Showing posts with label CORETAN MAMANIS. Show all posts
Showing posts with label CORETAN MAMANIS. Show all posts

Thursday, 26 August 2021

,

5 Love Language, Belajar Memahami Bahasa Cinta Pasangan

Saya ingat betul, betapa dulu saya menyukai hal-hal yang romantis dalam segala hal, the real hopeless romantic. Maka, ketika saya punya pacar seorang penikmat puisi, yang juga penulis, rasanya menyenangkan. Mendapat surat dengan bait-bait cinta yang indah adalah definisi jatuh cinta yang sempurna. Tadinya saya pikir, kata-kata romantis ini adalah satu-satunya cara mengekspresikan cinta, tapi ternyata tidak seperti itu.
 
Pada akhirnya, saya menikah dengan suami. Selama pendekatan, saya sudah bisa menilai kalau laki-laki ini bukan laki-laki yang terbiasa dengan kata-kata manis. Gak bisa dibilang dingin, tapi jelas bukan seorang yang banyak berkata-kata. Ekspresinya gak mudah ditebak, kadang saya bingung, kapan dia marah, sedih, dan bahagia. Semuanya sama, seperti ekspresi Kristen Stewart waktu main film Twilight. Kadang, kalau saya sedang kesal, saya sebut ia tumpul emosi. Tapi, meskipun begitu, entah kenapa, saya tetap merasa diberikan cinta yang berlimpah olehnya. Mulai dari sinilah, akhirnya saya paham bahwasanya cinta itu dapat dikomunikasikan dalam bentuk yang berbeda-beda. Inilah yang disebut dengan bahasa cinta (love language).


Basically, love language ini adalah bahasa cinta (ya itu mah jelas dong). Gak, gak, jadi intinya love language ini merupakan bentuk "komunikasi" antar pasangan. Komunikasi di sini, gak hanya melulu soal kata-kata, ucapan cinta, puisi, dan yang lainnya. "What makes one person feel loved emotionally is not always the thing that makes another person feel loved emotionally", kutipan tersebut adalah dasar pemikiran Gary Chapman, bahwasanya tiap orang memiliki love language yang berbeda. Jadi, love language yang dijabarkan oleh Gary Chapman ini terdiri dari 5 jenis, yaitu Words of Affirmation, Act of Service, Physical Touch, Quality Time, dan Receiving Gift. Tujuan dari love language ini adalah untuk membuat love tank kita dan pasangan selalu penuh. Tentu saja, dengan love tank yang penuh, hubungan kita dan pasangan juga akan terasa lebih memuaskan.


Tiap orang pasti memiliki kelima bahasa cinta tersebut. Akan tetapi, pasti ada salah satu yang  primer, yang utama, yang paling mendominasi, yang menjadi tolak ukur bagi dirinya saat menyimpulkan perasaan seseorang padanya. Saya akan menjelaskan sedikit mengenai perbedaan antara tiap bahasa, mudah-mudahan mudah dimengerti ya, karena buku ini saya baca sudah beberapa tahun yang lalu. Artikel ini juga sebetulnya sudah ada di draft dari beberapa bulan yang lalu tapi gak pernah terselesaikan. Thank God, kolaborasi Bandung Hijab Blogger bulan Agustus mengangkat tema ini, jadi saya punya penyemangat untuk menyelesaikannya.

1. Words of Affirmation

Ini yang tadi saya bilang di awal, tentang betapa dahsyatnya efek kata-kata. "Kamu cantik banget", "rambut baru kamu bikin lebih fresh", "aku suka ide kamu, pintar!" mungkin terdengar cringe bagi sebagian orang. Tapi, bagi sebagian orang, mendapatkan apresiasi dan validasi atas pencapaian diri, rasanya sangat menyenangkan. 

WOA ini juga gak melulu tentang isi dari ucapan saja, tapi juga tentang cara penyampaiannya. Misalnya, suami saya memang jarang memuji dan berkata-kata, tapi sekali dia melakukannya, nada dan intonasinya lembut, adem rasanya.


2. Quality Time

Beberapa orang kadang salah mengartikan mengenai quality time. Hanya dengan berdua bersama dengan pasangan di waktu dan tempat yang sama, gak bisa disebut sebagai quality time. Quality time di sini adalah tentang lebih banyak mendengar satu sama lain, menjaga eye contact saat berbicara, tidak melakukan hal lain saat bersama dengan pasangan. 

Anyway, ini adalah fakta menarik, bahwa rata-rata setiap orang hanya bertahan selama 17 detik sebelum akhirnya menginterupsi lawan bicaranya. Yes as I said before, we need more listening.

3. Receiving Gift

Memberikan hadiah adalah bukan tentang seberapa besar rupiah yang kita keluarkan untuk membelikan pasangan sebuah benda, tapi ini semacam simbol bahwa kita sedang memikirkan dia saat melihat benda tersebut. Bagi seseorang yang primary love languagenya adalah menerima hadiah, harga dari hadiahnya sendiri bukan jadi masalah besar, kecuali kalau memang terlalu gak wajar jika dibandingkan dengan kemampuan pasangannya. Misalnya, kamu bekerja sebagai CEO top company, tapi saat pacarmu ulang tahun, kamu kasih dia jepit heartwarmer, ya gimana ya.

4. Act Of Service

Ini mungkin sering terjadi di kehidupan rumah tangga. Biasanya akan ada konflik istri yang komplain kalau suaminya gak ngapa-ngapain, tapi suaminya merasa kalau seharian dia merasa sudah melakukan berbagai macam hal.

Kesalahan yang seringkali terjadi adalah kita kerapkali melakukan banyak hal, yang kita kira demi kepentingan pasangan, padahal menurut pasangan, itu bukan hal yang penting dan mendesak. Akhirnya, pasangan kita gak menerima bentuk aksi kita sebagai wujud cinta.  

Di samping itu, meminta tolong dan menyuruh adalah dua hal yang berbeda dalam hal ini. Semua pasti tau, kita lebih senang dimintai tolong, dibanding disuruh-suruh. 

5. Physical Touch

Menurut saya, sentuhan fisik ini akan sangat mudah disalah artikan. Love language ini bisa mempererat atau malah menghancurkan hubungan. Oleh karenanya, consent adalah hal pertama yang perlu dipahami. Jangan pernah berpikiran bahwa sentuhan fisik yang kamu sukai, juga disukai oleh pasanganmu. Di sinilah pentingnya komunikasi verbal, sampaikan satu sama lain, apa yang disukai dan tidak disukai. 

Saya jadi ingat pertama kali suami saya menunjukkan cintanya melalui sentuhan fisik. Kala itu, kami berdua berjalan di pinggir jalan, melewati gerombolan laki-laki yang berjalan berlawanan arah dengan kami. Seketika itu, Si Mas langsung menukar posisinya sambil menggandeng tangan saya, dia menghalangi saya berdempetan dengan gerombolan itu. That was sweet, dan saya sering sampaikan juga pada si Mas, "thank you for the love", yang dijawab dengan gumaman "hmmmm.." seperti biasa. :))

Beberapa orang mungkin masih bingung dengan primary love language mereka. Bahkan terkadang saat mengikuti tesnya, hasilnya setara, gak ada yang menonjol. Gary Chapman juga mendapatkan pertanyaan-pertanyaan serupa dari pembacanya. Ada 3 hal yang beliau ungkapkan tentang cara mengetahui Bahasa Cinta utama kita, yaitu :

1. Perhatikan bagaimana caramu mengekspresikan cinta kepada orang lain. Kalau kamu seringkali memuji orang lain, menyemangatinya dengan kata-kata penuh cinta, maka Words of Affirmation adalah love language mu. Seperti yang berlaku pada saya dan si Mas. Mas seringkali menunjukkan cintanya melalui sentuhan fisik karena pada dasarnya, memang itu pula yang ia sukai.

2. Perhatikan apa yang sering kamu keluhkan pada pasangan, misalnya kamu seringkali mengeluh kalau kalian jarang menghabiskan waktu bersama, itu adalah indikasi bahwa love languagemu adalah Quality time (kalau kamu gak ingat apa yang sering kamu keluhkan, coba tanya pasanganmu. Biasanya mereka lebih ingat :p)

3. Perhatikan apa yang sering kamu minta pada pasangan. Seperti contoh sebelumnya, jika love language mu adalah Quality Time maka kemungkinan besar kamu akan sering meminta hal-hal yang berkaitan dengan menghabiskan waktu bersama-sama, misalnya "Gimana kalau kita liburan akhir minggu ini?"


Dari kelima love language itu, saya langsung bisa memahami apa primary love language saya dan si Mas. Saya, yang tadinya words of affirmation, kini entah kenapa lebih suka dengan physical touch. Sepertinya, ini karena pengaruh suami yang primary love languagenya physical touch juga. 

Memahami love language pasangan ini hukumnya wajib, menurut saya. Kita akan lebih paham bagaimana cara memperlakukan pasangan, sesuai dengan love languagenya. Banyak sekali orang merasa sudah mencintai pasangannya sedemikian rupa, tapi merasa kalau pasangannya gak mengapresiasinya. Ya gimana, orang yang love languagenya act of service lalu dikasih words of affirmation, yaaa gak masuk, yang ada dongkol "talk less, do more!" halam hati. Namanya juga bahasa, ibaratnya saya yang terbiasa berbahasa sunda, diajak ngomong Inggris, yes little little I can lah..
Continue reading 5 Love Language, Belajar Memahami Bahasa Cinta Pasangan

Saturday, 6 June 2020

, ,

CORETAN MAMANIS : Drama Trimester 4, Drama Berusaha Menjadi Ibu Sempurna

Melanjutkan cerita kemarin tentang betapa menakjubkannya melahirkan seorang anak, kali ini saya ingin cerita tentang gak kalah "menakjubkannya" hari-hari setelah menjadi seorang ibu. Ah ya, selama saya hamil, saya sering baca-baca seputar baby blues, menyusui, dan juga tahapan-tahapan perkembangan bayi. Mendengar baby blues bukan hal asing bagi saya yang pernah mempelajari topik ini di bangku kuliah. Saya paham, kalau hormon-hormon melahirkan ini punya banyak andil terhadap kondisi emosional ibu yang baru melahirkan. Satu hal yang bikin saya khawatir, jangankan meny pengaruh hormon, tanpa adanya hormon-hormon itupun saya memang orang yang cukup emosional. Makanya, saya banyak cari tips-tips dalam menghadapi baby blues, untuk persiapan nanti. Saya juga udah wanti-wanti Mas Suami perihal baby blues ini. Apakah artinya saya bisa terhindar dari baby blues? Hmm... Tidak semudah itu, Marisol.


Kembali ke cerita, setelah persalinan, hanya dalam hitungan beberapa jam, saya sudah bisa banyak gerak. Orang-orang yang melihat saya kadang heran dan ikut ngilu-ngilu, kok baru melahirkan udah "lincah" aja. Jawabannya jelas, karena saya masih di bawah pengaruh pain killer, gak kerasa sakit sama sekali. Setelah pindah ke kamar perawatan, Baby Al langsung ikut di dalam kamar. Saya masih canggung untuk ngotak ngatik Baby Al. Jangankan membedong atau ganti popok, ngangkat bayi aja rasanya deg deg serrr. Untung suster di sana super gesit.

Malam pertama dengan Baby Al sungguhlah berat. Baby Al menangis sepanjang malam. Setiap saya kasih ASI, dia bisa tidur. Tapi selang 10 menit, dia kembali menangis. Kala itu, saya gak tau apa yang salah, apa yang bikin dia menangis. Biasanya suster datang dan membantu menenangkan, ataupun menggantikan popoknya. Suster bilang, bayi newborn gini kalau nangis biasanya karena 3 hal, lapar, ingin ganti popok, atau ingin digendong. Alhasil, sepanjang malam pertama itu, ritmenya sama. Menyusui, ganti popok, gendong, menyusui, ganti popok, gendong. Bahkan esoknya saya seringkali tertidur dengan posisi duduk sambil menggendong Baby Al.


Setiap pagi, Baby Al dibawa suster untuk dimandikan dan diperiksa kesehatannya. Hari kedua, suster bilang kalau BB Baby Al turunnya lebih dari batas normal. Selain itu, ada kemungkinan bilirubin Baby Al tinggi, karena terlihat kuning. Satu-satunya cara untuk mengatasi 2 permasalahan tersebut adalah dengan memberikan ASI terus menerus pada Baby Al. Melihat kondisi Baby Al, DSA bilang kalau kemungkinan ASI saya gak keluar, makanya BB Baby Al turun. Awalnya saya gak percaya, karena selama hamil, ASI saya sering banget rembes-rembes ke baju. Ternyata, ASI rembes saat hamil itu gak ada hubungannya dengan produksi ASI itu sendiri. Waktu dipumping di rumah sakit, 1 payudara hanya menghasilkan 3 cc aja. Sedih gak sih? Padahal saya ngerasa payudara saya penuh banget, kaya mau meledak gitu. Tapi kok isinya gak keluar?

Suster dan DSA menyarankan saya untuk memberi Baby Al susu formula untuk sementara waktu, karena melihat bilirubin Baby Al yang tinggi dan BB nya yang semakin turun. Awalnya saya gak tega, apalagi dari informasi-informasi yang saya dapatkan selama mempelajari ilmu menyusui, susu formula adalah opsi paling paling paliiiing terakhir. Tapi, saya lebih gak tega kalau lihat Baby Al yang nagis terus menerus karena lapar, dan lihat kulit dan matanya yang terlihat kuning. Awalnya, saya tetap bersikeras menolak pemberian susu formula sampai akhirnya saya keluar dari rumah sakit. DSA mengijinkan dengan catatan saya harus menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa pihak rumah sakit sudah merekomendasikan untuk pemberian susu formula, sehingga apabila kondisi Baby Al menjadi buruk, rumah sakit tak mau disalahkan. Agak kesal sih lihatnya, tapi ya mau gimana lagi.


Sepulangnya saya ke rumah, pola tidur Baby Al sama seperti di rumah sakit. Tidur sebentar, lalu terbangun nangis kelaparan. Begitu saya susui, ia tertidur lagi. Tapi gak lama, bangun lagi. Jelas banget kalau dia lagi lapar. Bolak balik saya terbangun ssambil menangis karena lelah, juga gak tega melihat Baby Al yang lapar. Inilah masa-masa saya mengalami baby blues. Di satu sisi, saya merasa gak bisa menjadi ibu yang sempurna karena merasa banyak kekurangan dalam mengurus Baby Al, tapi di sisi lain saya merasa sangat lelah dan merasa sendirian melewati fase ini. Mas suami tentu saja membantu dan sigap ketika saya minta pertolongan, tapi entahlah.. rasanya itu masih kurang. Ada perasaan gak berdaya tiap melihat Baby Al, "Apa sanggup saya mengurus bayi manusia ini, sedangkan untuk menenagkan tangisannya saja saya pusing setengah mati", pikiran itu berulang-ulang terlintas di pikiran saya.


Seringkali, saya menangis tiap malam, tanpa tau penyebab pastinya. Suatu malam saya terbangun karena tangisan Baby Al. Di tengah rasa lelah, setelah menidurkan kembali Baby Al, saya kembali menangis. Saya yakin betul tangisan saya cukup kencang, dan menjadi semakin kencang ketika melihat Mas Suami yang tertidur pulas tanpa mendengar tangisan saya. Esoknya, karena saya gak tahan dengan kondisi ini, saya mengadu kepada Mas Suami kalau saya seringkali menangis, seringkali sedih. Mas Suami yang pada dasarnya cuek dan kurang peka, cukup terkejut. Dia gak melihat dan merasa ada yang salah dengan saya, karena saya gak cerita. Ya, Mas Suami adalah tipe suami yang menegaskan kalau dirinya bukan Dedy Corbuzier yang bisa baca pikiran, ia menomorsatukan komunikasi melalui ucapan, bukan melalui pikiran. Akhirnya bocor lah pertahanan saya, saya cerita semua muanya tentang perasaan yang saya alami, perasaan sendirian, gak mampu, lelah, dan berbagai deretan keluhan selama ini. Suami langsung memeluk erat dan bilang, "Kenapa gak pernah cerita? Kamu gak pernah sendirian". Ajaibnya, meskipun pelukan itu gak lama, karena Baby Al keburu terbangun, saya merasa tenang, merasa aman, dan yakin, kalau saya bisa.

Drama gak berhenti sampai di situ. Setelah mengonsumsi susu formula selama beberapa hari, ternyata ASI saya mulai keluar dengan derasnya, 1 payudara bisa sampai 150ml, dan bisa penuh lagi dalam 2 jam. Payudara yang bengkak semakin sakit kalau gak dikeluarin, sampai seringkali saya bangun tiap malam cuma untuk ngeluarin ASI karena gak tahan ngilunya yang sampai terbawa mimpi. Sampai pada akhirnya, karena sepertinya teknik memerah yang salah, puting saya terluka di dalam, sehingga menyebabkan ASI berwarna pink karena bercampur darah. Drama apalagi ini! Tapi untungnya, saat itu saya punya donor ASI, yaitu kakak ipar sendiri yang alhamdulillah stok ASIPnya pun melimpah.

Setelah puting saya membaik, saya mulai dbf kembali, tapi luar biasanya puting saya lecet lagi. Gak sampai berdarah sih, tapi cukup bikin saya lemes tiap kali ngeliat Baby Al minta nenen, bawaannya deg degan terus. Belum lagi stretchmark di paha yang tiba-tiba muncul saat hamil, waduh.. kalau diceritain pengalaman hamil dan melahirkan ini luar biasa, mungkn itu sebabnya diciptakan lagu Kasih Ibu yang tak terhingga sepanjang masa. Tapi, gimanapun juga, ini adalah permintaan saya sama Tuhan, jawaban dari do'a saya.

Halo lagi Tuhan! Kau tau kan, ketika saya menulis ini, saya gak sedang protes ataupun mengeluh, hanya cerita dan takjub gitu Tuhan. Ingin bilang WOW ternyata saya pernah melaluinya! Hehe.




Continue reading CORETAN MAMANIS : Drama Trimester 4, Drama Berusaha Menjadi Ibu Sempurna

Tuesday, 24 December 2019

, , , , ,

CORETAN MAMANIS : Kencan 9 Bulan dengan Baby Al

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, sehingga saya akhirnya bisa menulis lagi. Tentu, terima kasih juga untuk babyku Arsy, Baby Al, yang mengerti kerinduan mamanya untuk nulis, sehingga memilih untuk tidur nyenyak di malam hari ini. Sungguh suatu hal yang gak biasa untuk bayi 2 bulan ini. Atau mungkin, dia memang sedikit narsis sehingga sengaja memberikan saya waktu untuk menulis tentang dirinya, tepatnya pada saat menghabiskan hari-harinya selama 9 bulan lebih di dalam perut saya.


Ya, tulisan ini, selain karena kolaborasi dengan teman-teman Bandung Hijab Blogger, juga karena saya ingin meninggalkan jejak cerita perjalanan saya di 2019 kemarin, mengingat beberapa minggu lagi kita akan menyambut 2020. Tulisan ini juga merupakan lanjutan cerita saya tempo hari, Tentang PCOS dan 2 Garis Pink.

Setelah pada akhirnya saya dikatakan hamil, bahagia bukanlah respon awal saya. Justru perasaan bingung dan cemas yang datang. Pasalnya, saat itu saya masih berada di Pringsewu, Lampung. Jauh dari orang tua dan sahabat. Saya takut dengan minimnya pengetahuan saya soal kehamilan, saya gak bisa memberikan yang terbaik bagi janin saya saat itu.


TRIMESTER I

Orang bilang, trimester I adalah masa-masa yang menyulitkan. Badan yang baru menyesuaikan diri dengan "benda asing" di dalam rahim ini, dan hormon-hormon yang diproduksi, membuat segalanya menjadi aneh. Banyak orang mengalami morning sickness, mual dan muntah, yang ternyata gak cuma muncul di pagi hari, tapi juga malam hari. Untungnya, saat itu saya gak mengalami yang namanya muntah. Kalau mual, jangan ditanya. Saya masih ingat gimana eneknya saya saat mencium bau ayam, apalagi waktu saya harus masak ayam, sungguh menyiksa rasanya.

Saya sempat baca-baca bahwa trimester I adalah masa-masa kehamilan yang riskan, dikarenakan janin masih lemah. Oleh karena itu, butuh perhatian ekstra agar selalu berhati-hati dalam berakivitas, dan tentu saja, memperhatikan asupan gizi yang baik. Tadinya saya ingin pulang ke Bandung, karena merasa masakan-masakan saya masih kurang bergizi, tapi mengingat suami baru saja memperpanjang kontrak rumah di sana, gak tega rasanya kalau harus meninggalkan suami sendirian di rumah itu. Padahal, kalau tau saya akan hamil, suami kan bisa cari kosan saja. Tapi ya namanya juga cerita Tuhan, kita mana tau kejutan-kejutan yang Dia kasih. Daaann... Luar biasa memang, selang 2 bulan setelah berita kehamilan, Mas Suami mendapat mutasi ke Sleman, Jogja. Hamdallah.

Yang menjadi perhatian khusus pada trimester awal ini adalah pencarian obgyn. Buat saya, obgyn bagaikan ibu kedua yang bakal mendampingi saya menghadapi masa-masa kehamilan. Selama di Pringsewu Lampung, saya gak bisa milih obgyn karena hanya ada 1 obgyn wanita di sana. Sedikit kecewa karena pasien beliau super duper banyak, sehingga konsultasi dengannya pun terasa kurang berkualitas. Saya seperti dibatasi waktu, karena antriannya panjang. Gak leluasa untuk bertanya segala macam hal seputar kehamilan. Tapi, saya pikir, ya sudahlah, ini hanya obgyn sementara. Saya akan mencari obgyn yang cocok dengan saya nanti di Bandung.

Setelah saya pindah ke Bandung, saya banyak mencari informasi obgyn favorit di Bandung. Banyak sekali info yang saya dapatkan, baik dari teman, saudara, ibu-ibu tetangga, juga dari mbah google. Tapi, kebanyakan dari mereka merekomendasikan obgyn cowok, sedangkan saya merasa kurang sreg dengan obgyn cowok. Sampai akhirnya saya dapat info tentang obgyn cewek favorit di RSIA Grha Bunda, namanya dr. Leri Septiani. Wah, kebetulan banget prakteknya dekat dengan rumah saya.

Kesan pertama saya kontrol dengan dr. Leri adalah, antriannya panjang banget. Kalau mau bikin appointment pun minimal 2 minggu sebelumnya. Tapi, setelah saya merasakan kontrol dengan dr. Leri, saya gak heran kenapa dokter ini jadi favorit banyak orang. Pembawaannya positif, ramah, menenangkan, dan super detail. Tiap saya bertanya, meskipun tentang hal-hal remeh, pasti dijawab dengan detail. Biasanya saya paling degdegan kalau kontrol kandungan, tapi dengan dr. Leri, entah kenapa cemasnya tiba-tiba hilang gitu aja. Setelah kontrol pertama, saya sudah memutuskan kalau dr. Leri akan jadi obgyn saya yang nanti akan mengantar Baby Al ke dunia.

Kontrol pertama dengan dr. Leri menghasilkan HPL yaitu Hari Perkiraan Lahir. Hanya saja kendalanya, karena menstruasi saya yang gak teratur, dokter gak bisa menilai usia janin melalui hari terakhir saya menstruasi. Jadi, penilaian didasarkan pada ukuran janin saat itu. Dan ternyata benar saja, jika dibandingkan, usia janin berbeda 3 minggu dari perkiraan usia menurut perhitungan hari terakhir menstruasi. Makanya, tadinya dr. Leri sempat komentar kalau berat baby Al terlalu kecil, tapi ketika mengetahui bahwa menstruasi saya gak pernah teratur, beliau langsung paham dengan usia baby Al yang ternyata gak bisa dinilai berdasarlan hari terakhir menstruasi. Dan menurut perhitungan beliau, HPL nya adalah 24 Oktober 2019.

TRIMESTER II

Ini adalah masa-masa indah selama kehamilan. Meskipun perut sudah mulai kelihatan sedikit membesar, tapi sama sekali gak mengganggu aktivitas. Beberapa kali saya menyempatkan diri untuk berlibur, bertemu teman-teman, dan mendatangi event blogger. Bahkan, suami sempat merayakan ulang tahun saya di salah satu hotel di Bandung. Yaa.. anggap saja babymoon versi dekat. Bisa dibilang trimester ini adalah masa-masa janin sudah mulai kuat, jadi saya punya kesempatan untuk berlibur.

Baby Al 16 minggu

Baby Al 22 minggu

Pada trimester ini, akhirnya saya tahu kalau Baby Al ini perempuan. Saya sempat terkecoh dan percaya omongan orang dan mitos yang beredar, yaitu jika hamil perutnya besar ke samping tandanya perempuan, tapi kalau perutnya membesar ke depan tandanya laki-laki. Entah karena saya yang terlampau kurus atau memang itu hanya sekedar mitos, perut saya membesar ke depan, itupun gak terlalu terlihat. Makaya saya pikir, Baby Al ini laki-laki. Tapi ya saya gak kecewa swdikitpun. Laki atau perempuan, sama-sama menakjubkan.

Tapi, jusru awal trimester 2 ini saya mengalami pengalaman yang gak enak. Suatu hari saya merasa gak enak badan. Menghindari minum obat, saya hanya mengistirahatkan diri di kasur dengan berselimut tebal. Tapi, tiba-tiba setelah isya, badan saya menggigil parah. Gigi bergemelatuk sangat kencang, seperti orang step. Saya merasa dinginnya menusuk ke tulang, saya sampai gak bisa bergerak. Ibu yang melihat kondisi saya langsung panik. Baru saja mau diangkut ke IGD, badan saya tiba-tiba membaik.

Besoknya, badan saya kembali menggigil. Makanan gak ada yang bisa masuk perut, bolak balik muntah tiap kali diisi. Sampai suami langsung ambil cuti ke Bandung beberapa hari karena khawatir. Akhirnya, karena saya takut demam ini berakibat buruk pada Baby Al, saya konsultasi ke dr. Marissa Tasya, karena saat itu dr. Leri lagi gak praktek. Karena demamnya sudah sampai 3 hari, dr. Tasya menyuruh saya untuk cek lab. Dari hasil lab ternyata saya mengalami infeksi saluran kemih. Agak kaget karena saya merasa gak makan yang aneh-aneh dan gak pernah tahan pipis, juga saya gak ngerasain sakit saat pipis, seperti yang biasa dirasakan penderita ISK. Tapi memang, saya merasa pegal di sekujur pinggang yang saya pikir itu karena kehamilan yang semakin besar.

Setelah diberikan obat oleh dr. Tasya, demam tetap ada, sakit pinggangpun tak kunjung membaik. Akhirnya, kembali saya masuk IGD dan diambil darah. Kali ini hasil tes darahnya langsung dikonsultasikan dengan spesialis penyakit dalam atas rekomendasi dr. Leri. Akhirnya, setelah mendapat obat dari dokter spesialis penyakit dalam, semua rasa sakit itu hilang dalam 3 hari. Hamdallah.

Setelah itu, saya mulai memperbanyak informasi seputar kehamilan. Dari mulai makanan dan minuman yang dianjurkan selama hamil, olahraga yang disarankan untuk ibu hamil, sampai hal-hal yang sebaiknya dihindari oleh ibu hamil. Saya biasanya cukup disiplin untuk menjaga makanan, tapi kalau sudah ketemu makanan sebangsa aci-acian, biasanya langsung luluh. Jadi, ya sekali dua kali biasanya saya masih suka nyemil cireng, cilok, cilor, dan teman-temannya.

Orang bilang, banyak-banyak minum air kelapa dan makan bubur kacang hijau. Gak masalah buat saya, karena air kelapa termasuk minuman favorit saya. Makanya, saya sering minum air kelapa walaupun gak rutin. Alasannya? Tentu saja karena malas pergi ke tukang kelapanya. Selain bubur kacang hijau dan air kelapa, teman saya, Ulfi, menyarankan saya untuk mengonsumsi minyak zaitun 2 sendok sehari. Tujuannya katanya untuk memperlancar proses persalinan.

Apapun yang bertujuan memperlancar persalinan, akan saya coba, termasuk si minyak zaitun ini. Tapi, teman-teman, tau rasanya minyak zaitun itu kayak apa? Ewwwww 10000x. Saya menyerah di hari kelima. Ya Tuhan, saya ngerasanya kaya minum minyak jelantah. Saya ralat, saya akan coba apapun yang bisa memperlancar persalinan, kecuali minyak zaitun.

Memasuki akhir trimester 2, berat badan Baby Al selalu kurang sedikit, sekitar 100 - 200 gram. Tapi, dr. Leri gak mempersalahkannya karena beliau gak melihat ada kelainan apapun pada kandungan saya. Tapi, beliau bilang akan lebih baik jika saya menaikkan berat badan juga, karena tentu akan lebih baik dan lebih aman bagi Baby Al. Oleh karena itu, beliau menyarankan saya untuk minum susu, susu khusus yang biasa diminum sama orang sakit (saya lupa namanya apa). Tapi, karena saya gak nemu susu itu, akhirnya saya perbanyak minum susu UHT dan es krim (yang juga atas rekomendasi orang-orang).

Oh ya, di sini saya mulai merasakan lincahnya Baby Al. Pertama kali ngerasain gerakannya, rasanya terharu dan gak percaya kalau ada makhluk hidup yang dititipkan di dalam perut ini. Saya sering ngajak Baby Al ngomong, karena rasanya menyenangkan. Sulit dijelaskan seperti apa rasanya, tapi Maha Besar Allah atas segala kekuasaanNya.

TRIMESTER III

Memasuki trimester 3, perut saya semakin membesar, tapi masih saja dibilang kalau gak kelihatan sedang hamil. Mungkin sebagian perempuan ngerasa seneng dibilang gitu, tapi buat saya malah jadi beban. Seringkali saudara dan tetangga ngomentarin badan saya yang "dipikir mereka" gak gede-gede, padahal awal trimester 3 ini berat badan saya sudah naik hingga 12 kg! Tapi masiiiih aja ada yang nyuruh saya makan ina inu biar makin gede. Maksud saya, kan yang penting itu berat janinnya, bukan berat ibunya. Heran deh!

Baby Al 33 minggu :)

Saya juga jadi lebih sering olahraga, jalan kaki di lapang depan rumah. Kalau biasanya dulu saya nunggu suami pulang, biar jalannya gak sendirian, di trimester ini saya menyemangati diri untuk tetap jalan kaki seminggu 3x, meski sendirian. Sebetulnya, banya orang merekomendasikan yoga. Tapi, bagi yang kenal saya pasti tau saya gak cocok dengan yoga. Gak usah tanya kenapa, tapi ya menurut saya yoga termasuk olahraga yang sulit.

Dibandingkan dengan trimester sebelumnya, trimester 3 ini adalah masa-masa tersulit saya. Selain beban badan yang semakin besar bikin saya sulit cari posisi tidur yang enak, beser dan gatal-gatal di seluruh badan adalah 2 hal yang sering bikin saya terjaga tiap malam. Masalah beser memang gak bisa dihindari, udah biasa bagi bumil. Tapi, masalah gatal ini yang bikin saya banyak banyak istighfar. Gatal yang saya rasakan justru bukan di perut, tapi di tangan dan kaki. Tiap malam sebelum tidur saya biasa banjur tangan kaki pake minyak kayu putih untuk meredakan rasa gatalnya, meskipun gak terlalu ampuh. Saking saya gak bisa nahan rasa gatal yang luar biasa ini, saya sempat berpikir jangan-jangan ini adalah kondisi medis yang disebut kolestasis obstetrik. Tapi, mengingat itu adalah kondisi yang serius dan cukup menyeramkan ketika saya baca lebih lanjut, akhirnya saya tanyakan pada dr. Leri di kontrol selanjutnya. Seperti biasa, dr. Leri gak mempermasalahkan itu. Gatal yang saya rasakan menurutnya masih wajar, masih diakibatkan oleh peregangan pada kulit.

LDM juga seringkali jadi alasan saya sulit tidur. Pikiran-pikiran aneh sering datang, apalagi saya selalu tidur sendirian di kamar atas, karena kakak dan adik saya pun di Jakarta. Selama ini saya khawatir kalau-kalau air ketuban pecah di saat saya sendirian, pada tengah malam, dan semua orang sedang tidur. Selama ini saya sering berdoa, agar kelak saat melahirkan, suami saya sedang di Bandung. Kan saya juga penasaran, apa benar waktu melahirkan, rasanya ingin jambak-jambak suami? Tapi, akhirnya saya pasrah. Lillahitaala. Keinginan saya hanyalah agar Baby Al selalu sehat dan bahagia semenjak di dalam perut ibunya.

Kencan 9 bulan tanpa tatap muka dengan Baby Al di tahun 2019 ini bikin saya terenyuh bahwa ternyata cinta ibu pada anaknya, memang tak bersyarat, tanpa alasan. Mudah-mudahan Baby Al pun merasakan cinta ini, meski nyatanya masih jauh dari sempurna. 
Continue reading CORETAN MAMANIS : Kencan 9 Bulan dengan Baby Al

Wednesday, 27 November 2019

, , , , , ,

CORETAN MAMANIS : Tentang PCOS dan Dua Garis Pink

Sebelum menikah, saya dan suami sepakat untuk melakukan premarital medical check up. Bukan untuk apa-apa selain hanya untuk kebaikan kami berdua. Entah untuk mengetahui riwayat penyakit, pencegahan penyakit, program hamil, dan berbagai manfaat lainnya. Sejujurnya, selama hidup, saya gak pernah periksa kesehatan sedetail ini, karena yaa..saya gak pernah nyaman berada di rumah sakit. Tapi, berkat dorongan dari Mas suami saat itu, dengan berat kaki, akhirnya saya mendaftarkan diri di Rumah Sakit Borrommeus Bandung. 

Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa premarital medical check up seharusnya dilakukan sebelum menikah. Tapi, karena pada saat itu banyak sekali halangan, dari mulai haid saya yang sering datang di jadwal MCU yang sudah saya tetapkan (karena pada saat MCU gak boleh dalam keadaan haid), sampai kesibukan persiapan pernikahan yang lain, sehingga saya baru melakukannya setelah menikah dengan catatan saya dan suami sepakat untuk gak merencanakan kehamilan sebelum saya melakukan MCU, menghindari terjadinya sesuatu yang gak diinginkan, mengingat saya belum tau kondisi tubuh sendiri. Berbeda dengan saya, suami sudah menyelesaikan MCU dari beberapa bulan sebelum pernikahan, dan alhamdulillah hasilnya baik-baik saja.


Bulan April 2018, saya baru punya kesempatan untuk melakukan MCU di Rumah Sakit Borromeus Bandung dengan biaya 3.X (saya lupa tepatnya), sedangkan biaya MCU suami lebih murah karena pemeriksaan yang dilakukan pun lebih sederhana. MCU dimulai dari pkl 08.00, dimulai dari pemeriksaan kesehatan secara umum, pemeriksaan gigi, tes darah, tes urin, rontgen, dan pemeriksaan kandungan. Selama ini saya gak punya riwayat penyakit yang aneh-aneh selain maag yang sering muncul. Saya juga gak punya penyakit turunan, tapi tetap saja, setiap diperiksa dokter, bawaannya parno. Parno kalau-kalau ditemukan penyakit yang selama ini gak pernah saya duga.

Pemeriksaan berlangsung cukup singkat dan gak terasa akhirnya saya sampai pada pemeriksaan akhir, pemeriksaan kandungan. Pemeriksaan kandungan ini memakan waktu cukup lama, karena ternyata saya harus bergabung dengan antrian umum, berbarengan dengan ibu-ibu hamil yang juga sudah punya jadwal sebelumnya. Meskipun pasien MCU lebih sering didahulukan, tapi karena antrian dokter kandungannya super membludak, tetap saja terasa sangat lama.

Begitu nama saya dipanggil, saya langsung diperiksa oleh dr. Indri. Dokternya cerewet dan menyenangkan. Entah beliau sedang mengalihkan pikiran saya yang terlihat tegang, atau beliau memang senang berbicara. Saat mulai melakukan USG, saya terus memperhatikan ekspresi wajah dokter, menebak-nebak apa yang ada dipikirannya. Hebatnya, kebanyakan dokter memang mampu mengendalikan ekspresi, sehingga saya gak bisa menebak apa yang sebetulnya dilihat oleh dr.Indri di rahim saya ini. Sampai akhirnya, beliau bilang, "Hmm... ini ada ya..."

DEGGG. Ada apa? Mendengar dokter baru berkata seperti itu saja, pikiran saya sudah kemana-mana. Memang selama ini menstruasi saya gak pernah lancar. Meskipun tiap bulan selalu ada waktunya saya haid, tapi polanya acak, gak bisa diprediksi. Selain itu, saya juga kerap kali mengalami keram perut yang luar biasa selama menstruasi, yang gak jarang bikin saya nangis guling-guling di kasur. Sebelumnya, saya pernah memeriksakan masalah menstruasi ini ke obgyn lain, tapi mereka gak menemukan sesuatu yang salah di rahim saya. Makanya, saat dr. Indri bilang seperti itu, bisa kebayang kan gimana paniknya saya.

Sekitar 5 menit memeriksa, akhirnya dr. Indri nyeletuk, "Kenapa zaman sekarang banyak yang kaya gini ya..". Lagi-lagi, dr. Indri berkomentar setengah-setengah, bikin saya jadi greget dan mendumel dalam hati "Sebenarnya ada apa?". Seperti membaca isi hati, dr. Indri langsung menjelaskan, bahwa beliau menemukan kista-kista kecil pada ovarium saya yang membuat sel telur tidak berkembang sempurna dan gagal dilepaskan secara teratur. Ini adalah penyebab mengapa menstruasi saya gak pernah teratur. Kondisi ini disebut polycystic ovarian syndrome (PCOS). Dari hasil USG terlihat bahwa tampak beberapa buah (minimal 8 buah) struktur kistik pada bagian perifer, berukuran terbesar 12,1 mm pada ovarium kanan, dan 9,1 pada ovarium kiri. Ini adalah hasil USGnya, meskipun saya sendiri gak bisa lihat "makhluk-makhluk" yang dimaksud oleh dokter Indri ini.

CORETAN MANIS : Tentang PCOS dan Kehamilan Pertama

Saya sempat bertanya mengenai intervensi yang akan dilakukan terhadap PCOS yang saya miliki, tapi dokter Indri menundanya dengan mengatakan bahwa nanti saya akan diberikan kesempatan konsultasi dengan dokter kandungan lain di hari lain, karena tampaknya dr. Indri saat itu hanya ditugaskan untuk melakukan USG saja.

Selang beberapa hari setelahnya, saya dijadwalkan untuk konsultasi dengan dokter kandungan (saya lupa namanya). Beliau membahas keseluruhan hasil medical check up, dan menyampaikan 3 masalah yang ditemukan di tubuh saya. Yang pertama adalah underweight karena memang sebelum saya hamil, berat badan saya gak pernah melebihi angka 45 kg. Beliau bilang, angka segitu terlalu kurus dengan tinggi badan 165 cm ini. Yang kedua adalah miopi atau rabun jauh yang saya miliki semenjak SMP. Dan yang terakhir, PCOS ini. Beliau menjelaskan lebih detail mengenai kondisi PCOS yang saya alami, dari mulai penyebab, gejala, dan pengobatannya. Dari yang saya tangkap, kondisi PCOS ini gak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan dengan cara pola hidup yang sehat.


CORETAN MANIS : Tentang PCOS dan Kehamilan Pertama

Sepulangnya dari dokter, saya mulai mencari tau lebih banyak lagi tentang PCOS ini. Betul seperti yang dokter bilang, dari artikel-artikelyang saya bacapun, PCOS ini gak bisa disembuhkan, karena berkaitan dengan hormon. PCOS terjadi ketika ovarium wanita atau kelenjar adrenal memproduksi hormon laki-laki, seperti testoteron, lebih banyak dari normal. Akibatnya terjadi gangguan keseimbangan hormonal. Gejala yang biasanya muncul adalah haid yang gak teratur (atau bahkan gak haid sama sekali), kadar hormon pria lebih tinggi (salah satu tandanya adalah munculnya rambut di bagian tubuh yang semestinya, misalnya di wajah. Di kasus saya, saya pernah menemukan 1 helai rambut berukuran 0.5 cm di dagu. Sebelum tau tentang PCOS ini saya sempat panik, sempat terpikir mungkin saya gak sengaja ngoles krim wak doyok milik suami ke dagu), dan yang terakhir adalah adanya kista yang ditemukan pada saat pemeriksaan USG.


Source : mayoclinic.org

Resiko dari PCOS ini juga bermacam-macam, tapi yang paling sering terjadi adalah kesulitan untuk hamil pada penderitanya. Ini terjadi karena sel telur susah matang atau dilepaskan saat menstruasi. Saat saya tau bahwa PCOS ini kemungkinan akan membuat saya sulit hamil, saya langsung berdikusi dengan suami. Ya.. sebetulnya, punya anak bukanlah prioritas utama kami setelah menikah. Ingin menghabiskan waktu berdua dulu, pacaran dulu, mengingat usia PDKT kami yang terbilang singkat. Setelah berdiskusi dengan suami, dia cukup santai menanggapinya. Suami termasuk orang yang legowo, apapun yang sudah digariskan oleh Tuhan, sebisa mungkin ia terima. Tapi juga, gak bikin suami lantas gak bergerak dan nerima-nerima aja, doi selalu mengingatkan untuk tetap berusaha semampu kami.

6 bulan berlalu, perasaan ingin memiliki anak mulai muncul. Berbekal informasi dari dokter dan artikel-artikel yang saya baca, akhirnya saya mulai menerapkan pola hidup sehat di rumah sebagai ikhtiar kami dalam perencanaan kehamilan, yaitu:

1. Diet Makanan


Diet makanan bagi penderita PCOS ini mirip dengan diet pada penderita diabetes, yaitu mengurangi gula. Mengonsumsi makanan yang tinggi protein dan lemak, serta mengurangi karbohidrat dan perbanyak makanan berserat tinggi. 3 bulan pertama, saya mengganti beras putih menjadi beras merah, agar lebih sehat. Tapi, saya terbiasa melihat beras merah dipadukan dengan lauk-lauk sunda, jadi kadang saya ngerasa aneh waktu makan nasi merah dengan lauk chicken teriyaki. Alhasil, saya kembali menggunakan beras putih. Saya juga paling sulit menghindari makanan-makanan bertepung, padahal tepung-tepungan juga termasuk yang harus dikurangi oleh penderita PCOS. Tapi... siapa yang bisa menahan godaan goreng-gorengan?

2. Mengonsumsi vitamin E dan asam folat

Vitamin E ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan. Sebetulnya mengonsumsi vitamin E bukan termasuk pengobatan PCOS, tapi semacam mengoptimalkan fungsi rahim, membuat rahim lebih siap untuk "dihuni". Sedangkan asam folat diperlukan untuk pembentukan sel darah merah yang optimal untuk membantu pertumbuhan janin kelak dan melindungi sel tubuh.

3. Olahraga

Olahraga yang biasa saya lakukan bukan olahraga berat. Sekedar menari-nari sambil mendengarkan musik, atau kalau sedang niat menggelar matras, saya biasa yoga di rumah dengan mengandalkan youtube. Tapi karena yoga memang gak semudah itu, saya malah gak semangat. Paling mudah dan paling sering dilakukan sih jalan kaki ditemani suami.

4. Kelola Stress

Ini yang sebetulnya sulit dikendalikan. Saya termasuk orang yang banyak mikir. Gak cuma hal yang memang harus dipikirkan. Hal-hal kecilpun kadang bikin saya cemas dan gak bisa tidur. Kadang saya juga mikir kenapa saya ini banyak mikir, yang bikin saya makin pusing. Padahal stress berkaitan dengan hormon, dan PCOS adalah penyakit hormon. Untungnya, Mas suami banyak membantu dalam menjaga pikiran saya agar tetap jernih, meskipun sewaktu-waktu masih bisa keruh juga.

4 poin di atas yang saya terapkan selama promil, meskipun sebetulnya masih ada cara lain untuk mengatasi PCOS seperti mengonsumsi obat hormon atau bahkan ovarium drilling. Selama 6 bulan, saya mencoba menerapkan pola hidup yang sehat, lebih menjaga makanan, berolahraga lebih sering, dan mencoba menghindari stress, tapi tetap saja.. dua garis pink gak juga datang. Up and down, telat haid berhari-hari sampai berminggu-minggu seringkali bikin saya keGRan yang diiringi dengan rasa kecewa setelah melihat hasil testpack. Sampai akhirnya, karena seringnya saya telat haid, stok testpack di rumah jadi membludak, karena saya malas bolak balik ke minimarket.

Tibalah saat anniversary pernikahan kami yang pertama, kami merencanakan liburan di Bandung selama seminggu. Staycation di daerah Lembang dan mengunjungi tempat wisata di sekitarnya, Quality time dengan Mas Suami selama seminggu di Bandung adalah hal yang langka, jadi kami manfaatkan sebisa mungkin. Saat itu kami sudah mulai santai, sudah gak menggebu-gebu seperti sebelumnya. Lagipula, terakhir saya konsultasi ke Obgyn di Bandung, beliau mengatakan bahwa anak itu masalah rezeki, kehendak Tuhan, gak bisa dipaksa-paksakan. Kalaupun saya gak mengidap PCOS, jika Tuhan memang belum berkehendak untuk menitipkan anak, ya gak akan terjadi. Saya pikir, betul juga. Selama ini, memang saya menjauhi diri dari pikiran-pikiran stress agar bisa fokus dalam merencanakan kehamilan. Tapi, justru fokus merencanakan kehamilan ini malah menjadi sumber stres baru. Jadi, karena saya merasa sudah berusaha semampu saya, saya rasa tugas selanjutnya adalah bertawakal, menyerahkan semuanya pada Tuhan.

Selang sebulan kemudian, pertengahan Februari, saya terlambat haid selama seminggu, seperti yang biasa terjadi. Tapi kala itu, kok rasanya saya merasa gak enak badan. Terasa sangat lelah, padahal gak ada aktivitas berat yang saya lakukan. Akhirnya saya mencoba periksa lagi menggunakan testpack, tanpa banyak berharap. Dan muncullah 1 garis pink dengan jelas, lalu muncul 1 garis lagi dengan warna pink yang sangat samar. Karena merasa gak yakin, saya sempat googling dan tanya ke beberapa teman, dan semua jawabannya sama, kalau ternyata saya POSITIF HAMIL. Garis pink samar menandakan bahwa hormon HCG (hormon kehamilan) saya masih rendah, tanda bahwa usia kandungan saya masih sangat muda.

CORETAN MANIS : Tentang PCOS dan Kehamilan Pertama

Ingin memastikan lebih jelas, akhirnya saya coba datang ke dokter kandungan di Rumah Sakit Mitra Husada Pringsewu. Setelah diperiksa menggunakan USG, dokter menemukan sebuah kantung dalam rahim saya, kantung janin. Sangat kecil sekali, sekitar 0,05 cm, sehingga sempat membuat dokter ragu. Hingga pada akhirnya beliau bilang kalau memang kemungkinan besar itu kantung janin. Akan tetapi, untuk lebih pastinya, saya diminta untuk kontrol kembali setelah 2 minggu, menunggu ukurannya menjadi sedikit lebih besar. Betul saja, 2 minggu kemudian saya kembali memeriksakan kandungan saya, dan ukurannya membesar sehingga lebih terlihat jelas kantung janin yang dokter maksud sebelumnya.

Dokter mengucapkan selamat berkali-kali atas kehamilan saya, mengingat betapa banyaknya kasus PCOS yang membuat penderitanya sulit hamil, termasuk pasien-pasien yang ia tangani. Saya juga heran, penantian selama 6 bulan justru membuahkan hasil ketika saya gak banyak berharap dan memasrahkan semuanya sama Tuhan. Lagipula, kalau dipikir-pikir, kehamilan saya datang di waktu yang tepat. Saya gak kebayang jika saya hamil secepat yang saya inginkan, dengan kondisi saya baru pindah ke Lampung. Adaptasi dengan lingkungan baru saja super memusingkan, gak kebayang kalau saya juga harus beradaptasi dengan kondisi badan yang baru juga.
Tulisan ini saya maksudkan untuk perempuan-perempuan di luar sana yang juga memiliki PCOS dan memiliki kekhawatiran mengenai kehamilan. Saya gak akan bilang sabar, karena kalian pasti sudah punya banyak. Tapi, penting untuk percaya bahwa memiliki PCOS memang memungkinkan kita sulit untuk hamil. Tapi, itu kan baru "mungkin", siapa yang tahu dengan rencana Tuhan?
Tetap semangat ya!
Continue reading CORETAN MAMANIS : Tentang PCOS dan Dua Garis Pink