Sunday, 17 February 2019

, , , , , , ,

REVIEW : Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++, Sunblock Underrated Untuk Kulit Acne Prone

Kalau kalian udah tau kondisi kulit saya, pasti gak aneh kalau saya sering banget gonta-ganti sunblock. Sekalipun saya pernah bilang produk A bagus, produk B bagus, tapi selalu ada minusnya yang bikin saya ingin mencari yang lebih baik. Masalahnya, sunblock ini skincare yang essential, yang akan saya pakai seumur hidup. Jadi saya perlu lebih berusaha untuk nemu sunblock terbaik, supaya gak usah gonta-ganti lagi.

Buat yang belum tau, kondisi kulit saya yang acne prone ini agak sulit bersahabat dengan sunblock. Walaupun saya pakai sunblock dengan embel-embel untuk kulit berjerawat, tapi tetap saja, gak ngefek apa-apa, selalu ujung-ujungnya repot sama whitehead.

Ceritanya kemarin saya kehabisan sunblock. Sebenarnya sunblock Etude saya masih banyak, tapi lain kali saya akan cerita kenapa si Sunprise itu gak cocok juga di kulit saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk ke Watson, untuk beli Skin Aqua. Tapi ternyata, agak sulit nemu sunblock Skin Aqua, banyaknya Skin Aqua yang versi BB creamnya. Lalu, Mba SPG nya nawarin Biore, sunblock sejuta umat. Karena pernah coba Biore dan merasa aneh dengan bau, tekstur, dan hasilnya, saya nolak. Lalu, entah gimana ceritanya, saya langsung tertuju sama sunblock Melanox ini.
.
INFORMASI PRODUK

 Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++
______________________

Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++
Manufactured by PT. Surya Dermato Medica Laboratories
Rungkut Industri III/31
Surabaya - Indonesia
NA181617000358

KEMASAN

Kemasan Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++

Review awal langsung ke minusnya dari produk ini. Dengan harga sekitar 64.000 dan embel-embel "premium", kemasannya seperti pelembab dengan harga belasan ribu, yaitu tube plastik model ulir. Menurut saya, ada baiknya kalau tim Melanox melakukan sedikit inovasi kemasan supaya lebih enak diliat, karena sekarang banci kemasan sudah mendunia. Sayapun kalau kemarin gak urgent butuh sunblock, kayaknya gak akan kepikiran buat beli Melanox ini.

KLAIM

Manfaat Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++

Krim pelindung sinar matahari yang diformulasikan khusus untuk melindungi wajah dari pengaruh buruk sinar ultraviolet matahari. Mengandung bahan alami Sodium carboxymethyl betaglucan, ekstrak teh hijau dan vitamin E yang memberikan perlindungan pada kulit sehingga mampu memperlambat timbulnya tanda-tanda penuaan dini, menjaga kelembapan serta elastisitas kulit, dan diperkaya dengan Melanox C-Bright complex yang mengandung vitamin C, ekstrak pepaya dan ekstrak lemon yang menjaga kulit agar tetap halus, lembut, dan tampak putih berseri. Dapat dipergunakan sebagai alas bedak yang baik.

Jadi dari deskripsinya, selain sebagai pelindung wajah dari sinar matahari, ada 3 manfaat penting lainnya dari Melanox Premium Face UV Protector ini, yaitu:

1. Sebagai perlidungan kulit
Bahan alami Sodium carboxymethyl betaglucan bekerja memberikan perlindungan pada kulit.

2. Sebagai pertahanan kulit
Teh hijau adalah antioksidan yang membantu melindungi kulit dari pengaruh buruk radikal bebas.

3. Perawatan Keremajaan Kulit
Melanox C-Bright complex dan vitamin E bekerja sebagai antioksidan dan menjaga kelembapan serta elastisitas sel-sel kulit wajah sehingga menjadi lebih halus, lembut, terasa kencang, dan tampak putih berseri.

Manfaat Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++

Di samping itu, Melanox Premium Face UV Protector ini dikatakan cocok untuk kulit-kulit yang berminyak dan mudah berjerawat, karena formulanya yang oil free, non comedogenic, dan juga non acnegenic.

KANDUNGAN

Kandungan Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++

Purified water, Octy methoxycinnamate, Titanium dioxide, C12 15 Alkyl benxoate, Cetyl alcohol, Propylene glycol, 4-Methylbenzylidene camphor, Glyceryl stearate, Caprylic/ capric trigyceride, PEG-40 stearate, Zinc Oxide, Octyl triazone, Diethylamino hydroxybenxoyl hexyl benzoate, Sodium ascorbyl phosphate, Tocopheryl acetate, carbomer, Triethanolamine, PEG 90, Carica Papaya fruit extract, BHT, Cl 77491, Sodium carboxymethyl betaglucan, Lemon (Citrus medica limonum) extract, Triethoxycaprylylsilane, Butylene glycol, Cl 77492, Cl 77499, Methylisothiazolinone, Iodopropynyl butylcarbamate, Sodium chloride, Green tea (Camellia sinensis) extract, Phenoxythanol, Methylparaben

Kandungan Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++

Yang saya suka, selain memberikan proteksi terhadap sinar UV, produk ini mengandung bahan-bahan yang punya fungsi perawatan kulit, di antaranya vitamin C, ekstrak pepaya, ekstrak lemon, BGlucan, dan ekstrak green tea. Bahan-bahan tersebut memiliki fungsi sesuai klaim yang mereka tuliskan.
.
TEKSTUR, WARNA, DAN AROMA

 Tekstur, Warna, Aroma Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++

3 hal ini adalah yang menarik dibahas karena ketiganya meningatkan saya dengan sunblock Parasol. Tau kan? Yang krimnya warna beige itu? Dari tekstur, warna, dan aromanya, mirip banget. Gak heran sih, karena dua-duanya produksi dari PT. Surya Dermato Medica Laboratories. Bedanya, tekstur Melanox ini lebih blendable. Enak dan mudah diratakan, dan pentingnya lagi, gak menggumpal dan gak ada efek whitecast. Warna sunblock Melanox ini juga beige. Kalau dibandingkan dengan Parasol yang bikin wajah saya malah jadi kusam, Melanox ini memberikan efek sedikit lebih cerah pada wajah. Mungkin kalau yang kulitnya flawless, kalian bisa jadiin sunblock ini sebagai alas bedak, tanpa foundation lagi. 

HASIL PEMAKAIAN

Hasil Pemakaian Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++

Ini sudah masuk bulan kedua saya pakai Melanox Premium Face UV Protector. Dalam sebulan pemakaian, rasanya saya sudah bisa bilang kalau saya cukup terkesan dengan produk ini. Walaupun dari kemasannya kelihatan kurang menarik, tapi ternyata performa produknya sendiri bisa dibilang cukup bersahabat untuk jenis kulit saya yang mudah berjerawat. 

Selain produknya gak menggumpal dan gak menimbulkan whitecast, teksturnya enak dan mudah diratakan. Walaupun bentuknya krim, saya merasa produk ini ringan di wajah, sama sekali gak bikin wajah berat. Menurut saya, sunblok ini punya hasil akhir yang semi matte. Gak lengket, tapi masih terasa efek lembapnya. Makanya, saya selalu suka kalau pakai make up setelah menggunakan produk ini. Hasilnya, make up lebih halus dan rata.

Walaupun produk ini gak mengandung minyak, bukan berarti setelah memakai ini, wajah saya langsung matte sepanjang hari. Permasalahan utama saya kan memang kadar minyak di kulit wajah yang berlebih, jadi gak bisa diapa-apain juga. Tapi seenggaknya, produk ini gak nambahin minyak di wajah saya. Jadi, kalau muka saya berminyak setelah pakai ini, ya ini memang minyak dari kulit wajah saya, bukan karena produknya yang bikin berminyak.  

Jika dibandingkan dengan sunblock-sunblock yang sebelumnya pernah saya pakai (Wardah, Skin Aqua, Biore, Etude, dan yang lainnya), produk ini masih jauh lebih bersahabat dengan kulit berminyak saya. Klaimnya yang mengatakan bahwa produk ini non comedogenic dan non acnegenic sebetulnya belum bisa saya akui. Betul kalau sunblock ini sama sekali gak bikin kulit saya jerawatan, sama sekali enggak. Tapi untuk non comedogenic, saya masih bingung. Saya masih sering lihat whiteheat di daerah hidung dan pipi. Tapi, sepertinya sih, Melanox Premium Face UV Protector ini bukan penyebab utama banyaknya whitehead di wajah saya, tapi karena itu memang nasib seseorang yang kulit wajahnya memproduksi minyak berlebih. Jadi saya gak nyalahin sunblocknya, tapi ya memang salah kulitnya. Tapi, ya, masa saya harus ganti kulit?

KESIMPULAN

+ Teksturnya blendable, mudah diratakan
+ Mudah menyerap ke kulit
+ Ringan, gak terasa berat di wajah
+ Gak menimbulkan whitecast
+ Gak menggumpal
+ Hasil akhirnya lembap
+ Cocok dipakai sebagai base make up
+ Gak bikin jerawatan
- Design kemasan kurang menarik

Harga : 64.000 / 25 gr (Harga Watson TSM) 
Nilai : 4/5
Continue reading REVIEW : Melanox Premium Face UV Protector SPF 30 PA++, Sunblock Underrated Untuk Kulit Acne Prone

Tuesday, 12 February 2019

, , ,

Ngobrol Serius : Tentang Fetisisme



Belakangan ini, saya baca thread di twitter tentang kejadian-kejadian tidak mengenakkan yang dialami perempuan-perempuan di luar sana. Bukan sekali dua kali malah. Meskipun caranya berbeda, tapi intinya sama, pelaku meminta foto korban melalui social media dengan alasan sebagai bahan penelitian tesis. Para pelaku ini biasanya orang asing yang mengatasnamakan teman korban, dan foto profilnya pun menggunakan foto teman korban.

Kalian pasti sudah pernah baca kasus semacam ini kan? Hmm, kalau kalian belum tau, saya akan berbaik hati untuk menceritakannya secara singkat. Jadi gini ceritanya...

Seorang perempuan (sebut saja Tomat) mendapatkan pesan Instagram dari seseorang yang mengaku sebagai Baskom, seniornya saat SMA. Awalnya Tomat gak curiga, karena ia memang berasal dari SMA yang disebutkan oleh si Baskom. Lalu, Baskom ini mengaku sebagai mahasiswi Psikologi yang sedang mengadakan penelitian mengenai hubungan bentuk kaki dengan kepribadian seseorang. Si Baskom meminta bantuan Mawar untuk mengirimkan foto kaki Mawar sebagai bahan penelitiannya. Merasa ada kejanggalan, akhirnya Mawar bertanya kepada teman-teman seangkatannya yang lain, mengonfirmasi tentang seseorang yang bernama Baskom ini. Mawar juga sempat memeriksa akun-akun yang difollow oleh Baskom, dan ternyata kebanyakan adalah akun-akun yang berisi foto-foto kaki perempuan dan foto-foto vulgar. Barulah setelah itu Mawar dan teman-tamannya yakin bahwa akun Baskom ini palsu.

Singkat ceritanya seperti itu. Mungkin di antara kalian masih ada yang bingung dan merasa gak ada yang aneh dari cerita

"Ya terus kenapa?",
"Ya udah sih foto kaki doang.."
.
Eits.. Jangan berasumsi dahulu sebelum selesai baca ya.
Sekarang kita beranjak ke kasus lain yang sempat viral beberapa tahun lalu,

Dilansir dari tirto.id , seorang mahasiswa pascasarjana berinisial MA (29) memilih melampiaskan rasa kecewa karena mantannya tidak merespon cintanya dengan cara yang tak biasa. Menjelang dini hari, MA berjalan menyusuri rumah-rumah, mencari jemuran, lalu mengutil satu per satu pakaian dalam wanita yang berjejer rapi di jemuran itu. Setelah diselidiki lebih lanjut, polisi menemukan sedikitnya 300 pakaian dalam wanita di kamar kosan MA.

Kasus-kasus di atas adalah contoh Fetisisme yang terjadi di Indonesia. Mungkin yang sering baca blog saya, agak aneh, kenapa saya nulis hal-hal di luar topik yang biasa saya tuliskan. Sebetulnya, topik-topik ini selalu menarik perhatian saya. Hal-hal seperti ini yang membuat saya memilih jurusan psikologi saat lulus SMA bertahun-tahun lalu (Gak perlu tanya saya masuk kuliah tahun berapa). Saya gak pernah diskusi tentang hal seperti ini di blog, karena rasanya berat untuk menggali kembali informasi-informasi dari otak yang tampaknya sudah mulai berkarat ini.

"Fetisisme fetisisme itu apaan sih?"
.

Fetisisme merupakan suatu penyimpangan seksual mencakup ketergantungan pada bagian tubuh atau benda-benda mati untuk menimbulkan gairah seksual. Menurut APA (American Psychiatric Association), fetisisme adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan sebuah perilaku seksual yang melibatkan benda-benda seperti celana dalam, stoking, pantyhose, bra, atau barang-barang lainnya. yang disebut fetis. Fetisis biasanya membelai, membaui, menjilat, mencium, menempelkan di kemaluan, atau sekedar menatap benda tersebut sambil melakukan masturbasi. Ada juga yang memaksa pasangan mereka untuk menggunakan benda-benda tersebut sebagai stimulan sebelum melakukan hubungan seksual.

Di antara berbagai jenis fetisisme, foot fetish termasuk yang paling banyak ditemukan. Kenapa? Menurut Joseph Plaud, seorang psikolog klinis, kaki dan alat kelamin terhubung erat dalam sirkuit otak sehingga menarik daya rangsang. Hmm.. masuk akal ya..

"Tapi saya sebagai laki-laki, kadang ngerasa tertarik juga kok kalau lihat kaki perempuan yang pakai sepatu hak tinggi."

Nah, bedanya ketertarikan pria  heteroseksual yang normal dengan fetisis adalah, fetisis merasakan ketertarikan yang spontan dan tidak bisa ditahan. Ketertarikannya terhadap benda tersebut sangat istimewa, sehingga ia merasa harus dan butuh untuk menatap, memegang, bahkan menciuminya. Atas dasar inilah, biasanya fetisis kerap mengoleksi benda-benda tersebut, dan gak jarang juga mereka mencuri untuk menambah koleksinya, seperti yang terjadi pada kasus 2 tadi.

"Saya pernah dengar istilah Fetisisme Transvestik. Itu apa ya?"

Lain lagi dengan yang dinamakan Fetsisisme Transvestik, yaitu apabila seorang laki-laki mengalami gairah seksual dengan memakai pakaian perempuan. Tapi, jangan campur adukkan kondisi ini dengan gangguan identitas gender. Pada fetisme transvestik, meskipun ia memakai pakaian wanita, ia tetap merasa dirinya laki-laki. Pakaian yang dipakai pun bervariasi, bisa jadi hanya pakaian dalam wanita, atau bahkan memakai pakaian wanita secara lengkap.

Para transvestik (sebutan bagi pengidam Fetisisme Transvestik) ini adalah heteroseksual, selalu laki-laki, dan secara umum hanya memakai pakaian lawan jenis di saat-saat tertentu saja. Di luar itu mereka cenderung berpenampilan, berperilaku, dan memiliki minat seksual yang maskulin. Perilaku memakai pakaian lawan jenis biasanya hanya ia lakukan sendirian, secara diam-diam.

"Siapa saja yang bisa mengidap Fetisisme?"
.
Fetisisme ini hanya terjadi pada laki-laki, baik laki-laki dewasa maupun remaja. Meskipun tidak selalu, tapi seorang fetisis sering kali mengidap jenis penyimpangan seksual lain seperti pedofilia, sadisme, dan makosisme (Mason, 1997).

"Kok bisa seseorang tiba-tiba mengidap Fetisisme? Gimana ceritanya?"

Bagaimana terjadinya penyimpangan seksual ini adalah cerita yang sangat panjang yang tidak bisa dijelaskan hanya dalam 1 perspektif.  Sedikitnya ada 3 perspektif yang menjelaskan mengenai hal ini. Perspektif psikodinamika memandang bahwa penyimpangan seksual merupakan suatu tindakan defensif, melindungi ego dari rasa takut. Perspektif ini memandang bahwa para fetisis merasa takut terhadap hubungan heteroseksual yang wajar (Lanyon, 1986).nderson , D.W., Vault, V.D. & Dickson, C.E. 1999.

Lain lagi jika dilihat dari perspektif behavioral, beberapa teoris yang memiliki paradigma ini berpendapat bahwa penyimpangan seksual terjadi karena pengondisian klasik yang secara tidak sengaja menghubungkan gairah seksual dengan stimuli yang tidak wajar, dalam kasus fetisisme adalah benda-benda mati tersebut.

Dikarenakan sebagian besar orang yang mengidap penyimpangan seksual adalah laki-laki, terdapat spekulasi bahwa androgen, hormon utama pada laki-laki, berperan pada gangguan ini. Akan tetapi, perbedaan hormonal antara orang normal dan orang yang memiliki penyimpangan seksual ini kurang meyakinkan. Adapun jika ternyata faktor biologi ini berperan penting terhadap timbulnya penyimpangan seksual, kemungkinan ini hanyalah salah satu dari rangkaian penyebab yang kompleks. (G.C. Davison, John M.N, Ann M.K, 2010)

"Apakah fetisisme ini berbahaya?"

Fetisisme merupakan salah satu jenis penyimpangan seksual. Dikatakan menyimpang karena tidak sesuai dengan yang sewajarnya terjadi. Jika dibiarkan dan semakin parah, bisa jadi mengganggu fungsi sosialnya. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, pengidap fetisisme bisa jadi memaksa pasangan mereka untuk menggunakan benda-benda tersebut sebagai stimulan sebelum melakukan hubungan seksual. Gak masalah selama pasangannya bersedia, tapi kalau enggak, hal tersebut kemungkinan akan menjadi konflik dalam hubungan mereka

Contoh lainnya adalah kasus-kasus yang telah saya sebutkan di atas. Apa kalian gak merasa terganggu jika foto kaki kalian digunakan stimulan fetisis saat melakukan masturbasi? Saya yakin, kalian pasti gak nyaman, atau mungkin takut. Oleh karena itu, teman-teman kesayanganku, tetap berhati-hati ya. Selalu curiga jika ada orang lain atau bahkan temanmu sendiri yang meminta foto bagian tubuhmu, jangan pacar doang yang dicurigain (wk!)

Juga, kalau kalian merasa memiliki kecintaan berlebih terhadap benda-benda mati, dan merasa benda-benda tersebut dapat meningkatkan gairah seksual, kamu bisa datang ke psikolog untuk memastikannya. Gak perlu takut. Semakin cepat kamu menyadarinya,semakin cepat juga intervensi yang akan kamu dapatkan. 
Continue reading Ngobrol Serius : Tentang Fetisisme

Saturday, 9 February 2019

, , , , ,

REVIEW : Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry, Tint Yang Serbaguna

Siapa di sini yang suka galau antara ingin beli lip tint, tapi ingin beli blush on juga? Eh terus liat orang unboxing eyeshadow, jadi ingin juga. Rasanya ingin beli semuanya. Tapi permasalahannya, kadang dompet gak bersahabat. Tenang sobat misqueen ku, tampaknya industri kecantikan sangat memahami keinginan kita untuk cantik tapi gak bermodal, makanya sekarang banyak banget produk make up yang multifungsi, salah satunya adalah produk keluaran brand Wardah, yaitu Wardah Everyday Cheek & Lip Tint.

Sebenarnya, postingan ini sudah menginap cukup lama di draft blog The A Word. Saking lamanya, sempat terlupakan. Saya sendiri bukan penggemar lip tint, jadi jarang pakai Wardah Cheek & Liptint ini. Sampai akhirnya, kemarin saat saya sedang beres-beres kosmetik, saya nemu ini dan teringat dengan draft ini.

Bukan terlambat lagi untuk ngereview produk ini, tapi bisa dibilang gak tau diri. Kayaknya hampir semua beauty enthusiast sudah beli produk ini, siapa juga yang masih butuh review kan ya? Tapi ya karena gak tau diri itu, saya tetap bersikeras melanjutkan postingan ini. Mudah-mudahan, ada yang masih baca ya, biar saya sedikit senang.

KEMASAN

Kemasan Wardah Cheek & Liptint 02 My Baerry

Kemasannya seukuran telunjuk dengan diameter sekitar 1,5 cm. Ukurannya sangat handy dan simple untuk dibawa berpergian. Gak makan banyak tempat. Designnya menurut saya lebih seperti designnya Emina, chic dan girly ala remaja, tapi saya gak akan protes tentang itu. Lalu untuk aplikatornya, gak ada yang istimewa, standar aplikator-aplikator lip tint pada umumnya.

Aplikator Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry 

KLAIM

Keunggulan Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry

Wardah Cheek & Liptint ini mengusung konsep rona sehat di pipi dan bibir tanpa menggunakan filter kamera. Klaim dari produk ini adalah melembabkan, menutrisi, pigmentasi yang oke, hasil yang natural, dan aroma yang enak.

KANDUNGAN

Kandungan / Ingridients Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry 

TEKSTUR

Teksturnya gak bisa dibilang creamy ataupun cair. Mungkin di tengah-tengah. Saya bisa bilang teksturnya ini cair ke jelly-jellyan dan agak lengket. Teskturnya gak cepat menyerap, butuh waktu sampai tintnya menyerap dan meninggalkan hasil yang natural.

AROMA

Seperti yang dijanjikan pada kemasannya, Wardah Cheek & Liptint ini memiliki aroma buah yang enak. Wanginya manis seperti permen sugus.

WARNA

Warna Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry

Wardah Cheek & Liptint ini punya 3 warna, yaitu 01 (Red, Set, Glow), no 02 (My Baerry), no 03 (Pink On Point). Saya pilih No 2 karena merasa My Baerry ini yang seenggaknya bisa sedikit nutupin garis bibir yang hitam. Ekspektasi yang agak ngawur memang, namanya juga lip tint, kok ngarep bisa nutupin garis hitam di bibir!

HASIL PEMAKAIAN

Untuk membahagiakan sobat-sobat misquen ku, di sini saya mencoba untuk memaksimalkan penggunaan tint ini. Bisa apa aja sih ini produk? Nah, selain dipakai di bibir dan di pipi, saya juga mencoba untuk menjadikannya eyeshadow. Hasilnya?

DI BIBIR

Review Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry 

Di bibir, hasilnya memuaskan. Pigmentasinya bagus, walaupun jangan berharap tint ini bisa menutupi garis hitam di bibir. Betul kalau produk ini mengklaim akan melembapkan dan menutrisi bibir, karena saya benar-benar merasa bibir saya terlihat lebih sehat, gak kering atau pecah-pecah seperti saat saya menggunakan lip tint merk Korea. Saya suka dengan staying powernya yang tahan terpaan gorengan dan makanan-makanan lainnya. Dan satu hal lagi yang saya setuju dengan klaimnya adalah aromanya. Aroma buahnya gak ganggu sama sekali. Tambahannya lagi, produk ini gak ada rasa pahit saat terjilat, gak kayak merk sebelumnya yang pernah saya pakai, yang setiap saya pakai malah bikin saya keingetan sama obat batuk.

DI PIPI

Mungkin ulasan bagian ini agak sedikit gak adil. Saya mengulas sesuai dengan pengalaman pemakaian tint di pipi saya yang produksi minyaknya ngalahin jumlah minyak untuk goreng bala-bala. Pertama saya pakai, warnanya keluar. Seharusnya sih ya sudah, biarkan saja seperti itu. Tapi karena saya gak tahan dengan lengket-lengket minyak bercampur tint, jadi saya terpaksa menambahkan bedak di atasnya, dan alhasil warnanya meredup, nyaris hilang. Begitulah, nasib kulit berminyak.

DI MATA

Review Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry
 
Warnanya cukup keluar untuk ukuran tint. Bisa dipakai kalau kamu lagi buru-buru dan gak mau ribet. Tapi buat saya tetap kurang nyaman, karena teksturnya tint yang agak lengket dan eyelid saya yang berminyak, sungguh perpaduan yang menyebalkan. Gak selesai sampai situ, penggunaan tint sebagai eyeshadow ini sedikit menimbulkan sensasi cekit-cekit gatal, mungkin eyelid saya yang terlalu sensitif.

Jadi inti dari hasil pemakaian produk Wardah Cheek & Lip tint di wajah saya adalah... Saya cuma bisa pakai di bibir saja. Untuk kamu yang punya kulit kering atau normal, bersyukurlah, kalian bisa menikmati 3 fungsi tint ini. Tapi, buat yang kulitnya berminyak dan sensitif seperti saya, kalian harus sabar dan lebih bekerja keras, wayahna harus beli 3 produk yang berbeda.

KESIMPULAN

+ Harga terjangkau, mudah ditemukan
+ Melembapkan bibir, gak bikin kering
+ Pigmentasi lumayan
+ Staying power oke
+ Gak pahit
+ Aroma buahnya enak
+ Kemasannya gak makan banyak tempat
- Untuk kulit berminyak, gak cocok dipakai sebagai blush on
Harga : 35.000
Nilai : 3/5
Continue reading REVIEW : Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry, Tint Yang Serbaguna

Saturday, 2 February 2019

, , , ,

REVIEW : Imah Seniman Resort Lembang, Menginap di Tengah Hutan!

Kalau kemarin saya sudah cerita tentang pengalaman bermalam di tepi danau, kali ini berbeda. Masih di sekitar Lembang, resort dengan sentuhan alam lainnya, yaitu Imah Seniman Resort. Sejujurnya, saya merasa Imah Seniman ini gak seeksis Sapulidi. Malah saya baru tahu tahun ini, dari Mas Suami.Tapi, gak tau juga kalau ternyata sebetulnya saya yang gak update.

Sekilas saya lihat di google, foto-foto yang keluar tentang Imah Seniman ini gak terlalu menarik. Tempat dan konsepnya setipe dengan Sapulidi. Tadinya saya mau skip aja, tapi waktu lihat review-reviewnya kok kayaknya menarik. Jadi sehari sebelum saya check in, saya booking tipe Suite Forest View dengan harga 588.000 melalui Traveloka.

 Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View


Informasi Resort

Imah Seniman Resort, Resto And Gallery
Alamat: Jalan Kolonel Masturi No.8, Cikahuripan, Lembang, Gudangkahuripan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391
Telepon: (022) 2787768  
Website : www.imahseniman.com 

Imah Seniman ini ternyata lebih luas dari yang saya bayangkan. Konsepnya jauh di atas Sapulidi. Kamarnya lebih banyak dengan tipe-tipe kamar dan harga yang variatif. Sebetulnya, di sini juga ada tipe kamar tepi danau seperti Sapulidi, tapi untuk suasana yang berbeda, saya pilih kamar yang di tengah-tengah hutan. Kamar hutan ini harganya sedikit lebih mahal dari pada kamar tepi danau. Saya gak tau pasti apa alasannya, tapi jika dibandingkan dengan pengalaman saya bermalam di kamar tepi danaunya Sapulidi, saya merasa kamar di tengah hutan ini lebih sejuk, adem, menenangkan, dan menyegarkan penglihatan.

Tadinya saya mau foto resort ini mulai dari gerbang depannya, tapi sayangnya saat itu hujan, jadi agak rempong. Area Imah Seniman ini sangat luas, untuk resortnya saya perlu masuk lagi ke dalam sekitar 500 meter menggunakan mobil. Buat teman-teman yang gak bawa mobil, jangan khawatir, pihak Imah Seniman menyediakan mobil untuk mengantar tamunya ke kamar. Lalu dari parkiran mobil ke kamarpun, saya harus jalan sekitar 200 meter melewati pepohonan, jembatan kayu, dan sungai.

Basah dan lelah karena lari-lari di tengah hujan, terbayarkan ketika saya sampai di kamar. Kamar ini gak ada balkonnya, tepat di tengah pepohonan, tapi dindingnya terbuat dari kaca. Jadi saya bisa lihat pemandangan di luar tanpa harus ke luar kamar. Cuma mungkin harus hati-hati kalau mau ganti baju atau ina inu jangan lupa ditutup gordennya rapat-rapat, karena keliatan jelas banget dari luar.

Perbedaan mencolok yang saya rasakan begitu sampai di sini adalah, tempat ini jauh lebih bersih dari Sapulidi Resort. Padahal, berdasarkan survey saya di google, saya berasumsi Imah Seniman ini bakal lebih gelap dan gak terawat. Jadi teman-teman, betul kalau ada yang bilang foto gak selalu sama dengan aslinya, di foto jelek, belum tentu aslinya juga jelek. Begitupun sebaliknya, di foto sih cantik, pas dizoom ternyata artis korea #ifyouknowwhatimean.

 Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Fasilitas sama dengan Sapulidi, kasur tipe king, TV, meja, kursi, pembuat teh/kopi, air mineral, dan wi-fi. Lalu, tentu saja, jangan berharap sama wifinya.

Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Bedanya dengan Sapulidi, di sini kamar mandinya lebih luas. Lalu, antara bathtub dan toilet gak ada pembatasnya. Jadi kalau misalnya kamu lagi berendam di bathtub terus tiba-tiba teman sekamarmu ingin BAB ya pilihannya cuma 2, keluar atau diam dan menikmati aroma-aroma fantastis.


Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Bathtub di sini gak kalah lucunya dengan bathtub Sapulidi. Ukurannya 2x lipatnya, sehingga mungkin cukup untuk 4 orang. Saya sempat mengomel lagi, kenapa resort di Lembang ini bikin bathtub udah kayak bikin kolam ikan, referensinya dari mana? Kerannya sih lumayan kenceng, tapi... airnya gak panas-panas. Saya sempat nanya ke pegawainya, katanya kapasitas air panasnya hanya 50 liter, dan kalau habis, harus menunggu 30 menit - 1 jam agar kembali panas. Tapi, saya nunggu sampai 1 setengah jam, airnya masih hangat suam-suam kuku. Jadi sama seperti Sapulidi, bathtubnya juga gak kepakai. Kecuali kamu mau berendam pakai air setengah hangat. Saya jadi heran kenapa resort-ressort ini bikin bathtub segede gaban tapi kuantitas dan kualitas air hangatnya gak memadai gitu loh. Kan PHP. Bingung Moana.

Setelah selesai bersih-bersih dan ganti baju, tadinya kami berencana untuk mencari makan malam di luar. Tapi berhubung hujannya masih deras dan saya lagi gak mood hujan-hujanan, akhirnya kami pesan ke restonya Imah Seniman. Saya pikir harganya bakal mirip-mirip sama Sapulidi, tapi ternyata, selain menu masakan Imah Seniman gak sebanyak Sapulidi, harganya pun lebih mahal. Waktu itu saya beli nasi timbel komplit (nasi, ayam, tahu, tempe, sayur asam) harganya 56.000. Rasanya B aja. 

Beda dengan Sapulidi yang sarapannya terbatas dan diantar ke kamar, resort Imah Seniman menyediakan sarapan seperti hotel-hotel pada umumnya, walaupun gak begitu variatif. Restorannya di tepi danau, konsepnya lucu, seperti saung yang berjejeran. Sayangnya saya gak sempat foto karena gak bawa kamera maupun HP ke luar. 

Di Imah Seniman ini saya gak terlalu banyak explore sana sini. Selain karena hujan, waktu kami mepet-mepet karena masih ada tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Kalau ada kesempatan, saya sih ingin ke sini lagi. Suasanyanya tenang, adem, harganyapun gak begitu mahal. Kalau kamu ngerasa penat dan ingin staycation di tempat yang tenang, kamu mungkin harus coba menginap di sini! 
Continue reading REVIEW : Imah Seniman Resort Lembang, Menginap di Tengah Hutan!
, , , , , ,

REVIEW : The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%, Serum Untuk Kulit Acne Prone

Masih seputar skincare, kali ini saya ingin membahas brand yang beberapa waktu ini sedang naik daun, yaitu The Ordinary. Brand The Ordinary ini adalah brand skincare yang menurut saya paling gak neko-neko, to the point, gak banyak basa basi. Seperti yang pernah saya bilang, dalam memilih skincare yang tepat kita perlu jatuh cinta pada kandungannya, bukan label atau klaim yang mereka sampaikan. Nah, brand The Ordinary adalah salah satu brand yang "menjual" kandungan, bukan sekedar janji manis. Pada kemasannya, mereka secara gamblang menuliskan kandungan dari produknya.

The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Bagi saya, tentu ini membantu saya dalam memilih produk yang kemungkinan besar akan cocok di kulit saya. Tapi bagi orang-orang yang gak familiar terhadap kandungan-kandungan skincare mungkin agak bingung dan perlu banyak cari referensi untuk menentukan produk The Ordinary yang mana yang mereka perlukan. 

Dari sekian banyak produk The Ordinary, pilihan saya jatuh pada The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%. Selain karena saya mendapat review yang baik tentang produk ini dari sahabat saya (yang punya problematika kulit serupa dengan saya), sudah lama saya penasaran dengan kandungan Niacinamide,  jenis vitamin B3 yang katanya bagus untuk kulit yang berjerawat.

KEMASAN
 
The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Hampir semua produk The Ordinary dikemas dalam botol kaca dengan aplikator pipet. Botolnya sebenarnya tebal, tapi tetap harus hati-hati, karena saya pernah dapat cerita yang botolnya jatuh dan pecah. So, better safe than sorry.

KANDUNGAN

Kandungan / Ingridients The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Tentunya serum sebanyak 30 ml ini gak cuma berisi Niacinamide dan Zinc. Ada kandungan lain sebagai campurannya, yang juga dituliskan dalam kemasannya seperti ini. Aqua (water), Niacinamide, Pentylene Gylcol, Zinc PCA, Dimethyl Isosorbide, Tamarindus Indica Seed Gum, Xanthan Gum, Isoceteth-20. Ethoxydiglycol, Phenoxyethanol, Chlorphenesin. 
Plusnya lagi, produk ini fragrance free!

KLAIM

Manfaat The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%


Walaupun tulisannya kecil dan kurang mencolok, pada kemasannya juga dituliskan manfaat dari serum tersebut. Jadi buat yang awam sama kandungan-kandungan skincare, mungkin ini akan cukup membantu. Walaupun, seperti yang selalu saya bilang, jatuh cinta harus pada kandungannya ya.

Manfaat The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Jadi untuk The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% ini bermanfaat untuk mengontrol minyak dan mengecilkan pori-pori. Walaupun hanya 2 poin yang dituliskan, sebenarnya masih banyak manfaat-manfaat lain dari Niacinamide ini, misalnya mengatasi hiperpigmentasi pada kulit. Jadi kalau misalnya kulit wajah kalian lebih gelap dari leher karena terlalu sering terpapar sinar matahari, niacinamide ini dapat membantu meratakan warna kulitmu.

TEKSTUR
 
 Tekstur The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Teksturnya cairan bening. Agak sedikit kental, tapi cukup cepat menyerap. Teksturnya yang ringan membuat The Ordinary Niacinamide ini biasa saya gunakan sebagai skincare di layer pertama yang saya pakai setelah toner. Itu juga yang disarankan oleh pihak The Ordinary, bahwa serum ini lebih baik untuk dipakai di awal, sebelum pemakaian skincare yang berbentuk krim atau yang teksturnya lebih berat dari serum The Ordinary ini. Ada yang lucu dari tekstur The Ordinary Niacinamide ini. Serumnya jadi berwarna keputihan kalau tercampur dengan air. Jadi kalau dipakai saat kulit wajah belum benar-benar kering, rasanya seperti bedak yang kecampur air gitu, putih-putih dengan sedikit tekstur.
 
AROMA

Ada aroma yang sangat samar, yang gak bisa saya deskripsiin. Tapi gak perlu khawatir, aromanya yang gak menyengat gak akan bikin hidung kita gak nyaman kok.

HASIL PEMAKAIAN

Tulisan ini sudah saya revisi berkali-kali, mengikuti pemahaman saya tentang produk ini. Pada saat tulisan ini saya publish, tentu ini sudah kesimpulan akhir yang saya dapat setelah sekitar 2 bulan menggunakan produk ini. Satu hal yang saya amati, produk ini cukup awet, dalam 2 bulan hanya menghabiskan setengah botolnya.

Cara Pemakaian The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Saya selalu bilang kalau pertama kali menggunakan skincare baru, usahakan jangan tercampur dengan skincare baru yang lain. Alasannya adalah untuk mempermudah penilaianmu terhadap produk tersebut. Jadi tidak ada yang berbeda dengan rutinitas skincare saya selain menyelipkan The Ordinary Niacinamide ini sebelum memakai moisturizer. Tapi ada satu hal yang saya lupa, bahwa ada kandungan-kandungan yang tidak bisa tercampur dengan si Niacinamide, yaitu vitamin C. Saya juga lupa, kalau Farsali, si kesayangan saya, mengandung vitamin C. Makanya, minggu pertama pemakaian The Ordinary Niacinamide ini malah bikin kulit saya break out.

Setelah saya ingat kalau Farsali ini mengandung vitamin C, minggu-minggu setelahnya saya hanya menggunakan The Ordinary Niacinamide ini tanpa dilayer dengan apapun, kecuali  di pagi hari, yang tentunya saya layer dengan sunblock. Hasilnya? Saya takjub sih. Minyak di wajah lebih terkontrol, kulit wajah lebih kenyal dan lembut saat dipegang. Saya juga merasa produk ini mengembalikan warna kulit saya yang hiperpigmentasi karena sering panas-panasan. Kerennya lagi, The Ordinary Niacinamide ini bikin jerawat saya lebih terkontrol, hanya menyisakan 1 atau 2 jerawat, itupun jerawat PMS.  Sebenarnya Niacinamide juga dikatakan dapat mengecilkan pori-pori, tapi saya belum merasakannya. Saya gak protes sih, masalah pori-pori besar memang gak bisa cuma berharap dengan 1 produk skincare, apalagi hanya dalam waktu 2 bulan.

Jadi, review orang-orang yang bilang kalau The Ordinary Niacinamide ini bagus, terbukti benar, khususnya untuk orang-orang yang memiliki kulit cenderung mudah berjerawat. Tapi sekarang-sekarang, saya bikin jadwal untuk penggunaan Niacinamide ini. Alasannya? Karena saya juga masih ingin mendapatkan efek glowy dari Farsali, dan Niacinamide ini termasuk skincare yang gak bisa dipakai berbarengan dengan Farsali. Jadi, mau gak mau, harus mengalah dipakai terpisah.

KESIMPULAN

+ Mudah menyerap
+ Harga terjangkau
+ Mengontrol minyak di wajah
+ Dapat meratakan warna kulit wajah
+ Mengontrol jerawat dan beruntusan
+ Isinya banyak

- Gak bisa digabung dengan vitamin C
- Teksturnya berubah aneh kalau terkena air
- Sulit dicari, harus online

Harga : 130.000 untuk 30 ml
Nilai : 4/5
Rekomendasi : Ya, apalagi untuk kalian yang punya kulit acne prone.
Continue reading REVIEW : The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%, Serum Untuk Kulit Acne Prone