Friday, 12 July 2019

, ,

Memahami Perjalanan Hidup dari Novel Rindu - Tere Liye


Akhirnya, setelah melewatkan beberapa kali kolaborasi dengan Bandung Hijab Blogger, kali ini saya bisa kembali lagi dengan rutinitas yang lebih senggang, lebih santai, dan lebih niat untuk menulis. Kali ini temanya adalah "My June Favorite", barang atau hal-hal yang menjadi favorit kami di Bulan Juni. Karena saya sedang dalam puasa skincare dan kosmetik, demi kesehatan kakak bayi, jadi saya akan sedikit bercerita tentang buku lokal yang sebetulnya bukan hanya di Bulan Juni saja, tapi akan menjadi salah satu buku favorit saya sepanjang hidup.


Sebenarnya saya gak familiar dengan pengarang buku Indonesia, hanya sedikit saja yang saya tau, itupun karena rekomendasi teman-teman. Lalu muncullah nama ini, Tere Liye, nama yang sering saya lihat di kutipan-kutipan tentang motivasi, cinta, ataupun kehidupan. Kutipan-kutipan Tere Liye yang bersileweran di social media cenderung relatable, masuk dan cocok pada tiap aspek kehidupan. Biasanya saya agak malas baca buku-buku mainstream yang sering dipajang di bagian Best Seller toko-toko buku. Tapi, lama-lama saya penasaran juga dengan buku-buku Tere Liye, apalagi saat saya membaca sinopsis buku ini.

Buku Tere Liye yang saya beli pertama kali adalah novelnya yang berjudul Pulang dan Pergi. Saya agak terkejut setelah selesai baca kedua novel tersebut. Sejujurnya, plot cerita kedua novel tersebut bukanlah tipe novel yang saya suka, tapi suprisingly, saya ketagihan. Hanya membutuhkan 3 hari untuk menyelasaikan 2 novel tersebut, saking serunya ceritanya. Tapi bukan novel Pulang dan Pergi yang akan saya bahas di sini, tapi novel lain yang mendapat penghargaan Buku Islam Terbaik tahun 2015, yaitu Rindu.

 

Wahai laut yang temaram,
Apalah arti memiliki?
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami

Wahai laut yang lengang,
Apalah arti kehilangan?
Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya
Kehilangan banyak pula saat menemukan

Wahai laut yang sunyi,
Apalah arti cinta?
Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai laut yang gelap,
Bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu?
Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.


Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.

Plot ceritanya adalah tentang perjalanan rombongan haji di tahun 1938, kala Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Perjalanan menggunakan kapal uap Belanda yang bernama  Holland  ini, diperkirakan memakan waktu beberapa bulan untuk dapat sampai di Jeddah. Novel ini menceritakan kisah-kisah para penumpang kapal selama perjalanan tersebut. Dimulai dari awal keberangkatan dari Pelabuhan Makassar, dan beberapa kali transit untuk menaikkan penumpang dari pulau lain, hingga akhirnya menuju ke laut lepas.

Fokus ceritanya bukan pada perjalanan itu sendiri, tapi pada permasalahan-permasalahan pribadi para penumpangnya. Dari sekian banyak penumpang Holland, ada 5 karakter yang menonjol dan punya peran khusus. Masing-masing mengantongi pertanyaan hidup yang selama ini tidak pernah mereka temukan jawabannya.

Pertanyaan pertama datang dari Bunda Upe. Bunda Upe memutuskan untuk menjadi mualaf di usianya yang tidak lagi muda. Kesehariannya di dek kapal adalah mengajar anak-anak mengaji selepas solat Ashar. Tidak ada satupun yang tahu, kecuali suaminya, mengenai masa lalu Bunda Upe. Masa lalu memilukan yang selalu ingin ia lupakan. Masa lalu yang terus membayangi hidupnya. Susah payah Bunda Upe pergi, tapi sejauh apapun ia berlari, bayang-bayang itu terus menghantui.


Pertanyaan-pertanyaan hidup yang lain datang dari 4 penumpang istimewa lainnya, Mbah Kakung, Daeng Adipati, Ambo Uleng, Gurutta Ahmad Karaeng. Saya gak akan membahas permasalahan dari karakter-karakter lainnya, karena saya rasa kurang seru kalau gak baca bukunya langsung. Tapi justru, di sini saya ingin membagikan kutipan - kutipan atau mungkin lebih tepatnya nasihat Gurutta yang diberikan pada penumpang-penumpang kala mereka menghadapi kegundahan atau kegalauan hati.

1. Tentang Cinta

"Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara yang mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya. Tapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan?"
(Tere Liye - Rindu)


"Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Aku tahu kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang cinta itu sejati, tapi kita justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbalik yang pernah dipahami oleh pecinta. Mereka tidak pernah mau memahami penjelasannya."
(Tere Liye - Rindu) 

2. Tentang Memaafkan

"Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, bukan! Kita memutuskan memaafkan karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati."
(Tere Liye - Rindu) 

"Maka ketahuilah, Andi. Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, atau dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran baru yang benar-benar kosong."
(Tere Liye - Rindu) 

3. Tentang Kekecewaan

"Perjalanan hidupmu boleh jadi jauh sekali, Nak. Hari demi hari, hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulan, itu pun sekedar pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun, mungkin itu bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi itu semua sifatnya adalah pemberhentian semua. Dengan segera kapal kita berangkat kembali, menuju tujuan paling hakiki."
 (Tere Liye - Rindu) 

"Maka jangan pernah merusak diri sendiri. Kita boleh benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka, jangan rusak kapal kehidupan milik kita, hingga dia tiba di pelabuhan terakhirnya.”
 (Tere Liye - Rindu) 
 
“Tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki, tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. Karena esok lusa, ada orang yang mengaku cinta, tapi dia melakukan begitu banyak maksiat, menginjak-injak semua peraturan dalam agama, menodai cinta itu sendiri.”
(Tere Liye - Rindu)  

Kutipan-kutipan di atas adalah nasihat-nasihat dari Gurutta yang paling mengena bagi saya. Ada satu hal yang saya suka dari buku ini selain nasihat-nasihat dari Gurutta, yaitu kenyataan bahwa seorang guru besar, panutan orang-orang yang seringkali menjadi tempat mereka berkeluh kesah dan mencari jawaban atas pertanyaan hidup, adalah seorang manusia juga, tidak sempurna. Bahwa sejatinya, Gurutta pun ternyata adalah seorang makhluk Tuhan yang memiliki pertanyaan dalam hidupnya yang masih ia kantongi sepanjang perjalanan tersebut.
Continue reading Memahami Perjalanan Hidup dari Novel Rindu - Tere Liye

Monday, 8 July 2019

, , , ,

Mata Kering Menjelang Hari H, Untung Ada Insto Dry Eyes!

Menjadi anak perempuan satu-satunya dalam keluarga, membuat saya sedikit salah gaul. Bukan, bukan pergaulan yang menyimpang semacam itu. Tumbuh bersama 2 orang saudara laki-laki yang hobi bermain video games, membuat saya gak tertarik dengan permainan-permainan perempuan, seperti boneka, barbie, rumah-rumahan, dan yang lainnya. Bahkan hingga remaja dan dewasa, kalau saya ditawari bermain harvest moon atau pergi ke mall untuk shopping dengan teman-teman, saya gak ragu untuk lebih memilih macul-macul menanam jagung di Harvest Moon.

Buat saya, bermain video games itu semacam stress release, hiburan yang paling menyenangkan. Mungkin kebanyakan perempuan lebih suka shopping dan nongkrong-nongkrong untuk melepas stress, tentu saya pernah mencobanya. Bukannya menghilang, stress saya semakin menjadi setelah melihat bill yang harus dibayar. Tapi, ada kalanya kecintaan saya akan video game ini malah menjadi malapetaka, terutama di hari besar saya tahun lalu.

Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering

Tahun lalu, saya menikah. Tepatnya pada 28 Januari 2018, Ibu yang memilih tanggal, karena angka cantik, ujarnya. Semua orang, terutama yang sudah menikah, pasti pernah merasakan bagaimana stress dan gak karuannya perasaan menjelang hari H. Begitupun dengan saya. Ketakutan-ketakutan tentang hari pernikahan, dari mulai yang masuk akal seperti "bagaimana jika catering kurang", "bagaimana kalau hujan besar", sampai pikiran-pikiran ngawur seperti "bagaimana kalau mantan saya datang dan menghalangi jalannya pernikahan" datang menghantui di setiap malam. Dasar saya yang kurang iman, bukannya perbanyak ibadah supaya stress berkurang, malah mencari hiburan lain untuk menepis perasaan gelisah itu. Ke mana lagi kalau bukan bermain video games.

Kalau dulu saya masih bermain PS, sekarang saya lebih banyak bermain games di handphone. Tentu saja karena alasan praktis. Mobile legend adalah salah satu games yang gak pernah saya lewatkan setiap harinya untuk dimainkan. Menjelang hari-hari pernikahan, setiap harinya saya selalu bermain ML (mobile legends) dengan alasan pengalih stress dan ketagihan tentunya. Gak peduli pagi, siang, malam, di kantor, di vendor rias, vendor katering, pokoknya dimanapun ada kesempatan untuk bermain handphone, saya selalu bermain games. Selama itu juga saya gak pernah khawatir dengan kesehatan mata saya karena saya seringkali menggunakan kaca mata minus 3.75 yang juga memiliki fungsi anti radiasi pada lensanya. Jadi, saya PD aja berlama-lama bermain games

Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering

Lalu muncullah hari itu, cara Tuhan menegur saya agar saya fokus memikirkan pernikahan saya, bukan mikirin gimana caranya naik level pada video games. 2 minggu sebelum hari pernikahan, saya terbangun dengan mata sebelah kanan yang luar biasa perih. Rasanya seperti kemasukan sampo, tapi saya ingat betul saya gak pernah sampoan di kasur. Selain perih, saya merasa mata ini menjadi pegal dan berat untuk dibuka, rasanya seperti ada sesuatu yang menahan mata saya untuk tetap tertutup. Gak berhenti sampai di situ, mata ini juga terasa sepet, membuat saya hanya mampu membuka mata kanan selama 3 detik. Jika dipaksakan lebih dari itu, perihnya semakin menjadi, seperti dicolok gunting khusus bulu hidung, yang tipis itu. Akhirnya, seharian saya hanya mengandalkan mata kiri saya. Mata kanan saya gunakan seperlunya, saya buka dikit-dikit aja, seperti orang sedang ngintip.

Selama saya mengalami gejala mata kering ini, saya juga menghindari penggunaan lensa kontak, karena hanya membuat mata saya pegal dan semakin kering. Sebetulnya saya memang jarang menggunakan lensa kontak, kecuali untuk acara-acara tertentu, acara-acara besar, dan tentu hari pernikahan termasuk salah satu di antaranya. Ya, bukannya gimana-gimana, bayar make up artist kan gak murah, masa make up mata saya mau ditutupin kaca mata.

Saya pikir, masalah mata ini hal sepele. Nanti juga bakal hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata, makin hari perihnya bukan makin menghilang, tapi malah semakin menjadi. Awal mula, saya sempat berpikiran mistis. Jangan-jangan ini semua adalah ulahnya mantan yang mengirim "sesuatu" untuk menganggu pernikahan saya. Tapi kemudian saya ditoyor oleh sahabat saya, "kalau mau suudzon mbo ya kira-kira aja!," katanya.
 Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering
Karena tak kunjung membaik, saya pergi ke dokter spesialis mata atas saran Ken, sahabat saya. Begitu dokter memeriksa mata saya, beliau bilang mata saya lelah dan kering. Saya sempat ditanya apakah akhir-akhir ini sering berhadapan dengan komputer atau terlalu sering menggunakan handphone? Saya bilang tentu, itu bagian dari pekerjaan saya, berhadapan dengan komputer, tapi saya gak bilang kalau saya juga banyak menggunakan handphone untuk bermain games, malu.

Dokter bilang bahwa sebetulnya handphone atau komputer tidak akan memberikan masalah pada kesehatan mata, yang bikin mata menjadi lelah dan kering adalah karena kedipan mata kita berkurang saat dipaksa untuk fokus menatap layar. Mata kita yang biasanya berkedip 10-15x setiap menitnya, bisa menjadi berkurang setengahnya karena terlalu fokus pada gadget. Mendengar penjelasan dokter, saya hanya ber'ooh' dan menjadi paham kenapa stress saya bisa hilang saat bermain video games. Ya gimana nggak, ngedip aja lupa, apalagi stress. Untung saya masih ingat untuk napas. Nah, di sinilah saya baru sadar, bahwa ternyata memakai kaca mata anti radiasi saat menggunakan gadget gak berarti bikin kita terhindar dari mata kering.

Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering

Setelah menghabiskan uang yang gak sedikit untuk membayar biaya konsultasi doker dan vitamin mata yang berupa kapsul, saya lumayan tenang, berharap besok mata saya kembali normal. 2 hari setelahnya, nah.. kalau tulisan ini masih berlanjut, pasti kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya, kan? Ya, mata saya tetap kering, gak ada perubahan. Uang melayang sia-sia. Bukannya skeptis dengan penjelasan dari dokter, tapi karena penasaran, saya banyak baca artikel-artikel seputar penyebab mata kering. Sampai akhirnya saya menemukan artikel dari alodokter.com yang menjelaskan 3 penyebab mata kering secara umum, yaitu :

1. Produksi Air Mata Berkurang
Biasanya kondisi ini timbul karena usia tua, penyakit, konsumsi obat-obatan tertentu, kerusakan kelenjar air mata karena radiasi atau akibat operasi laser mata.

2. Air Mata Lebih Cepat Menguap
Kondisi ini dapat diakibatkan oleh cuaca (angin, asap, atau udara kering), kondisi yang membuat mata jarang berkedip (membaca, bekerja depan komputer, bermain gadget), masalah pada kelopak mat ayang berbalik ke luar ataupun ke dalam.

3. Komposisi Air Mata Tidak Seimbang
Air mata terdiri dari minyak, air, dan lendir dengan komposisi tertentu. Ketika komposisi ini berubah, dapat mengakibatkan mata kering.

Sebetulnya isi artikel tersebut kurang lebih sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan oleh dokter. Intinya adalah tentang kurangnya kadar air pada mata. Seketika saya merasa kalau ini adalah permasalahan yang sederhana. Saya hanya perlu memproduksi lebih banyak air mata, agar mata saya lebih lembap. Terdengar masuk akal, bukan? Kalian tau apa yang saya lakukan selanjutnya? Saya memaksakan diri untuk menangis, berusaha memproduksi air mata sebanyak-banyaknya. Saya banyak menonton drama-drama sedih. Tapi bodohnya, saya menonton di handphone, dan boro-boro ingat nangis, ngedip aja saya lupa lagi karena terlalu asik mengikuti jalan ceritanya.

Sampai akhirnya gak kerasa sudah H-3. Saya mulai uring-uringan dengan masalah mata ini. Saya sampai berkali-kali curhat dengan calon suami saya saat itu. Dia cuma menenangkan bahwa gak masalah kalaupun nanti saat menikah saya harus menggunakan kaca mata, toh tetap cantik. Tapi jelas, kata-kata itu gak menenangkan sama sekali.

Pada akhirnya, Ibu datang sebagai penyelamat. Tadinya, saya gak niat untuk cerita perihal mata sakit ini karena takut dimarahi. Ibu selalu bilang jangan terlalu lama bermain handphone, tapi saya selalu mengabaikannya. Makanya, saya gak berani jujur, malu mendengar kata-kata, "Kan Ibu sudah bilang..." atau "Ibu bilang juga apa.."

Singkat cerita Ibu bilang, "Coba dipakein Insto Dry Eyes aja". Sebetulnya, Insto memang obat mata yang selalu ada di kotak P3K rumah. Tapi, karena harganya murah, saya agak skeptis kalau Insto bisa menyembuhkan mata ini. Saya pikir Insto hanya untuk menyembuhkan mata yang kemasukan pasir atau debu saja, gak sesuai dengan permasalahan mata yang saya alami. Cuma ya balik lagi, biasanya kalau Ibu yang bilang, selalu benar.

Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering

Sebelum saya pakai, saya sempat baca informasi yang tertera pada kemasan Insto Dry Eyes ini. Insto Dry Eyes merupakan tetes mata steril yang mengatasi gejala mata kering. Digunakan untuk memberikan efek pelumas seperti air mata, mengatasi gejala kekeringan pada mata, meringankan iritasi mata yang disebabkan oleh kekurangan produksi air mata (biasanya pada penderita rheumatoid arthritis, keratoconjunctivitis dan xerophthalmia), juga digunakan sebagai pelumas pada mata palsu.

Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering

Botol kecil dengan cairan seberat 7.5 ml ini mengandung 3.0 mg Hydroxypropyl Methylcellulose dan 0.1 mg Benzalkonium chloride di setiap ml nya. Seperti biasa, sebelum saya menggunakan suatu produk, saya selalu mengecek kandungan-kandungan yang ada di dalamnya. Ya jangankan obat mata, kandungan bedak aja biasa saya cek satu-satu kandungannya untuk menghindari timbulnya masalah baru dari kandungan yang ada.

Nah, Hydroxypropyl Methylcellulose adalah kandungan utama Insto Dry Eyes. Dilansir dari honestdocs.id, Hydroxypropyl Methylcellulose merupakan agen semisintetis dan polimerik viskoelastik yang merupakan cairan koloid. Obat ini bekerja untuk menebalkan serta melapisi permukaan dan mengikat proses granulasi. Hydroxypropyl Methylcellulose juga dapat meningkatkan efek terapi pada beberapa jenis obat, juga memiliki karakteristik seperti air mata natural dan sebagai lubrikasi pada permukaan mata serta menjaga hidrasi kornea

Selain Hydroxypropyl Methylcellulose, kandungan utama dari Insto Dry Eyes ini adalah Benzalkonium chloride. Dilansir dari alodokter.com, Benzalkonium chloride adalah zat amonium yang umumnya terkandung dalam produk antiseptik Zat ini bekerja dengan menghentikan pertumbuhan beberapa jenis bakteri, virus, atau jamur yang dapat membahayakan tubuh.

 Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering

Nah kan, membaca informasi yang ada pada box Insto Dry Eyes ini bikin saya jadi merasa bodoh kenapa gak cerita sama Ibu dari awal. Jelas-jelas di rumah ada tetes mata steril yang berfungsi seperti "air mata buatan" untuk melembapkan mata, kenapa saya harus repot-repot nonton drama sedih untuk memaksakan air mata saya keluar??

Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering

Akhirnya saya menggunakan Insto Dry Eyes selama 3 hari berturut-turut sampai di hari H. Saya pakai 2x sehari, saat siang hari dan sebelum tidur. Tiap mata biasanya saya tetesi 1-2x. Efeknya mulai terasa dari mulai pemakaian kedua. Awalnya mata saya terasa lebih enteng, gak sepet walaupun masih terasa sedikit kering. Sudah mulai bisa bertahan untuk terbuka selama 5 detik di hari kedua. Lalu esoknya lagi, mata saya sembuh total, gak kering sama sekali, tepat di hari H.

Untuk jaga-jaga, saya juga menggunakan tetes Insto ini di hari pernikahan, tentunya bukan pada saat saya menggunakan kontak lensa, tapi 20 menit sebelum memakainya. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa memamerkan eye make up mahal ini di depan suami tanpa terhalang kaca mata.

Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering

Acara pernikahan berlangsung dengan lancar tanpa kendala apapun, bikin saya ngerasa menyesal karena terlalu stress memikirkan ketakutan-ketakutan saya di hari pernikahan dan berujung dengan stress mengobati mata yang kering. Tapi kan everything happens for a reason, mungkin Tuhan negur saya biar saya bisa lebih mengontrol hobi saya main games setelah saya menikah, biar saya gak lebih memilih mabar (main bareng) dibanding membuat sarapan suami. Tapi ya meskipun saya sudah jarang main game lagi, masalah mata kering, mata sepet, mata pegel, mata perih, ataupun mata lelah, kadang emang gak bisa dihindari. Tentu saja karena saya masih suka nonton drama korea, masih suka baca e-book, dan tentunya blogging.

 Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering

Pengalaman mata kering yang saya alami ini hanya salah satu dari sekian banyak pengalaman mata kering saya yang lain. Bukan hanya masalah terlalu lama bermain games, tapi juga aktivitas lainnya yang melibatkan mata sebagai panca indera yang paling "bekerja keras" dalam kehidupan sehari-hari. Tapi gak masalah, selama ada Insto di rumah, I know I'm in good hands.

Review Insto Dry Eyes, Bye Mata Kering

Sebetulnya ada banyak pilihan produk di luar sana yang mengklaim memiliki khasiat yang serupa dengan Insto Dry Eyes ini. Tapi, selain saya lebih percaya dengan Ibu yang sudah berpengalaman menangani masalah-masalah kesehatan anak-anaknya, Insto Dry Eyes ini merupakan Brand Tetes Mata No 1 di Indonesia. Kalau saya sudah cocok dengan yang No 1, kenapa saya mesti coba brand-brand nomor selanjutnya, ya kan?


Disclaimer : Artikel ini ditulis dalam rangka kompetisi blog yang diselenggarakan oleh Insto dengan tema Bye Mata Kering. Semua gambar dan foto yang terlampir bersumber dari penulis dan website Insto.
Continue reading Mata Kering Menjelang Hari H, Untung Ada Insto Dry Eyes!

Sunday, 7 July 2019

, , , ,

REVIEW : Emina Lip Cushion Let It Peach, Unik sih, tapi...

Produk yang saya ulas sekarang, sebetulnya sudah booming dari kemarin-kemarin. Beauty enthusiast pasti udah gak asing lagi, lagipula, sepengetahuan saya produk lip cushion dari brand lokal hanya produk ini saja. Sejujurnya, saya bukan tertarik dengan bentuknya atau aplikatornya, tapi lebih penasaran ke warnanya. Warna peach sealu menarik perhatian saya, karena ya.. bikin muka keliatan lebih muda dan fresh (atau mungkinkah saya hanya kepedean)? Karena produknya sudah saya cantumkan di judul, jadi ya udah jelas.. ini produknya

INFORMASI PRODUK

Review Emina Lip Cushion Let It Peach Anisa Firdausi

Emina Lip Cushion 01 Let It Peach
Produced by PT. Paragon Technology dan Information
Industri Road IV Blok AF No. 18 Jatake Industrial Area
Tangerang - Indonesia
POM NA 18181303142

KEMASAN

Review Emina Lip Cushion Let It Peach Anisa Firdausi

Review Emina Lip Cushion Let It Peach Anisa Firdausi

Di dalam box berwarna peach, kemasannya berupa tube dengan tutup model ulir. Aplikatornya terbuat dari busa, layaknya cushion. Kemasannya yang imut dengan warna yang cerah, serta design yang "remaja banget", memang selalu menjadi ciri khas produknya Emina.

KLAIM

Emina Lip Cushion memberikan cara yang menyenangkan untuk mempercantik tampilanmu. Teksturnya yang velvety dapat memberikan warna yang intens namun tetap terasa ringan pada bibir

CARA PAKAI

Aplikasikan Emina Lip Cushion pada bibir dan gunakan ujung cushion untuk membuat tampilan yang cantik.

KANDUNGAN

Review Emina Lip Cushion Let It Peach Anisa Firdausi

Cyclopentasiloxane, Diisostearyl Malate, Kaolin, Bis-Diglyceryl Polyacyladipate-2, Dimethicone Crosspolymer, Phenyl Trimethicone, Hydrogenated Lecithin,  Hydrogenated Polyisabutene, Vinyl Dimethicone/ Methicone Silsesqulaxane Crosspolymer, HDI/ Trimethylol Hexyllactone Crosspolymer, Disteardimonium Hectorite, Propylene Carbonate, Phenoxyethanol, Ethylhexylglycerin, Polythylene,Silica Silylate,Alumunium Hydroxide, BHT, Tocopheryl Acetate, Triethoxycaprylysilane, Fragrance, Silica, Tocopherol

TEKSTUR, WARNA, DAN AROMA

Review Emina Lip Cushion Let It Peach Anisa Firdausi

Teksturnya creamy. Kental dan padat, sehingga memberikan coverage yang  cukup oke untuk ukuran pewarna bibir dengan warna peach. Teksturnya yang velvety membuat produk ini mudah menyatu dengan warna bibir, gak bikin bibir kelihatan kering ataupun patchy. Untuk warna, warnanya betul-betul definisi warna peach, segar dan masih bisa masuk ke semua warna kulit. Ada sedikit aroma manis seperti aroma-aroma lip cream pada umumnya, tapi sama sekali gak menganggu.

HASIL PEMAKAIAN

Poin utama yang paling saya suka dari lip cushion ini adalah teksturnya. Teksturnya ini creamy, padat, dan velvet. Sekali poles sebetulnya coveragenya sudah mantap, tapi belum bisa menutup garis hitam di bibir saya. Butuh 2x oles hingga benar-benar menutup. Lip cushion ini punya tekstur yang spreadable, gampang dibaurkan. Memiliki hasil akhir lembut dan halus, tanpa membuat bibir kering. Hasil akhirnya velvet, semi matte. Menggunakan 1 layer lip cushion menurut saya kurang menutup garis hitam di bibir, tapi 2 layer malah bikin bibir kelihatan moronyoy, terlalu terang. Makanya, biasanya saya akalin dengan mengatupkan bibir ke tissue, untuk mendapatkan hasil yang lebih natural.

Review Emina Lip Cushion Let It Peach Anisa Firdausi

Sebetulnya yang menjadi daya tarik lip cushion ini adalah aplikatornya kan ya, tapi saya merasa justru poin minus dari produk ini justru pada aplikatornya. Agak sulit untuk mengaplikasikan pewarna bibir menggunakan busa yang bentuknya gendut dan bulat seperti ini, apalagi untuk digunakan pada bibir tipis seperti bibir saya, sulit untuk menjangkau sudut-sudut bibir. Bisa sih, cuma ya butuh waktu lama dan seringkali malah bikin belepotan. Selain itu, bentuk aplikator busa seperti ini, membuat saya agak risih tiap mau touch up. Jadi biasanya, saya selalu membersihkan bibir sampai betul-betul bersih, baru pakai lip cushion ini lagi. Karena kalau ditumpuk, teksturnya jadi aneh, dan saya takut aplikatornya malah jadi sarang bakteri. 

Daya tahan lip cushion ini mirip-mirip dengan lip cream. Gak akan rusak kalau makan makanan kering tanpa minyak. Tapi begitu makan gorengan, ya sudah bubar. Intinya, lip cushion ini memang inovasi yang menarik, tapi bagi saya kaum berbibir tipis, inovasi ini malah nyusahin. Untung masih bisa termaafkan dengan cantiknya warna let it peach ini. Tadinya saya berniat untuk coba warna lainnya, yang Be Cherry. Tapi, setelah mencoba aplikatornya, kayaknya saya kurang cocok dengan produk ini. Mungkin kamu-kamu yang punya bibir ala Angelina Jolie bisa coba produk ini.

KESIMPULAN

+ Kemasan imut dan gak makan tempat
+ Tekstur creamy dan padat
+ Coverage oke
+ Gak bikin bibir kering
+ Membuat tekstur bibir terlihat lebih halus
+ Warna let it peachnya cantik
+ Aromanya gak mengganggu
+ Teksturnya spreadable
- Aplikatornya kurang nyaman digunakan, terlalu besar untuk bibir tipis saya


Harga : IDR 56.500
Nilai : 3/5
Continue reading REVIEW : Emina Lip Cushion Let It Peach, Unik sih, tapi...