Saturday, 9 February 2019

, , , , ,

REVIEW : Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry, Tint Yang Serbaguna

Siapa di sini yang suka galau antara ingin beli lip tint, tapi ingin beli blush on juga? Eh terus liat orang unboxing eyeshadow, jadi ingin juga. Rasanya ingin beli semuanya. Tapi permasalahannya, kadang dompet gak bersahabat. Tenang sobat misqueen ku, tampaknya industri kecantikan sangat memahami keinginan kita untuk cantik tapi gak bermodal, makanya sekarang banyak banget produk make up yang multifungsi, salah satunya adalah produk keluaran brand Wardah, yaitu Wardah Everyday Cheek & Lip Tint.

Sebenarnya, postingan ini sudah menginap cukup lama di draft blog The A Word. Saking lamanya, sempat terlupakan. Saya sendiri bukan penggemar lip tint, jadi jarang pakai Wardah Cheek & Liptint ini. Sampai akhirnya, kemarin saat saya sedang beres-beres kosmetik, saya nemu ini dan teringat dengan draft ini.

Bukan terlambat lagi untuk ngereview produk ini, tapi bisa dibilang gak tau diri. Kayaknya hampir semua beauty enthusiast sudah beli produk ini, siapa juga yang masih butuh review kan ya? Tapi ya karena gak tau diri itu, saya tetap bersikeras melanjutkan postingan ini. Mudah-mudahan, ada yang masih baca ya, biar saya sedikit senang.

KEMASAN

Kemasan Wardah Cheek & Liptint 02 My Baerry

Kemasannya seukuran telunjuk dengan diameter sekitar 1,5 cm. Ukurannya sangat handy dan simple untuk dibawa berpergian. Gak makan banyak tempat. Designnya menurut saya lebih seperti designnya Emina, chic dan girly ala remaja, tapi saya gak akan protes tentang itu. Lalu untuk aplikatornya, gak ada yang istimewa, standar aplikator-aplikator lip tint pada umumnya.

Aplikator Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry 

KLAIM

Keunggulan Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry

Wardah Cheek & Liptint ini mengusung konsep rona sehat di pipi dan bibir tanpa menggunakan filter kamera. Klaim dari produk ini adalah melembabkan, menutrisi, pigmentasi yang oke, hasil yang natural, dan aroma yang enak.

KANDUNGAN

Kandungan / Ingridients Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry 

TEKSTUR

Teksturnya gak bisa dibilang creamy ataupun cair. Mungkin di tengah-tengah. Saya bisa bilang teksturnya ini cair ke jelly-jellyan dan agak lengket. Teskturnya gak cepat menyerap, butuh waktu sampai tintnya menyerap dan meninggalkan hasil yang natural.

AROMA

Seperti yang dijanjikan pada kemasannya, Wardah Cheek & Liptint ini memiliki aroma buah yang enak. Wanginya manis seperti permen sugus.

WARNA

Warna Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry

Wardah Cheek & Liptint ini punya 3 warna, yaitu 01 (Red, Set, Glow), no 02 (My Baerry), no 03 (Pink On Point). Saya pilih No 2 karena merasa My Baerry ini yang seenggaknya bisa sedikit nutupin garis bibir yang hitam. Ekspektasi yang agak ngawur memang, namanya juga lip tint, kok ngarep bisa nutupin garis hitam di bibir!

HASIL PEMAKAIAN

Untuk membahagiakan sobat-sobat misquen ku, di sini saya mencoba untuk memaksimalkan penggunaan tint ini. Bisa apa aja sih ini produk? Nah, selain dipakai di bibir dan di pipi, saya juga mencoba untuk menjadikannya eyeshadow. Hasilnya?

DI BIBIR

Review Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry 

Di bibir, hasilnya memuaskan. Pigmentasinya bagus, walaupun jangan berharap tint ini bisa menutupi garis hitam di bibir. Betul kalau produk ini mengklaim akan melembapkan dan menutrisi bibir, karena saya benar-benar merasa bibir saya terlihat lebih sehat, gak kering atau pecah-pecah seperti saat saya menggunakan lip tint merk Korea. Saya suka dengan staying powernya yang tahan terpaan gorengan dan makanan-makanan lainnya. Dan satu hal lagi yang saya setuju dengan klaimnya adalah aromanya. Aroma buahnya gak ganggu sama sekali. Tambahannya lagi, produk ini gak ada rasa pahit saat terjilat, gak kayak merk sebelumnya yang pernah saya pakai, yang setiap saya pakai malah bikin saya keingetan sama obat batuk.

DI PIPI

Mungkin ulasan bagian ini agak sedikit gak adil. Saya mengulas sesuai dengan pengalaman pemakaian tint di pipi saya yang produksi minyaknya ngalahin jumlah minyak untuk goreng bala-bala. Pertama saya pakai, warnanya keluar. Seharusnya sih ya sudah, biarkan saja seperti itu. Tapi karena saya gak tahan dengan lengket-lengket minyak bercampur tint, jadi saya terpaksa menambahkan bedak di atasnya, dan alhasil warnanya meredup, nyaris hilang. Begitulah, nasib kulit berminyak.

DI MATA

Review Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry
 
Warnanya cukup keluar untuk ukuran tint. Bisa dipakai kalau kamu lagi buru-buru dan gak mau ribet. Tapi buat saya tetap kurang nyaman, karena teksturnya tint yang agak lengket dan eyelid saya yang berminyak, sungguh perpaduan yang menyebalkan. Gak selesai sampai situ, penggunaan tint sebagai eyeshadow ini sedikit menimbulkan sensasi cekit-cekit gatal, mungkin eyelid saya yang terlalu sensitif.

Jadi inti dari hasil pemakaian produk Wardah Cheek & Lip tint di wajah saya adalah... Saya cuma bisa pakai di bibir saja. Untuk kamu yang punya kulit kering atau normal, bersyukurlah, kalian bisa menikmati 3 fungsi tint ini. Tapi, buat yang kulitnya berminyak dan sensitif seperti saya, kalian harus sabar dan lebih bekerja keras, wayahna harus beli 3 produk yang berbeda.

KESIMPULAN

+ Harga terjangkau, mudah ditemukan
+ Melembapkan bibir, gak bikin kering
+ Pigmentasi lumayan
+ Staying power oke
+ Gak pahit
+ Aroma buahnya enak
+ Kemasannya gak makan banyak tempat
- Untuk kulit berminyak, gak cocok dipakai sebagai blush on
Harga : 35.000
Nilai : 3/5
Continue reading REVIEW : Wardah Cheek & Lip Tint 02 My Baerry, Tint Yang Serbaguna

Saturday, 2 February 2019

, , , ,

REVIEW : Imah Seniman Resort Lembang, Menginap di Tengah Hutan!

Kalau kemarin saya sudah cerita tentang pengalaman bermalam di tepi danau, kali ini berbeda. Masih di sekitar Lembang, resort dengan sentuhan alam lainnya, yaitu Imah Seniman Resort. Sejujurnya, saya merasa Imah Seniman ini gak seeksis Sapulidi. Malah saya baru tahu tahun ini, dari Mas Suami.Tapi, gak tau juga kalau ternyata sebetulnya saya yang gak update.

Sekilas saya lihat di google, foto-foto yang keluar tentang Imah Seniman ini gak terlalu menarik. Tempat dan konsepnya setipe dengan Sapulidi. Tadinya saya mau skip aja, tapi waktu lihat review-reviewnya kok kayaknya menarik. Jadi sehari sebelum saya check in, saya booking tipe Suite Forest View dengan harga 588.000 melalui Traveloka.

 Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View


Informasi Resort

Imah Seniman Resort, Resto And Gallery
Alamat: Jalan Kolonel Masturi No.8, Cikahuripan, Lembang, Gudangkahuripan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391
Telepon: (022) 2787768  
Website : www.imahseniman.com 

Imah Seniman ini ternyata lebih luas dari yang saya bayangkan. Konsepnya jauh di atas Sapulidi. Kamarnya lebih banyak dengan tipe-tipe kamar dan harga yang variatif. Sebetulnya, di sini juga ada tipe kamar tepi danau seperti Sapulidi, tapi untuk suasana yang berbeda, saya pilih kamar yang di tengah-tengah hutan. Kamar hutan ini harganya sedikit lebih mahal dari pada kamar tepi danau. Saya gak tau pasti apa alasannya, tapi jika dibandingkan dengan pengalaman saya bermalam di kamar tepi danaunya Sapulidi, saya merasa kamar di tengah hutan ini lebih sejuk, adem, menenangkan, dan menyegarkan penglihatan.

Tadinya saya mau foto resort ini mulai dari gerbang depannya, tapi sayangnya saat itu hujan, jadi agak rempong. Area Imah Seniman ini sangat luas, untuk resortnya saya perlu masuk lagi ke dalam sekitar 500 meter menggunakan mobil. Buat teman-teman yang gak bawa mobil, jangan khawatir, pihak Imah Seniman menyediakan mobil untuk mengantar tamunya ke kamar. Lalu dari parkiran mobil ke kamarpun, saya harus jalan sekitar 200 meter melewati pepohonan, jembatan kayu, dan sungai.

Basah dan lelah karena lari-lari di tengah hujan, terbayarkan ketika saya sampai di kamar. Kamar ini gak ada balkonnya, tepat di tengah pepohonan, tapi dindingnya terbuat dari kaca. Jadi saya bisa lihat pemandangan di luar tanpa harus ke luar kamar. Cuma mungkin harus hati-hati kalau mau ganti baju atau ina inu jangan lupa ditutup gordennya rapat-rapat, karena keliatan jelas banget dari luar.

Perbedaan mencolok yang saya rasakan begitu sampai di sini adalah, tempat ini jauh lebih bersih dari Sapulidi Resort. Padahal, berdasarkan survey saya di google, saya berasumsi Imah Seniman ini bakal lebih gelap dan gak terawat. Jadi teman-teman, betul kalau ada yang bilang foto gak selalu sama dengan aslinya, di foto jelek, belum tentu aslinya juga jelek. Begitupun sebaliknya, di foto sih cantik, pas dizoom ternyata artis korea #ifyouknowwhatimean.

 Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Fasilitas sama dengan Sapulidi, kasur tipe king, TV, meja, kursi, pembuat teh/kopi, air mineral, dan wi-fi. Lalu, tentu saja, jangan berharap sama wifinya.

Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Bedanya dengan Sapulidi, di sini kamar mandinya lebih luas. Lalu, antara bathtub dan toilet gak ada pembatasnya. Jadi kalau misalnya kamu lagi berendam di bathtub terus tiba-tiba teman sekamarmu ingin BAB ya pilihannya cuma 2, keluar atau diam dan menikmati aroma-aroma fantastis.


Imah Seniman Resort Lembang Suite Forest View

Bathtub di sini gak kalah lucunya dengan bathtub Sapulidi. Ukurannya 2x lipatnya, sehingga mungkin cukup untuk 4 orang. Saya sempat mengomel lagi, kenapa resort di Lembang ini bikin bathtub udah kayak bikin kolam ikan, referensinya dari mana? Kerannya sih lumayan kenceng, tapi... airnya gak panas-panas. Saya sempat nanya ke pegawainya, katanya kapasitas air panasnya hanya 50 liter, dan kalau habis, harus menunggu 30 menit - 1 jam agar kembali panas. Tapi, saya nunggu sampai 1 setengah jam, airnya masih hangat suam-suam kuku. Jadi sama seperti Sapulidi, bathtubnya juga gak kepakai. Kecuali kamu mau berendam pakai air setengah hangat. Saya jadi heran kenapa resort-ressort ini bikin bathtub segede gaban tapi kuantitas dan kualitas air hangatnya gak memadai gitu loh. Kan PHP. Bingung Moana.

Setelah selesai bersih-bersih dan ganti baju, tadinya kami berencana untuk mencari makan malam di luar. Tapi berhubung hujannya masih deras dan saya lagi gak mood hujan-hujanan, akhirnya kami pesan ke restonya Imah Seniman. Saya pikir harganya bakal mirip-mirip sama Sapulidi, tapi ternyata, selain menu masakan Imah Seniman gak sebanyak Sapulidi, harganya pun lebih mahal. Waktu itu saya beli nasi timbel komplit (nasi, ayam, tahu, tempe, sayur asam) harganya 56.000. Rasanya B aja. 

Beda dengan Sapulidi yang sarapannya terbatas dan diantar ke kamar, resort Imah Seniman menyediakan sarapan seperti hotel-hotel pada umumnya, walaupun gak begitu variatif. Restorannya di tepi danau, konsepnya lucu, seperti saung yang berjejeran. Sayangnya saya gak sempat foto karena gak bawa kamera maupun HP ke luar. 

Di Imah Seniman ini saya gak terlalu banyak explore sana sini. Selain karena hujan, waktu kami mepet-mepet karena masih ada tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Kalau ada kesempatan, saya sih ingin ke sini lagi. Suasanyanya tenang, adem, harganyapun gak begitu mahal. Kalau kamu ngerasa penat dan ingin staycation di tempat yang tenang, kamu mungkin harus coba menginap di sini! 
Continue reading REVIEW : Imah Seniman Resort Lembang, Menginap di Tengah Hutan!
, , , , , ,

REVIEW : The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%, Serum Untuk Kulit Acne Prone

Masih seputar skincare, kali ini saya ingin membahas brand yang beberapa waktu ini sedang naik daun, yaitu The Ordinary. Brand The Ordinary ini adalah brand skincare yang menurut saya paling gak neko-neko, to the point, gak banyak basa basi. Seperti yang pernah saya bilang, dalam memilih skincare yang tepat kita perlu jatuh cinta pada kandungannya, bukan label atau klaim yang mereka sampaikan. Nah, brand The Ordinary adalah salah satu brand yang "menjual" kandungan, bukan sekedar janji manis. Pada kemasannya, mereka secara gamblang menuliskan kandungan dari produknya.

The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Bagi saya, tentu ini membantu saya dalam memilih produk yang kemungkinan besar akan cocok di kulit saya. Tapi bagi orang-orang yang gak familiar terhadap kandungan-kandungan skincare mungkin agak bingung dan perlu banyak cari referensi untuk menentukan produk The Ordinary yang mana yang mereka perlukan. 

Dari sekian banyak produk The Ordinary, pilihan saya jatuh pada The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%. Selain karena saya mendapat review yang baik tentang produk ini dari sahabat saya (yang punya problematika kulit serupa dengan saya), sudah lama saya penasaran dengan kandungan Niacinamide,  jenis vitamin B3 yang katanya bagus untuk kulit yang berjerawat.

KEMASAN
 
The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Hampir semua produk The Ordinary dikemas dalam botol kaca dengan aplikator pipet. Botolnya sebenarnya tebal, tapi tetap harus hati-hati, karena saya pernah dapat cerita yang botolnya jatuh dan pecah. So, better safe than sorry.

KANDUNGAN

Kandungan / Ingridients The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Tentunya serum sebanyak 30 ml ini gak cuma berisi Niacinamide dan Zinc. Ada kandungan lain sebagai campurannya, yang juga dituliskan dalam kemasannya seperti ini. Aqua (water), Niacinamide, Pentylene Gylcol, Zinc PCA, Dimethyl Isosorbide, Tamarindus Indica Seed Gum, Xanthan Gum, Isoceteth-20. Ethoxydiglycol, Phenoxyethanol, Chlorphenesin. 
Plusnya lagi, produk ini fragrance free!

KLAIM

Manfaat The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%


Walaupun tulisannya kecil dan kurang mencolok, pada kemasannya juga dituliskan manfaat dari serum tersebut. Jadi buat yang awam sama kandungan-kandungan skincare, mungkin ini akan cukup membantu. Walaupun, seperti yang selalu saya bilang, jatuh cinta harus pada kandungannya ya.

Manfaat The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Jadi untuk The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% ini bermanfaat untuk mengontrol minyak dan mengecilkan pori-pori. Walaupun hanya 2 poin yang dituliskan, sebenarnya masih banyak manfaat-manfaat lain dari Niacinamide ini, misalnya mengatasi hiperpigmentasi pada kulit. Jadi kalau misalnya kulit wajah kalian lebih gelap dari leher karena terlalu sering terpapar sinar matahari, niacinamide ini dapat membantu meratakan warna kulitmu.

TEKSTUR
 
 Tekstur The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Teksturnya cairan bening. Agak sedikit kental, tapi cukup cepat menyerap. Teksturnya yang ringan membuat The Ordinary Niacinamide ini biasa saya gunakan sebagai skincare di layer pertama yang saya pakai setelah toner. Itu juga yang disarankan oleh pihak The Ordinary, bahwa serum ini lebih baik untuk dipakai di awal, sebelum pemakaian skincare yang berbentuk krim atau yang teksturnya lebih berat dari serum The Ordinary ini. Ada yang lucu dari tekstur The Ordinary Niacinamide ini. Serumnya jadi berwarna keputihan kalau tercampur dengan air. Jadi kalau dipakai saat kulit wajah belum benar-benar kering, rasanya seperti bedak yang kecampur air gitu, putih-putih dengan sedikit tekstur.
 
AROMA

Ada aroma yang sangat samar, yang gak bisa saya deskripsiin. Tapi gak perlu khawatir, aromanya yang gak menyengat gak akan bikin hidung kita gak nyaman kok.

HASIL PEMAKAIAN

Tulisan ini sudah saya revisi berkali-kali, mengikuti pemahaman saya tentang produk ini. Pada saat tulisan ini saya publish, tentu ini sudah kesimpulan akhir yang saya dapat setelah sekitar 2 bulan menggunakan produk ini. Satu hal yang saya amati, produk ini cukup awet, dalam 2 bulan hanya menghabiskan setengah botolnya.

Cara Pemakaian The Ordinary Naicinamide 10% + Zinc 1%

Saya selalu bilang kalau pertama kali menggunakan skincare baru, usahakan jangan tercampur dengan skincare baru yang lain. Alasannya adalah untuk mempermudah penilaianmu terhadap produk tersebut. Jadi tidak ada yang berbeda dengan rutinitas skincare saya selain menyelipkan The Ordinary Niacinamide ini sebelum memakai moisturizer. Tapi ada satu hal yang saya lupa, bahwa ada kandungan-kandungan yang tidak bisa tercampur dengan si Niacinamide, yaitu vitamin C. Saya juga lupa, kalau Farsali, si kesayangan saya, mengandung vitamin C. Makanya, minggu pertama pemakaian The Ordinary Niacinamide ini malah bikin kulit saya break out.

Setelah saya ingat kalau Farsali ini mengandung vitamin C, minggu-minggu setelahnya saya hanya menggunakan The Ordinary Niacinamide ini tanpa dilayer dengan apapun, kecuali  di pagi hari, yang tentunya saya layer dengan sunblock. Hasilnya? Saya takjub sih. Minyak di wajah lebih terkontrol, kulit wajah lebih kenyal dan lembut saat dipegang. Saya juga merasa produk ini mengembalikan warna kulit saya yang hiperpigmentasi karena sering panas-panasan. Kerennya lagi, The Ordinary Niacinamide ini bikin jerawat saya lebih terkontrol, hanya menyisakan 1 atau 2 jerawat, itupun jerawat PMS.  Sebenarnya Niacinamide juga dikatakan dapat mengecilkan pori-pori, tapi saya belum merasakannya. Saya gak protes sih, masalah pori-pori besar memang gak bisa cuma berharap dengan 1 produk skincare, apalagi hanya dalam waktu 2 bulan.

Jadi, review orang-orang yang bilang kalau The Ordinary Niacinamide ini bagus, terbukti benar, khususnya untuk orang-orang yang memiliki kulit cenderung mudah berjerawat. Tapi sekarang-sekarang, saya bikin jadwal untuk penggunaan Niacinamide ini. Alasannya? Karena saya juga masih ingin mendapatkan efek glowy dari Farsali, dan Niacinamide ini termasuk skincare yang gak bisa dipakai berbarengan dengan Farsali. Jadi, mau gak mau, harus mengalah dipakai terpisah.

KESIMPULAN

+ Mudah menyerap
+ Harga terjangkau
+ Mengontrol minyak di wajah
+ Dapat meratakan warna kulit wajah
+ Mengontrol jerawat dan beruntusan
+ Isinya banyak

- Gak bisa digabung dengan vitamin C
- Teksturnya berubah aneh kalau terkena air
- Sulit dicari, harus online

Harga : 130.000 untuk 30 ml
Nilai : 4/5
Rekomendasi : Ya, apalagi untuk kalian yang punya kulit acne prone.
Continue reading REVIEW : The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%, Serum Untuk Kulit Acne Prone

Sunday, 27 January 2019

, , ,

REVIEW: Sapulidi Resort Lembang, Bermalam Di Tengah Danau

Dalam rangka ingin menghilangkan penat akibat tumpukan kerjaan sebelumnya, Mas Suami mengajak saya untuk main-main di daerah Lembang. Tipikal Mas Suami, kalau ingin melepas stres, doi pasti cari destinasi yang jauh dari keramaian, lebih senang melihat alam, pohon-pohon hijau dan menikmati udara segar. Singkat cerita, kami akhirnya memutuskan untuk liburan di daerah Lembang selama 4 hari 3 malam. 

Ada beberapa pilihan saat kita mencari tempat menginap, yaitu Sapulidi Resort, Imah Seniman Resort, dan Gunung Putri Hotel. Tapi, karena kami berdua senang eksperimen, akhirnya kami memutuskan untuk menginap semalam di Sapulidi, semalam di Imah Seniman, dan malam terakhir di Gunung Putri Hotel. Sayangnya yang terakhir gak terwujud karena kami harus cepat-cepat pulang ke Bandung.

Pertama kali saya tahu Sapulidi ini sewaktu SMP. Kala itu, teman saya merayakan ulang tahunnya di sana, tepatnya di restorannya. Makanya, selama ini saya selalu berpikir kalau Sapulidi adalah tempat makan, bukan resort atau semacamnya. Sampai akhirnya 2 orang teman saya sempat cerita kalau mereka pernah honeymoon di Sapulidi, menginap di sana, dan memiliki kesan yang positif. Karena penasaran, akhirnya saya booking 1 kamar tipe Suite Lake View dengan harga 670.000 via Traveloka.

Informasi Resort :

Nama : Sapulidi Cafe,Resort & Gallery
Alamat : Kompleks Graha Puspa, Jalan Sersan Bajuri, Cihideung, Lembang, Cihideung, Parongpong, Bandung, Jawa Barat 40559 
Telepon : (022) 2786915
Website :   www.sapulidisawah.com  

Sapulidi Resort ini terletak di lereng hijau yang subur di Lembang dengan konsep menyatu dengan alam. Resort ini mempunyai 23 kamar dengan 4 tipe. Setiap kamar didesain dengan gaya Joglo-Jawa. Tipe Suite Lake View yang saya pilih termasuk tipe yang banyak jadi favorit orang. Kamar berukuran sekitar 63 m2 ini berada di pinggir danau. Balkon yang terbuat dari kayu, menjadi pembatas antara kamar dan danau, dan tempat ini jadi spot favorit kami untuk ngadem, nyemil, dan ngobrol santai, ataupun serius.


Begitu masuk ke dalam kamar, terdapat ruang tengah yang cukup luas. Terdapat kursi dan meja pijat, kalau-kalau kalian minat untuk dipijat. Lantainya dari kayu, bikin udara terasa semakin sejuk. Di kamar ini gak ada AC, tentu saja, dengan udara sesejuk ini, siapa yang butuh AC?
 


Fasilitas kamarnya sendiri sih standar, kasur tipe king, TV, meja, kursi, pembuat teh/kopi, air mineral, dan wi-fi, walaupun jangan berharap banyak sama wi-finya, masih kalah sama sinyal three. Lalu untuk fasilitas kamar mandinya, kebetulan saya dapat kamar yang ada bathtubnya. Bathtubnya ini bukan bathtub pada umumnya. Kalau bisa dibilang, ini semacam bathtub DIY, terbuat dari keramik-keramik biasa yang dibentuk menyerupai bak. Kalau gak ada shower dan gorden penutupnya, mungkin saya juga akan berpikir itu bak mandi. Bathtub DIY ini sebenarnya bersih, tapi warna cat dan keramik yang sudah lama, bikin bathtub ini kelihatan kotor.


Saya punya pengalaman lucu dengan bathtub ini, bathtub yang menurut saya useless. Ukurannya cukup besar, mungkin muat sampai 2/3 orang. Tapi, air yang keluar dari kerannya, pelan dan kecil banget. Ya kira-kira aja, bak segede gitu, dengan aliran air keran yang semenel, kapan penuhnya? Setelah saya cobapun, 2 jam juga gak nyampai setengahnya penuh. Kan males juga ya. Air panasnya pun gak begitu panas, jadi ya bathtub ini saya masih bingung fungsinya buat apa. Teruntuk pihak Sapulidi, kalau-kalau ada yang baca tulisan saya ini, mbo ya kalau bikin bathtub ya jangan setengah-setengah gitu loh. Jadinya kemarin saya cuma rendem-rendem telapak kaki doang. Lumayan lah buat ngilangin pegal-pegal kaki. Atau jangan-jangan memang itu tujuannya?

Beralih dari bathtub yang gak ada fungsinya, sedih saya terobati saat saya makan malam di restorannya. Suasananya tenang, lagu yang diputapun bikin suasana makin adem, salah satunya mereka memutar albumnya Yiruma, pianis favorit saya. Selain itu, makanannya termasuk 'niat' untuk ukuran resort dan resto. Saya pikir, harganya bakal mahal dengan kualitas seadanya, tapi ternyata enggak. Harganya standar, untuk cemilan mulai dari 10.000an, gak bikin bangkrut-bangkrut amat. Cuma memang untuk masakan yang bahan dasarnya ikan, hitungannya per ons, bukan per ekor, jadi sudah pasti mahal. Seperti misalnya menu Ikan Goreng Sambel Hejo yang harganya 15.000 per ons ya, dan kata pelayannya, berat 1 ekor paling kecil itu 8 ons, jadi kira-kira untuk 1 ekor Ikan Goreng Sambel Hejo, harganya sekitar 120.000. Tapi kan 1 ekor itu besar, jadi kalau kalian ke sini ramai-ramai, mungkin bisa coba. Kalau saya kemarin, karena sudah kenyang, hanya pesan cemilan-cemilan, seperti jagung bakar, ketan bakar, lumpia besar, mie tek tek, skoteng, dan teh hangat. Alhamdulillah dari semua yang saya pesan, gak ada yang mengecewakan, kecuali jagungnya yang kurang dibumbui saus.


Setelah kami makan malam, tentu saja kami balik lagi ke spot favorit, balkon! Kalau berdua sama pasangan kerasa romantis, apalagi pemandangan danau di malam hari dengan lampu-lampu kamar lainnya, bikin suasana semakin romantis. Tapi, setelah dipikir-pikir, sebenarnya antara romantis dan seram jadi beda tipis. Saking sunyinya, saya cuma bisa dengar suara air danau yang keciprak-keciprak dan suara pohon-pohon yang kena angin.


Besok paginya, saya memang sudah berencana untuk naik perahu. Di Sapulidi ini disediakan perahu, boleh naik sendiri, ataupun dinaikin (?), maksudnya didayungin sama timnya Sapulidi. Karena didayungin orang itu kurang menantang, akhirnya kami memutuskan untuk mendayung sendiri, yang berakhir dengan muter-muter di satu tempat, nyeruduk pohon-pohon, dan kesulitan untuk menepi. Ya gitu deh, pelajaran bagi kamu, bahwa untuk mendayung gak bisa cuma modal sotoy. Tapi, seru kok! Asal jangan sampai oleng dan nyebur ke danau aja. Btw, saya lupa bilang, kalau danaunya ini dipenuhi ikan-ikan, dan ikannya guede-guede!


Overall, saya menikmati bermalam di Sapulidi Resort, karena suasananya yang tenang dan udaranya sejuk. Makanannya enak dan gak begitu mahal. Hanya mungkin akan lebih baik jika bathtubnya difungsikan sebagaimana mestinya, kan abis dingin-dinginan di Lembang enaknya langsung berendam, ya gak?

Continue reading REVIEW: Sapulidi Resort Lembang, Bermalam Di Tengah Danau

Saturday, 19 January 2019

,

2019, Berhenti Menjadi Manusia Sotoy

Happy New Year! Selamat datang 2019! *Anggap saja kamu baca ini di tanggal 1 Januari 2019*
1 tahun lagi terlewati. Setelah saya merasa tahun 2017 berlalu sangat cepat, ternyata saya merasakan hal yang sama di tahun 2018. Padahal jika dihitung, saya sudah menghabiskan 365 hari untuk bermultitasking. Ya, biasalah, mengerjakan hal-hal penting sekaligus memang sangat melelahkan, seperti bernapas sambil sarapan, sambil mikirin nanti siang makan apa, sambil mengeluh kenapa hari ini hujan padahal saya baru saja jemur baju. 

Sebenarnya saya bukan orang yang antusias dalam menyambut tahun baru. Selama lebih dari seperempat abad hidup di bumi ini, 80% malam pergantian tahun selalu saya rayakan di rumah, tepatnya di dalam mimpi. Saya selalu merasa tahun baru bukanlah sesuatu yang patut dirayakan, tapi justru sebaliknya. Malam pergantian tahun ibarat pembagian raport, bagaimana kita melihat ke belakang, evaluasi tentang apa saja yang sudah dilewati di tahun sebelumnya, dan berharap gak ada angka merah di dalamnya.

Di tahun 2018, raport saya biasa saja. Mungkin nilai rata-ratanya 75. Bukan berarti hidup saya rata-rata, atau normal-normal saja, yang mana itu sangatlah membosankan. Tapi justru karena hidup yang sangat dinamis, sempat dapat nilai 90, tapi gak jarang juga dapat nilai 60. Tapi bukankah hidup memang seperti itu?

Membuat resolusi bagi saya bukan hal yang menyenangkan, tapi juga gak pernah saya lewati. Dilakukan atau gak, urusan nanti. Toh, orang bilang yang penting niatnya. Walaupun saya gak percaya kalau orang bisa kenyang hanya dengan niatnya untuk makan. Tapi ternyata, seperti biasa, teman-teman dari Bandung Hijab Blogger selalu memberikan semangat dan motivasi untuk berkolaborasi dalam menulis, dan kali ini tentang resolusi di tahun 2019.



Tadinya saya mau bikin list panjang tentang resolusi saya di tahun 2019, tapi gak jadi. Itu semua terlalu banyak! Lagipula siapa yang betah baca artikel yang isinya cuma harapan-harapan orang lain yang gak ada hubungannya dengan dirinya sendiri?

Di antara puluhan resolusi yang saya buat di tahun ini, saya  masih menyisipkan 1 harapan yang selalu saya tulis di setiap resolusi pergantian tahun, yaitu untuk berhenti menjadi manusia yang sotoy, terutama di hadapan Tuhan. Gak sekali dua kali saya mengeluh karena doa yang tak kunjung dikabulkan. Merasa ada yang salah dengan jalan Tuhan, gak jarang juga menuduh Tuhan yang pilih kasih.

Selama ini, saya selalu berusaha untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, walaupun saat sedang "berbincang" denganNya, saya masih suka kepikiran, "rumah udah dikunci belum ya?", "tadi kompor udah dimatiin belum ya?", atau sering juga, "ini udah rakaat yang keberapa ya?". Padahal kita sama-sama tau, gak ada yang suka diperlakukan seperti itu. Makanya, lagi-lagi saya sering minta maaf sesudahnya.

Ada satu waktu di mana saya merasa sangat sotoy di hadapan Tuhan, merasa bahwa skenario yang Tuhan tulis terlalu klise. Kisah yang sudah disusun sejak lama, dengan segampang itu Ia pilihkan akhir yang sedih. Saat itu, saya pikir Tuhan hendak mengajak saya bercanda, tapi menurut saya gak lucu. Mungkin selera humor kami berbeda. Namun ternyata, saya yang bodoh ini salah tangkap. Tuhan bukan melucu, Ia sedang mengajak saya bernegosiasi. Ia menawarkan sesuatu yang lebih besar, dengan syarat saya harus mampu melalui rintanganNya.

Suatu ketika, Tuhan membuat satu kisah lagi, dan saya kembali digiring ke dalam kisahNya. Tentu awalnya saya sempat menolak, saya bilang kalau kisah inipun pasti berakhir dengan air mata. Tapi, saya sadar kalau saya hanyalah manusia yang terlalu banyak makan micin, apa yang menurut saya benar, kemungkinan besar salah. Maka akhirnya saya mencoba berdamai dengan Tuhan, menarik kembali kata-kata buruk yang saya tujukan padaNya.

Tuhanpun melanjutkan kembali kisah itu. Saya pikir, dengan hubungan saya denganNya yang lebih baik, Tuhan akan memberikan kisah yang indah, tanpa cela, tanpa air mata. Ternyata saya salah, Ia masih menyelipkan kerikil dan paku-paku payung di perjalanan saya. Tapi bedanya, di pinggir-pinggir jalan, Tuhan membuat lampu taman yang indah yang dikelilingi oleh kunang-kunang, sehingga membuat saya mampu menghindari kerikil dan paku dengan mudah.

Pada saat saya menulis artikel ini, saya sudah berada di jalan yang lebih tenang. Sudah sedikit kerikil dan paku-paku di jalan. Kalaupun ada, saya akan melihat sekeliling. Mencari lampu, ataupun kunang-kunang yang terkadang Tuhan sembunyikan agar saya bisa lebih jeli dalam mencari cahaya. Saya pernah baca, bahwa "jalan Tuhan belum tentu yang tercepat, bukan juga yang termudah, tapi pasti yang terbaik". Jadi, kalau saya sudah mulai sotoy dan merasa kalau jalan yang dibuat Tuhan itu salah, saya gak segan-segan noyor kepala sendiri, dan bilang, "Berhenti makan micin, makanya!"
Continue reading 2019, Berhenti Menjadi Manusia Sotoy

Thursday, 17 January 2019

, , , , ,

REVIEW : Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)

Sebagai seorang yang berusaha untuk menepati janji, akhirnya tulisan ini selesai juga. Ya, apalagi kalau bukan ulasan tentang salah satu produk Pixy dari seri Make It Glow, yaitu Silky Powdery Cake. Produk ini juga saya dapatkan dari tampilcantik.com , so lucky!

Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)

INFORMASI PRODUK

Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)

Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake (Netto : 10 gram)
Manufactured by PT. Mandom Indonesia, Tbk
Jl. Irian, MM 2100 Industrial Town, Bekasi - Indonesia

KEMASAN

Kemasan Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)

Dengan warna seperti seri Pixy Make It Glow lainnya, lagi-lagi saya suka. Kalau bentuknya dan sponsnya sih gak spesial, cuma warna si seri Make It Glow ini aja yang gemesin banget.

KLAIM

Two way cake dengan tekstur halus dan ringan, memberikan daya tutup yang natural, kulit tampak halus bercahaya, serta tata rias yang tahan lama. Formulanya sangat mudah diratakan di kulit tanpa perlu menggunakan teknik khusus, cocok untuk pemakaian sehari-hari. Dilengkapi dengan:
  • Moisturizing Botanical Extract (Olive Oil, Jojoba Oil, Yuzu Extreact) yang menyebabkan dan membuat kulit tampak sehat berseri
  • Smooth Polished Powder yang membuat formula menyatu di kulit serta membuat kulit halus dan lembut
  • SPF 23 & PA++ sebagai perlindungan optimal terhadap sinar UVB dan UV
Ternyata klaimnya mirip-mirip dengan cushionnya, karena kandungan yang menjadi highlightnya pun sama. Perbedaannya ada pada daya coverage dan glowy finishnya. Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake ini hanya memiliki coverage 3/5 dan glowy finish 3/5 pula. Saya sih senang, pada dasarnya kan bedak memang untuk mengunci makeup. Kalau bedaknya juga terlalu glowy, saya yakin muka saya bakal lengket dan jadi perangkap kuman dan debu.

KANDUNGAN 

Kandungan / Ingridients Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)

Talc, Mica, Titanium Dioxide, Ethylhexyl, Methoxycinnamate, Silica, Synthetic Fluorphlogopite, Vinyl Dimethicone/ Methicone Silsesquioxane Crosspolymer, Dimethicone, Methyl Methacrylate Crosspolymer, Disodium Stearoyl Glutamate, Methicone, Phenoxyethanol, Alumunium Hydroxide, Fragrance, Butylparaben, Methylparaben, Squalane, Simmondsia Chinensis (Jojoba) Seed Oil, Polymethylsilsesquioxane, Hydrogen Dimethicone, BHT, Alumina, Citrus Junos Seed Oil, Butylene Glycol, Water, Tocopherol, Citrus Junos Fruit Extract.

May Contain : Cl 77492, Cl 77491, Cl 77499

TEKSTUR

Tekstur Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)

Seperti two way cake pada umumnya, lumayan halus.

AROMA

Ini minus pertama yang saya temukan di produk ini. Wanginya lebih menyengat dibanding cushionnya. Sebenarnya gak ada yang salah dengan produk berparfum, tapi saya suka sugesti kalau produk-produk yang wangi-wangi tuh suka bikin gatel, padahal sih belum tentu.

WARNA

Walaupun nomor dan nama shadenya sama, 301 Medium Beige, tapi aslinya beda. Untungnya, Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake no ini punya undertone kuning. Pas banget untuk menetralkan warna cushionnya, biar gak abu-abu.

CARA PAKAI

Cara Pakai Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)

Sama dengan cushionnya, cara pakainya tinggal sapukan dengan spons secara merata ke seluruh wajah. Lipat spons menjadi dua bagian untuk meratakan di daerah bawah mata dan bawah hidung.

HASIL PEMAKAIAN 

Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake ini saya pakai setelah memakai Dewy Cushionnya Pixy. Seperti yang saya bilang sebelumnya, gak mungkin kalau saya gak set cushionnya tanpa bedak sama sekali. Nah, bedak inilah yang biasa saya pakai untuk set cushionnya Pixy.

Saya suka dengan undertone yellownya yang menyelamatkan keabu-abuan cushion Pixy. Uniknya Pixy seri Make It Glow ini, produknya memang memberikan hasil glowy yang membuat kulit terlihat lebih sehat. Bahkan saya sebagai pemilik kulit berminyak, jadi ketagihan pakai produk-produk yang glowy.

Bedanya dengan two way cake yang saya pernah coba, Silky Powdery Cake ini menghilangkan rasa lengket cushion, tanpa membuatnya menjadi matte. Jadi masih terasa lembap dan glowy, tapi ya gak lengket. Gimana ya, ya gitu pokoknya, kalian pasti paham. Mungkin inikah yang dinamakan glass skin?


Review Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)

Silky powdery cake ini juga bisa digunakan sendirian, tanpa cushion. Tapi ya hasilnya gak maksimal, coveragenya gak setinggi cushion. Jadi biasanya saya cuma pakai ini untuk touch up. Nah, masalah oil control, baik cushion dan silky powdery cakenya, saya emang gak bahas. Ya wong ini produk untuk bikin hinyay, kok malah ngarep ke oil controlnya? Tapi untuk ketahanannya, ini tahan seharian. Paling kalau kena air dan keringat ya menipis aja, gak sampai hilang total.


Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)

Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)
KESIMPULAN

+ Shadenya masuk ke skintone orang Indonesia, undertone yellow
+ Teksturnya halus
+ Hasilnya glowy tapi gak lengket
+ Mengandung SPF 35 & PA +++
+ Cukup tahan lama
- Wanginya menyengat
- Coveragenya so so

Harga : 60.000
Nilai : 3.5/5
Rekomendasi : Ya, kalau kamu suka tampilan yang glowy tapi gak mau terlalu hinyay.
Continue reading REVIEW : Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)
, , , , , , ,

REVIEW : Pixy Make It Glow Dewy Cushion Medium Beige (301), Cushion dengan Coverage Juara!

Produk yang akan saya ulas sekarang adalah produk yang udah jadi wishlist saya dari mulai pertama kali muncul. Untungnya Tuhan Maha Baik, biar saya bisa tetap ngehits dan gak kudet, melalui tampilcantik.com, Dia kirim saya 2 produk keluaran Pixy seri Make It Glow. Sebenarnya, Pixy Make It Glow ini punya 3 produk, Beauty Skin Primer, Dewy Cushion, dan Silky Powdery Cake. Saya dikirim Cushion dan Powdery Cakenya, lagi-lagi saya bersyukur, because I'm not really a fan of primer, selalu skeptis sama fungsinya primer, kecuali punyanya Benefit. 

Sebenarnya agak lucu saya mengulas 2 produk seri Make It Glow ini. Sudah jelas ini produk yang diformulakan untuk kulit kering atau normal agar mendapatkan hasil makeup yang dewy. Lalu apa ceritanya, saya yang punya kulit dengan seliter minyak cadangan di bawah kulit, pakai produk ini? Mudah-mudahan saya gak dibilang gak tau diri. Gak papa toh, sempat dibikin kecewa dengan produk matte powder keluarannya Make Over yang kemarin, bikin saya kangen dengan makeup yang lembap dan dewy. Gak bohong juga sih kalau bilang makeup dewy kelihatan lebih fresh dan sehat. Setuju gak?

Tadinya saya mau gabungin ulasan 2 produk ini, tapi kayaknya bakal gak sistematis dan takutnya jadi kurang informatif. Walaupun akan saya pisah, reviewnya bakal berderet kok. Saya janji gak akan lama-lama ngepostnya. Tentunya saya akan mulai dengan Cushionnya dulu, baru dilanjut dengan Silky Powdery Cake.

 
 INFORMASI PRODUK




Pixy Make It Glow Dewy Cushion (Netto: 15 gr)
Manufactured by PT. Cosmax Indonesia
Jl. Raya Bogor Km 26,4, Jakarta 13740, Indonesia
Manufactured for PT. Mandom Indonesia, Tbk
Jl. Irian, MM 2100 Industrial Town Bekasi - Indonesia. www.pixy.co.id
Licensed by Mandom Corporation Japan

KEMASAN



 Ah, gak usah banyak-banyak saya cerita tentang kemasannya. Warna dan designnya bagus! Untuk sisanya ya kayak cushion pada umumnya. Tapi untuk sponsya, menurut saya agak keras hmm.

KLAIM


Cushion dengan tekstur ringan dan daya tutup tinggi, menyamarkan noda dengan hasil tampak natural dan tahan lama hingga 10 jam. Memberikan hasil tata rias wajah yang tampak bercahaya, tanpa minyak berlebih. Dilengkapi dengan :
  • Moisturizing Botanical Extract (Olive Oil, Jojoba Oil, Yuzu Extreact) yang menyebabkan dan membuat kulit tampak sehat berseri
  • Smooth Polished Powder yang membuat formula menyatu di kulit serta membuat kulit halus dan lembut
  • SPF 23 & PA++ sebagai perlindungan optimal terhadap sinar UVB dan UV
Pixy seri Make It Glow ini punya keterangan daya coverage dan glowy finish di setiap produknya. Untuk cushion ini coveragenya 4/5, sedangkan glowy finishnya 5/5. Waktu saya baca ini, saya sudah terbayang bagaimana wajah saya akan bersinar. Hmm. 

KANDUNGAN



Water, Titanium Dioxide, Cyclopentasiloxane, Diphenylsiloxy Phenyl Trimethicone, Butylene Glycol, Ethylhxyl Methoxycinnamate, Dicaprylyl Carbonate, Lauryl PEG-9 Polydimethylsiloxyethyl Dimethicone, Cyclohexasiloxane, Glycerin, Caprylic/Capric Triglyceride, Trimethylsiloxysilicate, Phenyl Trimethicone, Pentylene Glycol, Polypropylsilsesquioxane, PEG-10 Dimethicone, Phenoxyethanol, Magnesium Sulfate, Dipentaerythrityl Hexa C5-9 Acid Esters, Dimethicone, Triethoxycaprylylsilane, Dimethicone Crosspolymer, Polyhydroxystearic Acid, Aluminum Hydroxide, Disteardimonium Hectorite, Stearic Acid, Fragrance (Parfum), Ethylhexylglycerin, Lecithin, Ethylhexyl Palmitate, Isostearic Acid, Isopropyl Myristate, Hydrogenated Castor Oil Isostearate, Polyglyceryl-3 Polyricinoleate, Disodium EDTA, Synthetic Fluorphlogopite, BHT, Tocopherol, Olea Europaea (Olive) Fruit Oil, Simmondsia Chinensis (Jojoba) Seed Oil, Citrus Junos Fruit Extract.

May Contain : CI 77492, CI 77947, CI 77491, CI 77499.

TEKSTUR


Karena ini adalah cushion pertama seumur hidup saya, saya gak bisa ngukur seberapa bagus teksturnya. Sepengamatan saya, cushion ini teksturnya ya kayak foundation aja, foundation yang kental.

AROMA
 
Saya mencium wangi parfum yang agak menyengat. Sebagai pecinta produk kosmetik tak berparfum, saya ya kurang suka sama baunya.

WARNA



Pixy Make It Glow Dewy Cushion ini  punya 3 shade, 101 (light beige), 201 (natural beige), 301 (medium beige). Saya dapat yang no 301, warna yang paling gelap. Walaupun saya salut Pixy yang bisa ngeluarin cushion dengan warna yang lumayan gelap, tapi saya masih merasa undertonenya masih peach. Mudah-mudahan, selanjutnya Pixy ngeluarin warna-warna lain yang lebih masuk ke skintone perempuan Indonesia, yang undertonenya yellow. Tapi, dengan adanya shade medium beige pun udah prestasi banget sih. Coba lah tengok cushion lain dengan harga yang sama, saya udah pesimis duluan liat warna-warnanya.

CARA PAKAI


Sapukan dengan spons secara merata ke seluruh wajah. Lipat spons menjadi dua bagian untuk meratakan di daerah bawah mata dan bawah hidung.
HASIL PEMAKAIAN

Saya sudah menggunakan Pixy Make It Glow Dewy Cushion ini selama kurang lebih 2 minggu. Jadi rasanya sudah bisa memutuskan apakah saya suka atau enggak dengan cushion ini.

Kali pertama saya coba cushion ini, saya langsung notice sponsnya yang gak terlalu enak dipakai. Saya merasa sponsnya ini bahannya gak terlalu lembut dan terlalu menyerap produk. Jadi saat pemakaian, produknya sulit diratakan, malah jadi kegeser-geser gitu, you know what I mean? Jadi yang tadinya saya mau meratakan produknya, eh sponsnya malah ngangkat cushionnya.

Makanya kebanyakan beauty enthusiast menggunakan beauty blendernya untuk pengaplikasian cushion ini, begitupun saya. Saya pakai miracle sponge Real Technique yang saya punya, dan waktu saya coba, gampang banget buat ngeratainnya!

Pertama kali saya pakai, saya takjub dengan coveragenya, nutup pisan! Bahkan lebih nutup dari liquid foundation yang saya punya. Hasil akhirnya, sesuai namanya, glowy banget! Tapi anehnya saya suka, kulit saya kelihatan lebih sehat dan segar. Shadenya menurut saya pas (walaupun entah kenapa di kamera terlihat lebih putih, mungkin karena ada kandungan sunblocknya), tapi undertonenya masih agak peach sehingga masih sedikit terlihat abu-abu.


Karena saya suka dengan hasil glowynya ini yang bikin kulit lebih cerah dan sehat, akhirnya sekali waktu saya pernah nyoba cuhion ini tanpa diset dengan bedak.


Ternyata gak nyampai setengah jam, bulu mata dan rambut aja nempel-nempel ke muka, apa kabar debu dan kuman yang berkeliaran di udara? Makanya, saya tetap pada kesimpulan kalau penggunaan bedak setelah cushion udah gak bisa ditawar-tawar lagi, seenggaknya buat saya dan kamu-kamu yang kulitnya super berminyak. Nah, bedak yang saya pakai masih dari keluaran Pixy Make It Glow juga, dan kalian bisa baca reviewnya di sini : REVIEW : Pixy Make It Glow Silky Powdery Cake Medium Beige (301)

 KESIMPULAN

+ High coverage
+ Membuat wajah terlihat lebih cerah dan sehat
+ Harga terjangkau, mudah didapat
+ Dibandingkan cushion lain, shadenya mendekati skintone orang Indonesia
+ Mengandung SPF 23 & PA ++
+ Staying power oke
- Sponsnya agak keras dan terlalu menyerap produk
- Undertonenya peach, sedikit bikin abu-abu

Harga : 125.000
Nilai : 4/5
Rekomendasi : Yes, for sure!
Continue reading REVIEW : Pixy Make It Glow Dewy Cushion Medium Beige (301), Cushion dengan Coverage Juara!