Showing posts with label BEAUTY TIPS. Show all posts
Showing posts with label BEAUTY TIPS. Show all posts

Sunday, 24 September 2023

, ,

Perbedaan Physical Sunscreen dan Chemical Sunscreen, Mana Yang Lebih Bagus?

Di antara rangkaian skincare yang digunakan sehari-hari, bagi saya sunscreen menempati urutan pertama sebagai tahapan skincare yang wajib digunakan, tidak boleh diskip sama sekali. Rasanya, percuma saja kalau kita mengeluarkan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk skincare dan treatment klinik, kalau penggunaan sunscreennya masih tidak disiplin. Meskipun begitu, pemilihan sunscreenpun gak semudah itu. Niatnya kan, sunscreen merupakan pelindung kulit, agar semua perawatan yang kita gunakan tidak sia-sia. Tapi, gak jarang, beberapa sunscreen memang tidak ditakdirkan berjodoh di kulit kita, malah menimbulkan masalah baru, seperti kemerahan, gatal-gatal, komedo, hingga jerawat. 

Upaya pencarian sunscreen yang cocok di kulit, menambah pengetahuan saya soal persunscreenan, bahwasanya sunscreen itu terdiri dari 2 jenis, yaitu chemical sunscreen dan physical sunscreen. Lalu, bedanya apa? Ada beberapa poin yang menjadi pembeda antara chemical sunscreen dan physical sunscreen, yang akan saya ulas di sini.

Perbedaan sunscreen


1. Komposisi

Chemical sunscreen mengandung bahan kimia seperti oksibenzon, avobenzon, octisalate, dan lainnya. Ketika terkena sinar matahari, bahan-bahan ini menyerap radiasi UV dan mengubahnya menjadi panas yang kemudian dilepaskan dari kulit. Sedangkan physical sunscreen mengandung bahan-bahan fisik seperti titanium dioxide atau zinc oxide. Mereka bekerja dengan cara menciptakan lapisan fisik di atas kulit yang memantulkan sinar matahari. 

2. Cara Kerja

Chemical sunscreen bekerja dengan menyerap sinar UV dan mengubahnya menjadi panas. Ini berarti tabir surya kimia harus diaplikasikan sekitar 15-30 menit sebelum terkena sinar matahari agar efektif. Berbeda dengan chemical sunscreen yang bekerja dengan menyerap radiasi UV dan mengubahnya menjadi panas, physical sunscreen menciptakan penghalang fisik di atas kulit yang memantulkan sinar matahari. Ini berarti sinar UV dihamburkan dan tidak dapat meresap ke dalam kulit.

3. Perlindungan Spektrum

Chemical sunscreen cenderung memberikan perlindungan lebih luas terhadap sinar UVA dan UVB jika terdapat berbagai jenis bahan kimia di dalamnya. Namun, beberapa bahan kimia mungkin tidak efektif melawan spektrum tertentu. Physical sunscreen memberikan perlindungan yang merata terhadap spektrum UVB dan UVA tanpa perlu mengandalkan berbagai bahan kimia.

4. Kemungkinan Reaksi Kulit

Beberapa orang dengan kulit sensitif dapat mengalami iritasi atau reaksi alergi terhadap bahan kimia dalam chemical sunscreen. Sedangkan physical sunscreen cenderung lebih cocok untuk kulit sensitif karena tidak mengandung bahan kimia yang menyerap ke dalam kulit.

5. Tampilan Pada Kulit

Chemical sunscreen sering kali memiliki konsistensi lebih ringan dan transparan, sehingga dapat lebih mudah meresap ke dalam kulit tanpa meninggalkan residu putih, sedangkan physical sunscreen cenderung lebih tebal dan dapat meninggalkan lapisan putih pada kulit, meskipun produk terbaru cenderung lebih halus dan transparan. Ini yang disebut whitecast.

6. Daya Tahan

Chemical sunscreen memiliki kecenderungan untuk lebih cepat hilang dari kulit karena menyerap sinar matahari. Oleh karena itu, perlu diterapkan ulang secara teratur, sedangkan physical sunscreen biasanya lebih tahan lama karena tidak mudah terhapus oleh keringat atau air. Ini membuatnya cocok untuk aktivitas luar ruangan yang intens.

Itu adalah 6 perbedaan antara chemical sunscreen dan physical sunscreen. Mana yang lebih bagus? Semuanya kembali ke preferensi pribadi. Buat saya, dengan kulit sensitif dan acne prone, saya sudah membuktikan bahwa kulit ini berjodoh dengan physical sunscreen, sunscreen-sunscreen dengan kandungan zinc oxide dan titanium dioxide selalu aman di kulit saya. Sedangkan bahan-bahan chemical sunscreen, pasti membuat masalah di kulit saya, kemerahan, gatal, dan beruntusan sudah pasti muncul. Meskipun physical sunscreen memberikan efek whitecast, saya bodo amat, yang penting kulit saya aman. Lagipula, produk-produk physical sunscreen sekarang, whitecastnya gak gitu heboh, lebih seperti memberikan efek tone up saja. 
Mau chemical sunscreen ataupun physical sunscreen, yang terpenting adalah kedisiplinan dalam menggunakannya. Ingat untuk selalu menggunakannya setiap hari sebelum beraktivitas di dalam ruangan, apalagi di luar ruangan. Jangan lupa untuk reapply jika kamu beraktivitas di luar ruangan dalam waktu yang lama ya!
Continue reading Perbedaan Physical Sunscreen dan Chemical Sunscreen, Mana Yang Lebih Bagus?

Monday, 4 September 2023

,

Ingin Miliki Kulit yang Sehat? Jangan Lupa Konsumsi Makanan Ini!

Bagi saya (dan mungkin kebanyakan wanita juga), kesehatan kulit adalah aspek penting dalam menjaga penampilan dan rasa percaya diri. Selain perawatan dari luar, makanan yang kita konsumsi juga memainkan peran kunci dalam kesehatan kulit. Percuma kalau skincare lengkap 7 step, dari toner, essence, serum, moisturizer, kalau sepanjang hari yang dimakan gak jauh dari gorengan, mie bakso,  minuman-minuman boba, ya sama saja bohong. Oleh karena itu, dalam artikel kali ini, saya akan berbagi cerita soal makanan-makanan yang selama ini membantu menjaga kesehatan kulit saya.

Makanan Sehat Untuk Kulit Cantik


1. Buah dan Sayuran Berwarna-warni

Buah dan sayuran yang berwarna-warni, seperti wortel, tomat, dan bayam, mengandung antioksidan yang tinggi. Antioksidan membantu melawan radikal bebas yang dapat merusak sel-sel kulit. Selain itu, mereka mengandung vitamin A, C, dan E yang penting untuk regenerasi kulit dan produksi kolagen. Urusan buah dan sayuran, biasanya saya gak terlalu picky. Karena yakin semua sayuran dan buah ini punya manfaat, ya saya mampu-mampu aja nelennya. Bahkan yang tadinya saya anti, sekarang bisa ketagihan sebegitunya. Misalnya, pare. Gak semua suka dengan sensasi pahit sayuran ini, tapi karena merasa sayuran ini punya banyak manfaat, saya nikmati aja. Awalnya emang terasa aneh, tapi lama-lama, cinta banget sama pare ini.

2. Ikan Berlemak

Ikan seperti salmon, sarden, dan makarel mengandung asam lemak omega-3 yang membantu menjaga kelembapan kulit dan mengurangi peradangan. Asam lemak ini juga meningkatkan elastisitas kulit dan membantu dalam penyembuhan luka. Dibanding makan sayur dan buah, makan ikan ini PR banget bagi saya. Tapi, karena sekarang sudah ada anak, dan saya sering stok ikan-ikanan untuk dia, ujung-ujungnya juga saya ikut makan. 

3. Kacang-kacangan dan Biji-bijian

Kacang-kacangan seperti almond, kenari, dan biji bunga matahari mengandung vitamin E, selenium, dan zat besi yang mendukung kesehatan kulit. Vitamin E memiliki sifat anti-penuaan dan membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV. Perhatikan jenis kacangnya dan metode yang digunakan untuk mengolahnya. Di sini saya gak bilang kalau kacang lebaran yang digoreng dengan minyak berlimpah ini baik untuk kesehatan kulitmu, ya!

4. Air Putih

Minum air yang cukup sangat penting untuk menjaga kelembapan kulit. Air membantu dalam proses detoksifikasi dan pengangkutan nutrisi ke sel-sel kulit. Pastikan minum setidaknya 8 gelas air per hari. Orang-orang terdekat saya pasti ketawa lihat saya menulis ini. Gimana nggak, sudah terlalu sering saya masuk rumah sakit karena infeksi yang diakibatkan kurang minum. Hehe. Sekarang sudah taubat dan dalam proses memperbaiki pola minum. Biasanya untuk urusan minum air putih ini, kita butuh alarm manusia, karena kalau sekedar alarm biasa, gak mempan. Karena masalah jarang minum ini bukan karena lupa, tapi lebih sering karena malas.

5. Teh Hijau

Teh hijau mengandung polifenol yang disebut epigallocatechin gallate (EGCG), yang memiliki sifat anti-inflamasi dan antioksidan. Mengonsumsi teh hijau secara teratur dapat membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar matahari dan mengurangi risiko kanker kulit.

6. Yogurt dan Probiotik

Yogurt dan makanan yang mengandung probiotik membantu menjaga keseimbangan bakteri baik dalam tubuh. Ini dapat membantu kita dalam mengatasi masalah kulit seperti jerawat dan peradangan. Usahakan pilih yogurt plain tanpa gula, karena gula adalah musuh bagi kulit.

Selama 30an hidup, saya merasakan betul bagaimana asupan makanan dan minuman memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan kulit Anda. Dengan mengintegrasikan makanan-makanan sehat ini ke dalam pola makan sehari-hari kita, kita dapat membantu menjaga kulit tetap sehat, berkilau, dan tampil cantik secara alami. Selain itu, selalu ingat untuk menjaga kebiasaan hidrasi yang baik dan menghindari konsumsi berlebihan alkohol serta merokok, karena hal ini juga dapat berdampak buruk pada kulit kita. Jadi, untuk mendapatkan kulit yang sehat, tidak melulu soal membeli skincare hingga jutaan, Justru makanan dan minuman yang harganya tidak seberapa, bisa memberi efek yang signifikan bagi kesehatan kulit kita.
Continue reading Ingin Miliki Kulit yang Sehat? Jangan Lupa Konsumsi Makanan Ini!

Thursday, 20 June 2019

, ,

3 Alasan Krim Wajah Abal-Abal Masih Diminati

Masih ingat gak, dulu saya pernah cerita kalau suatu hari saya belanja di pasar lalu menemukan ibu-ibu paruh baya yang membeli krim gajebo (gak jelas, bo!) seharga 7.500 per pot nya? Krim dalam pot transparan dengan warna kuning dan putih, yang pasti salah satunya adalah krim pagi/siang, dan yang satunya lagi adalah krim malamnya. Padahal, kejadian itu rasanya sudah lebih dari 4 tahun lalu. Tapi sedihnya, sampai saat ini, krim-krim setipe dengan merk jual dan harga yang variatif, masih saja berbedar, dan laku di pasaran.

Alasan Krim Wajah ABal Bermerkuri Banyak Diminati

Kenapa krim ini bisa seberbahaya itu? Jelas karena bahan-bahan yang digunakan bukanlah bahan-bahan yang sewajarnya dipakai dalam membuat skincare. Dua kandungan berbahaya yang seringkali digunakan pada krim abal tersebut adalah merkuri dan hydroquinone. Merkuri memang memiliki kemampuan menghambat pembentukan melamin sehingga kulit tampak lebih cerah dalam waktu yang singkat. Padahal di balik itu, banyak efek negatif yang ditimbulkan dari senyawa ini. Bukan cuma permasalahan kulit, merkuri juga beresiko mengganggu berbagai organ tubuh seperti otak, ginjal, jantung, dan organ lainnya.

Hydroquinone sebetulnya sering digunakan pada obat kulit yang dikeluarkan oleh dokter. Jadi jelas ya, ini adalah obat, bukan skincare pemutih meskipun hydroquinone sendiri berfungsi dalam mengatasi hiperpigmentasi atau flek hitam yang diakibatkan oleh paparan sinar matahari. Penggunaan hydroquinone harus berada di bawah pengawasan dokter dengan dosis yang sudah ditentukan. Biasanya dokter juga menghindari penggunaan obat ini pada ibu hamil dan anak-anak di bawah umur. Penggunaan hydroquinone bukan untuk penggunaan jangka panjang. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kulit iritasi, kemerahan, terbakar, kemerahan, atau bahkan kehitaman yang permanen.

Melihat banyaknya masyarakat yang masih tertarik dengan krim-krim berbahaya ini bikin saya penasaran mencari tau apa sebetulnya yang melatarbelakangi kenekatan orang-orang ini untuk memakai krim yang berembel-embel "krim dokter". Padahal, logikanya saja, dokter kulit adalah dokter. Gimana caranya seorang dokter bisa merekomendasikan suatu produk/ obat tanpa melihat secara langsung permasalahan yang dialami oleh pasiennya. Bahkan dokter online di aplikasi berbayar pun gak pernah memberikan resep obat tanpa melakukan tatap muka. Tapi ya tetap saja, masih banyak yang percaya kalau ada dokter yang bisa membuat skincare yang cocok dengan semua orang, apapun permasalahan kulitnya.

Memang susah sih, menyadarkan orang tentang betapa berbahayanya krim yang mereka pakai. Saya sendiri pernah menegur ibu yang pernah menggunakan krim semacam ini, padahal sebetulnya gak punya permasalahan serius dengan kulit wajahnya. Bahkan, untuk usia lebih dari setengah abad, ibu sering disangka  masih berusia 40an. Sedikit flek hitam karena keras kepala gak pernah mau pakai sunscreen adalah satu-satunya permasalahan kulitnya. Tapi, sebetulnya itupun gak terlalu kelihatan kecuali dilihat di bawah sinar matahari. Cuma ya, namanya ibu-ibu, gampang banget tergoda opini-opini tetangga. 

Ceritanya suatu hari, temannya menawarkan paketan krim wajah degan bahan-bahan "alami" yang selama ini ia pakai, dan sukses menghilangkan flek-flek hitam di wajahnya. Memang betul, wajahnya menjadi lebih bersih dan putih (putih ya, bukan cerah). Setelahnya, ibu ikut serta menggunakan produk tersebut. Bukannya saya membiarkan, tapi butuh waktu untuk menjelaskan betapa berbahanya krim krim gak jelas tersebut. Kira-kira, kenapa sih begitu sulitnya menghilangkan krim berbahaya ini dari pasar? Kenapa krim-krim ini masih punya banyak peminatnya?

Hasil pengamatan saya selama ini, ternyata ada beberapa poin yang saya rasa merupakan alasan-alasan kenapa krim gajebo ini bisa bertahan lama di pasaran, di antaranya :

1. Efek Pemutih Instan

Bagi saya yang sering skeptis dengan janji-janji manis suatu produk, bakal langsung curiga kalau ada satu produk yang menjanjikan dan membuktikan bahwa produk tersebut dapat membuat kulit putih secara instan hanya dalam 2 minggu. Rasanya too good to be true. Terlalu mustahil dan gak masuk akal. Tapi sebaliknya, ada juga yang menganggap produk ini adalah penemuan cerdas dan menggiurkan, apalagi dengan harga yang terjangkau dibanding harus pergi ke klinik kecantikan dan harus mengeluarkan biaya dokter.

Alasan Krim Wajah ABal Bermerkuri Banyak Diminati
Sumber gambar : hipwee.com
Padahal, kalau mau berpikir secara logis, jika sebegitu mudahnya mendapatkan krim yang bisa membuat wajah licin, mulus hanya dalam 2 minggu, lalu kenapa SK II yang harganya jutaan saja butuh waktu beberapa bulan untuk menunjukkan efeknya? Kalau memang ada bahan "alami" yang murah dan bisa menghilangkan jerawat dan cocok di segala jenis kulit, kenapa brand brand drugstore gak ikut mencobanya? Semua pasti ada alasannya, dan untuk ini alasannya ya karena bahan-bahan yang digunakan adalah bahan yang berbahaya dan gak aman untuk kulit! Brand-brand besar, brand-brand legal, gak akan mau mengambil resiko menggunakan bahan-bahan seperti itu.

2. Efek Samping Gak Langsung Terasa

Memang lebih mudah untuk berhenti menggunakan produk yang langsung memberikan reaksi negatif pada tubuh kita. Tapi gimana ceritanya kalau efek negatif itu baru kita rasakan beberapa tahun ke depan?

Waktu saya menegur teman yang juga menggunakan krim abal ini, reaksinya sama seperti ibu saya, "ah aman-aman aja kok, aku pakai ini gak kenapa-kenapa". Padahal, kalau mau baca, banyak kok informasi seputar krim krim abal, betapa berbahayanya krim ini hingga dapat menyebabkan kanker kulit. Memang bukan sekarang, tapi resiko-resiko berbahaya sudah menanti di tahun-tahun ke depan. Hiii..

3. Maraknya Promosi Oleh Artis

Yang ini juga gak bisa dipungkiri. Beberapa artis berkulit mulus banyak yang masih mempromosikan krim-krim yang gak jelas kandungannya. Ya jelas, masyarakat, terutama yang awam dengan dunia kecantikan, bakal tergiur dan percaya bahwa kemulusan dan kecantikan si artis ini adalah hasil dari penggunaan krim tersebut. Padahal, ya moso aja? Biaya perawatan mereka aslinya mungkin seratus kali lebih mahal dari biaya krim yang mereka promosikan.

Masih ingat kasus artis-artis yang terjerat hukum karena mempromosikan krim kulit yang berbahaya? Ingat apa yang polisi bilang? "Proses promosinya seolah-olah artis itu memakai produk kecantiknya itu, padahal tidak."

Yo lagian kalau mau mikir sih ya, masa artis-artis itu cuma pakai krim senilai 300ribu aja, masa kalah sama saya yang pakai skincare jutaan (padahal nyicil).

Alasan Krim Wajah ABal Bermerkuri Banyak Diminati
Sumber gambar : winnetnews.com
Nah, itu adalah 3 poin yang menurut saya menjadi faktor utama kenapa krim abal-abal ini masih banyak beredar di pasaran. Memang, ada beberapa brand yang baru saja mengeluarkan produk dan kadang saya juga masih bingung keasliannya. Makanya, penting untuk banyak-banyak mencari informasi sebelum membeli suatu produk. Salah satunya dengan cara memastikan produk tersebut sudah terdaftar di BPOM. Selain itu, sudah banyak informasi yang menjabarkan mengenai ciri-ciri krim bermerkuri, seperti warna yang mengkilat, aroma yang cukup menyengat, dan hal-hal lainnya. Intinya adalah, untuk menjadi cantik, kita perlu pintar juga, jangan malas untuk membaca, jangan mudah percaya dengan skincare yang serba instan. Biasanya, yang instan-instan memang patut dicurigai, ya gak sih?
Continue reading 3 Alasan Krim Wajah Abal-Abal Masih Diminati

Friday, 14 June 2019

, , ,

Mengenal Exfoliator : Physical Exfoliator, Chemical Exfoliator, AHA, BHA? Apa Bedanya?

Eksfoliasi atau pengangkatan sel kulit mati adalah salah satu step penting dalam perawatan wajah. Penumpukan sel kulit mati dan kotoran, kerap kali menimbulkan permasalahan kulit wajah. Dari mulai komedo, tekstur dan warna kulit yang gak merata, sampai jerawat yang meradang. Sebetulnya, kulit kita punya kemampuan untuk meregenerasi kulit secara alami dalam periode waktu tertentu. Normalnya, di usia remaja, regenerasi kulit terjadi setiap 28 hari sekali. Tapi, tentu saja, semakin bertambah usia kita, kemampuan regenerasi ini menurun, semakin lama. Oleh karena itu, kita butuh exfoliator lain untuk mengoptimalkan regenerasi kulit ini.
 


Bagi yang sudah sering menggunakan produk-produk exfoliator, pasti paham kalau sebetulnya exfoliator ini terbagi menjadi 2, physical exfoliator dan chemical exfoliator. Physical exfoliator tampaknya booming lebih dulu dibanding dengan chemical exfoliator. Produk physical exfoliator memanfaatkan tekstur kasar pada produknya (yang biasa kita sebut scrub), dalam rangka mengangkat sel-sel kulit mati.  Bahannya cenderung sederhana dan mudah ditemukan, contohnya kopi, biji aprikot, gula, dan lain-lain. Produk-produknya pun cenderung mudah ditemukan, dari mulai brand lokal maupun brand luar. Bahkan rasanya, hampir 90% exfoliator yang dikeluarkan oleh brand lokal adalah tipe exfoliator ini. Berikut adalah contoh-contoh physical exfoliator:

 produk-produk physical exfoliator anisa firdausi

Tapi, kalian juga harus paham efek samping dari physical exfoliator ini. Dikarenakan mengandung butiran-butiran scrub, ada gesekan yang cukup intens antara butiran scrub dengan permukaan kulit. . Jadi, ingat untuk selalu menggunakannya secara gentle, pelan-pelan, untuk menghindari resiko kulit menjadi iritasi ataupun kulit kering. Lalu, ada baiknya, kalian pilih jenis scrub dengan butiran kecil-kecil, atau yang biasa disebut microbeads, agar kulitmu tetap aman.

Selanjutnya kita beralih ke chemical exfoliator yang saat ini sedang booming. Beda dengan physical exfoliator yang mengandalkan bentuk dan tekstur dari produknya, chemical exfoliator fokus pada kandungan kimia  (umumnya menggunakan acid), yang berfungsi untuk membantu kulit melakukan regenerasi. AHA dan BHA merupakan kandungan yang umum terkandung pada produk chemical exfoliator. Saya yakin kalian pernah dengar kan produk-produk yang sekarang lagi booming-boomingnya, yang seringkali menonjolkan kandungan AHA ataupun BHA, tapi sebenarnya apa sih bedanya?

AHA adalah singkatan dari Alpha Hydroxy Acids atau asam alfa hidroksi. Jenis asam ini sering terkandung dalam makanan, terutama buah-buahan. Dalam skincare, AHA bekerja memperbaiki kulit yang 'rusak' akibat paparan sinar matahari, seperti hiperpigmentasi, warna dan tekstur kulit yang gak rata, juga memperbaiki tingkat kolagen, serta menjaga kelembapan kulit. Oleh karena itu, biasanya AHA lebih direkomendasikan untuk orang-orang dengan kulit yang normal, sensitif, dan kering. Bagi kalian yang mengalami hiperpigmentasi karena paparan sinar matahari, kalian bisa menggunakan produk dengan kandungan AHA sebesar 5%-10%. Beberapa skincare memang ada yang menonjolkan kandungan AHA pada produknya, tapi ada juga yang hanya menuliskannya di bagian ingridients, dan biasanya dituliskan dalam bentuk lain seperti glycolic acid, lactic acid, atau citric acid. Di bawah ini adalah contoh produk-produk yang mengandung AHA :

produk-produk chemical exfoliant AHA

Meskipun AHA dan BHA terdengar mirip-mirip, tapi ternyata keduanya memiliki komponen yang berbeda, fungsinyapun berbeda. Jika tadi AHA lebih cocok digunakan untuk kulit kering, sebaliknya, penggunaan BHA disarankan bagi orang-orang dengan kulit berminyak, pori-pori besar, dan berjerawat. Bentuk lain BHA yang sering dicantumkan di dalam ingridients list suatu produk adalah salicylic acid. Jika batas aman AHA bisa sampai 10%, BHA akan lebh efektif jika konsentrat dalam produknya tidak lebih dari 4%. Berikut adalah contoh produk-produk yang mengandung BHA :

produk-produk chemical exfoliant BHA

Tidak hanya AHA dan BHA saja, sekarang banyak produk yang mengandung AHA dan BHA bahkan PHA sekaligus dalam 1 produk. Balik lagi, semuanya harus disesuaikan dengan jenis kulit kalian, apa yang sebetulnya dibutuhkan. Jangan hanya karena tergiur dengan banyaknya kandungan exfoliator dalam 1 produk, kalian menganggap produk tersebut akan lebih optimal bekerja di kulit kalian. Balik lagi, skincare itu cocok-cocokkan. Kadang yang terlalu berlebihanpun gak akan baik kan?

Continue reading Mengenal Exfoliator : Physical Exfoliator, Chemical Exfoliator, AHA, BHA? Apa Bedanya?

Wednesday, 5 December 2018

, , , ,

Tips Memakai Make Up Saat Berkaca Mata

Memakai kaca mata dari semenjak SMP sedikit mengganggu penampilan saya. Seenggaknya, itu yang saya rasakan. Walaupun para mantan pacar saya lebih suka saya pakai kaca mata, tapi saya merasa kalau kaca mata ini punya efek menambah usia pada wajah, a.k.a bikin muka keliatan lebih tua. Bahkan rekan kerja saya pernah bilang kalau kaca mata bikin muka saya kelihatan antagonis. Tapi gak mungkin juga saya gak pakai kaca mata, dunia terasa bergoyang. Pakai softlens tiap haripun bukan pilihan ideal bagi saya. Sehari memakai softlens saja cukup bikin mata saya kering kerontang, apalagi kalau setiap hari.

Yang paling mengganggu adalah ketika saya harus memakai make up. Saya sering merasa kalau kaca mata dan make up adalah 2 hal yang sulit disatukan, rasanya saya cuma bisa pilih salah satu. Entah kenapa, pakai make up saat berkaca mata kadang bikin penampilan terlihat berlebihan atau menor. Saya pernah baca di suatu artikel, bahwa kaca mata termasuk "aksesoris" wajah, begitu juga dengan make up. Makanya, saat berkaca mata, banyak orang memilih make up yang minimalis atau natural. Saya termasuk salah satu di antaranya. 

Saya menikmati make up super natural agar dapat tetap memakai kaca mata. Tapi suatu saat saya bekerja di posisi yang mengharuskan saya bertemu banyak orang seharian. Rasanya make up natural gak akan tahan seharian, yang artinya saya harus memakai make up yang sesungguhnya. Dan akhirnya, setelah 5 tahun bekerja, saya mulai terbiasa dengan perpaduan make up dan kaca mata, bagaimana caranya agar dapat tetap bermake up, tanpa harus menggunakan softlens, yang juga akan saya ulas di sini.


Jadi pada dasarnya, memakai make up pada saat berkaca mata gak berbeda dengan bermake up pada umumnya, hanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan atau lebih tepatnya dihindari saat kalian ingin bermake up dan berkaca mata. Tujuannya tentu agar tampilan make upmu gak terlihat berlebihan atau menor.

1. Hindari riasan mata yang heboh

Seperti yang tadi saya bilang, kaca mata dan make up termasuk aksesoris wajah. Saat kamu menggunakan kaca mata, berarti kamu harus mengurangi make up di wajah, terutama di bagian mata.

Apa saja yang harus dihindari?
- Eyeshadow yang terlalu menyala
- Eyeliner yang terlalu tebal
- Maskara yang bikin panjang/ bulu mata palsu, ini cuma bikin kaca matamu cepat kotor karena kegesek-gesek dengan bulu mata
- Eyeliner bawah hitam
- Alis yang tebal

Kebayang kan? Jadi, gunakan warna natural, misalnya coklat sebagai eyeshadow, alis natural, maskara yang dikhususkan untuk mempertebal bulu mata, bukan memperpanjang.

2. Usahakan Make Up Matte, Hindari Make Up Dewy

 
Walaupun make up basah-basah begini lagi booming, tapi saya gak pernah cocok dengan efek basah-basah selama saya memakai kaca mata. Tekstur wajah yang basah, akan membuat kaca mata menempel di wajah dan akan memberikan bekas/ tapak kaca mata, dan itu bukan hal yang ingin kamu dapatkan saat memakai make up.

Jadi usahakan selalu memakai teknik baking khususnya di bagian yang terkena kaca mata. Kalau kalian ingin tetap terlihat bercahaya, gunakan saja highlighter yang berbentuk powder, sehingga kamu bisa tetap terlihat glowy tanpa meninggalkan tapak kaca mata.

3. Hindari Warna-Warna Gelap

Karena kaca mata sudah memberikan kamu sedikit tambahan usia, make up yang kamu pakai harus membuatnya netral, jangan membuat wajahmu terlihat semakin tua. Hindari warna bibir yang gelap seperti coklat, merah bata, maroon, apalagi hitam (ya kali). Gunakan warna pink atau peach untuk membuat tampilanmu lebih fresh.

Begitu juga dengan penggunaan blush on. Jangan terlalu tebal, dan gunakan warna yang lembut. Peach atau coral akan menjadi pilihan yang tepat. 

Di bawah ini adalah hasil make up andalan saya, make up natural untuk hari-hari santai, dan make up bold untuk acara-acara formal.

Jadi itu adalah 3 tips buat kamu-kamu yang ingin tetap memakai make up saat berkaca mata. Gimana? Atau kamu lebih suka pakai ? Let me know!

Continue reading Tips Memakai Make Up Saat Berkaca Mata

Wednesday, 28 November 2018

, , ,

6 Tips Memilih Skincare yang Tepat


Siapa di sini yang sering bosan dengan skincare yang itu-itu aja dan sering ingin coba produk-produk baru? Pasti banyak deh. Apalagi dengan banyak bermunculannya produk-produk baru yang direkomendasikan oleh para beauty enthusiast. Sah-sah aja kok kalau ingin ganti produk skincare, sayapun sering mengalaminya. Kadang saya suka ngerasa suatu produk yang jadi andalan saya, punya masanya. Produk A yang biasanya cocok banget di kulit saya, tiba-tiba di botol ketiga, kok malah bikin kusam, atau beruntusan. Biasanya kalau sudah seperti itu, saya langsung cari penggantinya. Bukankah gak baik lama-lama ada di dalam toxic relationship? Tapi tentu saja, kita gak boleh asal beli produk. Ada beberapa hal yang harus kita pahami sebelum memutuskan untuk membeli suatu skincare. Apa aja sih? Simak terus ya!

1. Kenali Jenis Kulitmu


Tak kenal maka tak sayang, orang bilang. Ini juga berlaku di dunia skincare. Apakah kamu punya kulit sensitif, kering, berminyak, atau malah gabungan dari beberapa jenis kulit tersebut. Kalau belum yakin, kamu bisa datang ke klinik kecantikan, atau ke counter skincare, untuk cari tahu jenis kulitmu. Biasanya mereka punya alat yang bisa mendeteksi jenis kulit, termasuk kelembapan kulit. Mengetahui jenis kulit adalah poin utama yang harus dipahami supaya kita lebih bijak untuk pakai skincare. Pakailah skincare yang kulit kita butuhkan, bukan sekedar yang kita inginkan. Tentu saja yang dibutuhkan oleh kulit kering akan berbeda dengan kebutuhan kulit berminyak. Makanya kita juga perlu tau bahan-bahan apa saja yang cocok dengan jenis kulit kita, yang akan saya ulas di poin kedua.

2. Jatuh Cintalah Pada Kandungannya, Bukan Pada Labelnya!


Siapa di sini yang suka bingung waktu di counter skincare? Bingung antara pilih seri anti aging, seri brightening, seri anti acne, dan seri-seri lainnya. Jangan terkecoh dengan label yang diberikan oleh perusahaan. Bagi saya, label/klaim yang dituliskan pada kemasan produk hanya sebagai informasi tambahan, bukan informasi utama yang dapat saya percaya begitu saja. 

Sebelum memutuskan untuk membeli skincare, kamu harus perhatikan kandungannya. Kandungan apa yang cocok di kulitmu, juga kandungan apa yang bereaksi negatif di kulitmu. Seperti misalnya saya gak bisa pakai produk-produk skincare yang mengandung mineral oil, padahal mineral oil ini umum digunakan pada skincare yang berfungsi memberikan kelembapan seperti moisturizer. Tapi akan beda ceritanya kalau saya yang pakai, kulit saya bisa mendadak merah-merah dan muncul pimples

Cerita lainnya, saat memilih sunscreen. Saya punya banyak pengalaman gak enak pakai chemical sunscreen. Setelah saya baca banyak referensi, memang chemical sunscreen ini banyak menimbulkan reaksi negatif di kulit-kulit sensitif yang mudah berjerawat. Oleh karena itu, kalau sekarang saya liat sunscreen dengan embel-embel "non comedogenic", "for sensitive skin", "for acne prone skin", tapi masih mengandung bahan-bahan chemical sunscreen, tetap saja gak akan saya lirik. Saya akan tetap pilih sunscreen dengan zinc oxide dan titanium dioxide di dalamnya, walaupun dia gak menuliskan embel-embel seperti sunscreen sebelumnya.

3. Perbanyak Referensi

"Duh kayaknya serum X ini bagus, tapi serum Y ini kandungannya juga mirip, lebih murah lagi. Duh pilih yang mana ya, bingung..."

Terpujilah para beauty vlogger dan blogger yang meluangkan waktunya untuk memberikan review produk skincare. Walaupun gak 100% sesuai, karena jenis kulit tiap orang berbeda, kita bisa sedikit tercerahkan oleh pendapat mereka. Kamu juga bisa cari beauty enthusiast yang punya jenis kulit mirip-mirip denganmu. Saya beberapa kali bisa menyelamatkan dompet saya karena banyak membaca referensi sebelum memutuskan untuk beli skincare. Yang tadinya saya sudah semenit menuju MBanking untuk transfer, tiba-tiba saya baca review yang menjelaskan bahwa facial wash yang akan saya beli ini ternyata mengandung SLS di bahan utamanya, yang lagi-lagi, gak cocok di kulit saya.

Banyak sekali beauty enthusiast yang sering membahas/ mengulas tentang jenis-jenis skincare di blog ataupun di youtube. Skincare untuk kulit berjerawat, untuk kulit kering, bahkan untuk kulit sensitif. Referensi-referensi ini akan mempermudah dalam pemilihan skincare yang tepat.

4. Jangan Termakan Tren


"5 step skincare, 7 step skincare, 10 step skincare, I have no time for that." 

Lagi-lagi, saya salut dengan mereka yang punya kulit wajah yang gak rewel. Tipe kulit saya, gak bisa terima kalau saya pakai terlalu banyak skincare. Buat saya gak masalah, justru merasa beruntung karena bisa lebih irit uang dan irit waktu. Pernah sekali waktu (atau dua atau tiga kali, saya lupa), saya ikut tren 7 step skincare di malam hari. Gak nyampai sejam, saya cuci muka lagi karena ngerasa muka saya berminyak dan berat banget, yang bahkan saat saya tidur aja saya bisa ngerasa lengket-lengketnya, dan jadi parno kuman dan debu di kasur bakal pindah bermukim ke muka saya.

Tapi balik lagi, kalau kamu merasa nyaman dengan skincare tumpuk-tumpukkan, ya go for it. Mungkin itu yang cocok di kamu. Tapi buat kalian yang merasa sudah cukup dengan 3 step saja,ya gak papa juga. Jangan memaksakan diri untuk mengikuti tren. Tiap orang punya cara sendiri dalam memakai skincare, pilih yang paling cocok di kulitmu.

5. Jauh-Jauh dari Krim Abal-Abal !


Kalian mungkin sudah sering dengar krim abal-abal. Krim racikan (entah apa yang diracik dan siapa yang ngeracik), yang disediakan dalam bentuk jar. Biasanya 1 paket terdiri dari facial wash, toner, krim pagi, krim malam, dan tentunya dengan embel-embel "krim racikan dr.xxx". Kayaknya saya pernah cerita deh di blog ini, kalau saya pernah mendapati orang beli krim siang dokter di toko kosmetik pasar, seharga 7.000 aja. Bentuknya sama dengan krim yang saya lihat banyak beredar di sosmed, yang warnanya kuning dan putih. Setelah saya browsing, ternyata itu krim kiloan. Saya gak bakal bahas banyak tentang krim kiloan ini, kalian bisa baca pengalaman-pengalaman orang yang pernah menggunakan krim kiloan, dan saya yakin kalian gak mau mengalami hal yang sama dengan mereka.

Makanya, cek BPOM di setiap produk itu penting. Kecuali produk-produk yang kamu beli dari brand-brand yang sudah terkenal, kamu bisa tenang.

6. Selalu Berikan Penilaian Pada Produk Yang Dipakai 



Jangan mudah percaya dengan iklan skincare yang menjanjikan iming-iming kulitmu akan semulus kulit Song Hye-kyo hanya dalam 2 minggu. Ngaku deh, sebenarnya kamu juga gak percaya kan? Ya jelas sulit dipercaya! Manusia saja butuh adaptasi, apalagi skincare. Kalau ada pun, kamu harus curiga, bahan apa yang ada di dalamnya? Menguji kemampuan suatu produk memang perlu, tapi buatlah indikator yang realistis. Misalnya, saya bisa bilang cocok dengan suatu skincare, kalau skincare tersebut bisa memberikan kelembapan tanpa mengundang masalah baru seperti komedo atau jerawat, cukup itu. Saya gak berharap kalau skincare yang saya beli mampu mengecilkan pori-pori, menghilangkan kerutan, menghilangkan flek hitam, karena hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa didapat hanya dengan penggunaan skincare dalam jangka waktu pendek.

Penilaian kalian terhadap produk yang dipakai akan membantu kalian dalam membeli skincare di kemudian hari, entah kalian mau ganti produk atau mau repurchase produk yang sama. Kalau saya, karena sulit untuk cari skincare yang cocok di kulit saya yang super sensitif, biasanya saya akan tetap setia dengan produk lama. Kecuali seperti yang tadi saya bilang, kalau tiba-tiba produknya sudah gak kerja secara maksimal di kulit saya, berarti waktunya untuk ganti produk.

Nah, itu adalah 6 tips yang bisa membanti kamu dalam membeli skincare. Memang butuh waktu untuk paham skincare mana yang lebih cocok dengan kulit kita. Tapi seiring berjalan waktu, trial error, kalian pasti lebih paham kandungan apa yang cocok dengan kulit kalian, tren skincare seperti apa yang cocok, dan apa-apa saja yang harus kalian hindari. Afterall, beautiful skin requires commitment, not a miracle, right?

Continue reading 6 Tips Memilih Skincare yang Tepat

Friday, 2 November 2018

,

Beauty Tips: Merawat Bibir dengan Madu

Sudah bukan rahasia lagi, kalau madu menjadi salah satu bahan favorit di dunia kecantikan. Kenapa sih madu? Ya tentu saja karena madu memiliki banyak kandungan yang penuh manfaat. Walaupun sebagian besar kandungannya gula, ada beberapa senyawa antioksidan yang terkandung di dalamnya, termasuk chrysin, pinobanksin, vitamin C, katalase, dan pinocembrin.

Hampir semua industri kecantikan memiliki minimal 1 produk yang menggunakan madu sebagai bahan dasarnya. Sabun, scrub, masker, lotion, you name it. Banyak juga orang yang menggunakannya secara alami, terutama menggunakannya sebagai masker wajah. Dulu waktu saya masih SMP, masker madu ini sangat membantu melembapkan kulit. Tapi semakin lama, kulit saya kayaknya malah makin sensitif dengan bahan-bahan alami. Sekalinya pakai masker madu, kulit wajah saya jadi gatal-gatal. Tapi, sampai saat ini, saya tetap mengandalkannya sebagai perawatan bibir.

Bibir adalah bagian wajah yang paling jarang saya rawat. Saya gak punya produk lip care selain vaseline lip therapy. Walaupun saya bukan perokok, saya punya garis hitam di bibir yang kadang ganggu kalau sedang pakai produk lippen warna-warna nude. Kecintaan saya sama lip cream juga bikin bibir saya cepat kering. Kalau bibir udah kering gitu, saya jadi gak tega pakai lip cream, malah bikin tambah kering.

Menggunakan madu sebagai perawatan bibir memang bukan hal baru. Sudah ratusan artikel yang menuliskan bahwa madu dapat digunakan untuk melembapkan dan mencerahkan bibir. Saya sebenarnya masih percaya gak percaya, jadi agak males juga buat nyoba. Tapi akhir-akhir ini, karena banyak menghabiskan waktu di rumah, jadi saya punya kesempatan untuk membuktikannya. Dan ternyata, emang iya!

Ada 2 tips yang saya share di sini, dalam memanfaatkan madu untuk merawat bibir. Pertama adalah sebagai scrub, yang kedua sebagai lipbalm.

1. Madu Sebagai Lip Scrub

Untuk digunakan sebagai scrub, tentu kamu gak bisa hanya menggunakan madu. Kamu butuh bahan lain yang teksturnya kasar. Ada yang menggunakan gula pasir, kopi, ataupun gula palm. Di sini saya menggunakan gula palm. Entah kenapa saya rasa teksturnya lebih enak digunakan sebagai scrub, dibanding gula pasir.


Cara Penggunaan: 2 bahan ini tinggal dicampur, dan diaplikasikan ke bibir. Discrub selama kurang lebih 2 menit dan didiamkan selama 3 menit. Setelahnya langsung dibilas air.

  

Seketika bibir terasa lebih halus dan plumpy. Oh ya, terasa lebih pink juga. Katanya, kalau digunakan secara rutin, tips ini juga dapat membuat bibir menjadi pink alami. Jadi cocok banget buat kamu yang punya garis hitam di bibir, atau yang sering pakai lip cream.


Foto ini diambil setelah saya melakukan scrub bibir. Foto atas terlihat lebih kering karena memang produknya super kering. Biasanya malah lebih parah dari ini. Tapi seenggaknya, lip cream ini lumayan mampu menutupi garis hitam bibir walaupun hanya dengan 1 layer.

2. Madu Sebagai Lipbalm

Tips kedua ini pernah saya share di instastory. Karena saya orangnya mageran, saya males banget kalau harus sering oles-oles madu ke bibir pakai jari, lengket. Jadi saya masukkan madu ke dalam botol parfum bersih yang belum pernah dipakai, yang bentuknya roll on seperti ini, sehingga pengaplikasian madu menjadi lebih mudah.



Dengan ukuran sekecil ini dan bentuknya yang praktis, saya selalu bawa ini kemana-mana. Begitu juga di rumah. Kalau saya lagi nonton atau lagi nulis kayak sekarang, sesekali saya pakai ini. Lama-lama kayak jadi kebiasaan. Sekarang bibir saya jadi lebih bersahabat kalau pakai lip cream

Ada yang pernah coba juga? Atau kamu punya tips memanfaatkan madu yang lain? Share dong!
Continue reading Beauty Tips: Merawat Bibir dengan Madu