintang dan bulan yang bersinar dengan terangnya, bahkan kami bisa mengamati pergerakan awan sejelas itu. Minimnya polusi, membuat saya bisa melihat langit yang sesungguhnya.

Pemandangan Langit Malam Anyer

Saya betul-betul menikmati perjalanan kali ini. Tidak hanya saya, Kukuh dan Arsy pun terlihat sangat senang, apalagi Arsy. Sampai sekarang, pantai menjadi tempat favoritnya. Alhamdulillah. Jadi, kalau teman-teman kebingungan memilih hotel di Pantai Anyer, bisa coba Hotel Mambruk Anyer ini. Sangat memuaskan.

Continue reading Review Hotel Mambruk, Hotel di Anyer dengan Pantai Pribadi yang Cantik