Wednesday, 14 November 2018

, , ,

Explore Lampung: Berburu Foto Unik di Lampung Walk 3D

Minggu kemarin seharusnya adalah jadwal saya pulang ke Bandung. Tapi ternyata di hari yang sama, suami dapat jadwal pelatihan di kantor Bandar Lampung. Mau gak mau, rencana ke Bandung batal dan diganti dengan liburan di Tanjung Karang. Awalnya, kami memang gak merencanakan apa-apa. Staycation atau sekedar jalan-jalan di mall juga udah jadi hiburan. Tapi, karena sayang waktu, akhirnya kami googling tempat-tempat yang lagi ngehits, dan akhirnya saya nemu instagram Lampung Walk. Lampung Walk ini arena hiburan yang terletak di Jl. Urip Sumoharjo No. 61 Way Halim. Di dalamnya tersedia kolam renang, lapangan olahraga, foodcourt, dan yang terakhir yaitu yang saya tuju, area 3D nya.


Kalau di kota-kota besar lainnya, mungkin sudah banyak tempat dengan konsep seperti ini, tempat yang memang ditujukan untuk orang-orang yang hobi moto, atau difoto. Walaupun saya sedikit banci foto, tapi ini pertama kalinya saya datang ke tempat beginian.


Tiket masuk Lampung Walk 3D adalah 30.000, sedangkan untuk hari Sabtu Minggu 40.000. Untuk anak di bawah 1 tahun dan lansia di atas 65 tahun, free entry! Setelah bayar, kita diminta untuk melepas sepatu dan menyimpan minuman apapun, mungkin takut tumpah dan ngotorin spot-spotnya?

Ruangan 3D yang gak terlalu besar ini, dibikin padat dan full oleh background gambar-gambar 3d tentunya. Sangat terlihat kalau tim 3D Lampung Walk ini memanfaatkan ruangannya dengan optimal, sama sekali gak membiarkan dinding kosong tanpa background. Bagus sih, tapi minusnya, kalau pengunjungnya banyak, bakal numpuk-numpuk saking minim space kosongnya. Tapi mungkin juga, tata ruangnya dibikin seperti itu karena pengunjungnya memang gak pernah penuh. Kenapa saya bisa bilang gitu? Karena pada saat saya kesana, areanya sepi, gak nyampai 15 orang rasanya. Padahal saya datang di Hari Minggu. 

Ada puluhan background di lorong-lorong area, dan beberapa ruangan terpisah yang didesign khusus dengan tema-tema tertentu. Menurut saya, ruangan-ruangan ini yang punya daya tarik si Lampung walk ini. Ada dunia awan, dunia bola, lalu ada 3 ruangan lagi dengan lampu-lampu, kristal, dan cermin di dalamnya.

Ini beberapa foto yang saya dapat :

Dunia Awan Lampung Walk 3D
Dunia Bola Lampung Walk 3d
Ruangan Lampu 1 Lampung Walk 3D
Ruangan Lampu 2 Lampung Walk 3D
Ruangan Lampu 3 Lampung Walk 3D
Orang-orang bilang foto saya di sini bagus, padahal sebenarnya yang bagus itu backgroundnya. Coba aja kamu foto kulkas di sini, saya yakin hasilnya juga bakal tetap kece.

Dari pengalaman saya kemarin, saya rasa saya perlu share beberapa tips buat kalian yang berminat datang ke tempat-tempat seperti ini, yaitu:

1. Pastikan baterai kamera / HP terisi penuh
Kemarin saya bawa kamera dan HP, dan dua-duanya kepakai. Ada beberapa spot yang lebih bagus diambil memakai kamera, tapi ada juga yang lebih bagus memakai handphone. Makanya saya agak bete waktu HP lowbat.

2. Jangan datang sendirian
Kalau datang sendiri, mesti selfie dong? Gak seru banget. Minimal ajak seorang teman kamu, tapi ajak yang suka moto atau difoto. Kan bete juga kalau udah sampai sana tapi fotonya cuma sedikit. Kemarin saya difotoin suami. Foto saya numpuk di kamera, sedangkan foto dia cuma secuil nyempil-nyempil di antara foto saya. Tapi toh dia sendiri yang seneng moto, saya seneng difoto. Simbiosis mutalisme toh?

3. Enjoy!
Waktu masuk di ruangan, sangat mungkin ada orang lain yang nyempil, atau ngeliatin kita di foto. Cuek-cuek aja. Awal-awal saya dan suami ketawa-ketawa sendiri karena malu diliatin mulu sama orang-orang. Tapi lama-lama jadi bodo amat. Tujuan saya ke sini kan emang mau foto-foto, tempat inipun memang untuk foto-foto, lah ngapain malu-malu segala yak. Kecuali kalau saya datang ke sini dan malah botram gelar tikar.

Buat saya, datang ke Lampung Walk 3D ini menyenangkan, nambahin stok foto buat saya upload di social media, ataupun buat dicetak buat kenang-kenangan. Kalau misalnya mereka punya rencana untuk rombak dan bikin spot baru, mungkin kapan-kapan saya bakal datang lagi. Kalau kalian gimana? Tertarik buat main-main ke sini?
Continue reading Explore Lampung: Berburu Foto Unik di Lampung Walk 3D

Friday, 9 November 2018

, , , ,

Baru Menikah dan Sulit Adaptasi? 5 Aplikasi Smartphone ini Dapat Membantumu Lho!

Buat saya, menikah adalah kehidupan baru yang juga merupakan sebuah tantangan. Ibarat karyawan baru yang gak dikasih training, atau karyawan OJT tanpa mentor, saya masih suka linglung di bulan-bulan awal tinggal bareng suami. Semuanya serba insting aja, tebak-tebak berhadiah. Masak, ya coba-coba aja semua bahan masakan. Ngitung keuangan, ala kadarnya aja, kalau ingat. Kalau saya atau suami gak enak badan, yaaa tinggal istirahat saja, mungkin kecapekan.

Tapi semuanya menjadi serba mudah ketika saya menemukan aplikasi-aplikasi keren ini, yang membuat saya menjadi IRT yang lebih profesional dikit lah. Tentu saja, ini di luar aplikasi social media. Walaupun orang bilang social media itu toxic, saya tetap butuh informasi dan ide ide kreatif yang sering nongol di youtube, instagram, dan twitter.

5 aplikasi di bawah ini sangat cocok digunakan bagi kamu kamu yang sedang menyesuaikan diri dengan kehidupan pernikahan, terutama bagi istri-istri baru, biar suami makin sayang~


1. Cookpad

Teman saya bilang, ada 2 hal yang bikin suami betah di rumah yaitu "hot bed" dan "hot meals", katanya. Saya langsung setuju. Kata hot di sini gak secara harfiah ya, moso yo saya harus bakar ranjang biar panas. Poin pertama tentu gak akan saya bahas karena blog saya gak memuat konten dewasa, yang jelas saya setuju.  Yang kedua, "hot" di sini bukan berarti segala masakan yang panas, karena pare yang disajikan panas-panas pun, suami saya gak suka. Intinya adalah makanan yang sedaaapp~

Awal-awal saya masak, saya hanya mengandalkan resep ibu, karena selama ini masakan Ibu adalah yang tercocok di lidah saya. Kadang nyontek ke google, tapi kalau mau recook kadang lupa pakai resep yang mana. Dicatat malas, di screenshot pasti bakal tenggelam dengan sampah screenshot lain. Akhirnya saya menemukan aplikasi yang memudahkan saya untuk belajar masak, Cookpad!



Fiturnya sederhana tapi sangat membantu. Kita bisa lihat segala macam masakan orang lain, dari mulai masakan rumahan, sampai masakan profesional yang bahkan saya gak familiar sama nama bahan-bahannya. Dari mulai makanan pembuka, hidangan utama, makanan penutup, kue basah, kue kering, jajanan pasar, jajanan mall, semuanya ada. 

Di Cookpad juga kita bisa menyimpan resep aneka masakan di arsip kita, siapa tau suatu saat kita punya bahan-bahannya, tinggal buka deh arsipnya. Atau kalau misalnya kita punya satu bahan, dan bingung mau dibikin apa, tinggal ketik aja bahan yang kita ingin olah, nanti akan muncul opsi-opsi masakannya. Misalnya, di atas saya ketik cumi, lalu akan ada opsi berbagai masakan dengan bahan dasar cumi. Menarik, kan? Oh, di sini juga kita bisa aktif sharing masakan yang udah kita buat, baik masakan resep sendiri, maupun masakan resep orang lain. Kalau saya sih belum berani sharing resep, belum berani buat tanggung jawab kalau ada yang langsung diare.

Awal-awal sih pusing ya, karena saya jarang banget bantu Ibu di dapur (saya nyesel sih, serius), bahkan saya harus ngendus-ngendus bau dulu buat bedain lengkuas, kencur, dan jahe, atau daun salam dan daun jeruk. Tapi semenjak download aplikasi ini, masakan saya yang biasanya hanya sebatas olahan tahu, tempe, dan telur, sekarang ada kemajuan cukup pesat ke masakan-masakan yang lebih rumit. Sekarang sih saya lagi ingin banget bikin kue-kue an, semoga berhasil juga.

2. Hitung Kalori

Masih berkaitan dengan masakan dan makanan. Suami saya senang banget makan, sedangkan saya punya masalah kesehatan yang bikin saya pilih-pilih kalau mau masukin makanan ke dalam mulut (walaupun seringkali tergoda sama Indomie goreng!).  Untuk masalah makanan, saya cenderung disiplin dan bawel, yang kadang bikin suami bete. Saya sering ngebatasin makanannya, apalagi di jam malam. Pernah suatu kali saya tanya,"Aku kalau ngambilin makanan buat kamu, porsinya kurang atau lebih?", lalu dia nyengir,"Kuraaaang!". Tapi dia bilang kaya gitu, gak bikin saya nambahin porsinya sih, paling saya kasih buah aja. Bukan pelit, tapi karena kerjaan suami saya yang sibukbukbuk, kadang bikin dia gak sempat untuk olahraga. Jadi buat saya, mengatur makanannya dengan baik itu adalah harus! Kecuali di hari jadwal ia olahraga, biasanya saya lebih fleksibel, terserah dia mau makan sebanyak apa, yang penting jangan junkfood.


Aplikasi Hitung Kalori ini sangat membantu untuk menghitung jumlah kalori di masakan ataupun makanan yang kita makan. Dulu saya buta masalah beginian. Misalnya saja, saya pikir kalori jeruk ya segitu-segitu aja. Ternyata, ada perbedaan kalori antara jeruk mandarin, jeruk bali, jeruk nipis,  atau bahkan jeruk yang sudah diolah, misalnya jus jeruk, nutrisari, jus jeruk nipis, dan masih banyak lagi. 

Aplikasi hitung kalori menyediakan informasi yang sangat lengkap. Bukan hanya bagi yang sedang diet, bukan hanya bagi ibu rumah tangga, tapi bagi semua orang yang peduli akan kesehatan, kalian mesti download aplikasi ini! Di sini kita bisa bikin diary makanan yang disesuaikan dengan BMI kita. Diary makanan ini akan membuat kita lebih aware dengan makanan-makanan yang kita makan. Jadi nanti kita tau, berapa jumlah kalori dari makanan yang kita makan seharian.

3. Catatan Keuangan

Biasanya saya nulis di buku, tapi karena saya sering kehilangan catatan-catatan saya, dan kurang praktis untuk dibawa-bawa, akhirnya saya download aplikasi ini. Penting bagi kita, terutama yang sudah berkeluarga, untuk membuat perencanaan keuangan. Saya lebih concern masalah ini karena suami. Kalau saya disiplin soal makanan, dia disiplin soal perencanaan keuangan. Segala sesuatu harus direncanakan, katanya. Awalnya saya sih iya-iya aja, sampai suatu hari dia nyuruh saya bikin cashflow bulanan dan minta dipresentasikan. Lah, gimana bisi bikin, kalau saya aja gak pernah inget belanja apa aja, berapa totalnya, dan kapan belanjanya.


Aplikasi ini sebenarnya bisa digunakan semua orang, segala usia. Fiturnya cukup lengkap, tapi saya hanya menggunakan kategori pengeluarannya aja, tentu saja karena saya tukang hambur-hamburin uang. Setiap saya mengeluarkan uang, baik belanja bulanan, belanja di tukang sayur, belanja online, ataupun untuk bayaran iuran RT, dan hal-hal yang di luar rutinitas, akan saya catat. Suatu saat saya amati, saya jadi tau berapa pengeluaran wajib saya perbulan, berapa yang harus saya tabung, dan berapa yang bisa saya pakai untuk jajan-jajan centil. Yah, anggap saja aplikasi ini sebagai pengontrol hasrat belanjamu.

4. Alodokter.com

Saya ini orang yang malas kalau harus ke rumah sakit untuk sakit-sakit ringan. Kebetulan juga saya belum nemu klinik-klinik kecil, seperti yang biasa saya datangi di Bandung kalau sakit demam, flu, batuk, dan penyakit-penyakit yang biasanya sembuh hanya dengan hibernasi dan makan minum yang banyak.

Kebanyakan orang, termasuk saya, senang self diagnose. Nyontek-nyontek ke google, dan berujung gelisah karena ada artikel yang menuliskan bahwa bisa jadi demam kamu adalah pertanda kamu terserang virus HIV, padahal ternyata kamu hanya terserang flu. Ini adalah penyakit saya, suka baca-baca artikel yang berhubungan dengan kondisi kesehatan saya, tanpa nanya langsung ke dokternya. Entah gimana ceritanya, saya paling takut ketemu dokter. Tiap dokter meriksa saya kalau lagi sakit, saya paling gak bisa merhatiin mukanya. Takut-takut mimik mukanya berubah, alisnya mengerut, seolah ngomong "Ya ampun ini orang kayaknya sakit parah deh!"

 

Alodokter menjadi penolong saya, dan membuat saya berhenti googling yang aneh-aneh. Di sini kamu bisa lihat artikel yang sudah ditulis oleh tim dokter mengenai penyakit, penyebab, dan juga cara pengobatannya. Kita juga bisa konsultasi langsung melalui fitur chat nya dengan dokter spesialis, yang bahkan dokternya bisa kita pilih sendiri! Tarifnya hanya 5.000 untuk dokter umum dan 15.000 untuk dokter spesialis. Tarif ini adalah tarif sekali konsultasi, bebas berapa pertanyaan yang kamu tanyakan. Kita juga bisa menyimak chat history pansien lain, yang mungkin punya masalah kesehatan yang sama dengan kita. Sampai saat ini saya sering baca artikel-artikelnya, tapi baru sekali menggunakan fitur chatnya. Dokternya amat sangat membantu dan gak pelit informasi. 

Oh ya, aplikasi Alodokter ini digunakan hanya untuk menambah informasi dan wawasan mengenai segala betuk penyakit, bukan untuk mengobati. Jadi kalau kamu sakit, tetap harus periksa ke dokter ya, karena terkadang kita perlu obat, dan Alodokter tentu gak menyediakan obat secara sembarangan begitu.

5. Gramedia Digital

Walaupun tinggal di rumah, bukan berarti wawasan kita hanya sebatas pekakas dapur kan. Saya butuh buku untuk lebih up to date. Tapi agak sulit rasanya menyisihkan waktu untuk pergi ke toko buku. Selain karena tinggal jauh dari kota, memilih-milih buku yang layak dibeli kadang bisa ngabisin waktu yang cukup lama bagi saya. Makanya, saya download aplikasi Gramedia Digital.


Hanya dengan 90.000, saya bisa dapat akses premium. Menariknya lagi, 1 akun bisa dipakai di 5 device. Lumayan banget kan! Walaupun saya jauh lebih suka buku fisik, jalan-jalan di gramedia digital ini layaknya windows shopping. Lihat-lihat buku baru yang bagus dan menarik. Kalau memang saya suka banget, suatu saat saya pergi ke toko buku, saya akan beli. Tapi kalau biasa-biasa aja, yaaa saya cukup baca versi digitalnya aja.

Gramedia Digital ini gak cuma menyediakan buku, tapi juga majalah. Fiturnya mudah digunakan, genrenya juga lengkap. Di sini kamu bisa download buku-buku yang kamu suka, tapi hanya bisa dibaca melalui aplikasi ini. 

That's a wrap! Itu adalah 5 aplikasi yang membantu kehidupan rumahan saya. Tertarik coba?


Continue reading Baru Menikah dan Sulit Adaptasi? 5 Aplikasi Smartphone ini Dapat Membantumu Lho!

Friday, 2 November 2018

,

Beauty Tips: Merawat Bibir dengan Madu

Sudah bukan rahasia lagi, kalau madu menjadi salah satu bahan favorit di dunia kecantikan. Kenapa sih madu? Ya tentu saja karena madu memiliki banyak kandungan yang penuh manfaat. Walaupun sebagian besar kandungannya gula, ada beberapa senyawa antioksidan yang terkandung di dalamnya, termasuk chrysin, pinobanksin, vitamin C, katalase, dan pinocembrin.

Hampir semua industri kecantikan memiliki minimal 1 produk yang menggunakan madu sebagai bahan dasarnya. Sabun, scrub, masker, lotion, you name it. Banyak juga orang yang menggunakannya secara alami, terutama menggunakannya sebagai masker wajah. Dulu waktu saya masih SMP, masker madu ini sangat membantu melembapkan kulit. Tapi semakin lama, kulit saya kayaknya malah makin sensitif dengan bahan-bahan alami. Sekalinya pakai masker madu, kulit wajah saya jadi gatal-gatal. Tapi, sampai saat ini, saya tetap mengandalkannya sebagai perawatan bibir.

Bibir adalah bagian wajah yang paling jarang saya rawat. Saya gak punya produk lip care selain vaseline lip therapy. Walaupun saya bukan perokok, saya punya garis hitam di bibir yang kadang ganggu kalau sedang pakai produk lippen warna-warna nude. Kecintaan saya sama lip cream juga bikin bibir saya cepat kering. Kalau bibir udah kering gitu, saya jadi gak tega pakai lip cream, malah bikin tambah kering.

Menggunakan madu sebagai perawatan bibir memang bukan hal baru. Sudah ratusan artikel yang menuliskan bahwa madu dapat digunakan untuk melembapkan dan mencerahkan bibir. Saya sebenarnya masih percaya gak percaya, jadi agak males juga buat nyoba. Tapi akhir-akhir ini, karena banyak menghabiskan waktu di rumah, jadi saya punya kesempatan untuk membuktikannya. Dan ternyata, emang iya!

Ada 2 tips yang saya share di sini, dalam memanfaatkan madu untuk merawat bibir. Pertama adalah sebagai scrub, yang kedua sebagai lipbalm.

1. Madu Sebagai Lip Scrub

Untuk digunakan sebagai scrub, tentu kamu gak bisa hanya menggunakan madu. Kamu butuh bahan lain yang teksturnya kasar. Ada yang menggunakan gula pasir, kopi, ataupun gula palm. Di sini saya menggunakan gula palm. Entah kenapa saya rasa teksturnya lebih enak digunakan sebagai scrub, dibanding gula pasir.


Cara Penggunaan: 2 bahan ini tinggal dicampur, dan diaplikasikan ke bibir. Discrub selama kurang lebih 2 menit dan didiamkan selama 3 menit. Setelahnya langsung dibilas air.

  

Seketika bibir terasa lebih halus dan plumpy. Oh ya, terasa lebih pink juga. Katanya, kalau digunakan secara rutin, tips ini juga dapat membuat bibir menjadi pink alami. Jadi cocok banget buat kamu yang punya garis hitam di bibir, atau yang sering pakai lip cream.


Foto ini diambil setelah saya melakukan scrub bibir. Foto atas terlihat lebih kering karena memang produknya super kering. Biasanya malah lebih parah dari ini. Tapi seenggaknya, lip cream ini lumayan mampu menutupi garis hitam bibir walaupun hanya dengan 1 layer.

2. Madu Sebagai Lipbalm

Tips kedua ini pernah saya share di instastory. Karena saya orangnya mageran, saya males banget kalau harus sering oles-oles madu ke bibir pakai jari, lengket. Jadi saya masukkan madu ke dalam botol parfum bersih yang belum pernah dipakai, yang bentuknya roll on seperti ini, sehingga pengaplikasian madu menjadi lebih mudah.



Dengan ukuran sekecil ini dan bentuknya yang praktis, saya selalu bawa ini kemana-mana. Begitu juga di rumah. Kalau saya lagi nonton atau lagi nulis kayak sekarang, sesekali saya pakai ini. Lama-lama kayak jadi kebiasaan. Sekarang bibir saya jadi lebih bersahabat kalau pakai lip cream

Ada yang pernah coba juga? Atau kamu punya tips memanfaatkan madu yang lain? Share dong!
Continue reading Beauty Tips: Merawat Bibir dengan Madu

Thursday, 1 November 2018

, , , , ,

REVIEW: Make Over Camouflage Cream Face Concealer, Sepenting Apa Sih?

Setelah cukup lama gak bahas tentang kecantikan, kangen juga. Maklum, kemarin bulan kemarin saya banyak ngeberesin tulisan-tulisan yang ngegantung di draft. Sampai sekarangpun masih banyak tumpukan draft yang menunggu untuk diberesin. Se yo, siji-siji.

Tadinya saya mau review lipstick, tapi entah kenapa saya lagi ingin banget ngebahas tentang corrector pallete nya Make Over. Beberapa orang udah tau kalau Make Over ini adalah brand lokal terfavorit saya untuk kategori make up. Alasannya? Dari mulai kemasan, kualitas, dan harganya, semua cocok di kantong saya. Saya yakin banyak orang yang berpendapat sama.


Balik lagi ke produk yang akan saya review, Camouflage Cream Face Concealer ini (selanjutnya akan saya singkat CCFC) adalah produk Make Over yang ditujukan untuk orang yang benar-benar suka make up. BA nya pun sering ngasih informasi seperti itu. Kalau kita lagi bingung pilih CCFC ini atau produk lain yang lebih umum, dia biasanya nanya, "Mba nya suka make upan gak? Kalau CCFC ini biasanya untuk orang yang sering dan senang banget make upan".
Saya sebenarnya berpendapat sama, alasannya? Wait, seperti biasa, saya akan review satu-satu. Yuk!

KEMASAN


Disertai dengan box hitam khas Make Over, produk ini berukuran persegi panjang, sekitar 13cm x 5 cm, 3/4 ukuran HP saya. Terbuat dari plastik kokoh, yang menurut saya gak akan gampang patah. CCFC ini juga dilengkapi oleh kaca dan kuas. Kuasnya ketinggalan di Bandung, tapi biasanya saya emang pakai kuas sendiri. Kuas bawaannya agak sedikit keras dan sulit dipakai. Kalau disuruh milih, aku lebih suka pakai jari dibanding kuas bawaannya.

KLAIM



Seperti yang ditulis pada kemasannya, karena di sini ada 5 warna concealer, masing-masing warna punya fungsi yang berbeda.
Dari kiri ke kanan :

1. Light Beige : sebagai tint/ highlight area mata
2. Beige : menyamarkan noda/ bekas jerawat
3. Light Green : menyamarkan tone warna kulit yang kemerahan
4. Light Purple : memberikan efek cerah pada kulit kusam
5. Orange : memberikan efek cerah pada kulit gelap atau bisa digunakan sebagai base blush on (membentuk area tulang pipi)

Mengandung vitamin E yang menjaga kehalusan vitamin E. Tekstur lembut, mudah diratakan, mudah diaplikasikan, dan hasil akhir powdery matte (kering dan tidak berminyak) dan menyamarkan noda dengan sempurna.

KANDUNGAN

Isononyl Isononanoate, Talc, Diisostearyl Malate, Ozokerite, Castor (Ricinus Communis) Oil, Carnauba (Copernicia Cerifera) Wax, Candelilla (Euphorbia Cerifera) Wax, Cetyl Alcohol, Tocopheryl Arcetate, Hydrogen Dimethicone, BHT, Propylparaben, Quaternium-15, Fragrance, Aluminium Hydroxide, Methicone, Hydrogenated Polyisobutene, Palmitic Acid, Phenoxyethanol, Benzoic Acid.

TEKSTUR & COVERAGE 

Teksturnya creamy dan mudah dibaurkan, kalau pakai jari atau kuas yang bagus. Soalnya saya pernah pakai kuas bawaannya, malah jadi garis-garis. Dibanding dengan yang teksturnya cair, saya lebih suka corector yang teksturnya seperti ini. Padat tapi mudah dibaurkan, dan yang terpenting, coveragenya oke. Walaupun pada kemasan ditulis bahwa hasil akhirnya powdery matte, di kulit saya yang berminyak jatuhnya malah satin. Tapi saya sih malah suka, karena kalau teksturnya powdery matte, saya rasa malah bikin tekstur kulit lebih jelas, apalagi di bawah mata, garis-garis halus malah lebih terlihat nantinya.

HASIL PEMAKAIAN

Daerah wajah yang sangat perlu dikoreksi dan membutuhkan CCFC ini adalah bagian under eye. Kebiasaan begadang dan main HP bikin kantung mata saya semakin hitam dan besar,. Saking besarnya dicurigai menyamai kantung ajaib doraemon, bisa buat naro pintu kemana saja.  Jadi untuk make up yang serius, saya gak pernah skip pakai corrector orangenya. Lalu untuk warna-warna lainnya, sebenarnya jarang dipakai. Kenapa? Karena saya lebih suka pakai highlight powder dibanding corrector yang warna light beige ini. Warna beigenya jarang terpakai karena saya masih punya concealer dari Maybelline Fit Me. Untuk yang warna hijau, jarang saya pakai karena saya jarang banget punya masalah kulit yang menyebabkan kemerahan. Dan yang terakhir yang warna ungu, juga jarang saya pakai. Bukan karena wajah saya jauh dari kusam, tapi sebaliknya. Kayaknya wajah saya emang kusam, tapi yo masa ini mau saya pakai semuka-muka? Jadi intinya, kalau bisa, saya sebenarnya ingin beli warna orange nya saja. Seandainya Make Over bersedia bikin corrector dalam bentuk satuan. (Siapa kamu Nduk, ngatur-ngatur Make Over?)


Ini swatchesnya dalam sekali oles. Untuk corrector, menurut saya cukup untuk mengoreksi flaw di wajah, terutama yang orange ini karena ini yang paling sering saya gunakan. Lumayan terlihat perbedaannya pada saat saya pakai dan tidak. Foto di bawah ini adalah penampakan under eye saya sebelum dan setelah diaplikasikan CCFC yang warna orange dan juga dibantu oleh foundation. Kebetulan saya ada jerawat bekas PMS yang agak merah, jadi sayapun pakaikan corrector yang warnanya hijau.


Under eye saya terlihat gak begitu gelap, tapi untuk kantung mata masih terlihat. Lalu jerawat pun tersamarkan, walaupun masih terlihat permukaannya yang gak rata. Ingat ya, corrector ini membantu untuk mengoreksi warna kulit, bukan untuk memperbaiki tekstur kulit. H

Sejauh ini, corrector dari Make Over ini sangat membantu. Hanya seperti yang tadi saya bilang, hanya 1 warna yang saya sering pakai. Sisanya nganggur gitu aja, tinggal nunggu masa keringnya. Heu. Saya jadi paham kenapa Mba BAnya gak terlalu menyarankan produk ini kalau kamu bukan orang yang seneng banget main make up, karena produk ini gak terlalu essential. Tapi CCFC ini akan sangat membantu kalau kamu senang make up, atau bahkan MUA. Selain karena ini produk lokal dan kualitasnya bagus, harganyapun hanya sekitar 120.000 untuk 5 warna.

KESIMPULAN

+ Produk lokal
+ Mudah ditemukan
+ Blendable
+ Kemasan oke
+ Banyak warna corrector, banyak fungsi
+ Cukup mampu menutupi lingkaran hitam bawah mata
+ Harga terjangkau

- Kuasnya tajam

Harga :sekitar 120.000
Nilai : 3.5/5
Rekomendasi : Ya, khususnya buat MUA atau pecinta make up
Beli lagi? No, karena butuh warna orangenya aja, bakal cari corrector brand lain yang jual satuan





Continue reading REVIEW: Make Over Camouflage Cream Face Concealer, Sepenting Apa Sih?

Wednesday, 31 October 2018

Paranormal Experience Sepanjang Hidup

Di penghujung Oktober ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak mainstream. Teman-teman pasti sadar kalau Oktober selalu dimeriahkan oleh hal-hal berbau Halloween, dan saya yakin betul para beauty blogger dan vlogger sudah banyak yang membuat make up tutorial terbaiknya yang selalu membuat saya takjub. Sayangnya saya berhenti bermain make up karakter semenjak beberapa tahun yang lalu. Bukan karena gak tertarik lagi (it brings so much fun, duh!), tapi lantaran sebagian besar peralatan make up sudah saya hibahkan karena saking jarang dipakai.

Meskipun begitu, tentu saya ingin tetap berartisipasi. Tidak melalui make up, tapi melalui cerita. Yap, cerita horror! Sebelum mulai, yang perlu saya sampaikan adalah bahwa cerita ini ditulis berdasarkan kejadian nyata yang saya alami, setidaknya itu anggapan saya. Tapi kalau ternyata ini semua adalah hasil halusinasi saya semata, saya mohon maaf pada makhluk-makhluk gaib di luar sana yang telah saya cemarkan namanya, saya gak maksud suudzon atau menuduh.


Sebenarnya saya pernah mengalami banyak hal aneh dan mistis, tapi hanya sebatas bayangan hitam, sekelebat sesuatu putih-putih, gak pernah jelas. Bahkan saya pernah ngomel-ngomel sendiri di kamar karena kesal diganggu oleh bayangan hitam yang sering keluar masuk kolong tempat tidur "Udah deh jangan ganggu-ganggu aku lagi, skripsiku belum beres!". Hal-hal yang seperti itu saya gak begitu yakin karena kejadiannya terlalu cepat dan gak jelas. Tapi yang saya tulis di sini adalah yang ben1ar-benar saya sadar kalau itu semua terjadi.

Cerita pertama terjadi saat saya SMP. Waktu itu rumah saya sedang direnovasi, sehingga saya harus ngontrak di sebuah rumah yang jaraknya hanya sekitar 500 meter dari rumah saya. Saya sekeluarga berniat tinggal di rumah kontrakan tersebut selama 1 tahun, sesuai dengan perkiraan rumah saya selesai direnov.

Pertama kali kami menempati rumah ini, tentu diadakan pengajian. Bukan karena ada apa-apa, tapi pengajian saat menempati rumah baru sudah seperti menjadi tradisi. Rumah ini memiliki layout yang unik. Ada taman di tengah-tengah rumah yang beratapkan langit. Taman itu memisahkan bagian inti rumah dengan WC. Jadi kalau mau ke WC, kami harus melewati taman itu. Lalu kamar saya, posisinya sebelah taman itu. Kurang lebih seperti ini layout kamar saya :


Jadi saya tidur sendiri di kamar, karena satu-satunya anak perempuan, sedangan adik dan kakak saya menempati kamar yang sama, persis di sebelah kamar saya. Dari awal, saya sering sulit tidur. Bukan hanya karena memang saya sulit adaptasi di lingkungan baru, tapi juga karena layout rumah ini bikin saya gak nyaman. Saya juga gak bisa nyalahin Ibu Bapa yang nyimpen lemari di depan tempat tidur saya yang membelakangi jendela, karena layout itu sudah yang paling pas, mengingat kamar saya yang kecil tapi barangnya seabreg. Tapi layout ini sukses bikin saya parno, karena saya bisa lihat apa yang terjadi di belakang saya, melalui cermin di depan saya. Kebayang, kan?

Selain sulit adaptasi, saya termasuk orang yang parnoan sama hal-hal ghaib. Makanya orang-orang pada sebel kalau tau saya penggemar film horror. Setelah nonton film hantu pasti bawaanya nyusahin orang, kemana-mana minta ditemenin. Nonton film horror hari ini, parnonya bisa berminggu-minggu.

Tiap malam berlalu tanpa ada yang aneh-aneh selain saya tidur karena mata lelah dipaksa baca terlalu lama. Sengaja, karena kalau gak gitu, rasanya saya gak akan tidur sampai pagi. Lalu tibalah di suatu malam. Saya gak bisa tidur. Entah kenapa waktu itu mata saya seger banget, dipakai bacapun tetep gak ngantuk. Tiba-tiba, saya ngerasa angin di luar cukup kencang, sampai bikin gorden jendela kamar goyang-goyang kena kepala saya. FYI, ada lubang ventilasi di bagian atas jendela saya. Ukurannya gak terlalu besar, tapi kalau anginnya besar, lumayan kerasa angin yang masuk.

Entah kenapa tiba-tiba saya merinding dan mulai parno. Mata saya nutup, tetap berusaha untuk tidur, sama sekali gak mau buka mata karena saya gak mau lihat cermin, yang artinya saya bakal lihat jendela di belakang saya. Tapi lagi-lagi, keparnoan saya bikin saya mikir gimana kalau tiba-tiba waktu saya buka mata, ada sesuatu di depan kepala saya. Saya cuma berdo'a, semoga cepat pagi, atau semoga orang rumah pada bangun, biar suasananya gak hening-hening banget. Tapi tentu saja malam tetap berasa lama, dan suasana tetap hening, sunyi dan senyap. Pada saat saya sedang berpikir bagaimana caranya untuk membunuh waktu agar waktu cepat pagi, tiba-tiba, dari arah jendela, sayup-sayup ada yang memanggil "Anis... Anis...".

Saya bingung deskripsiin suaranya. Kalau mengambil referensi dari film-film, saya rasa suaranya mirip suara robot atau alien. Saya mematung. Itu yang biasanya terjadi kalau saya ketakutan. Bukan lari atau apa, tapi diem, napas sedikit mungkin.  Beberapa detik yang terasa seperti tahunan mulai berlalu tanpa ada kelanjutan suara apapun. Baru saja saya berencana untuk meregangkan otot-otot yang tegang dan mulai bernapas normal, tiba-tiba suara itu muncul lagi, "Anis...Anis...".
 
Tanpa pikir panjang, saya langsung loncat dari kasur dan menggedor-gedor kamar Ibu sambil nangis. Saat Ibu buka pintu, saya langsung nyerocos "Gak mau tidur di kamar, ada yang manggil-manggil". Setelah saya cerita singkat, akhirnya Ibu bilang kalau saya boleh tidur di kamar Ibu, dan Bapak tidur di kamar saya. Awalnya bapak nolak, mungkin takut juga kali.

Esoknya, semua orang rumah jadi penasaran tentang kejadian yang saya alami. Kakak dan adik saya malah memutuskan untuk tidur di lorong kecil di rumah, yang gak kalah seramnya, karena penasaran ingin membuktikan jika memang ada sesuatu yang aneh di rumah ini. Tapi anehnya, mereka gak menemukan apa-apa.

Setelah kejadian itu, saya sering tidur nebeng di kamar kakak dan adik, atau di kamar sendiri kalau orang rumah begadang nonton bola. Setelah itu saya gak pernah mengalami hal-hal aneh lagi, selain tiba-tiba merinding tanpa sebab.

Kejadian kedua, waktu saya SMA. Saya juga agak ragu kalau ini ulah makhluk gaib atau apa. Tapi rasanya aneh aja. Jadi selama sekolah, saya hidup cukup teratur. Jam 4 sore pasti sudah ada di rumah, kecuali kalau saya ada les. Suatu hari, saya pulang cepat. Jam 2 sudah di rumah. Saat itu cuaca sedang panas-panasnya, dan saya merasa amat lelah. Tanpa setor muka sama orang rumah, saya langsung ke kamar buat tidur.

Saya terbangun jam setengah 6 sore. Karena kamar saya di lantai 2, saya refleks turun tangga untuk berkumpul di ruang tengah dengan orang rumah. Waktu saya menuruni tangga, Ibu dan adik/kakak saya (saya lupa), kaget melihat saya.
 "Looooh? Katanya masih di jalan?"
Saya melongo.
"Tadi katanya masih di jalan. Kapan masuknya?"
"Anis dari tadi jam 2 udah di kamar, tidur"
Adik saya ketawa-ketawa "Ih serem, aneh pisan."
Saya bingung apanya yang aneh, "Aneh apa?"
"Tadi Ibu nelpon  Anis, soalnya jam segini kok belum pulang. Terus tadi Anis angkat, katanya masih di jalan."

Waktu saya cek, ternyata HP saya masih di dalam tas yang saya simpan di kolong kasur. Sampai sekarang semuanya masih misteri.

Oke, itu adalah 2 pengalaman horror yang pernah saya alami, walaupun sebenarnya gak cukup horror kalau gak ada adegan penampakannya langsung. Tapi gak mungkin saya ngada-ngada, kalau karma kejadian beneran kan berabe. Kalau ngomongin hal-hal aneh di rumah sebenarnya banyak. Beberapa teman saya dan adik saya yang bisa "lihat" bilang, kalau di halaman rumah saya ada harimau yang jagain. Di ruang jemuran lantai 2 ada sosok hitam yang menunggu. Tapi yang lebih epic, ada sosok perempuan di kolam rumah, yang katanya suka sama adik saya dan sering ngikutin dia kalau dia lagi di rumah.

Kalau kalian, kejadian aneh apa yang pernah kalian alami seumur hidup? Please sharing dong!  Saya seneng banget bacain cerita-cerita horror. Pssst.. Sebenarnya saya mulai nulis ini dari lama, tapi gak pernah selesai karena saya gak bisa ngerjain kalau lagi sendiran. Sering tiba-tiba merinding. Ada yang bilang kalau kita ngomongin hal-hal kayak gini,"yang begituan" suka ikut nimbrung. Benar gak sih? Kalau sekarang saya masih parnoan, tapi kan tidurnya udah gak sendiri. Wahahaha.




Continue reading Paranormal Experience Sepanjang Hidup