Wednesday, 16 November 2022

Bahagia dengan Hidup Biasa-Biasa Saja Ala Alain de Botton

Baru saja kemarin, perbincangan saya dengan Markonah, berkutat seputar perbedaan generasi kami dan gen Z. Saya bilang kalau kayaknya seru deh lahir sebagai gen Z, semua serba difasilitasi. Dan... sepertinya, mudah bagi mereka untuk menghasilkan uang di usia muda. Tapi, kemudian, timbul pertanyaan baru, apakah semuanya sejalan dengan perasaan bahagia yang mereka rasakan? Markonah sempat bercerita juga mengenai dosennya yang mengeluhkan murid-muridnya yang rasanya kok sulit sekali menggapai toefl 500, padahal untuk mencari ilmu di zaman sekarang itu sangatlah mudah, gak ada alasan untuk gak pintar, selain kamu memang malas. Akhirnya, obrolan ditutup dengan pernyataan bahwa di zaman yang serba mudah ini, justru ekspektasi semakin meningkat, sehingga rasanya sulit untuk menjadi biasa-biasa saja. 

Saya jadi teringat Alain de Botton, seorang filsuf modern, penulis, juga pembicara. Beliau pernah bilang kalau manusia sekarang rasanya sulit sekali untuk merasa bahagia. Bukan secara tiba-tiba semuanya terjadi. Menurutnya, ada 3 masalah utama yang menjadi penyebab semua itu terjadi, yaitu:

1. Hidup dalam Masyarakat yang Angkuh

Mencapai kebahagiaan dalam hidup seharusnya adalah suatu yang subjektif, tidak perlu dipengaruhi oleh penilaian orang lain. Tapi kini, kebanyakan dari kita memikirkan kehidupan yang sempurna agar dipandang baik oleh masyarakat. Alain de Botton menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena kebanyakan masyarakat sekarang menghakimi kita dalam sekejap, tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya di hidup kita. Sekalinya kita tidak dapat memenuhi ekspektasi mereka, ada kemungkinan kita menjadi bahan omongan atau mungkin dikucilkan.

Poin ini juga didukung dengan maraknya penggunaan social media sebagai ajang pamer prestasi. Sebetulnya, kurang tepat sih kalau dibilang pamer, karena pamer atau tidak kan tergantung niatnya, saya sendiri gak bisa menilai niatnya. Kalaupun niatnya memang untuk pamer, sebenarnya gak masalah juga, karena itu hak yang punya akun kok. Permasalahannya adalah ketika kita menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang ditampilkan di social media, padahal kita tau persis berapa banyak filter yang tersedia di aplikasi-aplikasi zaman sekarang.

2. Kurangnya Kasih Sayang

Penyebab lainnya yang menyebabkan sulitnya orang untuk berbahagia menurut Alain de Botton adalah kurangnya kasih sayang dari orang terdekat. Sewajarnya, keluarga sebagai support system terbesar, menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan seseorang. Tapi, kini yang terjadi sebaliknya. Banyak orang tua yang mengharapkan kebahagiaan dalam bentuk materi. Semakin banyak uang yang dimiliki, semakin besar pengakuan dan kasih sayang yang diberikan oleh mereka. Yang tadinya keluarga seharusnya menjadi tempat bersandar, kini malah menjadi pemberi beban.

Baca Juga : Ngobrol Serius : Tentang Fetisisme

Kebahagiaan bukan lagi tentang memberikan perhatian, bukan lagi tentang menghabiskan waktu bersama. Ya, mungkin menghabiskan waktu bersama, tapi di hotel mewah. Hehe. 

3. Meritokrasi

Meritokrasi sistem politik yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan atau kelas sosial. Ideologi ini membuat semua orang termotivasi untuk menjadi sukses. Deretan buku laris ditempati oleh buku-buku self help. Ngerinya, buku-buku ini bagai pedang bermata dua. Contohlah sebuah buku yang berisi mengenai perjalanan si penulis untuk menjadi sukses, bahwa semua orang punya kesempatan untuk sukses, bahwa faktor pembentuk kesuksesan hanyalah tentang diri sendiri, seberapa keras kita berusaha. Orang yang berhasil itu merupakan hasil usaha keras, sementara orang gagal karena kurang berusaha untuk mencapainya. Padahal, kita semua tau, bahwa kesuksesan gak serta merta terjadi hanya karena faktor internal (diri sendiri), masih banyak hal lain yang berkontribusi dalam membentuk kesuksesan seseorang. 

Itulah 3 poin yang sering diungkit oleh Alain de Botton sebagai penyebab orang-orang sulit untuk merasa bahagia. Rasanya, orang-orang menolak untuk hidup biasa-biasa saja, padahal hidup biasa-biasa saja bukan suatu hal yang buruk. Bahkan faktanya, 99% dari kita memang akan menjalani hidup biasa saja, sedangkan 1% yang lain akan menjalani hidup yang luar biasa, seperti Bill Gates, Elon Musk, dan lainnya. Jangan salah! Memiliki hidup yang biasa saja itu baik, dan memiliki ambisi untuk menggapai hidup yang luar biasa juga baik. Yang menjadi keliru adalah ketika kita berambisi hanya demi dihargai dan dianggap hebat oleh orang lain.

Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants.―Epictetus

Saya pernah merasa ingin menjadi yang 1% (sekarang juga masih sih hehe). Tapi, jika harus menukarnya dengan kedamaian dan ketenangan batin, gak dulu deh. Hehe. Lagipula, hidup biasa saja yang dikatakan oleh Alain de Botton, bukan hidup yang menyedihkan. Ada 2 cara hidup biasa-biasa saja ala Alain de Button. Yang pertama, ia menekankan arti kata cukup. Menurutnya, kita akan lebih banyak menghargai hidup ketika kita paham arti kata cukup. Yang kedua, yang saya bahas tadi, berambisilah atas kemauan sendiri, jangan hanya karena orang lain. Jangan sampai keliru, mengejar ambisi hanya untuk memuaskan orang lain. Tapi juga, jangan sampai mengartikan hidup biasa saja dengan hidup malas tanpa ambisi sama sekali ya! Itu jelas berbeda.

Continue reading Bahagia dengan Hidup Biasa-Biasa Saja Ala Alain de Botton

Tuesday, 15 November 2022

,

Review Buku : Almond - Sohn Won Pyung

Seorang manusia lahir bagaikan selembar kertas putih, kosong, tanpa isi mental bawaan. Sedikit demi sedikit, terisi oleh pena pengalaman dan persepsinya terhadap dunia di luar dirinya. Begitulah teori tabularasa. Tapi, apa yang terjadi jika seorang manusia terlahir bagaikan bongkahan batu kali? Sesering apapun pena membuat coretan di atasnya, tidak juga terlihat coretannya. Ini adalah premis utama novel ini, Almond.

Review Novel ALmond - Sohn Won Pyung

Novel ini dibuka dengan pengakuan seorang anak laki-laki saat menyaksikan suatu peristiwa yang brutal. Terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pria dengan menggunakan pisau. Satu orang terluka, enam orang lainnya meninggal dunia. Korban terakhir adalah pria itu sendiri. Ia membunuh dirinya, menikam dadanya sedalam-dalamnya dengan pisau. Anak laki-laki itu hanya menyaksikan kejadian yang terjadi di depan matanya, tanpa melakukan apa-apa, tanpa ekspresi. Anak laki-laki itu adalah Yoonjae.

Itu bukan kali pertamanya Yoonjae menyaksikan tragedi yang mengerikan. Sepanjang hidupnya, ia berkali-kali ada di situasi seperti itu. Saat ia masih berusia 6 tahun, ia pulang dari TK seorang diri, berjalan kaki. Tanpa tau arah, ia terus berjalan mengikuti arah perginya burung-burung. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa ia tersesat, ia sudah berada di sebuah gang yang di kelilingi oleh rumah-rumah tua yang tampak sudah mau roboh. Tidak jauh dari situ, ia mendengar suara teriakan kecil yang ternyata berasal dari sebuah belokan di gang. Ia berjalan mendekati belokan itu dan menyaksikan seorang anak -usia SMP- yang terbaring di atas tanah di kelilingi anak-anak lainnya yang mengelilinginya sambil menendang dan meludahinya. Seluruh tubuh anak itu berdarah, badannya terlempar ke sana ke mari seperti boneka. Yoonjae keluar dari belokan dan menemukan sebuah toko kecil. Ia masuk ke dalamnya dan memanggil si penjaga toko yang ternyata sedang asyik menonton TV. Panggilan pertama tidak membuatnya mengalihkan pandangan dari tayangan TV.

"Ajeossi." panggilnya untuk kedua kali.

"Iya," jawab Ajeossi  sambil membalikkan wajahnya.

"Ada orang yang pingsan di depan gang," 

Si penjaga toko cuek dengan berkata, "Oh begitu?"

"Mungkin saja dia sudah mati." Yoonjae berkata sambil memegang karamel yang dipajang rapi di atas meja toko.

"Oh ya?

"Iya."

Barulah pandangan Ajeossi tertuju pada Yoonjae

"Kau ini, kenapa gaya bicaramu begitu tenang? Kau tidak boleh membohongiku!"

Yoonjae berpikir keras mencari cara untuk meyakinkan Ajeossi, tapi ia tidak bisa menemukan kosa kata lainnya. 

"Mungkin dia sudah mati." Yoonjae hanya bisa mengatakan itu terus menerus.

Akhirnya, Ajeossi melapor pada polisi sambil tetap menonton TV. Anak yang dipukuli, menghembuskan napas terakhirnya. Masalahnya, anak itu tidak lain adalah anak laki-laki Ajeossi tadi. 

Di kantor polisi, Ajeossi meraung-raung bersimbah air mata, duduk bersimpuh dengan badan gemetar, memukul lantai dengan tinjunya, lalu bangun dan berteriak-teriak pada Yoonjae sambil mengacungkan tangannya,

"Andai saja kau bicara sedikit lebih serius, semuanya pasti tidak akan terlambat!"

Begitulah Yoonjae. Raut wajahnya tidak pernah berubah, bahkan ketika ia menyaksikan pembunuhan di depan matanya sekalipun. Ibunya mulai khawatir sehingga membawanya ke rumah sakit untuk mencari tau apa yang terjadi dengan anaknya. Diagnosa dokter menyatakan bahwa Yoonjae terkena penyakit Alexitimia, ketidakmampuan dalam mengungkapkan dan merasakan emosi. Penyebabnya adalah amigdala -atau yang biasa disebut almond- dalam kepalanya tidak berkembang dengan baik, sehingga jaringan komunikasi antara sistem limbik otak dan lobus frontal tidak lancar. Yoonjae tidak bisa merasakan senang, sakit, sedih, ataupun takut. Karenanya, orang-orang sering menyebutnya 'monster'.

Ia hidup dengan ibu dan neneknya di sebuah toko buku bekas. Ibunya berjualan buku bekas demi membiayai Yoonjae, karena suaminya sudah meninggal sejak dulu. Meskipun dianggap aneh oleh teman-temannya, Yoonjae tidak pernah membuat masalah di sekolah. Ibunya yang selalu khawatir akan keadaannya, selalu mengajari Yoonjae dalam bersikap dan merespon orang lain. Ibunya menuliskan beberapa kalimat di kertas berwarna dan menempelkannya di papan besar, tulisan-tulisan seperti ini:

Kalau mobil mendekat -> Harus menghindar atau berlari

Kalau ada orang yang mendekat > Bergeser ke salah satu sisi agar tidak bertubrukan

Kalau orang tertawa -> Ikut tersenyum

Di bagian paling bawah, ada catatannya "Dalam hal raut wajah, kau akan merasa nyaman bila mengikuti raut wajah semiripmungkin dengan yang dilakukan lawan bicaramu"

Ketika teman-temannya sibuk menghafal tabel perkalian, Yoonjae masih menghafal norma dan mencocokkan kalimat-kalimat yang saling terkait, dan ibunya akan memberikan ujian atas hal tersebut. Hari-harinya dilewati seperti itu, terus menerus, hingga tibalah satu hari. Hari itu, malam Natal, dingin bersalju, hari ulang tahun Yoonjae yang ke18. 

Ia bersama ibu dan neneknya, pergi untuk makan malam bersama, seperti yang biasa mereka lakukan selama ini dalam rangka merayakan ulang tahun Yoonjae. Itu adalah awal dari tragedi yang diceritakan di awal. Selesai makan, ibu dan nenek bergegas keluar restoran, ibu tertawa bahagia menangkap salju-salju yang turun dengan derasnya, sedangkan Yoonjae masih di dalam restoran, meminta permen pada pelayan restoran. Barisan paduan suara bertopi Santa dan jubah merah, ramai menyanyikan senandung Natal. Suasana sungguh meriah. Namun tiba-tiba, teriakan demi teriakan muncul. Awalnya sulit mendengarnya karena tertutupi oleh suara paduan suara. Seketika, suara paduan suara mulau kacau dan tertutup oleh suara teriakan orang-orang.

Seorang pria melompat dari balik pintu kaca dan menikamkan sesuatu. Orang itu adalah pria yang berpakaian formal dan berkeliaran sebelum kami memasuki restoran. Tidak sesuai dengan pakaiannya, dia memegang pisau dan palu di kedua tangannya. Pria itu melambaikan kedua tangannya sambil cekikikan, seolah-olah akan menusuk orang yang dilihatnya. Pria itu mendekati barisan paduan suara dan beberapa orang terlihat bergegas mengeluarkan ponselnya. 

Pria itu menoleh dan pandangannya berhenti ke arah ibu dan nenek. Dia kemudian berbalik arah, Nenek langsung menggenggam dan menarik ibu. Setelah itu, terjadilah tragedi itu. Pria itu memukulkan palu ke kepala ibu Yoonjae. Tiga kali.

Dalam sekejap, ibu Yoonjae sudah berbaring lemah bersimbah darah. Yoonjae mendorong pintu restoran, hendak pergi keluar, namun neneknya berteriak dan menghalangi pintu dengan badannya, supaya Yoonjae tetap aman. Pria itu masih memegang pisau, melambai-lambaikannya. Yoonjae mengetuk-ngetuk pintu kaca, tapi nenek tetap menahannya sambil menggelengkan kepalanya, mencegah Yoonjae untuk keluar. Tiba-tiba pria itu sudah ada di belakang nenek, dan Yoonjae hanya mendengar satu kali teriakan neneknya sebelum akhirnya melihat cipratan darah yang memenuhi pintu kaca restoran. Dengan raut wajah tanpa ekspresi, tanpa merasakan sakit, sedih, takut, ataupun marah, Yoonjae menyaksikan neneknya yang meninggal dan ibunya yang koma.

Semenjak kejadian itu, Yoonjae tinggal sendiri di rumah, di toko buku bekas itu. Toko buku berada di lantai 1, sedangkan lantai 2 merupakan toko roti. Pemilik toko roti beserta keseluruhan gedung itu bernama Professor Shim, dulunya seorang dokter. Karena mengenal ibunya Yoonjae cukup lama, Prof Shim menjadi cukup akrab dengannya dan paham juga akan kondisi yang dialami oleh Yoonjae. Maka selama ibu Yoonjae terbaring di rumah sakit, Prof Shim merasa harus membantu dan menjaga Yoonjae.

Suatu hari, ketika Yoonjae sedang menjenguk ibunya, ia berpapasan dengan seorang pria di lift. Pria paruh baya yang terlihat murung. Namun, begitu melihat Yoonjae, ekspresinya berubah. Beberapa hari kemudian, pria itu yang ternyata bernama Yoon Kwonho, mendatangi toko buku bekas dan meminta bantuan Yoonjae. Pada Yoonjae, ia meminta untuk berpura-pura menjadi anaknya di depan istrinya. Pasalnya, semenjak Pak Yoon kehilangan anaknya 13 tahun yang lalu, kesehatan istrinya menurun, hingga akhirnya kritis dan terbaring lemah di rumah sakit. Beberapa hari yang lalu, ada telepon yang menyatakan anaknya sudah ditemukan, namun dalam kondisi yang berbeda. Pak Yoon meminta Yoonjae untuk berpura-pura menjadi anaknya yang hilang di depan istrinya. Yoonjaepun mengiyakan, ia ingat pesan nenek 'lebih baik membantu, asal tidak membahayakan'.

Setelah pertemuan itu, beberapa hari kemudian istri Pak Yoon meninggal dengan damai. Yoonjae hadir dalam upacara pemakaman istri Pak Yoon. Setelahnya, ketika hendak keluar ruangan, Yoonjae menyadari semua orang menutup mulutnya dengan serempak sambil melihat ke satu arah. Di situlah anak itu berdiri. Gon, namanya. Nama aslinya adalah Lee So, anak kandung Pak Yoon yang sudah menghilang selama 13 tahun. Tubuhnya kurus, pendek, seperti anak-anak pengidap busung lapar. Kulitnya hitam, alis tebal, pandangannya membuat semua orang terpaku, seperti binatang buas yang ingin menerkam. Sebetulnya, itu adalah kali kedua Yoonjae bertemu dengan Gon. Gon adalah murid baru di sekolahnya. Hanya dalam 30 menit, informasi tentang Gon sudah menyebar ke seluruh sekolah, "Dia anak berandal. Mungkin dia sudah pernah mencoba semuanya, kecuali membunuh".

Di akhir acara pemakaman, Gon duduk di depan Yoonjae sambil menghabiskan dua mangkuk yukgaejang.

"Kau, kan? Anak yang berpura-pura menjadi diriku?

Aku muak melihat tingkahmu. Yah, walau semua ini bisa hiburan untukku."

Nah. Konflik utamanya ada di sini, saat Gon muncul. Gon yang benci dengan Yoonjae, melakukan apapun untuk menyakiti Yoonjae. Bukannya merasa puas dan hebat, Gon semakin murka. Karena sekeras apapun ia memukul Yoonjae, meskipun wajah Yoonjae sudah babak belur tak karuan, Yoonjae tetap tenang, tidak takut, tidak merasa sakit. Ini adalah definisi monster ketemu monster, meskipun monster-monster ini berbeda satu sama lain.

Saya suka dengan alur ceritanya. Mengalir begitu saja, gak terlalu berat. Ada banyak kritik tentang ending yang terlalu "dongeng disney". Tapi, buat saya penyuka happy ending sih, gak masalah. Kritik dari saya mungkin masalah terjemahan. Ada sekalimat atau 2 kalimat yang saya ingat betul, saya bingung memikirkan artinya. Mungkin karena novel ini banyak membahas soal emosi, saya lumayan paham bagaimana sulitnya menerjemahkan emosi dalam kata-kata, supaya punya makna yang sama dengan bahasa aslinya. Keseluruhan, saya jadi paham kenapa member BTS baca buku ini. Cerita tentang anak yang tumpul emosi, tapi justru novel ini memuat banyak emosi di dalamnya. Selamat membaca!

"Memahami perasaan yang belum kauketahui itu tidak akan selamanya baik. Perasaan itu adalah hal yang menyebalkan. Dunia ini bisa terlihat berbeda dengan apa yang kauketahui. Semua hal-hal kecil yang mengelilingimu bisa menjadi senjata tajam untukmu. Wajah tanpa ekspresi atau omongan-omongan tajam bisa datang menghampirimu. Coba perhatikan batu kerikil di tepi jalan. Dia tidak merasa terluka karena dia sendiri tidak tahu sedang ditendang oleh orang-orang. Namun, kira-kira bagaimana 'perasaan' batu kerikil jika 'tahu' bahwa setiap hari dia selalu ditendang, diinjak, berguling-guling hingga pecah sebanyak ratusan kali." (Prof Shim)

Continue reading Review Buku : Almond - Sohn Won Pyung

Tuesday, 8 November 2022

, , ,

Review Buku : Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) by Sayaka Murata

Buku kedelapan di tahun ini yang saya baca hingga tamat, Gadis Minimarket. Banyaknya orang yang memasukkan buku ini ke dalam list buku favorit mereka menjadi alasan mengapa saya ikut-ikutan ingin baca juga. Maklum, kadang-kadang juga saya FOMO. Buku setebal 160 halaman ini  punya rating yang lumayan bagus di goodreads, banyak pembaca yang juga meninggalkan review positif mengenai isi ceritanya yang gak biasa. Tadinya, kalau hanya menilai dari sampulnya saja, saya menduga ini novel tentang gadis yang bekerja di minimarket (? duh, tentu aja dong, Nis!) Maksudnya, saya gak berpikir ada ide lain di dalamnya selain gadis normal yang bekerja paruh waktu di minimarket. Tapi justru, di sini saya keliru, karena Keiko bukan gadis biasa.

Review Sinopsis Novel Gadis Minimarket

Sinopsis : 

Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, walau ia tidak tahu 'normal' itu seperti apa. Namun, di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai 'pegawai minimarket'. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini.

Sejak kecil, Keiko memang berbeda dengan anak-anak seusianya. Teman-temannya menganggap ia aneh, orang tuanya merasa ia perlu disembuhkan supaya menjadi 'normal'. Keiko sendiri, tidak paham akan konsep 'normal' yang sesungguhnya. Ia kerap kali bingung atas reaksi orang-orang terhadap tingkahnya. Misalnya, saat ia di taman kanak-kanak, ada seekor burung mati di taman. Burung yang kecil, cantik, berwarna biru, dan sepertinya peliharaan seseorang. Burung itu tergeletak dengan leher patah dan mata terpejam, sementara anak-anak lain berkerumun menangisinya. Melihat burung yang mati tersebut, Keiko mengambilnya dan berjalan ke arah ibunya. Ibunya berkata lembut sambil mengusap kepala Keiko, "Ada apa Keiko? Duh,burung kecil yang malang. Kasihan sekali.Ayo kita kuburkan!"

Keiko menjawab, "Ayo kita makan dia! Ayah suka yakitori (sate ayam), jadi nanti malam kita makan ini saja!"

Ibunya kaget mendengarnya, para wanita di samping Ibunya pun sontak menganga, terkejut. Melihat ekspresi mereka, Keiko nyaris tertawa, menurutnya itu lucu. Pandangan Ibunya mengarah pada telapak tangan Keiko, ke arah burung kecil itu, Keiko langsung berujar, "Kurang ya? Seharusnya lebih banyak lagi?", sambil melirik ke arah burung-burung pipit yang sedang berjalan beriringan di dekatnya.

Ibu Keiko berteriak dan menyuruh agar burung itu segera dikuburkan. Keiko tidak paham. Kenapa orang lain menangis, kenapa burung itu harus dikubur, kenapa burung itu tidak dimakan saja, padahal ia sekeluarga sangat suka makan ayam. Meski pada akhirnya Keiko menguburkan burung itu bersama ibunya, ia tetap tidak mengerti. Apalagi melihat orang-orang yang menangis sesenggukan karena iba pada burung kecil itu, tapi mereka memetik dan membunuh bunga-bunga yang ada di sekitar tempat itu. "Lihat, Keiko. Menyedihkan, bukan? Kasihan sekali burung itu.", Ibu berulang kali berbisik berusaha meyakinkan Keiko. Tapi Keiko, sedikitpun, ia tidak merasa sedih.

Peristiwa seperti itu sering terjadi. Pernah juga suatu kali saat Keiko masuk SD, ada keributan di sekolahnya, 2 anak laki-laki yang berkelahi di jam olahraga. "Panggil guru! Hentikan mereka!", teriak anak-anak lain. Keiko mendengar teriakan-teriakan itu dan berpikir mereka harus dihentikan. Maka, ia membuka kotak peralatan yang ada di sebelahnya, ia raih sekop dan berlari menuju anak laki-laki yang sedang berkelahi itu, kemudian ia pukul kepala salah seorang di antara mereka hingga jatuh. Ia baru saja akan memukul anak laki-laki satunya lagi, tapi orang-orang menyuruhnya berhenti. Anak-anak perempuan berteriak dan menangis, guru yang datang terpaku melihat kondisi mengerikan itu. 

"Mereka minta perkelahian itu dihentikan, jadi kuhentikan dengan cara yang paling cepat.", Keiko menjelaskan.

Peristiwa lainnya, seorang guru muda sedang marah di kelasnya, sambil memukul-mukul meja guru dengan buku absen, dan murid-murid mulai menangis meminya maaf. "Sensei, maaf! Hentikan, Sensei!" Guru itu tak juga berhenti meski teman-teman Keiko sudah mengiba meminta guru itu berhenti marah dan memukul-mukul meja. Akhirnya, Keiko mendekati guru tersebut, dengan penuh semangat, ia tarik rok dan celananya agar dia diam. Ia terperanjat, mulai menangis, dan akhirnya terdiam. Ketika diminta penjelasan oleh gurunya, Keiko berujar bahwa ia pernah melihat di TV, seorang perempuan dewasa terdiam ketika ditelanjangi. 

Lagi dan lagi, orang tuanya dipanggil ke sekolah. Ibunya kecewa dan putus asa, namun tetap menyayangi Keiko. Keiko sendiri, merasa tidak enak telah membuat Ibu dan Ayah kecewa dan selalu meminta maaf pada orang lain, meskipun ia sendiri tidak paham, kenapa mereka kecewa? Oleh karenanya, Kekiko memutuskan untuk sebisa mungkin tidak bicara saat di luar rumah. Orang-orang dewasa mulai lega melihatnya yang tidak bicara banyak dan berhenti mengambil tindakan sendiri, Namun selama SMA, itu menjadi masalah karena Keiko menjadi terlalu pendiam. 

Padahal, bagi Keiko, diam adalah cara terbaik, seni hidup yang paling rasional untuk menjalani hidup.

Sampai akhirnya ia mulai kuliah. Suatu hari ia melihat bangunan kosong yang akan dibangun menjadi minimarket. Di kaca beningnya tertempel sebuah poster "SEGERA DIBUKA Smile Mart Stasiun Hiiromachi".  Keiko yang tertarik untuk bekerja paruh, mencatat nomor telepon yang ada di poster itu. Keesokan harinya, ia menelepon dan diwawancarai. Wawancaranya sangat mudah, ia pun diterima menjadi pegawai paruh waktu di minimarket tersebut.

Kehidupan Keiko di minimarket inilah yang menarik. Tumbuh dengan kebingungan atas pengharapan orang-orang di sekitarnya, akhirnya teratasi ketika ia menjadi pegawai minimarket. Berbeda dengan menjadi bagian dari masyarakat, menjadi bagian dari minimarket sangatlah mudah, ada panduan untuk segalanya. Bagaimana ia harus menyapa, membungkuk, bagaimana ia harus menata produk, semuanya ada pedomannya. Meskipun di luar ia seringkali tidak memenuhi pengharapan masyarakat, namun di minimarket Ia adalah seorang pegawai yang hebat.

Keiko mahir meniru ekspresi dan gaya berbicara orang lain. Bertahun-tahun bekerja di minimarket, membuat Keiko merasa bahwa minimarket adalah bagian dari dirinya. Keiko yang berusia 30 tahun adalah hasil ia meniru orang lain, karena ia betul-betul tidak tahu bagaimana semestinya ia berperilaku di masyarakat. Gaya bicaranya, gaya pakaiannya, semuanya mencontoh dari rekan kerjanya di minimarket, supaya terlihat 'normal' di masyarakat. 

Kenapa saya selalu menuliskan normal dalam tanda petik? Ini yang menarik, karena sejatinya, saya sendiri juga gak bisa mendefinisikan apa itu normal. Definisi normal dan abnormal tak sejalan dengan definisi benar dan salah. Mungkin kita bisa bilang norma-norma sosial banyak membentuk kita untuk berperilaku sama seperti masyarakat lain, sehingga orang lain yang melakukan kebalikannya adalah orang-orang abnormal? Tapi, Keiko tidak bisa melihat itu semua. Banyak kebingungan yang dirasakan oleh Keiko perihal bagaimana orang-orang berperan sebagai bagian dari masyarakat. Ia mulai kebingungan ketika di usianya yang 30 tahun, teman-temannya mulai mempertanyakan soal hidupnya. Kebanyakan dari temannya sudah menikah, punya anak, atau memiliki pekerjaan yang mapan. Hanya Keiko yang masih bertahan dengan pekerjaan part timenya di supermarket. Keiko -atas saran adiknya- selalu menjawab bahwa alasan ia masih bekerja part time adalah karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan baginya untuk bekerja full time. Jawaban tersebut malah menimbulkan banyak keheranan karena bekerja di minimarket di mana ia harus berdiri dalam waktu yang lama, bukanlah pekerjaan yang lazim dikerjakan oleh orang sakit, bukan?

Untuk membuat dirinya terlihat 'normal', ia pun memutuskan untuk tinggal bersama seorang laki-laki bernama Shiraha. Ia mendengar bahwa masyarakat 'normalnya' menjalin hubungan dengan lawan jenis. Keiko sama sekali tak berpikir begitu, ia tak pernah berpacaran atau bahkan membayangkan dirinya berpacaran. Selama ini, ia hanya memfokuskan dirinya sebagai pegawai minimarket, memberikan seluruh perhatiannya di sana. Tapi pada akhirnya, ia berpura-pura menjalin hubungan dengan Shiraha, hanya supaya terlihat baik-baik saja. Betul saja, semua orang di sekelilingnya ikut berbahagia dengan berita Keiko yang tinggal bersama dengan Shiraha. Shiraha sendiri, sebetulnya adalah seorang laki-laki yang juga bekerja di minimarket tempat Keiko. Namun, karena kerjanya tidak becus dan ia mangkir berhari-hari, akhirnya ia dikeluarkan dari minimarket tersebut. 

Shiraha, yang hidupnya tak jelas, tidak punya tempat tinggal, banyak terlilit hutang, dan sering mencela Keiko yang aneh dan perawan tua, menyadari bahwa mereka memiliki kesamaan, "dibuang oleh masyarakat". Maka dari itu, Keiko melakukan penawaran untuk Shiraha tinggal di unit apartemen kecil yang disewanya. Shiraha pada akhirnya menyetujuinya. Awalnya sempat ada penolakan, tapi karena ia melihat banyak keuntungan dari penawaran tersebut, akhirnya dia sepakat. 

Hubungan Keiko dan Shiraha betul-betul membuat saya gerah, apalagi dengan karakter Shiraha. Bagi saya, bertemu laki-laki seperti dia layaknya mimpi buruk. Dia kerap kali memaki orang-orang, bermalas-malasan, senang menganggur, dan berharap dinikahi perempuan kaya raya yang bersedia memberinya modal yang besar. 

“Itulah kenapa kusebut masyarakat sekarang disfungsional. Mereka bicara manis soal keragaman gaya hidup, tapi pada akhirnya sejak Zaman Jomon semuanya tetap sama. Angka kelahiran menurun, masyarakat kembali ke Zaman Jomon dengan cepat, dan hidup menjadi lebih dari sekadar tak nyaman. Masyarakat telah mencapai taraf di mana eksistensi mereka yang tak berguna bagi desa akan dicela.” (Shiraha)

Pada intinya, konflik utama pada novel ini hanya berpusat pada 1 persoalan saja. Tentang kritik terhadap masyarakat modern, khususnya di Asia. Diskriminasi atas pilihan-pilihan hidup yang berbeda, sepertinya gak hanya terjadi di Jepang, di Indonesia pun sangat sering ditemukan. Tidak menikah di usia muda, merencanakan tidak memiliki anak, disebut-sebut sebagai hidup yang tidak normal, hanya karena berbeda dengan kebanyakan orang. Membaca novel ini seperti sedang berdiskusi panjang soal penilaian sosial. Sedikit banyak, pemikiran Keiko ini mengingatkan saya dengan orang-orang penghuni rumah sakit Villete yang ada di buku Veronika Memutuskan Mati, terutama pada poin yang membahas soal normal dan abnormal. 

Yang paling bikin muak adalah Shiraha. Saya berharap ada momen Keiko menendang laki-laki tidak berguna itu. Bisa-bisanya, dia banyak menuntut pada Keiko, mencela unit apartemennya, meminta uang, meminta makan (sambil mencela makanannya), numpang tidur (sambil mencela kamar tidurnya), dan berkeluh kesah seharian tanpa menyadari bahwa ia adalah pusat segala masalah di hidupnya. Satu hal yang dikerjakannya sungguh-sungguh adalah mencarikan Keiko pekerjaan baru, menyuruhnya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, bukan hanya pekerjaan paruh waktu. Supaya apa? supaya Shiraha bisa menikah dengan Keiko dan menumpang hidup dengannya. 

“Aku tak tahu lagi dengan standar apa aku hidup. Sebelumnya, tubuhku milik minimarket sekalipun aku sedang tidak bekerja. Aku tidur, menjaga kondisi tubuhku tetap fit, dan makan makanan yang bernutrisi agar bisa bekerja dengan kondisi sehat.” (Keiko)

Novel ini tidak seperti novel remaja pada umumnya. Isu tentang disfungsi sosial dikemas dengan cerita yang menarik. Menyelami perasaan Keiko, seharusnya membuat kita lebih paham bahwa setiap orang punya hak untuk menentukan hidupnya masing-masing. Tidak perlu mendiskriminasi pilihan seseorang hanya karena berbeda dengan yang kita jalani. 

Continue reading Review Buku : Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) by Sayaka Murata

Monday, 17 October 2022

, ,

Ingin Lebih Bahagia? Tinggalkan 12 Kebiasaan Ini!

Tulisan ini bukan murni tentang isi pikiran saya. Beberapa waktu yang lalu, saya baca artikel di enterpreneur.com yang membahas tentang ini, hal-hal yang bikin kita kadang sulit untuk bahagia. Saya pikir, sepertinya menarik deh kalau saya tuangkan di sini, selain untuk berbagi, juga untuk pengingat buat saya di kala menghadapi hari-hari yang menyebalkan.

Jadi, artikel ini memang didasari oleh penelitian yang dilakukin oleh Dr. Sonja Lyubomirsky, seorang profesor di bidang psikologi yang sering disebut "Queen of Happiness" oleh orang-orang di sekitarnya, karena beliau selalu bersemangat dan tak pernah berhenti mempelajari soal "kebahagiaan". Menurutnya, kebahagiaan itu dipengaruhi oleh beberapa hal, 50% dari genetik, 10% dari keadaan, 40% dari individu masing-masing (kebiasaan, sikap, pandangan hidup). Jadi intinya, sebetulnya kita punya andil yang cukup besar untuk menentukan kebahagiaan kita sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles, "happiness depends upon ourselves".


Maka dari itu, dengan mengubah kebiasaan, sikap, dan pandangan hidup kita, kita punya kesempatan yang juga besar untuk mencapai kebahagiaan yang kita inginkan. Contohnya ini, yang akan saya bahas, ada beberapa kebiasaan, sikap, dan pandangan hidup yang sebetulnya menghambat kita untuk menjadi seorang yang berbahagia, yaitu :

1. Immunity to Awe (Tidak Mudah Kagum/ Terpesona)

Perasaan kagum atau terpesona ini mengingatkan kita, bahwa kita bukanlah pusat dari alam semesta. Kekaguman mendatangkan inspirasi, memahami kalau kehidupan itu luar biasa, dan kita bisa berkontribusi di dalamnya. 

2. Isolating Yourself (Mengisolasi Diri Sendiri)


Meskipun gak semua orang menikmatinya, bersosialisasi sebetulnya dapat membuat mood menjadi lebih baik. Banyak penelitian yang menunjukkan itu, bahwa menarik diri dari lingkungan justru malah membuat diri cenderung tidak bahagia. Maka dari itu, paksakan diri untuk keluar dan bersosialisasi, dan rasakan bedanya. Ini sebetulnya juga PR buat saya yang lebih senang ngamar dari pada harus terbang sana sini bersosialisasi, karena rasanya sungguh menguras energi. Tapi sebetulnya, dengan orang-orang yang tepat, bersosialiasi ternyata gak semelelahkan itu, justru beberapa kali saya malah mendapatkan insight dan pengalaman baru hanya melalui cerita dari orang lain. Jadi, mungkin untuk poin ini memang harus pilih-pilih juga ya, gak semua situasi sosial bisa membuatmu merasa bahagia.

3. Blaming and Controlling (Menyalahkan dan Mengontrol)

Menyalahkan orang lain berarti mempercayai bahwa kita tidak punya kontrol terhadap hidup kita. Tapi merasa selalu memiliki kontrol atas kehidupan ini, juga tidak akan membuat hidup bahagia. Poin ini sedikit banyak mengingatkan saya dengan dikotomi kontrol, yaitu menyadari dan menerima dengan lapang dada bahwa ada hal-hal yang bisa kita kontrol, namun juga banyak hal yang tidak bisa kita kontrol. Fokus pada hal-hal yang bisa kita kontrol, yang menyangkut diri sendiri. Hal-hal di luar diri sendiri, khususnya tentang orang lain, tidak perlu dipikirkan. Menganggap bahwa kita punya kontrol atas orang lain hanya akan membuat kita kecewa dan tidak bahagia.

4. Criticizing (Mengkritik)

Terkadang, memberikan kritik itu menyenangkan, tapi setelah melakukannya, ada perasaan bersalah yang gak nyaman dirasakan. Mungkin sesekali, untuk hal yang memang perlu, tidak masalah. Tapi, jika terlalu sering melakukannya, akan memberikan efek yang tidak baik untuk kita. Seorang sociopath justru mendapatkan kesenangan ketika melakukannya. Tapi untuk kita (yang kuharap bukan sociopath), mengkritik orang lain hanyalah tabiat buruk yang dilakukan dalam rangka membuat diri sendiri merasa lebih baik, padahal sebenarnya tidak. 

5. Complaining (Mengeluh)

Mengeluh bisa menjadi terapi saat menghapi hal-hal yang mengganggu, tapi jika dilakukan terlalu sering justru akan memicu ketidakbahagiaan. Mengeluh hanya akan membuat keyakinan yang negatif, tentang diri sendiri, tentang kehidupan. Menjadikan mengeluh sebagai sebuah kebiasaan, membuat kita cenderung menyalahkan keadaan dan menghambat kita untuk berkembang.

6. Impressing (Membuat Orang Kagum)

Dikagumi oleh orang lain memang menyenangkan. Tapi, melakukan sesuatu hanya dengan niat membuat orang kagum tidak akan memberikan kita kebahagiaan yang murni. Selalu mencoba membuat orang lain kagum gak akan membuat kita bertemu dengan orang-orang yang betul-betul menyukai kita apa adanya. Jadi, coba ganti motivasinya. Jangan melulu ingin dipuji, ingin dapat banyak "jempol", ingin dapat banyak "hati", tapi lakukanlah karena itu adalah sebuah kebaikan yang dilakukan untuk diri kita sendiri. 

7. Negativity (Bersikap Negatif)


Hidup memang gak selalu berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, tapi dibanding mengeluh dan menyalahkan keadaan, lebih baik menghitung hal-hal yang dapat kita syukuri. Menurut penelitian, pemicu ketidakbahagiaan terbesar adalah pesimistis. Selain merusak mood, ini juga akan membentuk yang namanya "self fulfilling prophercy", ketika selalu berekspektasi akan hal buruk, kita justru akan cenderung terbiasa mengharapkan hal buruk terjadi. Kalau kalian mempercayai yang namanya law of attraction, mungkin dari sekarang lebih baik untuk berpikir yang positif-positif saja. Lagipula, seperti yang SERING BANGET saya baca di buku manapun, dari sejuta pikiran negatif, mungkin hanya 1% saja yang betul-betul terjadi. Jadi, buat apa lelah menampung 99% lainnya?


I know I know. Talk is cheap, dulu juga saya termasuk orang yang sering berpikiran negatif juga kok, sering banget, hampir setiap menitnya mungkin. Tapi, kan ada yang namanya belajar.

8. Hanging Around Negative People (Bergaul dengan Orang Negatif)

Orang-orang negatif ini biasanya menginginkan orang lain untuk bergabung dengan "dunia pikiran negatif" mereka, hanya supaya mereka merasa lebih baik. Hati-hati mendengarkan cerita orang-orang ini. Jangan sampai yang tadinya kita hanya bersimpati mendengarkan kisah mereka, malah berujung tenggelam juga ke dalam pikiran negatif mereka. Lebih baik banyak-banyakin bergaul dengan orang-orang yang memberikanmu inspirasi. Ingat pepatah Rasul yang bilang untuk bergaul dengan penjual minyak wangi, "karena ia tidak akan merugikanmu, kau bisa membeli minyak wangi darinya atau minimal engkau mendapat baunya". 

9. Comparing Your Own Life to The Lives People Potray on Socmed (Membandingkan Hidup Sendiri dengan Hidup Orang Lain yang Ditampilkan di Social Media)

Ini kayaknya udah pada paham ya. Kita semua mencari 1 foto dari ribuan foto yang ada di gallery untuk diupload di social media. 1 foto gak akan bisa mewakilkan perjalanan hidup seseorang. Kita gak pernah tau apa yang telah terjadi dibaliknya. Social media adalah tempat untuk berbagi hal-hal menyenangkan dan indah, tentu saja itu yang akan kalian liat. 

Saya pernah membaca penelitian juga soal ini, penelitian Facebook. Setengah partisipan bermain Facebook seperti biasa selama seminggu, sedangkan setengahnya lagi tidak bermain sama sekali. Hasil penelitiannya di akhir minggu menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak bermain Facebook selama seminggu memiliki tingkat kepuasan hidup yang tinggi dan angka kesedihan yang rendah. Sedangkan untuk setengah partisipan yang bermain Facebook,55%, lebih dari setengahnya menunjukkan lebih mudah stress. Ingat selalu teman-teman, socmed rarely represent reality. Bahkan foto jelek pakai kamera jadulpun bisa menjadi indah dengan filter yang tersedia. Andaikan ada filter di kehidupan nyata ya. 

10. Neglecting to Set Goals (Mengabaikan Tujuan Hidup)

Tuhan ngasih kita harapan dan kemampuan untuk mengejar masa depan yang lebih baik. Tanpa tujuan, tanpa cita-cita, kita gak akan belajar, kita gak akan bergerak maju. Hanya diam, terseok-seok sambil bertanya-tanya tentang nasib yang gak juga berubah. Saya bersyukur karena gak pernah mendapatkan dialog semacam "liat tuh si Santi anak Bu RT udah jadi apa", tapi justru intimidasi datang dari mereka sendiri. Ibu dan Bapak yang ambisius bahkan di usia mereka yang sudah tidak lagi muda, kakak yang penuh dengan prestasi, dan adik yang diam-diam udah punya banyak karya. Rasanya, kalau saya hanya leyeh-leyeh, belanja minta uang ke suami, kok ya kayak bukan anak Bu Rini dan Pak Pram, gitu loh.

Meskipun kamu sama seperti saya, seorang ibu rumah tangga tak berpenghasilan banyak, coba lakukan hal-hal yang menjadi minatmu selama ini. Banyak sekali role model di luar sana yang sibuknya luar biasa, menjadi IRT atau wanita karir sekaligus dagang, jadi dosen, mana anaknya gak cuma satu lagi. Jadi kalau bilang, impian terhambat karena punya anak, itu mungkin ada managemen waktu yang perlu dibenahi. Ibu-ibu itu luar biasa hebat kok, saya yakin pasti bisa. Kebetulan, saya kemarin nonton film Netflix yang berjudul "Look Both Ways", kita akan memahami kalau impian selalu bisa diraih, dengan atau tanpa anak, meskipun situasi dan timelinenya akan terasa berbeda.

11. Giving in To Fear ( Mudah Takut)

Ketakutan hanyalah imajinasi saja. Rasa takut adalah pilihan. Apa yang kita takutkan, belum tentu terjadi. Orang-orang yang bahagia, mereka paham soal itu. Mereka ketagihan akan euforia perasaan saat berhasil menaklukan rasa takut. Ada kutipan tentang rasa takut, yang saya suka,


"What's the worst thing that can happen to you?
Will it kill you?
Yet, death isn't the worst thing that can happen to you.
The worst thing that can happen to you is..

Allowing yourself to die inside, while you're still alive"

12. Leaving The Present (Mengabaikan Masa Sekarang)

"No amount of guilty can change the past
No amount of anxiety can change the future"
Maka dari itu, untuk bahagia, fokuslah pada apa yang terjadi saat ini. Menerima apa yang telah terjadi di masa lalu dan menerima ketidakpastian akan masa depan, gak perlu mengharapkan sesuatu yang gak penting pada diri sendiri.

"Worrying is like paying a debt you don't owe", katanya. Bener juga ya?

Ada dua belas poin, beberapa poin belum saya tinggalkan, pantas aja selalu merasa ada yang kurang. Tak apa, hidup adalah ruang untuk belajar, selama masih hidup, selama itu jugalah kita belajar. 

Continue reading Ingin Lebih Bahagia? Tinggalkan 12 Kebiasaan Ini!

Friday, 7 October 2022

, ,

REVIEW BUKU : Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura - Rusdi Mathari

Menjadi Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Sejak awal saya melihat judul buku ini, rasa penasaran langsung muncul. Ini buku apa sih? Kisah Sufi dari Madura, katanya. Belum lagi, covernya yang bergambar seorang laki-laki yang wajahnya ketutupan peci, seperti ada pesan di baliknya. Maka, tanpa pikir panjang, buku ini masuk dalam daftar belanjaan saya bulan lalu.

Pada akhirnya, setelah beberapa minggu berkutat dengan buku ini, saya menutup halaman terakhir dengan senyum dan sedikit perasaan yang gak nyaman, karena merasa tersindir dengan semua yang ada di dalamnya. Pengalaman membaca buku kali ini akhirnya ingin saya tuangkan di sini, selain untuk pengingat bagi saya, saya juga ingin membagikannya pada teman-teman di sini, karena banyak juga yang meminta reviewnya pada saat saya upload buku ini di story Instagram. 

Review Sinopsis Buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

Buku ini mulanya adalah tulisan berseri selama dua tahun di situs web Mojok.co. Sejak kali pertama tayang, kisah sufi dari Madura bernama Cak Dlahom ini segera digemari. Dibaca lebih dari setengah juta pemirsa Mojok.co. Serial Cak Dlahom ini mengisahkan kejadian sehari-hari di sebuah desa di Madura. Sentra kisah ialah Dlahom, duda tua yang hidup sendiri di sebuah gubuk dekat kandang kambing milik Pak Lurah. Tingkah lakunya memang berbeda dari orang-orang di kampung Ndusel.  Berteriak-teriak, lari mondar-mandir, cekikikan sendiri, bercengkrama dengan benda mati, nangkring di kuburan. Orang-orang maklum. Anak-anak menertawakannya. Mereka semua menganggap Cak Dlahom sedang kumat dan tak memedulikannya. Hanya beberapa orang yang menganggap Cak Dlahom istimewa, di antaranya Mat Piti dan anaknya, Romlah. Mereka selalu menganggap bahwa di balik kelakuan Cak Dlahom itu, pasti ada sesuatu yang mengusiknya. 

Dalam buku ini, ada 30 cerita, 30 perenungan dan pelajaran yang pada awalnya adalah keresahan-keresahan yang dirasakan oleh Cak Dlahom. Misalnya bab yang bercerita tentang istri Bunali dan Sarkum, anaknya. Istri Bunali bekerja sebagai pembantu di rumah Pak Lurah, orang terkaya di kampung itu, yang melakukan umroh sesering ia pulang kampung. Suatu hari, seisi kampung digegerkan dengan berita bahwa istri Bunali meninggal gantung diri di rumahnya. Istri Bunali sudah lama menjanda. Upah pembantu di kampung tidak cukup untuk menutup kebutuhan hidupnya dan anaknya. Sarkum pun sudah 2 tahun tidak bersekolah karena ibunya tak sanggup mebiayai. Karena hutangnya di warung menumpuk, ibu-ibu di kampung sering membicarakannya. Mereka kemudian tahu, istri Bunali sakit-sakitan, tapi omongan tentang istri Bunali tak berhenti. Berhari-hari sampai berbulan-bulan, tak seorangpun dari mereka menjenguk istri Bunali ataupun mencari tahu keadaannya, hingga akhirnya janda itu ditemukan mati gantung diri di kusen pintu rumahnya. Sarkum yatim piatu.

Selepas kejadian itu, Cak Dlahom merintih terus menerus berkata, "Ampuni aku, ya Allah... ampuni orang-orang itu..", begitu terus hingga keesokannya orang-orang melihat ia menggotong karung ke halaman masjid, menumpahkan isinya, pergi lagi, lalu datang kembali menggendong karung, menumpahkan isinya, kemudian pergi lagi. Begitu seterusnya. Orang-orang mulai berdatangan dan melihat aksi janggal Cak Dlahom yang ternyata menumpahkan tanah dari kuburan istri Bunali. Pak RT mencoba menegur Cak Dlahom, bertanya apa maksudnya. Dan ini adalah sepenggal dialog antara Pak RT dan Cak Dlahom,         


"Cak, itu tanah kuburan untuk apa dibawa kemari?"

"Tidakkah masjid ini butuh sumbangan untuk diperluas, Pak RT?"

"Iya, tapi tidak butuh tanah, Cak..."

"Jadi butuhnya apa? Sumbangan uang? Sumbangan semen? Sumbangan besi? Kayu?.... Tanah ini dari kuburan janda Bunali. Dia menitip pesan agar tanah kuburnya disumbangkan ke masjid agar masjid ini bisa megah. Lalu apakah kita akan menolaknya?"

"Bukan begitu, Cak. Kami tak butuh tanah. Apalagi tanah makam. Untuk apa?"

"Agar masjid ini bisa diperluas, Pak RT. Agar kita bisa bangga punya masjid besar dan megah."

"Masjid kita sudah jelek, Cak. Perlu direnovasi..."

"Betul, Pak RT. Merenovasi masjid kini menjadi lebih penting ketimbang memperbaiki dan memperbagus kelakuan. Umat sekarang diajak lebih tergantung pada masjid ketimbang masjid yang tergantung pada umat. Diajak aktif membangun masjid, tapi membiarkan orang-orang seperti istri Bunali terus tak berdaya lalu mati. Diajak rela menyodorkan sumbangan ke mana-mana untuk membangun masjid, tapi membiarkan Sarkum anak Bunali tidak bersekolah dan kelaparan. Kita bahkan tidak menjenguknya. Tidak pernah tahu keadaan mereka. Lalu apa sesungguhnya arti masjid ini bagi kita? Apa arti kita bagi masjid ini?"

Mata Cak Dlahom menatap tajam orang-orang yang mengerubunginya. Semuanya menunduk, termasuk Park RT. Pak RT mewakili orang-orang kampung meminta maaf pada Cak Dlahom karena sudah abai. Lalu Cak Dlahom menjawab,

"Sampean tidak salah, Pak RT. Kita semua yang abai. Kita semua yang abai. Kita semua yang salah. Kita lebih sibuk datang ke masjid ketimbang sibuk mengunjungi orang-orang miskin seperti istri Bunali. Kita rajin berdoa di masjid, lalu merasa bertemu dengan Allah. Padahal ketika Allah kelaparan, kita tidak pernah memberi makan. Allah sakit, kita tidak menjenguk...",

"Hati-hati bicara, Cak." Dullah menciba menegur Cak Dlahom. Dia merasa Cak Dlahom sudah kelewatan, tapi yang ditegur malah bertambah ngoceh.

"Kenap, Dul? Apa kamu sudah lupa kitab-kitab yang diajarkan di pesantren? Apa kamu kira aku akan mengatakan Allah yang sakit? Allah yang lapar? Kamu sebetulnya tahu yang aku maksud bukan itu, tapi Allah yang selalu berada di sisi orang-orang yang sakit, berada di dekat orang-orang yang miskin. selalu menemani orang-orang yang kalah dan dikalahkan. Tapi kita? Kita terus membangun masjid. Terus berdoa di masjid. Terus mengurus diri sendiri, dan tidak segera menjumpai Allah pada orang-orang itu. Kenapa, Dul?"

Semua terdiam.

"Ampuni aku ya Allah, ampuni orang-orang ini..."

Cak Dlahom sesenggukan. Orang-orang keheranan. Baru kali itu mereka melihat Cak Dlahom menangis.

Dalam keseharianya, celotehan Cak Dlahom seringkali tak diindahkan orang-orang, dianggap celoteh orang tak waras. Namun sebetulnya, apa yang Dlahom lakukan adalah berkomentar mengenai subtansi ibadah, yang membuat para tetangganya merenungkan ulang pemahaman mereka atas agama Islam. Nama Dlahom sendiri diambil dari diksi Jawa Timur yang kira-kira artinya "agak bodoh". Kata bodoh mungkin bisa menjadi kunci atas refleksi Cak Dlahom sendiri mengenai pengetahuan manusia atas agama dan Tuhan.  

Bab per babnya punya cerita yang berbeda namun inti yang sama, yaitu satir terhadap kehidupan beragama kebanyakan masyarakat kita. Ini ngeri sih, menyadari kembali bahwa buku bisa sangat efektif masuk ke dalam kepala dan juga hati. Kalau boleh digambarkan, membuka halaman pertama buku ini seperti menyerahkan laporan skripsi pada pembimbing, membacanya seperti dicecar oleh pertanyaan mematikan para penguji, dan menutup halaman terakhir buku ini seperti melihat kembali skripsi saya dengan banyak coretan dan revisi yang harus dikerjakan. I need Cak Dlahom in my life. We all need him.

Continue reading REVIEW BUKU : Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura - Rusdi Mathari

Wednesday, 6 July 2022

, , , ,

Jalan-Jalan Bawa Bocil ke Tahura

Jadi orang tua emang harus mikir terus, salah satunya ya ini, mikirin aktivitas apalagi yang mau dikasih ke anak, supaya anak gak bosan di rumah terus. Main di playground udah keseringan, kali ini saya ingin mengajak si non ke tempat yang dekat dengan alam. Selain untuk anak, saya juga merasa butuh refreshing menghirup udara segar. Jadilah, kami (saya dan suami) memutuskan untuk pergi ke Tahura (Taman Hutan Raya) yang beralamat di Ir. H. Djuanda. Banyak destinasi yang menarik di Tahura, namun yang jadi incaran kami adalah penangkaran rusanya. Alasannya ya sederhana, karena si non super excited kalau udah lihat binatang.

Kami berangkat dari rumah pada pukul 06.30, tadinya mau lebih pagi lagi, supaya dapat udara yang super fresh dan menghindari kerumunan orang. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, karena gak macet juga. Selama di perjalanan, saya nyuapin sarapan si non dan suami, supaya sesampainya di sana, tenaga kita sudah full dan siap untuk jalan jauh. Sesampainya di sana, sudah banyak gerombolan orang, ada pasangan-pasangan yang mungkin mau olahraga bareng dan banyak rombongan ibu bapak yang berkumpul di area parkir, sepertinya menunggu rekannya yang lain.

Tiket masuknya hanya 10.000 saja, si non belum dihitung jadi saya cukup membayar 20.000 dan untuk tiket mobil sebesar 12.000. Saya sempat tanya soal tempat penangkaran rusa, Bapak penjual tiketnya bilang kalau lokasinya bisa ditempuh sekitar 30 menit. Wah, kalau 30 menit doang mah dekat lah. Cincay.

Tapi begitu saya lihat peta yang dipajang, kok agak beda ya. Untuk sampai ke penangkanan rusa, harus melewati goa jepang, goa belanda, dan dari situ pun masih harus menempuh sekitar 1 kiloan lagi. Tapi, karena pagi-pagi masih semangat dan optimis, hajar aja lah! Saya gak bawa tas, suami bawa ransel yang isinyapun hanya air minum dan baju ganti si non, jadi gak ada beban untuk jalan jauh. Jalan di Tahura terasa sangat menyenangkan pagi itu, udaranya sangat segar, dan waktu itu juga belum ramai. Bahkan dalam jangkauan 100 meter pun saya gak lihat ada orang lain. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Ada deretan warung-warung sepanjang jalan, jadi sebetulnya gak perlu khawatir kalau lelah, lapar, atau haus di perjalanan, banyak tempat untuk istirahat. Kami melewati Goa Jepang dan melanjutkan perjalanan, gak tertarik buat masuk karena saya parnoan kalau bawa anak. Kebanyakan nonton setan-setanan bikin parno gak masuk akal emang. Kami juga melewati tebing yang sering dipakai orang untuk foto-foto, dan di sana jugalah kami melihat banyak monyet-monyet imut yang bergelantungan di pohon. Wah, itu adalah pemandangan yang menyenangkan buat si non. Dia seneng banget liat monyet sementara saya degdegan karena sepengetahuan saya, mereka-mereka ini usil dan suka ambil barang bawaan kita. Tapi, untungnya aman-aman aja.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Setelah itu, lanjut lagi. Kami jalan pelan ketika melewati sebuah bangunan yang unik dengan bendera Belanda terbentang di depannya. Aneka mainan anak terpajang di atas meja depan cafe tersebut, lalu juga ada buku menunya. Holland Spot, namanya. Wah, lucu. Tapi, karena saya masih fokus ke tujuan awal, yaitu penangkaran rusa, saya tetap jalan meninggalkan cafe bernama Holland Spot itu.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Setelah melewati Goa Belanda, saya udah mulai sedikit ngos-ngosan, karena gak cuma jalan, kadang saya dan si non berlarian kejar-kejaran yang lumayan menguras energi. Akhirnya, kami istirahat dulu di warung sambil menikmati kelapa muda dan jagung bakar. Harga kelapa muda nya 15ribu sedangkan jagung bakarnya 20ribu. Mahal, tapi ya namanya juga tempat wisata. Lucunya, waktu saya sedang menikmati kelapa muda dan menyimpan jagung bakarnya di meja, seekor monyet besar lompat ke meja, mengambil jagung, dan pergi melompat ke pohon. Kaget sih iya, tapi gak kesel soalnya si non jadi bisa liat adegan yang langka itu.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Matahari udah mulai naik, udah mulai hangat, kami langsung bergegas. Tadinya, kami mau melanjutkan perjalanan, karena sudah berkali-kali si non bilang ingin lihat rusa. Tapi, begitu saya lihat petunjuk arah yang menunjukkan kalau lokasi yang kami tuju masih berjarak 1,5 km lagi, saya jadi ragu mau lanjut atau tidak. Perjalanan kami selama dan sejauh tadi ternyata belum sampai setengah perjalanannya. Saya tanya si non, dia bilang tetap mau lanjut, bilang gak capek. Tapi, dia kan gak tau 1,5 km itu sejauh apa, saya langsung mengurungkan niat dan bilang sama suami untuk putar balik aja. Lihat rusanya nanti aja di kebun binatang atau di Ciwidey. Haha.

Gak jauh dari kita putar balik, kami melwati tempat tadi, Holland Spot. Karena penasaran, akhirnya kami mampir dan memesan cemilan sambil melihat-lihat mainan yang berjejeran di atas meja. Ternyata mainan itu boleh dipinjam selama kita makan di sana, si non senang sekali, dia bolak balik pilih mainan yang ia sukai. Kakak-kakak pelayannya super ramah dan baik sekali. Kalau kita pesan pancake, kita boleh melihat prosesnya atau bahkan boleh masak sendiri. Si non ditawari, tapi tentu saja dia gak mau haha. Cuma, dengan menonton kakaknya memasak pancake dan menghias toppingnya saja, dia sudah terhibur. Saya pikir,cafe-cafe di tempat wisata begini cuma menonjol di harga aja, untuk rasa nomor sekian. Ternyata saya salah, bala-balanya harganya 25ribu tapi isinya 8 dan ukurannya besar-besar, dan yang terpenting rasanya enak! Ya bala-bala rumahan lah, dilengkapi dengan cengek dan saus kacang. Pancakenya seharga 35ribu, dapat 6 depan ukuran mini, teksturnya lembut, toppingnya banyak, dan rasanya enak. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Karena tempatnya enak, saya lumayan lama berdiam di sana. Apalagi di dalamnya juga ada perpustakaan kecil. Si non meminjam majalah Bobo, lalu kemudian Kakak pelayan yang melihat langsung menghampiri kami dan meminjamkan si non crayon untuk mewarnai. Baik banget! Makin anteng aja si non di sana, sampai sulit diajak pulang. Tapi, karena hari sudah semakin siang, dan saya mulai mengantuk karena angin sepoi-sepoi, kami memutuskan untuk pulang. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Meskipun gak jadi lihat rusa, tapi banyak hal lain yang jadi pengalaman buat si non, contohnya berjalan di jembatan, melihat monyet mengambil jagung, melihat binatang lain sepanjang perjalanan seperti cacing, laba-laba, juga kucing-kucing yang berkeliaran di sana, serta bunga-bunga cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Yang terpenting, ia tau kalau alam semesta ini luas dan indah sekali, dan semuanya ini ada pemiliknya, Yang Maha Segalanya. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung
Continue reading Jalan-Jalan Bawa Bocil ke Tahura

Tuesday, 5 July 2022

, , , , ,

Nyobain Lash Lift di Rumah dengan Natulash, Gak Kecewa!

Saya ingat betul deh, waktu saya kecil, bulu mata tuh panjang dan lentik, kayak boneka. Makin gede, kok makin gak keliatan, entah rontok atau emang muka saya yang ngegedein sehingga si bulu mata jadi terkesan menciut. Rasanya ingin punya bulu mata yang lentik dan panjang lagi, seperti dulu. Mata terlihat lebih bulat dan cantik. Sebenarnya memang ada beberapa solusi untuk permasalahan bulu mata yang kurang bergairah ini. Solusi pertama, jelas maskara. Frankly I'm not a big fan of it. Dari mulai pengaplikasiannya, hasil, dan pembersihannya, gak saya suka. Karena saya jarang ngaplikasiin maskara, jadi tragedi maskara nyolok mata tuh dah pasti terjadi tiap saya pakai maskara, dah gitu, saya gak terlalu suka pakai maskara karena ketika saya pakai kacamata, si bulu mata terlalu panjang dan jadi menggores lensa kaca mata saya (kebayang kan?). Yang terlahir, pembersihannya yang butuh effort luar biasa. Belum lagi, kalau ngebersihinnya gak bener, mata langsung mendadak jadi kayak Susana. Makanya, saya jarang banget beli maskara kecuali kalau emang lagi diskon gede-gedean aja.

Solusi yang kedua adalah dengan bulu mata palsu. Saya inginnya punya bulu mata yang lentik dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Gak mungkin rasanya kan ya kalau pakai bulu mata palsu, saya sedang gak ingin nambah keribetan dalam hidup. Lalu, solusi lainnya adalah extension bulu mata, yang jelas gak akan dibolehin sama suami. Lagian, saya juga ga tertarik karena sepertinya terlihat kotor dan kurang natural, apalagi ketika bulu matanya dah mulai rontok-rontok, jadi carang-carang gitu, jelek. Nah, yang terakhir adalah yang udah lumayan lama saya pengenin, tapi gak pernah sempat, yaitu lash lift. Lash lift sendiri adalah prosedur semi permanen yang membuat tampilan bulu mata terkesan lebih penuh, panjang, dan lentik. Tren lash lift ini juga udah dari tahun tahun kemarin, tapi waktu itu saya agak males kalau harus ke salon dan ninggalin anak di rumah. Tapi, baru banget sebulanan yang lalu, saya baru tau dari sepupu kalau ternyata lash lift itu bisa dilakuin sendiri di rumah dan harganya pun supeerr dupeeer murah!


Ada banyak brand yang mengeluarkan produk lash lift ini. Yang saya pakai di sini adalah rekomendasi sepupu saya, nama produknya adalah Natulash. 1 kit ini harganya gak mahal, cuma 119.000, itupun bisa dipakai berkali-kali. Hemat banget jika dibandingkan dengan lash lift di salon, bisa 100 sampai 200ribu untuk sekali treatment.

Dalam 1 kit ini terdapat 2 bantalan silikon, 1 lem bulu mata, lash bud, perm lotion, setting lotion, nourish oil, dan lash bud. Petunjuk penggunaannya dituliskan pada kemasannya, tapi sayang punya saya hilang, jadi kurang lebih urutannya seperti ini.


Cara pengaplikasiannya menurut saya sangat mudah, jika sudah melewati tahap awal, yaitu menempelkan bulu mata ke silikonnya. Saya gak ngitung deh berapa kali istigfar karena bolak balik harus menahan bulu mata untuk tetap menempel, susah bangeeeeetttt. Sampai akhir pengaplikasianpun saya masih harus menahan-nahan bulu mata supaya tetap menempel. Dan karena udah terlanjur capek dan gak sabar, saya biarkan saja seadanya, dan ternyata hasilnya... menyedihkan banget, gak signifikan.


Karena gemas dan penasaran, akhirnya seminggu yang lalu saya coba lagi. Kali ini, saya lebih sabar dan telaten. Gak akan lanjut ke step berikutnya kalau bulu mata saya belum menempel sempurna. Dan saya juga betul-betul memberikan waktu tiap selesai mengaplikasian lotion, gak terburu-buru maju ke step  berikutnya. Dan hasilnya? Kalian bisa lihat hasilnya di gambar yang saya sematkan ya.


Kelihatannya sih oke ya, tapi kalau dilihat lebih detail, saya mikir ini kayaknya terlalu tegak banget. Karena bulu mata saya panjang, jadi bulunya sampai nyentuk kelopak mata saya, agak kaget juga sih. Mungkin ada sedikit kesalahan peletakan bantalan silikon, sehingga hasilnya bukan seperti lentik, tapi lebih seperti bulu mata yang direbonding ke atas. Tapi, gak masalah, tetap oke sih. Apalagi, kata sepupu saya, dari waktu ke waktu bulu matanyajuga akan turun kembali, nanti juga akan lentik secara alami. 


Menurut saya, produk ini layak banget dicoba untuk kalian yang menginginkan bulu mata lentik tanpa harus pakai penjepit. Hasilnya sih gak seperti pakai maskara, kecuali kalau bulu matamu tebal dan panjang.Harganya cuma 119.000, itupun bisa dipakai sampai 4 atau 5x buat saya, jadi irit banget. Tiap pemakaian bisa tahan hingga sebulan sampai 2 bulan Tipsnya supaya dapat hasil yang oke cuma satu sih, sabar, sabar, dan sabar! Jadi anggap aja ini treatment untuk menguji kesabaran juga. Selamat mencoba dan lemme know ya hasilnya!
Continue reading Nyobain Lash Lift di Rumah dengan Natulash, Gak Kecewa!