Saturday, 27 October 2018

,

Meninggalkan Jejak Hidup dengan Menulis


Bertepatan dengan Hari Blogger Nasional (yeayy!), Bandung Hijab Blogger kembali mengadakan kolaborasi yang mengangkat tema "Why I Started Blogging". Tema ini sudah lama saya rencanakan, tapi memang kalau belum ada pemicunya, Anisa ini kadang suka sedikit mager dan makir (malas mikir). Jadi begini ceritanya...


"Kamu nulis? Kamu pasti suka baca ya?"
Komentar semacam itu sering saya dapatkan, padahal waktu itu saya nulis hanya sesekali saja, membunuh waktu. Tapi betul kalau dibilang saya suka baca, dan memang dari situlah minat menulis saya muncul. Saya bersyukur karena mewarisi gen membaca dari Bapak. Ibu sering bilang kalau saya mirip banget dengan Bapak, kerjaannya baca buku mulu. Berkali-kali beliau nyeletuk, "Baca buku terus emang gak pusing?", atau sekarang setelah menikah,"Suamimu gak gimana-gimana kamu kerjaannya baca buku terus?"

Walaupun Ibu gak terlalu suka baca, tapi salah satu keahliannya yang selalu saya kagumi adalah puisinya. Beliau senang menulis puisi. Banyak puisinya yang ditulis di belakang foto-foto lamanya, yang sekarang sudah beliau hapus pakai tipe-x, gak tau kenapa.

Keahlian ibu membuat puisi sama sekali gak turun ke saya, padahal kalau iya, kan keren. Sekali-sekali saya bikin puisi hanya sebatas tugas sekolah. Selalu tentang pemandangan alam, karena menurut saya itu yang termudah, dan sering dicontohkan di buku pelajaran. Pohon bergoyang, angin bertiup, matahari bersinar, yang gitu-gitu lah. Saya gak punya ide lain, apalagi menulis tentang perasaan, awkward rasanya. Saking saya gak bisa bikin puisi, terakhir saya dapat tugas bikin puisi, saya akhirnya mengutip sebuah lagu.

"Berjalan di tepi pantai
tertiup angin berhembus
sejukkan hati, damaikan diri
Melihat biru"

Kalau kalian gak asing sama lagunya, kalian berarti sama tuanya dengan saya. Jebakan umur! Memalukan memang, kecil-kecil sudah plagiat. Sejak saat itulah saya yakin bahwa menulis puisi bukanlah sesuatu yang bikin saya senang, lain lagi dengan membacanya.

Dari kecil, saya senang menulis. Kebanyakan diary. Saya punya lebih dari 10 diary semasa hidup, yang beberapa di antaranya saya yakin sudah terjamah oleh kakak adik saya yang usil. Awal mulanya karena saya senang lihat design buku diary, jadi setiap saya lihat yang lucu, saya beli (tepatnya, minta dibeliin). Menulis diary menjadi hal yang menyenangkan buat saya, apalagi saat membaca lembar-lembar sebelumnya, membawa saya ke masa lalu. Sensasinya seru, geli, malu sendiri, dan berakhir pada penyelasan kenapa saya bisa nulis hal-hal semenggelikan itu. 

Seiring dengan hobi menulis diary, saya juga senang menulis cerpen. Jangan berharap cerpen saya dimuat di Bobo atau Percil, boro-boro. Kalau menulis puisi membuat saya selalu bercerita tentang pemandangan, menulis cerpen selalu membuat saya bercerita tentang berlibur ke rumah nenek. Entah dari mana template ini menempel di otak saya, sama halnya dengan gambar matahari yang diapit dua gunung lalu di bawahnya terhampar sawah dan laut, yang dipisahkan oleh jalan raya, ketika saya diminta untuk menggambar. Padahal rumah nenek saya jauh dari cerita yang saya bikin, gak ada sawah, sapi, kerbau. Hanya ada lapangan bola dan pasar minggu.

Walaupun gak punya bakat menulis, saya ingin belajar. Kenapa? Karena waktu kecil saya pernah ingin menjadi penyanyi dan penulis. Menjadi penulis tentu rasanya lebih masuk akal bagi saya. Seenggaknya saya juga peduli dengan orang lain, bahwa lebih mudah untuk tutup mata dari pada tutup telinga. Saya pernah minta diajarkan oleh teman saya yang jago nulis. Tapi dia bilang, minta diajarkan menulis sama seperti minta diajarkan menyetir mobil. Katanya, saya gak mungkin pandai nyetir mobil kalau gak nyetir. Begitupun halnya dengan menulis, kalau mau jago nulis, ya harus nulis.

Akhirnya, saya memutuskan untuk membuat blog sebagai sarana saya menulis. Sebelum blog ini aktif, saya punya blog lain yang berisi curhatan saya, benar-benar diary versi digital. Alhamdulillah saya cepat sadar kalau itu terlalu vulgar dan langsung menghapusnya permanen. Setelah itu saya juga punya tumblr yang isinya agak mendingan. Tumblr juga jadi tempat saya untuk belajar Bahasa Inggris, jadinya kebanyakan artikel yang saya tulis dalam bentuk Bahasa Inggris. Jangan tanya Bahasa Inggrisnya benar atau gak, yang penting saya ngerti. Yang lain bodo amat. Tapi karena menulis Bahasa Inggris butuh usaha lebih, saya malah jadi malas-malasan dan gak produktif. Sampai akhirnya saya membuat blog baru dengan niche beauty, blog ini.



Tujuan awal saya bikin blog dengan niche beauty, bukan untuk sharing atau apalah itu. Saya hanya ingin menulis, tapi gak punya bahan. Alhasil karena kebetulan saya punya kulit wajah yang sering bermasalah, saya manfaatkan itu sebagai ide saya menulis. Akhirnya sampai sekarang saya menulis tentang hal-hal yang berbau kecantikan. Sempat merasa kesulitan karena saya yang cenderung cepat bosan dan ingin nulis banyak hal, merasa kurang leluasa saat menulis blog yang hanya terpatok dengan kecantikan saja. Padahal kan niat awal saya belajar menulis. Makanya, akhirnya saya memutuskan tidak hanya menulis tentang kecantikan, tapi juga tentang lifestyle, supaya gak mentok, dan punya banyak bahan untuk dipelajari dan ditulis.

Lambat laun saya menyadari hal baru, bahwa belajar menulis bukan satu-satunya tujuan saya. Beberapa keuntungan dan kesempatan tiba-tiba saya dapatkan dihobi saya ini. Tapi terlepas dari semuanya, saya rasa saya menikmati menulis, untuk meninggalkan jejak. Gak jauh beda dengan tulisan 'Lala & Rizki was here' di meja kayu cafe-cafe di Bandung. Bedanya, jejak saya digital, dan panjang. Jejak-jejak ini untuk mengingatkan saya di masa depan. Bahwa saya pernah belajar, bahwa saya punya banyak ketidaktahuan, bahwa saya pernah berpikir kalau BBF lebih oke dari Meteor Garden (which is totally wrong), bahwa saya pernah merasa kecil, dan bahwa ternyata memang penting untuk tetap selalu merasa kecil. Ya, saya rasa bagian terakhir adalah yang terpenting. Saya ingin tulisan saya sebagai pengingat, agar hati saya harus tetap di bumi, biarlah hanya pikiran yang melangit. Begitu kata Ayah Pidi.

Tentang keuntungan yang saya dapatkan, bukan semata-mata materi. Beberapa kali ada pembaca yang menghubungi saya melalui email dan instagram, untuk bertanya lebih lanjut seputar artikel yang saya tulis. Mulai dari situlah saya mendapatkan cinta yang lain dari hobi menulis ini. Saya baru merasa bahwa tujuan saya menulis bukan lagi hanya demi saya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Sebelumnya saya gak pernah nyangka kalau tulisan-tulisan ini ada yang baca, gak kepikiran sama sekali kalau tulisan saya bermanfaat, but suprisingly, it is. Jadi inilah akhirnya, tujuan akhir kenapa saya menulis dan akan tetap menulis. Mengingat apa yang Rosul bilang, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Bukan begitu?

Teman sayapun seorang blogger, dan saya yakin cintanya pada kegiatan menulis sama besarnya dengan cinta saya. Tapi saya penasaran, apa yang membuat dia pertama kali ingin menulis blog. Kalian penasaran juga gak? Yuk kita intip tulisannya Teh Sukma Putri.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman menjadi manusia yang bermanfaat juga untuk saudara-saudara kita di Donggala, Palu. Media sudah mulai jarang memberitakan kondisi mereka, padahal mereka masih butuh bantuan kita. YUK, sekarang kalian tengok akun Instagram @actforhumanity dan klik link yang ada di bio nya untuk konfirmasi bantuanmu. Berapapun yang kalian sumbangkan, akan sangat membantu. Bahkan 10.000 yang kalian beri, cukup untuk memberi mereka 3 liter air minum. Mudah kan menjadi bermanfaat bagi orang lain?

Continue reading Meninggalkan Jejak Hidup dengan Menulis

Wednesday, 24 October 2018

, ,

Ecobrick, Solusi Sampah Plastik Kreatif dan Bermanfaat

Permasalahan tentang sampah plastik rasanya gak pernah ada habisnya. Dilansir dari lifestyle.com,  meskipun pemerintah berusaha mengelola sampah plastik ini dengan mendaur ulang, namun ternyata sampah plastik yang dapat didaur ulang dan dijual hanya sebanyak 20%. Sisanya 80% termasuk ke dalam sampah-sampah yang gak diambil pemulung, yang gak tau bakal berakhir di mana. Semoga gak sampai kemakan penyu lagi :(

Rasanya saya gak perlu terlalu banyak menulis tentang bahaya sampah plastik, karena pasti semua sudah tahu. Tentang betapa sulitnya sampai plastik diurai, betapa banyaknya makhluk hidup yang menjadi korban sampah plastik, dan berbagai permasalahan pelik lainnya. Tapi di postingan kali ini, saya mencoba meminimalisir bahasan tentang bahaya sampah plastik dan nasib bumi ini di masa depan, because we've heard a lot already!  

Rasa cemas saya tentang keadaan bumi di masa depan sedikit berkurang seiring munculnya konsep zero waste. Banyaknya orang yang sudah menerapkan konsep ini di keseharian mereka, membuat saya menjadi optimis terhadap nasib bumi ini. Beberapa negara seperti Amerika, Australia, Swedia, Selandia Baru dan beberapa negara Eropa lainnya sudah menerapkan konsep tersebut untuk menjadi solusi konkret dalam pengelolaan sampah. Tentu saja, Indonesiapun turut berkontribusi dalam usaha meminimalisir pembuangan sampah plastik ini. 

Penggunaan sedotan stainless steel dibanding sedotan plastik, keranjang belanja dibanding keresek plastik, botol minuman sendiri dibanding botol minum kemasan, adalah contoh-contoh kecil yang mudah dan sudah banyak dilakukan saat ini. Bahkan yang terakhir yang bikin saya terharu bangga adalah mengganti plastik dengan rumput laut dan singkong sebagai bahan kemasan produk. 

Kali ini, saya menemukan cara lain yang tak kalah pintar, untuk memanfaatkan sampah platik, yaitu dengan membuatnya menjadi ecobricks!

Sebenarnya, apa sih ecobrick itu?
 An Ecobrick is a reusable building block created by packing clean and dry used plastic into a plastic bottle to a set density. (www.ecobricks.org)

Jadi intinya, ecobrick ini mengacu pada pengelolaan sampah plastik yang sudah dibersihkan, lalu dimasukkan ke dalam botol plastik, untuk dijadikan 'building block/brick', atau Bahasa Indonesianya, bata. Awalnya saya mengenal ecobrick dari teman saya, Teh Merry, yang sudah menerapkan konsep zero waste sejak lama. Sering melihat instastorynya membuat saya tergiring untuk ikut membuat ecobrick sebagai solusi pengelolaan sampah plastik di rumah. 

Setelah saya banyak blog walking tentang ecobrick ini, ternyata ide ini cukup menarik. Pasalnya, satu botol plastik ini dapat memuat banyak sampah-sampah plastik, dan saat penuh, botolnya menjadi kokoh dan kuat untuk kita gunakan. Banyak benda yang dapat dibuat dari ecobrick ini, misalnya kursi, meja, bahkan Teh Merry, teman saya tadi, berniat untuk membangun rumah dengan menggunakan ecobrick.

Setelah tahu tentang ecobrick, saya mulai menyimpan setiap sampah plastik yang dihasilkan di rumah. Awalnya suami sering lupa, ujung-ujungnya langsung buang gitu aja. Tapi lama-lama, ikut terbiasa juga. Pertama kali saya bikin ecobrick, saya masukkin langsung sampah-sampah plastiknya ke botol, tanpa digunting terlebih dahulu. Tentu agak sulit untuk memasukkannya, dan lagi, botolnya menjadi cepat penuh tapi banyak ruang kosongnya. Paham kan? Oleh karena itu, pada percobaan selanjutnya saya gunting sampahnya terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke botol. Hasilnya? Lebih rapi dan padat!

Ketauan anak micin deh :))
  

Atas : sampah digunting, Bawah : tanpa digunting

Lalu, setelah botolnya penuh diapakan? Seperti yang saya bilang tadi. Kita bisa mengumpulkannya hingga cukup untuk dibuat kursi atau meja. Di beberapa kota, ecobrick ini sudah banyak peminatnya, bahkan ada komunitasnya juga, sehingga kalau bingung mau diapakan, bisa dikirim ke orang-orang tersebut, agar lebih bermanfaat. Di bawah ini ada contoh kreasi ecobrick yang saya dapatkan dari berbagai sumber, keren-keren deh!





Ecobrick ini memang gak akan mengurangi jumlah sampah plastik, tapi seenggaknya kita bisa membuatnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kalau kalian sempat, coba deh cek websitenya ZERO WASTE. Kontribusi sekecil apapun sangat bermanfaat demi kelangsungan bumi kita. Serius, emangnya tega liat ikan makan sedotan?
Continue reading Ecobrick, Solusi Sampah Plastik Kreatif dan Bermanfaat

Tuesday, 16 October 2018

, ,

Mana yang Lebih Dulu? Menikah atau Bahagia?

Plato bilang, love is a serious mental illness. Lucu rasanya menganggap apa yang dibilang Plato ini bisa jadi benar. Kalian pasti gak asing dengan istilah toxic relationship? Ya, suatu hubungan yang malah menjadi "racun" bagi hidup kamu. Bukannya bahagia, malah sengsara yang dirasakan. Tiba-tiba saya teringat tentang kisah sahabat saya (sebutlah Bambang) yang terjebak dalam toxic relationship, dan sampai sekarang tetap tidak bisa menyelesaikan hubungan mereka. Bambang terlalu sayang akan pacarnya, bahkan sudah berencana untuk melamarnya, tapi di sisi lain, ia juga sadar bahwa hubungan dengan pacarnya sudah tidak sehat.

"Never in my whole life anyone cared about me as she does. But at the same time, I've never had a relationship where I was crying so often, or literally punching walls. I've lost parts of my personality that I liked, I don't recognize myself anymore." curhat Bambang suatu hari.

Walaupun saya pernah mendalami psikologi, memberikan tips move on atau menghadapi masalah-masalah percintaan bukanlah keahlian saya. Tanyalah sahabat-sahabat saya, yang tau betul kelakuan saya kalau habis putus cinta. Maka sekarang, saat menulis artikel ini, sebutlah saya hanya jago teori saja, karena bisa jadi betul, tapi bisa jadi juga saya sudah berhasil prakteknya. Hehe.

Sekali waktu, saya pernah dengar, bahwa sebaik-baiknya mencintai, adalah yang membawamu menjadi lebih baik. Setelah saya mengingat-ingat apa yang terjadi di dalam hidup saya, saya menyimpulkan bahwa selama ini saya sudah mencintai sebaik mungkin. Bukan berarti hubungan yang saya jalani selalu indah dan berakhir baik, rasanya terlalu muluk-muluk untuk berharap yang seperti itu. Tapi saya selalu yakin bahwa menjadi dewasa membuat saya lebih adil dalam menyikapi masa lalu. Saya paham betul, banyak sakit hati yang dilewati di kehidupan saya, tapi juga ada banyak pelajaran yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya tidak melalui ini semua.

Dimulai pada saat saya SD, walaupun sekedar cinta monyet, bukan berarti cintanya asal-asalan kan? Sebutlah Raja, seorang anak laki-laki yang duduk dekat dengan saya. Anaknya nakal, usil, dan sering ganggu dan ngatain saya 'jelek'. Lalu kenapa saya bisa naksir? Oh, tentu, karena dia ganteng. Usia saya 8 tahun, siapa peduli kalau dia nakal.

Suatu kali, si Raja ini nemu secarik kertas di kolong bangku, gambar seorang perempuan. Hanya gambar kepalanya, tapi siapapun yang liat pasti tau kalau si penggambar memang punya bakat menggambar. Si Raja cinta banget sama gambarnya, "keren pisan euy", katanya. Setelah itu, selama berhari-hari, Raja selalu menyimpan kertas itu di dalam tasnya dan dijaga layaknya harta karun.

Beberapa hari kemudian, gak sengaja Raja menyimpan kertas itu di atas meja. Lalu Nanda, anak perempuan di kelas saya yang sering juga usil, mengambil dan seketika langsung merobek kertas itu. Sampai sekarang saya juga gak tau motifnya apa, tapi gosipnya sih si Nanda ini emang suka sama si Raja dan merasa cemburu dengan kertas bergambar perempuan itu (does it even make a sense?). Si Raja ngamuk, sebisa mungkin dia kumpulin sobekkan kertasnya dan dilem pakai selotip. Tapi tetap, berhari-hari setelahnya Raja masih kelihatan bete, gak pernah lagi ganggu-ganggu saya, tapi anehnya saya malah gak suka liatnya.

Setelah itu saya bilang ke Raja, "Ja, aku pinjam gambarnya boleh?"
Raja heran, tapi dia balas dengan sewot, "Buat apa?"
"Aku mau coba gambar ulang.".

Setiap hari saya belajar membuat sketsa. Berusaha gimana caranya agar tiap garis wajah si perempuan ini sama persis. Seminggu kemudian saya kembalikan kertasnya, beserta gambar tiruan yang saya buat. Gambarnya memang gak sama persis, tapi lumayan bikin Raja bingung menyangka kertas yang disobek berhasil disatukan kembali.

Cerita di atas adalah sepenggal cerita asal mula saya senang melukis. Dimulai dari cinta monyet biasa yang gak berujung apa-apa. Sebetulnya beberapa saat kemudian Raja menelepon. Bukan hal aneh, karena dia memang rutin bertanya tentang PR. Tapi hari itu, sebelum menutup teleponnya, "I love you", katanya. Saya merinding, takut. Besoknya saya benar-benar menghindar dari Raja. Alasannya? Tentu karena saya masih bocah ingusan, gak tau harus merespon seperti apa.

Tidak hanya itu. Setelah cinta semasa SD membuat saya menjadi senang melukis, selanjutnya cinta di  SMP membuat saya senang membaca, karena 'dia yang saya taksir' hobinya nongkrong di tempat rental buku dekat sekolah. Yang awalnya koleksi buku saya hanya sebatas komik conan dan kungfu komang, setelah mengenalnya koleksi saya mulai merambah ke novel-novel Sidney Sheldon dan Sandra Brown, yang pada saat itu belum umum di kalangan anak SMP. Selain itu, ada cinta saya selanjutnya membuat saya senang belajar Bahasa Inggris, ada yang membuat saya menjadi senang bermain gitar, lalu setelahnya ada juga yang membuat saya menjadi senang menulis. 

Perjalanan cinta saya sebelum menikah memberi pelajaran bahwa perjalanan mencintai seseorang tidak harus selalu berakhir indah. Tapi pastikan perjalanannya sendiri yang memang indah. Saya menikmati dan banyak belajar dari pengalaman-pengalaman di atas. Tiap pengalaman yang saya lewati, tentu menyumbang sesuatu pada hidup saya, yang punya andil dalam keutuhan saya saat ini.

Saya sering dengar, mungkin kalian juga, tentang mencari pasangan yang tepat untuk dinikahi, yang dapat melengkapi diri kita. Seiring bertambah usia, saya mulai sadar kalau itu keliru. Menurut saya kutipan itu lebih cocok untuk remaja-remaja yang sedang cari pacar, bukan untuk menikah. Sangatlah ceroboh untuk menggantungkan nasib kita di tangan orang lain, termasuk orang yang kita cintai. Mencari pasangan jelas berbeda dengan mencari pengasuh. Kalau kamu orangnya suka makan, tidak perlu cari pasangan yang jago masak. Kenapa tidak kamu sendiri yang belajar masak? Kalau kamu orangnya pemarah, tidak perlu cari pasangan yang sabar. Bukankah lebih baik jika kamu yang menjadi sabar?

Kalau mencari pasangan hanya untuk sekedar saling melengkapi, lalu apa jadinya ketika salah satunya tidak ada? Apa kamu hanya akan menjadi kamu "yang setengah"? Sahabat saya, Irsa, sekali waktu bilang, "Yang namanya menikah, harus menguntungkan bagi kedua pihak. 1+1=2. Kalau 1+1 tetep 1, atau malah jadi 0, ngapain ngaririweuh (ngerepotin) diri sendiri?".

Kalau kalian pernah menyimak interview Kelly Clarkson di salah satu acara talkshow, ia sempat berbicara tentang pernikahannya seperti ini, "I was doing this interview and the lady was like 'oh so you found your other half' and I was like "No, I was like I got a whole person'". "I'm just a whole being and he's whole and we make a great team.". Ini yang saya sebut 1+1= 2.

Jadi pada akhirnya, tujuan menikah, bukan sebagai syarat bahagia. Menikah bukan untuk menjadi bahagia, tapi bertambah bahagianya. Bukan menjadi dewasa, tapi bertambah dewasanya. Jadi saran saya sebelum kamu memutuskan menikah, ada baiknya pastikan kembali, apakah kamu sudah bahagia? Apakah kamu sudah menjadi 1? Atau baru 1/2? Atau bahkan 0? Oh tentu angka 1 ini subjektif, bagaimana penilaian terhadap dirimu sendiri. Ingat ya, saya gak bilang kalau kamu harus pinter masak, gambar, jahit, berenang, menari, menyanyi, dan segalanya sebelum kamu memutuskan untuk menikah. After all, we will never be perfect, aren't we? 


Continue reading Mana yang Lebih Dulu? Menikah atau Bahagia?

Friday, 12 October 2018

,

3 Model Wanita Inspiratif, Perspektif Baru Tentang Kecantikan

Kolaborasi kedua dengan Bandung Hijab Blogger ini membawa saya pada tema yang menarik, yaitu tentang wanita-wanita yang memberi inspirasi. Lagi-lagi, kesulitan yang saya hadapi adalah karena terlalu banyak wanita hebat di luar sana yang saya kagumi. Tapi kali ini saya akan coba mengerucut pada wanita-wanita cantik dan hebat yang memiliki profesi sebagai model. Ide ini datang karena saya lagi sering nonton ASNTM, and I'm rooting for Mia, btw!



Dunia modelling sangatlah kompetitif yang rentan dengan penolakan. Media sebagai alat komunikasi dunia, seringkali membentuk model sebagai sosok dengan fisik tanpa cela. Walaupun setiap negara memiliki standar kecantikan masing-masing, tapi standar model secara universal rasanya tidak jauh berbeda. Sebutlah postur tubuh yang ideal dan kulit tubuh yang terawat. Dua hal tersebut tampaknya menjadi syarat paten untuk terjun di dunia modelling.

Walaupun saya belum pernah merasakannya langsung, saya bisa melihat bahwa menjadi model bukanlah hal mudah bagi siapapun, terlebih bagi orang-orang yang terlahir dengan keadaan yang berbeda. Namun, 3 wanita yang akan saya ulas di sini, menunjukkan bahwa kecantikan tidak berarti harus sama dengan orang lain. Ya, 3 wanita ini terlahir dengan kondisi tubuh berbeda yang membuat mereka sempat merasa tidak percaya diri, bahkan membenci dirinya sendiri, sampai akhirnya mereka mulai menerima diri mereka apa adanya. Hebatnya, justru keunikan mereka membawa mereka kepada kesuksesan yang memberikan inspirasi terhadap banyak orang.

Oh satu lagi, urutan ini acak. Saya tidak menilai mana yang paling hebat atau yang kurang hebat, karena mereka sama hebatnya!

1. Winnie Harlow


Kalian mungkin tidak asing dengan wanita cantik satu ini. Ia terlahir normal pada tahun 1994, namun pada usia 4 tahun, ia memiliki kelainan pigmen pada kulit yang disebut vitiligo. Vitiligo membuat kulitnya kehilangan pigmen karena kematian sel pigmen ataupun ketidakmampuan pigmen dalam membuat warna kulit. Kondisi tersebut membuat kulit Winnie manjadi belang, yang sering dimiripkan oleh kulit sapi atau zebra oleh orang-orang yang memandangnya. Diejek dan dihina, disebut-sebut bahwa ia menderita kudis dan kusta oleh orang lain, sudah biasa. Bahkan ia sempat sering berganti-ganti sekolah karena lelah dibully. Namun pada saat ia berumur 16 tahun, ia berusaha untuk menerima keadaan dirinya dan menganggap hinaan-hinaan tersebut sebagai angin lalu

Sikap Winnie yang tetap positif dalam menghadapi bullying, tidak lantas membuat hatersnya berhenti menghinanya, tapi juga tidak menyurutkan semangat Winnie untuk mengejar mimpinya sebagai seorang model. Awal perjalanan Winnie sebagai seorang model, dimulai saat seorang youtuber lokal Amerika Serikat bernama Shannon Boodram yang menemukan foto Winnie di facebook dan langsung meminta Winnie untuk menjadi bagian dari video klip miliknya. Tidak berhenti di situ, Tyra Banks, seorang supermodel dan penggagas ANTM, yang juga sempat melihat foto Winnie, meminta Winnie untuk mengikuti audisi ANTM. Lolos audisi ANTM dan bersaing dengan kontestan lainnya, bukan hal yang mudah bagi Winnie. Ia bertahan hingga episode 4, dan kembali lagi pada episode 10, namun tersingkir kembali di episode 13.


Walaupun tidak menjuarai ajang supermodel tersebut, ANTM membuka gerbang karir Winnie lebih lebar. Tawaran demi tawaran datang pada Winnie, termasuk dari penyanyi-penyanti internasional, seperti Sia dan Eminem. Banyak juga deretan label internasional yang menggunakan Winnie sebagai modelnya, seperti Dasigual, Ashish, Diesel, dan berbagai label yang juga sering muncul pada London Fashion Week.

Prestasi demi prestasi diraihnya. Winnie sanggup membuktikan bahwa kelainan pigmen yang mulanya ia anggap sebagai kelemahan, justru adalah keunikan dan keunggulan yang ia miliki dibanding orang lain. Dengan banyaknya tawaran dan pekerjaan model yang ia lakukan saat ini, sebenarnya sangat mudah baginya untuk melakukan pengobatan dan perawatan kulit untuk menangani vitiligonya, tapi ia menolak. Ia lebih memilih untuk menerima diri apa adanya, walaupun sampai saat ini masih banyak haters yang mencelanya.

2. Melanie Gaydos


Wanita berusia 27 tahun ini terlahir dengan kelainan genetika yang disebut dengan Ectodermal Dysplasia, yaitu gangguan perkembangan struktur organ-organ yang berasal dari lapisan ektodermal seperti rambut, gigi, kuku, dan kelenjar keringat. Kelainan genetika ini membuatnya tidak memiliki rambut, tidak memiliki gigi satupun, kukunya tidak sempurna. Tidak sampai di situ, Melanie juga menderita Alopecia, yang membuatnya setengah buta akibat bulu mata yang pernah tumbuh dan menggores matanya.

Ketertarikannya pada dunia model tidak terjadi begitu saja, bahkan pada awalnya ia benci difoto. Namun semuanya berubah saat kekasihnya memotivasinya untuk menjadi model. Semuanya dimulai saat ia masih kuliah jurusan seni di Pratt Institute, New York. Ketika itu ada iklan online yang mencari orang-orang unik sebagai model foto fashion. Melanie mendaftarkan diri dan akhirnya perjalanannya di dunia modelling nya mengalir sampai saat ini.

Pertama kalinya ia tampil di panggung catwalk fashion adalah saat membawakan baju-baju koleksi Nina Athanasiou pada 2015. Tidak hanya menjadi model catwalk, ia juga menjadi model video klip Rammstein, band asal Jerman, serta bermain di beberapa film pendek. Untuk karirnya di industri fashion, sudah tidak diragukan lagi. Ia pernah dipotret oleh Tim Walker, fotografer profesional yang biasa memotret untuk Love Magazine hingga Vogue. Fotografer hebat lainnya, Eugenio Recuenco juga sempat bekerja sama dengan wanita yang kerap kali disebut sebagai manekin hidup ini. Keunikan tubuhnya justru menjadi seni dalam fotografi sehingga banyak orang yang terkesan dengan Melanie, tentunya saya termasuk salah satu di antaranya.



Dengan perbedaan yang ia miliki, tentu banyak juga orang yang menganggapnya tidak pantas untuk menjadi model. Alih-alih bersedih karena dibully, Melanie tetap melanjutkan karirnya dan mendapatkan prestasi-prestasi yang membanggakan. Ia begitu mencintai dirinya sendiri, yang membuatnya selalu menolak untuk menggunakan wig, dan tetap tampil apa adanya. Untuk alasan medis dan estetika, ia juga pernah membuat gigi palsu yang juga langsung dilepas beberapa bulan setelahnya. Walaupun banyak yang berkata bahwa Melanie lebih cantik dengan gigi palsunya, tapi baginya bersikap natural membuatnya merasa lebih cantik dan unik, sehingga membuatnya selalu menolak untuk merubah penampilan dirinya.

3. Sara Geurts



Memiliki kulit keriput bagaikan mimpi buruk bagi wanita, apalagi disaat usia masih terbilang muda. Tapi lain halnya dengan Sara Geurts. Sara menderita kelainan genetik langka yang disebut Ehlers-Danlos Dermatosparaxis (EDS). Sara terlahir normal, namun pada usia 10 tahun ia mulai didiagnosis penyakit langka tersebut yang menyebabkan kulitnya keriput dan kendur layaknya kulit orang yang sudah lanjut usia.

Awalnya EDS ini hanya membuat persendiannya sakit, sehingga ia rutin menjalani terapi fisik dan pijat. Namun setelah remaja, permasalahan psikis lah yang lebih banyak ia rasakan akibat komentar negatif orang luar. Rasa malu kerap ia rasakan karena merasa berbeda dan tidak cantik dibanding gadis remaja lainnya.

Titik balik hidup Sara berawal dari dukungan keluarga dan kerabat terdekatnya yang memintanya untuk tidak perlu malu dengan keadaan yang ia alami. Bahkan sepupunya menyarankan Sara untuk mengirimkan foto Sara pada kampanye #LoveYourLines. Kampanye tersebut menyadarkan dirinya tentang pentingnya mencintai diri sendiri dalam keadaan apapun, dan mulai dari situlah Sara mulai tertarik dan mencintai dunia modelling.



Ia meyakini bahwa kepercayaan diri sangat penting untuk membangun dan mengembangkan dirinya dalam kehidupan sosial. Ia sadar bahwa membenci tubuhnya hanya memicu pola pikir yang tidak sehat, dan orang lain juga akan merasakan itu. Akhirnya sampai saat ini, ia masih menekuni dunia modellingnya. Akun Instagramnya penuh dengan potret dirinya, yang memang lain dari model pada umumnya, tapi tetap tidak mengurangi kecantikan Sara.

Itu adalah 3 wanita, atau tepatnya 3 model yang inspiratif menurut saya. Walaupun mereka sama-sama memiliki profesi sebagai model, namun masing-masing memiliki keunikannya dan kecantikannya tersendiri. Tapi, ada dua hal lagi yang sama dari ketiga wanita tersebut, selain sama-sama berprofesi sebagai model. Mereka sama-sama mencintai dan menghargai diri sendiri, yang membuat mereka tetap menjalani dunia model tanpa mengubah penampilannya sedikitpun. Mereka nyaman dan menerima diri mereka sebagai seseorang yang berharga. Lalu satu lagi, begitu banyaknya haters yang mencoba menjatuhkan mereka, mereka memiliki sosok orang-orang yang mencintai mereka apa adanya, menguatkan mereka, dan percaya akan potensi yang mereka miliki.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari ketiga wanita hebat di atas. Terutama bagaimana kita mensyukuri apa yang Tuhan beri. Bahkan 2 pasang mata, telinga, bibir, hidung, 2 tangan, 2 kaki, adalah kasih sayangNya. Melihat 3 wanita tadi, dengan segala prestasi-prestasinya, cukup membuat saya merasa tertampar, dan tentunya merasa termotivasi untuk dapat melakukan sesuatu yang juga hebat, because we need to push our limit to achieve the biggest goal, right?

3 wanita yang saya ulas tadi, hanya sedikit contoh wanita hebat di bumi ini. Tentu masih buanyak yang lainnya. Contohnya adalah kisah wanita-wanita hebat yang berpengaruh besar di dunia IT, yang ditulis teman saya di blognya,  Teh Revina.

Kalau kamu gimana? Siapa wanita hebat yang selama ini jadi inspirasimu? Let me know!
Continue reading 3 Model Wanita Inspiratif, Perspektif Baru Tentang Kecantikan

Thursday, 11 October 2018

, , , , ,

REVIEW : Mirabella Eyeshadow Kit III; Lokal, Terjangkau, dan Multifungsi!

Siapa di sini yang seneng mainin warna-warna eyeshadow? Saya juga! Tapi saya gak termasuk orang yang rela untuk ngeluarin "lebih" buat dapetin eyeshadow high end. Saya lebih suka saving money buat produk foundation atau primer yang memang dibutuhkan untuk kulit saya yang banyak flaw nya.

Bukannya saya anti beli eyeshadow mahal. Kalau kalian emang tergila-gila dengan eyeshadow atau memang dipakai buat pekerjaan, atau cuma ingin koleksi dan gak keberatan buat ngeluarin biaya lebih sih monggo wae. Ada harga ada rupa, itu betul. Eyeshadow high end pasti lebih pigmented, lebih oke staying powernya, dan juga lebih blendable. Tapi di luar itu semua, saya pikir skill bermain warna adalah tetap nomor uno.

Menurut saya, bagus enggaknya eye make up orang, tergantung dengan skillnya (walaupun produk yang bagus juga akan membantu warna yang dihasilkan lebih pop out). Saya bisa bilang begitu karena sering banget lihat temen-temen yang cuma pakai eyeshadow Inez atau Wardah, tapi hasilnya gak jauh beda dengan yang pakai ABH, misalnya cc Irene Widya. Eye make upnya selalu keren, dan ya kadang doi tuh cuma pakai Inez doang.

Nah, postingan ini dikhususkan buat teman-teman yang ingin belajar bermain eyeshadow, tapi budget terbatas. Jangan sampai memaksakan ingin punya eyeshadow brand high end, dan ujung-ujungnya berakhir beli yang KW karena budget gak cukup. Inget ya, jangan pernah pakai make up KW! Saya masih lihat orang-orang yang jual make up KW, palette MAC dengan harga 100.000. Dan yang lebih sedih, peminatnya masih banyak. Huhu. Setega itukah kalian dengan kulit wajah sendiri?

Awal mula saya punya eyeshadow palette kit ini adalah karena Ibu. Ibu bilang ingin beli eyeshadow palette yang warna warni kayak temennya, merknya Mirabella. Merk ibu-ibu banget, dalam hati saya. Eh, taunya pas saya lihat-lihat, kok warnanya lucu-lucu sih, dan harganya juga gak sampai 60.000, hanya 58.000, dan yang paling penting, ini produk lokal!


Eyeshadow Kit keluaran Mirabella ini ada 3 varian. Saya pilih yang versi Rainbownya, yang warnanya bener-bener kayak pelangi. 2 varian lain warnanya lebih kalem dan daily use. Tapi begitu saya lihat yang rainbow, justru menurut saya versi rainbow ini lebih multifungsi!

KEMASAN

Kemasannya ya biasa, menurut saya sih jadul. Warna ungunya juga bukan favorit saya. Tapi siapa peduli, saya tetep fokus ke isiannya. Tapi yang saya suka, ukurannya compact, gak ngabisin tempat.

KLAIM

Pada kemasannya dituliskan bahwa 12 warna eyeshadow ini mampu memciptakan berbagai eye make up. Dari mulai yang lembut, romantis, sampai dramatis. Betulkah?

KANDUNGAN


Talc, Pentaerythrityl Tetraisostearate, Isopropyl Myristate, Zinc Stearate, Methylparaben, Propylparaben, BHT, Tin Oxide, Hydrated Silica
May Contain: Cl 77019, Cl 77891, Cl 75470, Cl 77499, Cl 77289, Cl 77002, Cl 77007, Cl 77492, Cl 77742, Cl 77510, Cl 12490, Cl 74160, Cl 12085, Cl 77288, Cl 46430

TEKSTUR & PIGMENTASI

Kalau dibandingkan dengan Inez, tekstur dan pigmentasi masih jauh lebih bagus Inez. Tapi dari segi harga juga udah jauh juga, so what do you expect? Teksturnya gak kayak mentega, seperti teksturnya Inez. Berasa kering dan agak sedikit keras. Pigmentasi so so. Untuk yang shimmer, pigmentasinya bagus. Sedangkan untuk yang matte, butuh aplikasi berkali-kali agar warnanya keluar. Tapi tetap, sebanyak apapun pengaplikasiannya, warna matte ini cenderung redup. 



Warnanya sebenarnya cantik-cantik, tapi memang gak semua warna keluar. Seperti warna 2, 6, 9, 10. harus dibuild terus sampai warnanya keluar. Di samping itu, saya hampir suka semua warna shimmernya. Tapi kalau harus memilih yang terfavorit, saya pilih no 1, 4, 8, 12. Keempat itu warnanya cantik banget, dan juga multifungsi. Contohnya no 12, bisa banget buat highlighter.

HASIL PEMAKAIAN

Di sini saya akan uji coba klaim yang tertera di kemasannya. 3 look yang berbeda, dari mulai natural (lembut), romantis, dan dramatis.

Yang pertama, yang natural. Di sini saya hanya menggunakan eyeshadow no 2 dan 3, perpaduan orange dan coklat selalu menjadi ciri make up natural. Ya gak sih?


Yang kedua, tema romantis. Ini apaan sih ya? Haha. Ya sudah, persepsi saya sih kalau romantis-romantis mesti ada warna pink nya (diskriminasi warna gak sih ini? Wk). Di sini saya gunakan eyeshadow no 5, 8 , 9, 12.


Yang terakhir make up dramatis. Tadinya mau bikin warna pelangi, tapi entah kenapa saya ingin membuat eye make up yang didominasi warna hijau, karena warna hijau di palette ini cuantik-cuantik poll. Jadinya ya seperti ini. Sebenarnya ini make up look yang paling pertama saya bikin, dan karena penasaran, jadinya hampir semua warna saya campur aja. Random banget emang.


Overall saya senang main-main dengan eyeshadow ini. Kualitasnya mungkin mirip Focallure atau Catrice. Tapi kalau disuruh milih, saya tetap pilih Mirabella ini dibanding Catrice atau Focallure. Ayo support brand lokal! Lumayan sih buat belajar. Nanti kalau udah jago, nabung abis itu cus beli punyanya ABH atau UD!

KESIMPULAN

+ Brand lokal! #supportlocalbrand
+ Harganya super terjangkau
+ Ukurannya compact, gak ngabisin banyak tempat
+ Pigmentasi untuk warna shimmer oke
- Staying power kurang, mesti pakai eyeshadow base
- Warna mattenya redup

Harga : 58.000 - 65.000 (tergantung di mana belinya
Nilai : 3.5/5
Rekomendasi: Ya! Go for it! It only cost 60.000 gitu loh.
Continue reading REVIEW : Mirabella Eyeshadow Kit III; Lokal, Terjangkau, dan Multifungsi!

Saturday, 6 October 2018

,

REVIEW : Pond's Magic Powder BB, Bedak Tabur Rasa Bedak Bayi

Saya yakin, semua beauty enthusiast sudah familiar dengan produk ini. Pertama kali saya lihat orang yang pakai produk ini kayaknya setahun yang lalu, dipakai sepupu sahabat saya. Waktu itu saya tanya, "Kok sepupu lu pakai bedak bayi ke muka?". Singkat cerita, sahabat saya bilang kalau itu bedak tabur Pond's, dari Thailand. Katanya lagi, bedak itu lagi booming di sana karena bagus banget, bahkan disebut-sebut lebih bagus dari RCMA. Sejujurnya itu juga yang saya lihat di wajah sepupunya. Padahal kelihatannya kaya bedak tabur biasa, kok jadi bagus gitu ya ke muka?

Saya gak perlu cerita panjang lebar tentang kenapa akhirnya sayapun coba produk ini, because why not.


Pond's Magic Powder ini ada 3 varian, yang Angel Face White Glow (cocok untuk kulit kering), Angel Face Natural Mattifying (cocok untuk kulit berminyak), dan yang terakhir, yang best seller dan yang saya punya adalah Magic Powder BB. Sejak awal, saya sama sekali gak pernah denger  yang seri Angel Face, malah saya pikir kalau si Pond's Magic Powder ini hanya ada 1 varian. Atau memang varian Angel Face munculnya belakangan?

Kalau sekarang bedak ini sudah banyak dijual oleh online shop (bahkan di Indomaretpun saya pernah lihat deh) dengan harga yang beragam, dari 20.000 sampai 50.000. Waktu saya beli, sekitar setahun yang lalu, harganya sekitar 35.000 untuk 50 gram.

KEMASAN


Seperti yang saya bilang, pertama saya lihat produk ini, kirain bedak bayi yang ukuran kecil. Ya kemasannya persis seperti itu, sangat travel friendly. Ukurannya segenggaman tangan, tutupnya model twist cap, jadi aman untuk dibawa berpergian.

KLAIM


Semua keterangan di produk ini dituliskan dalam Bahasa Thailand. Tapi tenang, saya tentu banyak blog walking sebelum menulis review ini, untuk memperkuat ulasan saya. Thank God saya nemu informasi detailnya di blog peepingpomerania.
Here it is.

Ladies~ stop worrying that your face wouldn’t look naturally smooth because Pond’s has invented fine loose bb powder that helps covering blemish scars, melasma, and freckles so you can achieve a smooth and natural look like Korean girls, and confidently show off your bright and smooth skin.


Fine BB loose powder helps covering blemish scars, melasma and freckles. For the pointers:
  • Gives very light coverage compared to foundation cream or pressed powder foundation
  • Absorbs extra sebum on the skin
  • Double UV protection~ protects skin from UVA and UVB rays
  • In order to achieve higher effectiveness, use it together with the Pond’s white glow beauty pinkiss white glow lightening facial foam (longest product name ever)

Directions/use: Apply loose powder on the palm of your hand and lightly pat all over your face

Warnings:

  1. Using cosmetic products with UV protection is only one of the many means to reduce the harmful effects of UV radiation.
  2. Read the direction thoroughly and strictly follow it
  3. When using this product if there is any skin irritation, stop using and meet dermatologist immediately
  4. Do not stay under the sun for too long even if you use sunscreens or any cosmetic products with sun protection
  5. Keep away from the sun
Banyak informasi penting yang ditulis di kemasan ini, sehingga sebenarnya lebih baik jika semua informasi dituliskan dalam Bahasa Inggris, agar semua orang paham betul tentang produk yang mereka gunakan ini.

KANDUNGAN

Talc, Cyclopentasiloxane, Titanium Dioxide, Zinc Oxide, Cl 77492, Fragrance, Cl 77499, Cl 77491, Mica, Alumunium Hydroxide, Alumunium Stearate, Niacinemide

Kalau semua kandungannya sudah dituliskan, rasanya kok sedikit banget ya. Tapi ya sudah. Yang menarik adalah,  Titanium Dioxide dan Zinc Oxide ada di urutan awal-awal. Gak berlebihan kalau si Pond's Magic Powder BB ini menuliskan double UV protection. Tapi tetap, saya gak akan menyarankan untuk menggunakan ini tanpa menggunakan sunblock sebelumnya. Lalu disusul dengan fragrance. Biasanya saya lihat kandungan fragrance tertulis di bagian akhir kandungan, tapi di sini masih termasuk di tengah-tengah. Saya jadi tau kenapa bau bedak ini lumayan kuat.

AROMA

Aroma produk ini sering jadi bulan-bulanan para beauty enthusiast. Saya akui sih, wanginya lumayan kuat. Wangi banget malah. Tapi menurut saya sih wanginya masih jauh sama bau ketek mba-mba (tergantung sih, mba-mba mana yang dibauin ya? He). Malah menurut saya wanginya mirip-mirip wangi bedak tabur bayi. Sayapun gak suka wanginya, karena saya prefer produk yang gak berbau, tapi ya gak benci juga.

TEKSTUR DAN WARNA


Syukurlah teksturnya lembut dan partikelnya kecil-kecil. Kalau enggak, saya pasti bakal berpikir ini hanya bedak tabur bayi yang dikasih warna. Warnanya nude transparan. Walaupun dia mengklaim bisa menutupi noda jerawat dan freckles, menurut saya sih kurang. Kecuali kalau nodanya samar banget. Oh ya, bedak ini juga shimmering, walaupun gak terlalu keliatan setelah dipakai.

HASIL PEMAKAIAN


Beberapa orang yang terlahir dengan kulit flawless saya rasa akan suka dengan produk ini. Produk ini ringan, punya sedikit coverage untuk meratakan warna kulit wajah. Tapi karena saya terlahir dengan kulit yang mudah berjerawat, saya gak bisa cukup mengandalkan Pond's Magic Powder BB ini untuk menutupi bekas-bekas jerawat. Pernah sekali saya pakai produk ini tanpa menggunakan foundation sebelumnya, hasilnya gak jauh berbeda dengan bare face saya, kecuali memang less oily sih. 

Sebenarnya saya lebih suka memakai produk ini sebagai setting powder. Selain karena warnanya yang sheer, produk ini punya oil control yang lumayan bagus. Biasanya saya pakai Marcks sebagai setting powder, hasilnya gak jauh berbeda kecuali si Pond's ini punya shimmer yang membuat wajah terlihat lebih cerah (lagi-lagi, hanya di kulit yang flawless). Tapi buat kamu yang wajahnya sedang berjerawat, gradakan, atau gak rata, kayaknya kamu gak akan suka. Soalnya shimmer ini bakal memperjelas tekstur kulit. Ini yang membuat saya akhirnya berhenti menggunakan produk ini, karena pori-pori saya malah terlihat lebih besar dan kelihatan gradakannya.

Selain membuat pori-pori saya terlihat semakin jelas, beberapa kali setelah saya menggunakan bedak ini, muncul whitehead di beberapa bagian yang biasanya jarang ditumbuhi jerawat. Saya menduga jni akibat kandungan fragrance atau mica di dalam produk ini, yang gak cocok dengan saya. Betul saja, ketika saya hentikan pemakaian, whiteheadnya hilang begitu saja.

KESIMPULAN

+ Harganya terjangkau
+ Partikelnya halus
+ Terasa ringan di wajah
+ Oil control lumayan oke
+ Mengandung Zinc Oxide dan Titanium Dioxide sebagai UV Protection
+ Kemasan travel friendly
- Aromanya menyengat
- Ada shimmernya


Harga : 20.000- 50.000 untuk 50 gram
Nilai : 2.5/5
Beli lagi? No, kecuali kulit saya semulus kulit Syahrini.
Continue reading REVIEW : Pond's Magic Powder BB, Bedak Tabur Rasa Bedak Bayi