Showing posts with label tips. Show all posts
Showing posts with label tips. Show all posts

Wednesday, 5 December 2018

, , , ,

Tips Memakai Make Up Saat Berkaca Mata

Memakai kaca mata dari semenjak SMP sedikit mengganggu penampilan saya. Seenggaknya, itu yang saya rasakan. Walaupun para mantan pacar saya lebih suka saya pakai kaca mata, tapi saya merasa kalau kaca mata ini punya efek menambah usia pada wajah, a.k.a bikin muka keliatan lebih tua. Bahkan rekan kerja saya pernah bilang kalau kaca mata bikin muka saya kelihatan antagonis. Tapi gak mungkin juga saya gak pakai kaca mata, dunia terasa bergoyang. Pakai softlens tiap haripun bukan pilihan ideal bagi saya. Sehari memakai softlens saja cukup bikin mata saya kering kerontang, apalagi kalau setiap hari.

Yang paling mengganggu adalah ketika saya harus memakai make up. Saya sering merasa kalau kaca mata dan make up adalah 2 hal yang sulit disatukan, rasanya saya cuma bisa pilih salah satu. Entah kenapa, pakai make up saat berkaca mata kadang bikin penampilan terlihat berlebihan atau menor. Saya pernah baca di suatu artikel, bahwa kaca mata termasuk "aksesoris" wajah, begitu juga dengan make up. Makanya, saat berkaca mata, banyak orang memilih make up yang minimalis atau natural. Saya termasuk salah satu di antaranya. 

Saya menikmati make up super natural agar dapat tetap memakai kaca mata. Tapi suatu saat saya bekerja di posisi yang mengharuskan saya bertemu banyak orang seharian. Rasanya make up natural gak akan tahan seharian, yang artinya saya harus memakai make up yang sesungguhnya. Dan akhirnya, setelah 5 tahun bekerja, saya mulai terbiasa dengan perpaduan make up dan kaca mata, bagaimana caranya agar dapat tetap bermake up, tanpa harus menggunakan softlens, yang juga akan saya ulas di sini.


Jadi pada dasarnya, memakai make up pada saat berkaca mata gak berbeda dengan bermake up pada umumnya, hanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan atau lebih tepatnya dihindari saat kalian ingin bermake up dan berkaca mata. Tujuannya tentu agar tampilan make upmu gak terlihat berlebihan atau menor.

1. Hindari riasan mata yang heboh

Seperti yang tadi saya bilang, kaca mata dan make up termasuk aksesoris wajah. Saat kamu menggunakan kaca mata, berarti kamu harus mengurangi make up di wajah, terutama di bagian mata.

Apa saja yang harus dihindari?
- Eyeshadow yang terlalu menyala
- Eyeliner yang terlalu tebal
- Maskara yang bikin panjang/ bulu mata palsu, ini cuma bikin kaca matamu cepat kotor karena kegesek-gesek dengan bulu mata
- Eyeliner bawah hitam
- Alis yang tebal

Kebayang kan? Jadi, gunakan warna natural, misalnya coklat sebagai eyeshadow, alis natural, maskara yang dikhususkan untuk mempertebal bulu mata, bukan memperpanjang.

2. Usahakan Make Up Matte, Hindari Make Up Dewy

 
Walaupun make up basah-basah begini lagi booming, tapi saya gak pernah cocok dengan efek basah-basah selama saya memakai kaca mata. Tekstur wajah yang basah, akan membuat kaca mata menempel di wajah dan akan memberikan bekas/ tapak kaca mata, dan itu bukan hal yang ingin kamu dapatkan saat memakai make up.

Jadi usahakan selalu memakai teknik baking khususnya di bagian yang terkena kaca mata. Kalau kalian ingin tetap terlihat bercahaya, gunakan saja highlighter yang berbentuk powder, sehingga kamu bisa tetap terlihat glowy tanpa meninggalkan tapak kaca mata.

3. Hindari Warna-Warna Gelap

Karena kaca mata sudah memberikan kamu sedikit tambahan usia, make up yang kamu pakai harus membuatnya netral, jangan membuat wajahmu terlihat semakin tua. Hindari warna bibir yang gelap seperti coklat, merah bata, maroon, apalagi hitam (ya kali). Gunakan warna pink atau peach untuk membuat tampilanmu lebih fresh.

Begitu juga dengan penggunaan blush on. Jangan terlalu tebal, dan gunakan warna yang lembut. Peach atau coral akan menjadi pilihan yang tepat. 

Di bawah ini adalah hasil make up andalan saya, make up natural untuk hari-hari santai, dan make up bold untuk acara-acara formal.

Jadi itu adalah 3 tips buat kamu-kamu yang ingin tetap memakai make up saat berkaca mata. Gimana? Atau kamu lebih suka pakai ? Let me know!

Continue reading Tips Memakai Make Up Saat Berkaca Mata

Wednesday, 28 November 2018

, , ,

6 Tips Memilih Skincare yang Tepat


Siapa di sini yang sering bosan dengan skincare yang itu-itu aja dan sering ingin coba produk-produk baru? Pasti banyak deh. Apalagi dengan banyak bermunculannya produk-produk baru yang direkomendasikan oleh para beauty enthusiast. Sah-sah aja kok kalau ingin ganti produk skincare, sayapun sering mengalaminya. Kadang saya suka ngerasa suatu produk yang jadi andalan saya, punya masanya. Produk A yang biasanya cocok banget di kulit saya, tiba-tiba di botol ketiga, kok malah bikin kusam, atau beruntusan. Biasanya kalau sudah seperti itu, saya langsung cari penggantinya. Bukankah gak baik lama-lama ada di dalam toxic relationship? Tapi tentu saja, kita gak boleh asal beli produk. Ada beberapa hal yang harus kita pahami sebelum memutuskan untuk membeli suatu skincare. Apa aja sih? Simak terus ya!

1. Kenali Jenis Kulitmu


Tak kenal maka tak sayang, orang bilang. Ini juga berlaku di dunia skincare. Apakah kamu punya kulit sensitif, kering, berminyak, atau malah gabungan dari beberapa jenis kulit tersebut. Kalau belum yakin, kamu bisa datang ke klinik kecantikan, atau ke counter skincare, untuk cari tahu jenis kulitmu. Biasanya mereka punya alat yang bisa mendeteksi jenis kulit, termasuk kelembapan kulit. Mengetahui jenis kulit adalah poin utama yang harus dipahami supaya kita lebih bijak untuk pakai skincare. Pakailah skincare yang kulit kita butuhkan, bukan sekedar yang kita inginkan. Tentu saja yang dibutuhkan oleh kulit kering akan berbeda dengan kebutuhan kulit berminyak. Makanya kita juga perlu tau bahan-bahan apa saja yang cocok dengan jenis kulit kita, yang akan saya ulas di poin kedua.

2. Jatuh Cintalah Pada Kandungannya, Bukan Pada Labelnya!


Siapa di sini yang suka bingung waktu di counter skincare? Bingung antara pilih seri anti aging, seri brightening, seri anti acne, dan seri-seri lainnya. Jangan terkecoh dengan label yang diberikan oleh perusahaan. Bagi saya, label/klaim yang dituliskan pada kemasan produk hanya sebagai informasi tambahan, bukan informasi utama yang dapat saya percaya begitu saja. 

Sebelum memutuskan untuk membeli skincare, kamu harus perhatikan kandungannya. Kandungan apa yang cocok di kulitmu, juga kandungan apa yang bereaksi negatif di kulitmu. Seperti misalnya saya gak bisa pakai produk-produk skincare yang mengandung mineral oil, padahal mineral oil ini umum digunakan pada skincare yang berfungsi memberikan kelembapan seperti moisturizer. Tapi akan beda ceritanya kalau saya yang pakai, kulit saya bisa mendadak merah-merah dan muncul pimples

Cerita lainnya, saat memilih sunscreen. Saya punya banyak pengalaman gak enak pakai chemical sunscreen. Setelah saya baca banyak referensi, memang chemical sunscreen ini banyak menimbulkan reaksi negatif di kulit-kulit sensitif yang mudah berjerawat. Oleh karena itu, kalau sekarang saya liat sunscreen dengan embel-embel "non comedogenic", "for sensitive skin", "for acne prone skin", tapi masih mengandung bahan-bahan chemical sunscreen, tetap saja gak akan saya lirik. Saya akan tetap pilih sunscreen dengan zinc oxide dan titanium dioxide di dalamnya, walaupun dia gak menuliskan embel-embel seperti sunscreen sebelumnya.

3. Perbanyak Referensi

"Duh kayaknya serum X ini bagus, tapi serum Y ini kandungannya juga mirip, lebih murah lagi. Duh pilih yang mana ya, bingung..."

Terpujilah para beauty vlogger dan blogger yang meluangkan waktunya untuk memberikan review produk skincare. Walaupun gak 100% sesuai, karena jenis kulit tiap orang berbeda, kita bisa sedikit tercerahkan oleh pendapat mereka. Kamu juga bisa cari beauty enthusiast yang punya jenis kulit mirip-mirip denganmu. Saya beberapa kali bisa menyelamatkan dompet saya karena banyak membaca referensi sebelum memutuskan untuk beli skincare. Yang tadinya saya sudah semenit menuju MBanking untuk transfer, tiba-tiba saya baca review yang menjelaskan bahwa facial wash yang akan saya beli ini ternyata mengandung SLS di bahan utamanya, yang lagi-lagi, gak cocok di kulit saya.

Banyak sekali beauty enthusiast yang sering membahas/ mengulas tentang jenis-jenis skincare di blog ataupun di youtube. Skincare untuk kulit berjerawat, untuk kulit kering, bahkan untuk kulit sensitif. Referensi-referensi ini akan mempermudah dalam pemilihan skincare yang tepat.

4. Jangan Termakan Tren


"5 step skincare, 7 step skincare, 10 step skincare, I have no time for that." 

Lagi-lagi, saya salut dengan mereka yang punya kulit wajah yang gak rewel. Tipe kulit saya, gak bisa terima kalau saya pakai terlalu banyak skincare. Buat saya gak masalah, justru merasa beruntung karena bisa lebih irit uang dan irit waktu. Pernah sekali waktu (atau dua atau tiga kali, saya lupa), saya ikut tren 7 step skincare di malam hari. Gak nyampai sejam, saya cuci muka lagi karena ngerasa muka saya berminyak dan berat banget, yang bahkan saat saya tidur aja saya bisa ngerasa lengket-lengketnya, dan jadi parno kuman dan debu di kasur bakal pindah bermukim ke muka saya.

Tapi balik lagi, kalau kamu merasa nyaman dengan skincare tumpuk-tumpukkan, ya go for it. Mungkin itu yang cocok di kamu. Tapi buat kalian yang merasa sudah cukup dengan 3 step saja,ya gak papa juga. Jangan memaksakan diri untuk mengikuti tren. Tiap orang punya cara sendiri dalam memakai skincare, pilih yang paling cocok di kulitmu.

5. Jauh-Jauh dari Krim Abal-Abal !


Kalian mungkin sudah sering dengar krim abal-abal. Krim racikan (entah apa yang diracik dan siapa yang ngeracik), yang disediakan dalam bentuk jar. Biasanya 1 paket terdiri dari facial wash, toner, krim pagi, krim malam, dan tentunya dengan embel-embel "krim racikan dr.xxx". Kayaknya saya pernah cerita deh di blog ini, kalau saya pernah mendapati orang beli krim siang dokter di toko kosmetik pasar, seharga 7.000 aja. Bentuknya sama dengan krim yang saya lihat banyak beredar di sosmed, yang warnanya kuning dan putih. Setelah saya browsing, ternyata itu krim kiloan. Saya gak bakal bahas banyak tentang krim kiloan ini, kalian bisa baca pengalaman-pengalaman orang yang pernah menggunakan krim kiloan, dan saya yakin kalian gak mau mengalami hal yang sama dengan mereka.

Makanya, cek BPOM di setiap produk itu penting. Kecuali produk-produk yang kamu beli dari brand-brand yang sudah terkenal, kamu bisa tenang.

6. Selalu Berikan Penilaian Pada Produk Yang Dipakai 



Jangan mudah percaya dengan iklan skincare yang menjanjikan iming-iming kulitmu akan semulus kulit Song Hye-kyo hanya dalam 2 minggu. Ngaku deh, sebenarnya kamu juga gak percaya kan? Ya jelas sulit dipercaya! Manusia saja butuh adaptasi, apalagi skincare. Kalau ada pun, kamu harus curiga, bahan apa yang ada di dalamnya? Menguji kemampuan suatu produk memang perlu, tapi buatlah indikator yang realistis. Misalnya, saya bisa bilang cocok dengan suatu skincare, kalau skincare tersebut bisa memberikan kelembapan tanpa mengundang masalah baru seperti komedo atau jerawat, cukup itu. Saya gak berharap kalau skincare yang saya beli mampu mengecilkan pori-pori, menghilangkan kerutan, menghilangkan flek hitam, karena hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa didapat hanya dengan penggunaan skincare dalam jangka waktu pendek.

Penilaian kalian terhadap produk yang dipakai akan membantu kalian dalam membeli skincare di kemudian hari, entah kalian mau ganti produk atau mau repurchase produk yang sama. Kalau saya, karena sulit untuk cari skincare yang cocok di kulit saya yang super sensitif, biasanya saya akan tetap setia dengan produk lama. Kecuali seperti yang tadi saya bilang, kalau tiba-tiba produknya sudah gak kerja secara maksimal di kulit saya, berarti waktunya untuk ganti produk.

Nah, itu adalah 6 tips yang bisa membanti kamu dalam membeli skincare. Memang butuh waktu untuk paham skincare mana yang lebih cocok dengan kulit kita. Tapi seiring berjalan waktu, trial error, kalian pasti lebih paham kandungan apa yang cocok dengan kulit kalian, tren skincare seperti apa yang cocok, dan apa-apa saja yang harus kalian hindari. Afterall, beautiful skin requires commitment, not a miracle, right?

Continue reading 6 Tips Memilih Skincare yang Tepat

Friday, 9 November 2018

, , , ,

Baru Menikah dan Sulit Adaptasi? 5 Aplikasi Smartphone ini Dapat Membantumu Lho!

Buat saya, menikah adalah kehidupan baru yang juga merupakan sebuah tantangan. Ibarat karyawan baru yang gak dikasih training, atau karyawan OJT tanpa mentor, saya masih suka linglung di bulan-bulan awal tinggal bareng suami. Semuanya serba insting aja, tebak-tebak berhadiah. Masak, ya coba-coba aja semua bahan masakan. Ngitung keuangan, ala kadarnya aja, kalau ingat. Kalau saya atau suami gak enak badan, yaaa tinggal istirahat saja, mungkin kecapekan.

Tapi semuanya menjadi serba mudah ketika saya menemukan aplikasi-aplikasi keren ini, yang membuat saya menjadi IRT yang lebih profesional dikit lah. Tentu saja, ini di luar aplikasi social media. Walaupun orang bilang social media itu toxic, saya tetap butuh informasi dan ide ide kreatif yang sering nongol di youtube, instagram, dan twitter.

5 aplikasi di bawah ini sangat cocok digunakan bagi kamu kamu yang sedang menyesuaikan diri dengan kehidupan pernikahan, terutama bagi istri-istri baru, biar suami makin sayang~


1. Cookpad

Teman saya bilang, ada 2 hal yang bikin suami betah di rumah yaitu "hot bed" dan "hot meals", katanya. Saya langsung setuju. Kata hot di sini gak secara harfiah ya, moso yo saya harus bakar ranjang biar panas. Poin pertama tentu gak akan saya bahas karena blog saya gak memuat konten dewasa, yang jelas saya setuju.  Yang kedua, "hot" di sini bukan berarti segala masakan yang panas, karena pare yang disajikan panas-panas pun, suami saya gak suka. Intinya adalah makanan yang sedaaapp~

Awal-awal saya masak, saya hanya mengandalkan resep ibu, karena selama ini masakan Ibu adalah yang tercocok di lidah saya. Kadang nyontek ke google, tapi kalau mau recook kadang lupa pakai resep yang mana. Dicatat malas, di screenshot pasti bakal tenggelam dengan sampah screenshot lain. Akhirnya saya menemukan aplikasi yang memudahkan saya untuk belajar masak, Cookpad!



Fiturnya sederhana tapi sangat membantu. Kita bisa lihat segala macam masakan orang lain, dari mulai masakan rumahan, sampai masakan profesional yang bahkan saya gak familiar sama nama bahan-bahannya. Dari mulai makanan pembuka, hidangan utama, makanan penutup, kue basah, kue kering, jajanan pasar, jajanan mall, semuanya ada. 

Di Cookpad juga kita bisa menyimpan resep aneka masakan di arsip kita, siapa tau suatu saat kita punya bahan-bahannya, tinggal buka deh arsipnya. Atau kalau misalnya kita punya satu bahan, dan bingung mau dibikin apa, tinggal ketik aja bahan yang kita ingin olah, nanti akan muncul opsi-opsi masakannya. Misalnya, di atas saya ketik cumi, lalu akan ada opsi berbagai masakan dengan bahan dasar cumi. Menarik, kan? Oh, di sini juga kita bisa aktif sharing masakan yang udah kita buat, baik masakan resep sendiri, maupun masakan resep orang lain. Kalau saya sih belum berani sharing resep, belum berani buat tanggung jawab kalau ada yang langsung diare.

Awal-awal sih pusing ya, karena saya jarang banget bantu Ibu di dapur (saya nyesel sih, serius), bahkan saya harus ngendus-ngendus bau dulu buat bedain lengkuas, kencur, dan jahe, atau daun salam dan daun jeruk. Tapi semenjak download aplikasi ini, masakan saya yang biasanya hanya sebatas olahan tahu, tempe, dan telur, sekarang ada kemajuan cukup pesat ke masakan-masakan yang lebih rumit. Sekarang sih saya lagi ingin banget bikin kue-kue an, semoga berhasil juga.

2. Hitung Kalori

Masih berkaitan dengan masakan dan makanan. Suami saya senang banget makan, sedangkan saya punya masalah kesehatan yang bikin saya pilih-pilih kalau mau masukin makanan ke dalam mulut (walaupun seringkali tergoda sama Indomie goreng!).  Untuk masalah makanan, saya cenderung disiplin dan bawel, yang kadang bikin suami bete. Saya sering ngebatasin makanannya, apalagi di jam malam. Pernah suatu kali saya tanya,"Aku kalau ngambilin makanan buat kamu, porsinya kurang atau lebih?", lalu dia nyengir,"Kuraaaang!". Tapi dia bilang kaya gitu, gak bikin saya nambahin porsinya sih, paling saya kasih buah aja. Bukan pelit, tapi karena kerjaan suami saya yang sibukbukbuk, kadang bikin dia gak sempat untuk olahraga. Jadi buat saya, mengatur makanannya dengan baik itu adalah harus! Kecuali di hari jadwal ia olahraga, biasanya saya lebih fleksibel, terserah dia mau makan sebanyak apa, yang penting jangan junkfood.


Aplikasi Hitung Kalori ini sangat membantu untuk menghitung jumlah kalori di masakan ataupun makanan yang kita makan. Dulu saya buta masalah beginian. Misalnya saja, saya pikir kalori jeruk ya segitu-segitu aja. Ternyata, ada perbedaan kalori antara jeruk mandarin, jeruk bali, jeruk nipis,  atau bahkan jeruk yang sudah diolah, misalnya jus jeruk, nutrisari, jus jeruk nipis, dan masih banyak lagi. 

Aplikasi hitung kalori menyediakan informasi yang sangat lengkap. Bukan hanya bagi yang sedang diet, bukan hanya bagi ibu rumah tangga, tapi bagi semua orang yang peduli akan kesehatan, kalian mesti download aplikasi ini! Di sini kita bisa bikin diary makanan yang disesuaikan dengan BMI kita. Diary makanan ini akan membuat kita lebih aware dengan makanan-makanan yang kita makan. Jadi nanti kita tau, berapa jumlah kalori dari makanan yang kita makan seharian.

3. Catatan Keuangan

Biasanya saya nulis di buku, tapi karena saya sering kehilangan catatan-catatan saya, dan kurang praktis untuk dibawa-bawa, akhirnya saya download aplikasi ini. Penting bagi kita, terutama yang sudah berkeluarga, untuk membuat perencanaan keuangan. Saya lebih concern masalah ini karena suami. Kalau saya disiplin soal makanan, dia disiplin soal perencanaan keuangan. Segala sesuatu harus direncanakan, katanya. Awalnya saya sih iya-iya aja, sampai suatu hari dia nyuruh saya bikin cashflow bulanan dan minta dipresentasikan. Lah, gimana bisi bikin, kalau saya aja gak pernah inget belanja apa aja, berapa totalnya, dan kapan belanjanya.


Aplikasi ini sebenarnya bisa digunakan semua orang, segala usia. Fiturnya cukup lengkap, tapi saya hanya menggunakan kategori pengeluarannya aja, tentu saja karena saya tukang hambur-hamburin uang. Setiap saya mengeluarkan uang, baik belanja bulanan, belanja di tukang sayur, belanja online, ataupun untuk bayaran iuran RT, dan hal-hal yang di luar rutinitas, akan saya catat. Suatu saat saya amati, saya jadi tau berapa pengeluaran wajib saya perbulan, berapa yang harus saya tabung, dan berapa yang bisa saya pakai untuk jajan-jajan centil. Yah, anggap saja aplikasi ini sebagai pengontrol hasrat belanjamu.

4. Alodokter.com

Saya ini orang yang malas kalau harus ke rumah sakit untuk sakit-sakit ringan. Kebetulan juga saya belum nemu klinik-klinik kecil, seperti yang biasa saya datangi di Bandung kalau sakit demam, flu, batuk, dan penyakit-penyakit yang biasanya sembuh hanya dengan hibernasi dan makan minum yang banyak.

Kebanyakan orang, termasuk saya, senang self diagnose. Nyontek-nyontek ke google, dan berujung gelisah karena ada artikel yang menuliskan bahwa bisa jadi demam kamu adalah pertanda kamu terserang virus HIV, padahal ternyata kamu hanya terserang flu. Ini adalah penyakit saya, suka baca-baca artikel yang berhubungan dengan kondisi kesehatan saya, tanpa nanya langsung ke dokternya. Entah gimana ceritanya, saya paling takut ketemu dokter. Tiap dokter meriksa saya kalau lagi sakit, saya paling gak bisa merhatiin mukanya. Takut-takut mimik mukanya berubah, alisnya mengerut, seolah ngomong "Ya ampun ini orang kayaknya sakit parah deh!"

 

Alodokter menjadi penolong saya, dan membuat saya berhenti googling yang aneh-aneh. Di sini kamu bisa lihat artikel yang sudah ditulis oleh tim dokter mengenai penyakit, penyebab, dan juga cara pengobatannya. Kita juga bisa konsultasi langsung melalui fitur chat nya dengan dokter spesialis, yang bahkan dokternya bisa kita pilih sendiri! Tarifnya hanya 5.000 untuk dokter umum dan 15.000 untuk dokter spesialis. Tarif ini adalah tarif sekali konsultasi, bebas berapa pertanyaan yang kamu tanyakan. Kita juga bisa menyimak chat history pansien lain, yang mungkin punya masalah kesehatan yang sama dengan kita. Sampai saat ini saya sering baca artikel-artikelnya, tapi baru sekali menggunakan fitur chatnya. Dokternya amat sangat membantu dan gak pelit informasi. 

Oh ya, aplikasi Alodokter ini digunakan hanya untuk menambah informasi dan wawasan mengenai segala betuk penyakit, bukan untuk mengobati. Jadi kalau kamu sakit, tetap harus periksa ke dokter ya, karena terkadang kita perlu obat, dan Alodokter tentu gak menyediakan obat secara sembarangan begitu.

5. Gramedia Digital

Walaupun tinggal di rumah, bukan berarti wawasan kita hanya sebatas pekakas dapur kan. Saya butuh buku untuk lebih up to date. Tapi agak sulit rasanya menyisihkan waktu untuk pergi ke toko buku. Selain karena tinggal jauh dari kota, memilih-milih buku yang layak dibeli kadang bisa ngabisin waktu yang cukup lama bagi saya. Makanya, saya download aplikasi Gramedia Digital.


Hanya dengan 90.000, saya bisa dapat akses premium. Menariknya lagi, 1 akun bisa dipakai di 5 device. Lumayan banget kan! Walaupun saya jauh lebih suka buku fisik, jalan-jalan di gramedia digital ini layaknya windows shopping. Lihat-lihat buku baru yang bagus dan menarik. Kalau memang saya suka banget, suatu saat saya pergi ke toko buku, saya akan beli. Tapi kalau biasa-biasa aja, yaaa saya cukup baca versi digitalnya aja.

Gramedia Digital ini gak cuma menyediakan buku, tapi juga majalah. Fiturnya mudah digunakan, genrenya juga lengkap. Di sini kamu bisa download buku-buku yang kamu suka, tapi hanya bisa dibaca melalui aplikasi ini. 

That's a wrap! Itu adalah 5 aplikasi yang membantu kehidupan rumahan saya. Tertarik coba?


Continue reading Baru Menikah dan Sulit Adaptasi? 5 Aplikasi Smartphone ini Dapat Membantumu Lho!