Monday, 24 April 2023

, , ,

Review Hotel Mambruk, Hotel di Anyer dengan Pantai Pribadi yang Cantik

Mencari hotel di sekitaran pantai Anyer memang sangat tricky. Pilihannya banyak betul, range harganyapun beragam. Eh eh, loh kenapa jadi tiba-tiba ngomongin pantai Anyer? Gini ceritanya..

Beberapa minggu sebelumnya,

 "Lihat deh, Sy. Awannya indah sekali ya, Masya Allah... Allah hebat sekali bisa menciptakan hal-hal indah. Lihat bunga itu juga indah, Allah memang menyukai hal-hal indah..", itu adalah celetukan-celetukan yang biasa saya ucapkan sehari-hari kepada Arsy. Saya selalu ingat pesan dari Ustadz Hasan Faruqi, menumbuhkan fitrah iman anak bukan diawali dengan menghafal surat ataupun doa-doa pendek, tapi dengan mengenal Tuhannya, mencintai dan mengagumi Tuhannya. Lucunya, tinggal di kota membuat saya mengulang hal-hal yang sama. Sejauh mata memandang, langit hanya sebatas awan. Jika beruntung, saya bisa menunjukkan bintang dan bulan yang indah di malam hari. Namun, seringkali, pertanyaan Arsy mengikuti pengalaman yang ia proses melalui panca indranya. Karena rutinitas kami hanya disitu-situ saja, pertanyaannya gak jauh-jauh seputar, "Ma, Allah menciptakan lampu juga? Kalau trotoar? Kalau gedung? Kalau sekolahan?"  Mendengarnya, saya langsung merasa perlu untuk mengajak Arsy jalan-jalan, ke luar dari rutinitas perkotaan yang selalu sibuk ini.

Keputusan untuk berlibur ini juga didukung oleh kabar dari Kukuh yang ternyata mendapat jatah untuk cuti seminggu. Setelah memikirkan banyaknya pilihan liburan dan melewati berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk berlibur ke pantai. Pasalnya, Arsy belum pernah ke pantai dan saya yakin betul dia akan suka sekali dengan pantai, karena dia suka dengan air. Pernah sekali ia datang ke pantai, tapi sungguh pengalaman yang kurang berkesan karena pantainya kecil di dalam Ancol, tanpa ombak, dan saya agak sulit membedakan apakah itu adalah pantai atau selokan karena saking kotornya dengan sampah yang bertebaran di mana-mana. Sedihnya..

Baca Juga : Review Hotel Mercure Convention Center Ancol

Maka, kali ini, saya memutuskan untuk mencari pantai yang gak terlalu ramai. Teman saya menyarankan Pantai Santolo, pantai indah yang belum begitu banyak pengunjungnya. Saya pernah ke sana satu kali, dan memang sungguh indah, namun perjalanannya memang penuh ketegangan, dikarenakan aksesnya yang belum terlalu bagus. Takut tidak menikmati perjalanan, akhirnya kami memutuskan pantai yang aksesnya lebih mudah, tapi tetap tidak terlalu banyak didatangi. Akhirnya, terbesitlah pantai di Anyer. Pantai di kawasan Anyer memang banyak sekali pilihannya, bertanya pada salah satu kerabat yang paham kawasan Anyer, ia menyarankan untuk menginap di dalam satu hotel yang bernama Hotel Mambruk Anyer. Menurutnya, Hotel Mambruk Anyer ini merupakan hotel yang terbilang baru di kawasan itu, punya pantai pribadi, sehingga sudah pasti tidak akan seramai pantai publik. 

Hotel Mambruk Anyer

Mencari kamar kosong di Hotel Mambruk Anyer ini cukup sulit, karena hampir setiap hari full booked (entah karena pada saat itu sedang ada diskon 30% untuk semua room), tapi akhirnya saya beruntung mendapatkan sisa 1 kamar untuk menginap 3 hari 2 malam. Rate yang saya dapatkan saat ini sangat lumayan, kamar superior sudah termasuk breakfast menjadi 1,5 juta saja semalam, dari yang asalnya 2 juta. 

Memang namanya hidup, ada aja yang bikin deg degan. 10 hari sebelum keberangkatan, Arsy tiba-tiba demam. Gejalanya sangat mirip dengan yang dialaminya di awal tahun pada saat ia tipes. Lidah putih, demam hanya di malam hari, dan ini berlangsung berhari-hari. H-4 keberangkatan, badannya masih sedikit demam, saya sudah bilang sama Kukuh untuk menghubungi pihak hotel, bertanya apakah bisa cancel dan refund, dan kalau memang tidak mungkin untuk direfund, saya minta Kukuh untuk menawarkannya ke teman atau adiknya yang kira-kira bisa memanfaatkan room hotelnya. Selain kondisi Arsy, cuaca kala itu sedang sering-seringnya hujan. Meski pagi hari cerah, pasti tidak berlangsung lama, siang sampai malam rata diguyur hujan. Beberapa kali saya melihat postingan orang-orang yang menginap di Hotel Mambruk, yang saya perhatikan adalah backgroundnnya, dan rata-rata saya lihat langitnya gelap, dan pengunjung anak-anak memakai jaket atau kaos berlengan panjang. "Wah, kalau gini mah, Arsy bisa masuk angin", pikir saya. Ya sudah, ikhlaskan, La hawla wala quwata ila billah. Kalau memang Allah mengizinkan, kita akan pergi, kalau memang ini bukan saat yang tepat, ya sudah, harus ikhlas.

Alhamdulillah. H-2 perjalanan, kondisi Arsy sudah jauh lebih baik. Demamnya sudah tidak muncul kembali, lidahnya sudah tidak putih, sudah terlihat lebih bersemangat. Saking semangatnya, dia yang tau bahwa kami punya rencana untuk ke pantai, bolak balik menagih janji, 'Arsy mau ke pantai!". Sempat dilema, karena takutnya "karugrag", tapi meminta saran dari Ibu, Ibu bilang tidak apa pergi ke pantai, siapa tau justru dia happy, dan suasana pantai bisa bikin Arsy jadi semakin sehat dan kembali ceria. Dipikir-pikir, ada benarnya juga. Diam di rumah selama seminggu, bagi saya saja rasanya memuakkan, apalagi bagi anak-anak yang dunianya harusnya penuh dengan aktivitas bermain dan bertualang. Maka, dalam waktu 2 hari, kami mempersiapkan semua yang akan dibutuhkan nanti di pantai, termasuk obat-obatan Arsy, jaga-jaga kalau demamnya muncul kembali.

Kami berangkat di Hari Minggu, pagi hari, sekitar pukul 07.00, Sarapan di jalan menjadi pilihan terbaik, untuk menghindari macet dan menghemat waktu juga. Selama perjalanan, cuaca gak menentu. Dalam 1 waktu, langit sangat cerah, sinar matahari menembus kaca mobil, silau, lalu 15 menit kemudian tiba-tiba awan menjadi gelap, tak ada lagi sinar matahari. Begitu terus. Kami juga sempat was-was waktu masuk Jakarta, hujannya amat sangat deras, langitnya gelap, waah.. betul-betul bukan cuaca yang tepat untuk berpiknik. Tapi, saya tetap berdoa, semoga cuaca di pantai nanti akan berbeda.

Kamar di Hotel Mambruk Anyer

Sesampainya di hotel, memang ternyata hotelnya berbeda dengan yang saya bayangkan. Di bayangan saya, Hotel Mambruk ini ya seperti hotel pada umumnya, gedung bertingkat dengan banyak kamar. Tapi ternyata, kamarnya berupa cottage, tidak bertingkat, dan tersebar di area hotel. Bahkan untuk lobbynya pun, tidak di dalam gedung. Unik, kami mengantri di belakang mobil yang terparkir depan lobby, pengemudinya sedang check in di bagian resepsionis. Setelah selesai check in, mobil depan langsung dipandu oleh room service untuk menuju cottagenya. Setelahnya giliran kami, setelah check in, kami diarahkan menuju salah satu cottage. 

Halaman Hotel Mambruk Anyer

Sesampainya di cottage, Kukuh langsung jalan-jalan di sekitarnya, mencari tahu sedekat apa kami dengan pantai. Maklum, ia agak-agak parno, mengingat Anyer baru saja diterpa oleh tsunami beberapa tahun lalu. Ia juga sudah memastikan titik-titik yang harus segera dituju jika terjadi gempa. Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa. Kami sampai hotel kisaran Ashar, cuacanya suprisingly sangat cerah, panas, tidak ada mendung sedikitpun. Maka setelah istirahat sebentar, kami menuju pantai di sore harinya. Berkali-kali mengucap syukur karena semua yang dikhawatirkan tidak terjadi. Saya bisa mengajak Arsy bermain di pantai tanpa merasa khawatir.

Fasilitas Hotel Mambruk Anyer

Restoran Hotel Mambruk Anyer

Pertama kali bermain ombak, Arsy agak-agak takut. Maklum, kala itu pertama kalinya ia merasakan air yang bergelombang seperti itu. Tapi, tidak butuh waktu lama, ia mulai menikmati dan memaksa saya untuk mengajaknya terus ke tengah-tengah pantai. 

Di malam harinya, karena kami merasa kehabisan tenaga dan agak malas untuk keluar Hotel, kami memutuskan untuk makan malam di restauran hotel. Sebenarnya, rasanya enak, hanya saja porsinya sedikit dengan harga yang lumayan fantastis. Hehe. Hari setelahnya, barulah kami mencoba makan seafood yang lumayan terkenal, di Ikan Bakar BM. Di sana, harganya masih masuk akal, dengan rasa yang luar biasa tidak mengecewakan.

Mengenalkan pantai, laut, pemandangan langit yang terbenam pada Arsy, membuatnya terperangah. Begitu indahnya, cantiknya ciptaan Allah. Sangat menyenangkan rasanya, mengenalkan betapa indah alam semesta ini lewat mata kepala sendiri, bukan lagi lewat layar ataupun buku. Bahkan, di malam hari, saya berkali-kali mengucap tasbih tiap melihat langitnya. Meskipun sudah malam, langit tidak segelap itu, banyak sekali bintang dan bulan yang bersinar dengan terangnya, bahkan kami bisa mengamati pergerakan awan sejelas itu. Minimnya polusi, membuat saya bisa melihat langit yang sesungguhnya.

Pemandangan Langit Malam Anyer

Saya betul-betul menikmati perjalanan kali ini. Tidak hanya saya, Kukuh dan Arsy pun terlihat sangat senang, apalagi Arsy. Sampai sekarang, pantai menjadi tempat favoritnya. Alhamdulillah. Jadi, kalau teman-teman kebingungan memilih hotel di Pantai Anyer, bisa coba Hotel Mambruk Anyer ini. Sangat memuaskan.

Continue reading Review Hotel Mambruk, Hotel di Anyer dengan Pantai Pribadi yang Cantik

Monday, 5 December 2022

, ,

Rekomendasi Series Remaja Bertema Misteri Pembunuhan

Dari dulu, saya paling senang menonton film atau series yang penuh teka-teki. Film dengan tema crime dan misteri, pasti selalu jadi pilihan utama saya. Apalagi, kalau settingnya sekolahan. Genre misteri yang set up nya sekolah, menurut saya lebih memberikan banyak warna, juga bikin kangen masa-masa waktu sekolah (meski saya gak pernah ya menjadi bagian dari tindak kriminal di sekolah). Kalau kamu punya ketertarikan yang sama dengan saya, kamu boleh cek series yang akan saya ulas di sini.

1. Pretty Little Liars 

Sinopsis Pretty Little Liars

Ini adalah series genre crime mystery dengan set up sekolah yang pertama kali saya tonton. Pretty Little Liars bercerita tentang 5 sahabat (Alison, Hanna. Spencer, Aria, dan Emily). Kelima sahabat ini dekat sejak mereka kecil, namun menjadi renggang semenjak tragedi yang menimpa Alison. Alison (yang paling dominan di antara kelimanya), tiba-tiba menghilang pada saat kelimanya sedang mengadakan pesta di tempat Spencer. Setahun setelahnya, Alison ditemukan tewas terkubur di halaman belakang rumahnya. Sejak saat itu, keempat anggota lainnya, mulai mendapatkan pesan misterius dari seseorang yang mengaku 'A'. Teror dari 'A' ini gak main-main, entah bagaimana caranya, ia bisa mengetahui semua rahasia 4 sahabat tersebut. Teror yang awalnya disangka sebagai ancaman-ancaman iseng, berujung dengan ancaman pembunuhan nyata. 

Series ini terdiri dari 7 season, dengan jumlah episode sebanyak 20an di setiap seasonnya. Ini termasuk series yang selalu saya tunggu-tunggu tayangnya, karena di setiap akhir episode, seringkali memunculkan clue mengenai 'A'. Tapi sayangnya, series ini mulai menjenuhkan ketika masuk season-season akhir. Mulai season 4, saya ngerasa karakternya semakin banyak, banyak yang terlibat dan plotnya jadi super bercabang. Apalagi, tokoh 'A' yang semakin gak masuk akal karena rasanya jadi seperti dewa banget, selalu selangkah di depan, cerdas luar biasa.

Yang bikin saya bertahan pada akhirnya adalah chemistry yang terjadi pada pemain, pemain utama maupun pemain pendukung. Jadi, yang tadinya fokus dengan kasus Alison dan misteri 'A', ujung-ujungnya saya malah menanti-nanti adegan yang memunculkan karakter favorit saya, Spencer. Ah I love her! Anyway, PLL ini juga diadaptasi ke series Indonesia dengan judul yang sama. Salah satu pemainnya Anya Geraldine, kalau gak salah. Saya baru nonton 1 episode dan gak lanjut lagi karena beberapa alasan, salah satunya pemilihan artis yang memerankan karakter-karakternya, kayak kurang pas aja.

2. Riverdale

Sinopsis Riverdale

Sama-sama memiliki latar belakang sekolah, series ini memiliki premis tentang misteri kematian misterius seorang remaja lelaki bernama, Jason Blossom, yang ditemukan mengambang di sungai. Inti ceritanya adalah petualangan Archie dan kawan-kawannya dalam memecahkan misteri pembunuhan Jason. Sebenarnya, agak berat untuk memasukkan series ini ke dalam list series remaja. Meskipun, karakter-karakternya adalah anak sekolahan, namun keterlibatan orang-orang di kota kecil ini cukup rumit. Sama seperti Pretty Little Liars, karakter dalam series ini lumayan banyak (banget), tapi pada series Riverdale, sepertinya lebih banyak orang-orang dewasanya. Malah, menurut saya, ini jadi seperti drama orang tua mereka, karena mereka betul-betul seterlibat itu dalam setiap masalah. 

Baca Juga : Hidup Biasa-Biasa Saja Ala Alain de Botton

Jika dibandingkan dengan Pretty Little Liars, Riverdale punya plot yang lebih bercabang lagi. Berbeda dari Pretty Little Liars selama 7 season fokus di A, Riverdale seperti punya fokus yang berbeda di tiap season, sehingga misteri kematian Jason Blossom sulit untuk dikatakan sebagai premis series ini. Sama seperti kesan menonton PLL yang tak kunjung usai, akhirnya, saya menikmati Riverdale bukan lagi karena plot ceritanya, namun lebih karena pemain-pemain yang punya chemistry satu sama lain, I'm in love with Cami of course

3. One Of Us Is Lying

Sinopsis One of Us is Lying

Series ini baru saja menyelesaikan season 2 nya. Melihat ending season 2nya, saya rasa masih akan ada season selanjutnya. Jadi apa yang saya tulis ini, hanya berdasar apa yang saya tonton selama 2 season. One of Us is Lying bercerita tentang 5 remaja, Simon, Browyn, Nate, Addy, dan Cooper yang secara janggal sama-sama mendapatkan hukuman disiplin sepulang sekolah. Di ruangan disiplin hanya ada mereka dan 1 guru pengawas. Tragedi terjadi saat Simon meminum air yang disediakan di ruang tersebut dengan gelas yang juga tersedia. Tak berselang lama, Simon terlihat seperti sesak, nafasnya tersenggal-senggal, meminta pertolongan. Sang guru sedang di luar ruangan, keempat siswa lainnya mencoba mencari pertolongan, namun semuanya terlambat. Simon tewas karena alergi kacang, yang ternyata ada dalam air yang dia minum. Dari penyelidikan polisi, disimpulkan bahwa tewasnya Simon adalah karena pembunuhan.

Misteri pembunuhan Simon menjadi berita besar, apalagi karena orang tuanya Simon merupakan pejabat setempat. Keempat remaja yang berada di tempat dan waktu yang sama dengan Simon saat itu, menjadi tersangka utama, orang-orang memanggil mereka Murder Club. Merasa tidak bersalah, Murder Club mulai bekerja sama mencari tau dalang dibalik semuanya, yang berujung dengan petualangan yang rumit. Pasalnya, hampir seisi sekolah membenci Simon. Ia seperti black box, menyimpan semua rahasia murid-murid sekolah. Simon memiliki situs yang secara rutin memuat tentang rahasia-rahasia kelam yang dimiliki para murid. Jadi, banyak orang-orang di luar Murder Club yang punya motif untuk melakukan pembunuhan terhadap Simon.

Baca Juga : 5 Love Language, Memahami Bahasa Cinta Pasangan

One Of Us Is Lying ini agak mirip dengan Pretty Little Liars. Vibes anak sekolahnya sangat terasa. Cuma, untuk masalah kemampuan acting dan chemistry, saya ngerasa ada yang off gitu dari series ini. Lalu juga, sering saya mendengar dialog cringe yang bikin saya bergumam "naon sih?". Ada sedikit harapan ketika melihat Browyn, si paling cerdas, menjadi bagian dari petualangan tersebut, karena ya... pintar, seperti bagaimana Spencer di Pretty Little Liars banyak menemukan solusi kreatif, meskipun selalu kacau di urusan percintaan. Tapi, ternyata memang tidak sesuai ekspektasi. Melelahkan dan gemas rasanya melihat si pintar ini yang justru sering blunder dan membawa masalah baru pada teman-temannya. Termaafkan karena hubungan romantisnya dengan Nate yang lumayan menyegarkan mata.

Itu adalah 3 rekomendasi series remaja dengan tema misteri pembunuhan. Adakah yang jadi favorit kamu? Atau ada series lain yang kamu ingin rekomendasikan? Let me know!

Continue reading Rekomendasi Series Remaja Bertema Misteri Pembunuhan

Tuesday, 22 November 2022

, ,

Review Skincare : Erha 10 Home Peeling 1 dan Erha 11 Home Peeling 2, Eksfoliasi Mudah di Rumah

Produk eksfoliasi kulit yang bagus, sudah banyak bertebaran di luar sana. Saya sendiri, merasa kalau eksfoliasi itu salah satu treatment yang penting. Mengangkat sel kulit mati akan membuat produk skincare yang kita pakai sehari-hari, lebih menyerap dan bekerja secara optimal. Ada 2 jenis produk eksfoliasi kulit, yang physical dan juga yang chemical. Dari namanya, kita bisa langsung paham ya, physical exfoliator adalah produk eksfoliasi yang menggunakan butiran scrub untuk mengangkat sel kulit mati, sedangkan chemical exfoliator adalah produk eksfoliasi yang menggunakan zat aktif yang dapat mengangkat sel kulit mati, contohnya AHA.

Saya sendiri, sebetulnya merasa kalau keduanya punya plus minus. Physical exfoliator seringkali tidak bersahabat dengan kulit sensitif, beberapa produk punya scrub yang terlalu besar sehingga meningkatkan resiko iritasi akibat gesekan scrub dengan kulit. Namun, physical exfoliator menurut saya paling ampuh dalam mengatasi komedo-komedo, terutama komedo di bagian hidung, bisa langsung bikin hidung mulus seketika. Sedangkan untuk chemical exfoliator, meskipun painless, saya ngerasa kurang nendang di kulit, kulit gak otomatis kerasa mulus dan bersih seperti yang biasa dirasakan saat memakai physical exfoliator.

Uniknya, produk yang akan saya review kali ini, terdiri dari 2 jenis exfoliator tersebut, dan keduanya dipakai bersamaan, saling melengkapi. Produk keluaran Erha ini sengaja dibuat untuk kita yang ingin melakukan treatment ekfoliasi di rumah, makanya namanya adalah Erha Home Peeling. Seperti yang tadi saya sebutkan, Erha Home Peeling ini terdiri dari 2, yaitu Erha 10 dan Erha 11, saya gak tau 10 dan 11 ini kode apa, tapi memang pemakaiannya dilakukan berurutan, pertama Erha 10 lalu dilanjutkan dengan Erha 11.

Erha Home Peeling

Basically, Erha 10 Home Peeling ini adalah chemical exfoliator. Ia mengandung glycolic acid sebanyak 5% dan lactic acid sebesar 4,5%. Teksturnya krim dengan konsistensi yang padat, seperti mentega. Sedangkan Erha 11 Home Peeling ini adalah keduanya, ya chemical, juga physical. Ia juga mengandung glycolic acid sebesar 10%. Meskipun begitu, Erha 11 Home Peeling memiliki tekstur yang berbeda karena mengandung scrub halus di dalamnya.

Erha Home Peeling

Cara pemakaiannya juga mudah, bahkan bisa dilakukan sambil rebahan atau ngedrakor. Yang pertama, cuci wajah menggunakan sabun hingga bersih, lalu oleskan Erha 10 Home Peeling 1 ke seluruh permukaan kulit. Setelahnya, diamkan selama 30 menit. Sesudah 30 menit, lanjut dengan mengoleskan Erha 11 Home Peeling secukupnya ke seluruh wajah, dan pijat dengan gerakan memutar selama kurang lebih 1 menit. Setelah itu, bilas dan keringkan. Sangat mudah kan?

2 kombo ini ampuh banget buat bersihin kotoran di muka saya. Pasca treatment emang kulit kelihatan lebih merah, namanya juga abis exfoliasi ya, cuma kulit jauh lebih halus dan kerasa lebih ringan (mungkin ini semacam sugesti karena kotoran seperti sudah terangkat, ya). Kalau besok-besoknya disambung dengan pemakaian skincare secara rutin, bakal ngerasa kalau skincare kalian jadi lebih ngefek (jelas lah ya, kan lapisan kulit matinya mulai terkikis!). Sejauh ini, 2 produk ini merupakan exfoliator favorit saya. Dibandingkan produk-produk eksfoliasi sebelumnya, yang bikin kulit cekat-cekit gak nyaman, 2 produk ini jauh lebih bersahabat di kulit saya. 

Erha Home Peeling

Baca Juga : Review Skincare : Somethinc AHA BHA PHA Peeling Solution

Sejauh ini, sampai produknya sudah habis, saya gak nemu kesan negatif selain ukurannya yang mungil. Masing-masing hanya berukuran 10 gr dengan harga berkisar 150.000 untuk bundling kedua produk (saat promo). Tapi, karena dipakainya juga paling sering seminggu sekali (tergantung waktu senggang), lumayan awet. Oh ya, karena produk-produk yang saya ulas ini menggunakan AHA yang memungkinkan membuat sensitifitas kulit terhadap matahari jadi meningkat, maka sangat wajib hukumnya menggunakan sunscreen dengan tepat. Kalau bisa, ya hindari aktivitas outdoor. Kalau saya, biasanya kalau emang mau ada aktivitas di luar ruangan, sehari sebelumnya saya gak akan melakukan treatment ini.  

Diclaimer: Artikel ini ditulis atas pengalaman pribadi penulis, bukan sponsor maupun endorsement.


Continue reading Review Skincare : Erha 10 Home Peeling 1 dan Erha 11 Home Peeling 2, Eksfoliasi Mudah di Rumah

Thursday, 17 November 2022

,

REVIEW Hotel Mercure Convention Center Ancol


Cuti 2 hari kemarin, dimanfaatkan oleh Pak Su untuk liburan santai di daerah Jakarta. Destinasi awalnya sebetulnya bukan ke sana, banyak wishlist yang belum kesampaian. Tapi bagaimanapun juga, banyak yang harus dipertimbangkan untuk berpergian ke tempat-tempat yang kami harapkan tersebut, dan kala itu, kami memutuskan untuk menunda wishlist dan memilih untuk melakukan wisata Ancol, yang dirasa gak banyak menguras waktu dan energi. Destinasi utamanya adalah Sea World. Sudah pasti karena mempertimbangkan nona manis (dan juga saya) yang senang sekali lihat ikan. Terakhir kali kami pergi ke Jakarta Aquarium, koleksi ikannya lebih terbatas meskipun dekorasi dan kenyamanan tempat tetap Jakarta Aquarium juaranya

Liburan kali ini kami menginap di Hotel Mercure Convention Center Ancol. Memang sengaja mencari hotel di dalam Ancol supaya gak repot keluar masuknya, hemat waktu juga. Sebetulnya ada pilihan lain yaitu Putri Duyung Resort dan Discoery Ancol. Untuk Putri Duyung, kamarnya sudah penuh, sedangkan Discovery Ancol baru saja dipakai suami menginap pada saat acara kantor bulan kemarin, jadi kami mencari pengalaman baru di Hotel Mercure Convention Center Ancol. Lokasinya dekat dengan Pantai Indah, salah satu pantai kecil yang ada di Ancol.

Kami check in pada Hari Minggu, tanggal 7 November 2022. Sambil menunggu Pak Su check in dan mengurus administrasi lainnya, saya dan nona manis duduk di lobby sambil melihat om-om badut yang sedang membuat balon. Ternyata mereka memang membagi-bagikan balon gratis untuk anak-anak di hotel. Om badutnya baik dan ramah, si nona minta 2 balon dengan bentuk berbeda dan langsung dibikinkan oleh mereka. Thanks, Om Badut!

Seselesainya check in, saya langsung menuju kamar 301. Saat itu kami memesan kamar tipe suite. Semenjak punya anak, kami seringkali memesan kamar yang ada sofanya, buat kasur cadangan karena seringkali pak su terseret-seret di kasur karena kehebohan saya dan nona saat tidur. Untuk tipe suite, harga sewanya sekitar 1,7 juta per malam, tergantung di mana bookingnya. Sudah pasti, booking di marketplace dengan di hotelnya langsung akan berbeda. 

Review Hotel Mercure Ancol

Kamar ini memiliki 2 toilet. 1 toilet di kamar tidur dan 1 lagi di dekat pintu masuk. Toilet yang dekat pintu masuk tampaknya hanya untuk tamu, karena dekat dengan ruang tengah. Ruang tengahnya cukup luas. Selain ada soa panjang, ada kursi dekat balkon yang juga bisa dipakai untuk bersantai. Ada greeting card dari pihak hotel dan juga welcome snack di toples-toples mungil. 

Sebetulnya, gak banyak yang bisa saya ceritain tentang kamarnya, karena semuanya biasa aja. Bahkan ada beberapa komplain yang saya utarakan pada pihak managemen, seperti nihilnya gula tropicana slim dan sisir (yang menurut saya, itu semua sudah menjadi basic tools/item di sebuah hotel, apalagi ini hotel bintang 4). Tapi kalau kalian penasaran, saya sempat bikin postingannya berupa video yang bisa dilihat di sini Video Review Hotel Mercure Ancol. Khusus di blog ini, saya lebih tertarik untuk mereview fasilitas di area hotel yang bisa kita nikmati saat menginap di Hotel Mercure Ancol.

1. Playground

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Playground Hotel Mercure Ancol cukup luas dengan berbagai permainan. Ada mba yang menjaganya jadi cukup aman. Ada kolam bola, kuda-kudaan, rumah-rumahan, dan kalau mau mewarnai juga bisa. Ini bisa jadi opsi buat hiburan anak kalau lagi suntuk di kamar.

2. Taman / Lapangan

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Hotel Mercure Ancol punya lapangan yang luas. Kalau punya anak yang 'kinestetik' banget, pasti bahagia datang ke sini. Bisa main bola, karena sudah tersedia gawang mini yang bisa dipakai. Atau sekedar berlarian kesana kemari pun menyenangkan, apalagi dekorasi taman dan lapangnya juga menarik, apalagi di malam hari, lampu yang melingkari pohon-pohon, membuatnya terlihat cantik.

3. Kolam Renang

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Ada 2 kolam renang yang bisa kita nikmati di Hotel Mercure Ancol, yang ketinggiannya sekitar 140 cm, dengan yang hanya 70 cm an untuk anak-anak. Ada 2 seluncuran yang tersedia, namun hanya 1 yang boleh dipakai, mungkin karena belum di maintenance selama covid, saya kurang tau.

4. Pantai Indah Ancol

Lewat pintu belakang lobby Hotel Mercure Ancol, melewati lapangan dan kolam renang, kalian bisa langsung jalan ke Pantai Indah Ancol. Saya pikir, pantainya adalah pantai dengan pasir putih yang persis terletak di belakang hotel, seperti yang saya lihat dari atas ketika saya naik Gondola. Ternyata, pantai pasir putih itu bukan untuk umum, melainkan khusus untuk club jetski di sana. Sedih. Akhirnya, karena si non ngebet banget ke pantai, kita mainnya di pantai indah ancol. Karena gak begitu luas, jadi terasa sekali penuhnya. Saya sengaja cari spot di dekat bebatuan, yang agak kosong. Airnya tentu saja, kurang lebih mirip dengan kali di sungai yang penuh dengan sampah dan berwarna coklat milo. Tentu si non tidak berenang, hanya bermain pasirpun sudah cukup menyenangkan baginya.

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

5 Restoran Sunda Kelapa

Review Hotel Mercure Ancol

Review Hotel Mercure Ancol

Restoran hotel ini cukup luas, ada area indoor dan outdoornya yang menghadap ke lapang. Buat saya, spot outdoornya menaik, apalagi kalau kalian dinner. Lampu-lampu di tamannya meriah. Saya gak nyoba makan di sana, selain sarapan ya. Kalau untuk sarapan sih, standar aja, cuma memang pilihannya gak terlalu banyak untuk hotel bintang 4. 


Jadi itu, hal-hal yang bisa dinikmati ketika kamu menginap di Hotel Mercure Ancol. Hotel ini cocok untuk kalian yang ingin liburan di Ancol untuk beberapa waktu, dan tidak ingin membuang waktu keluar masuk Ancol. Hal positif tentang hotel ini adalah, meskipun ada beberapa hal yang bikin saya gak sreg, seperti beberapa fasilitas dan tools hotel yang kurang lengkap, semuanya termaafkan ketika saya membuat komplain ke managemennya dan langsung ditanggapi dengan cepat. Semoga kelak saya main ke Ancol, saya menginap di sana, semua hal yang saya kritisi tadi sudah berubah lebih baik lagi.
Continue reading REVIEW Hotel Mercure Convention Center Ancol

Wednesday, 16 November 2022

, , , , ,

Review Skincare: Skintific 4D Hyaluronic Acid Barrier Essence Toner, Terfavorit di Tahun Ini!

Toner adalah salah satu step skincare yang wajib banget buat saya! Kulit saya ini seringkali kering, tapi kalau udah kepanasan, langsung otomatis jadi pabrik minyak. Kalau saya gak pakai toner, kulit saya makin kering, dan kalau kepanasan malah bikin kulit keliatan makin kusam juga. Makanya, saya senang banget koleksi toner. Oh ya, toner yang saya maksud di sini bukan toner yang teksturnya plek plekan cair, yang pengaplikasiannya menggunakan kapas. Toner yang saya maksud lebih seperti essence, gak sekental serum, tapi juga gak seringan air. Ngerti kan ya? 

Untuk toner yang akan saya review di sini, bukan toner yang sulit didapat. Bahkan, sepertinya banyak yang menjadikan toner ini salah satu favorit skincarenya, termasuk saya. Skintific 4D Hyaluronic Acid Barrier Essence Toner. Ada cerita dibalik penggunaan Skintific 4D Hyaluronic Acid Barrier Essence Toner ini. Mei tahun ini, berarti 6 bulan yang lalu, saya beli sepaket skincare Skintific yang khusus untuk kulit kusam, direkomendasikanlah 3 produk oleh admin Skintific, kalau gak salah namanya paket glowing skin, isinya Skintific 4D Hyaluronic Acid Barrier Essence Toner, Skintific 10% Niacinamide Brightening Serum, dan Skintific 5x Ceramide Barrier Moisture Gel. Di antara 3 produk yang ada dalam paket glowing skin tersebut, produk ini adalah yang paling murah, tapi juga ternyata yang paling awet, dan paling berjasa di kulit saya.

Review Toner Skintific

Toner Skintific ini sebenarnya isinya gak banyak-banyak amat, standar toner, 100 ml, tapi sampai 6 bulanpun, produknya masih tersisa 1 cm lagi kalau dilihat dari luar. Menurut saya ini awet sekali, padahal saya hampir selalu memakainya tiap hari, pagi dan malam, setelah selesai cuci muka. 

Produknya dikemas dalam box karton tebal. Botol yang digunakan adalah jenis botol plastik yang tebal, dengan tutup model ulir. Saya juga lebih suka tutup model ulir di banding model flip top yang secara ajaib suka tiba-tiba ngebuka kalau dibawa traveling. 

Review Toner Skintific

Hal pertama yang saya suka dari produk ini jelas kandungannya. Maksud dari 4D hyaluronic acid di sini adalah kombinasi dari 4 tipe hyaluronic acid yang memperbaiki, memberikan dan mengunci kelembapan secara intensif dan instan. 1 jenis hyaluronic acid aja rasanya sudah cukup lembap, produk ini memiliki 4 sekaligus, surely kulit saya auto lembap. Belum lagi kandungan lainnya, yaitu ceramide, centella, dan provitamin B5. Centella, juga adalah salah satu kandungan favorit saya. Dia punya manfaat yang baik untuk menenangkan kulit, dan membuat kulit minim iritasi. Sedangkan ceramide, yang sedang hype ini, punya tugas melindungi skin barrier. Dengan banyaknya manfaat yang diberikan, 90.000 menurut saya murah sih. Apalagi jika mengingat produknya yang awet dan gak cepat habis.

Untuk pengaplikasiannya, saya gak butuh banyak produk. Cukup 2 tetes, saya gosokkan di telapak tangan, lalu aplikasikan ke wajah, dan 1 tetes lagi untuk di leher. Teksturnya cair, namun sedikit kental. Lalu saat dibaurkan ke seluruh bagian wajah, terasa licin. Maksud licin di sini bukan dalam artian negatif ya, lebih seperti spreadable, gitu. Butuh waktu 1 menit untuk menyerap. Makanya, saya bilang teksturnya berbeda dengan toner cair pada umumnya. Kalau toner yang bentuknya cair, akan menyerap dalam beberapa detik saja. Produk ini, meskipun membutuhkan waktu untuk menyerap, namun ketika sudah menyerap, dia menyerap dengan sempurna. Lembap, namun tidak lengket.

Review Toner Skintific

Hal lain yang menjadi nilai plus adalah aromanya. Gak ada aroma wewangian apapun itu yang menyegakkan hidung. Saya agak-agak mudah tertanggu dengan skincare yang ada aromanya, meskipun aromanya wangi. 

Review Toner Skintific

Baca Juga : Review Skintific Eye Cream Massager

Review Skintific ini seharusnya menyertakan foto before after. Karena saya gak punya foto 6 bulan yang lalu dalam keadaan bare face, saya hanya bisa menyertakan foto before after dalam sehari, hanya untuk menunjukkan efek melembapkan yang diberikan oleh produk ini. Tapi, meskipun tanpa bukti, saya bisa merasa kulit saya jauh lebih normal dari biasanya, gak ada minyak berlebih yang membuat kulit saya berjerawat, seperti yang biasanya terjadi. Kulit jauh lebih halus dan enak dipegang. Jadi, sebagai penutup, untuk skincare seharga 90.000 yang awet hingga 6 bulan, memiliki kandungan yang punya banyak manfaat untuk kulit wajah, toner Skintific ini masuk ke dalam list skincare favorit saya tahun ini!

Continue reading Review Skincare: Skintific 4D Hyaluronic Acid Barrier Essence Toner, Terfavorit di Tahun Ini!

Bahagia dengan Hidup Biasa-Biasa Saja Ala Alain de Botton

Baru saja kemarin, perbincangan saya dengan Markonah, berkutat seputar perbedaan generasi kami dan gen Z. Saya bilang kalau kayaknya seru deh lahir sebagai gen Z, semua serba difasilitasi. Dan... sepertinya, mudah bagi mereka untuk menghasilkan uang di usia muda. Tapi, kemudian, timbul pertanyaan baru, apakah semuanya sejalan dengan perasaan bahagia yang mereka rasakan? Markonah sempat bercerita juga mengenai dosennya yang mengeluhkan murid-muridnya yang rasanya kok sulit sekali menggapai toefl 500, padahal untuk mencari ilmu di zaman sekarang itu sangatlah mudah, gak ada alasan untuk gak pintar, selain kamu memang malas. Akhirnya, obrolan ditutup dengan pernyataan bahwa di zaman yang serba mudah ini, justru ekspektasi semakin meningkat, sehingga rasanya sulit untuk menjadi biasa-biasa saja. 

Saya jadi teringat Alain de Botton, seorang filsuf modern, penulis, juga pembicara. Beliau pernah bilang kalau manusia sekarang rasanya sulit sekali untuk merasa bahagia. Bukan secara tiba-tiba semuanya terjadi. Menurutnya, ada 3 masalah utama yang menjadi penyebab semua itu terjadi, yaitu:

1. Hidup dalam Masyarakat yang Angkuh

Mencapai kebahagiaan dalam hidup seharusnya adalah suatu yang subjektif, tidak perlu dipengaruhi oleh penilaian orang lain. Tapi kini, kebanyakan dari kita memikirkan kehidupan yang sempurna agar dipandang baik oleh masyarakat. Alain de Botton menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena kebanyakan masyarakat sekarang menghakimi kita dalam sekejap, tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya di hidup kita. Sekalinya kita tidak dapat memenuhi ekspektasi mereka, ada kemungkinan kita menjadi bahan omongan atau mungkin dikucilkan.

Poin ini juga didukung dengan maraknya penggunaan social media sebagai ajang pamer prestasi. Sebetulnya, kurang tepat sih kalau dibilang pamer, karena pamer atau tidak kan tergantung niatnya, saya sendiri gak bisa menilai niatnya. Kalaupun niatnya memang untuk pamer, sebenarnya gak masalah juga, karena itu hak yang punya akun kok. Permasalahannya adalah ketika kita menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang ditampilkan di social media, padahal kita tau persis berapa banyak filter yang tersedia di aplikasi-aplikasi zaman sekarang.

2. Kurangnya Kasih Sayang

Penyebab lainnya yang menyebabkan sulitnya orang untuk berbahagia menurut Alain de Botton adalah kurangnya kasih sayang dari orang terdekat. Sewajarnya, keluarga sebagai support system terbesar, menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan seseorang. Tapi, kini yang terjadi sebaliknya. Banyak orang tua yang mengharapkan kebahagiaan dalam bentuk materi. Semakin banyak uang yang dimiliki, semakin besar pengakuan dan kasih sayang yang diberikan oleh mereka. Yang tadinya keluarga seharusnya menjadi tempat bersandar, kini malah menjadi pemberi beban.

Baca Juga : Ngobrol Serius : Tentang Fetisisme

Kebahagiaan bukan lagi tentang memberikan perhatian, bukan lagi tentang menghabiskan waktu bersama. Ya, mungkin menghabiskan waktu bersama, tapi di hotel mewah. Hehe. 

3. Meritokrasi

Meritokrasi sistem politik yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan atau kelas sosial. Ideologi ini membuat semua orang termotivasi untuk menjadi sukses. Deretan buku laris ditempati oleh buku-buku self help. Ngerinya, buku-buku ini bagai pedang bermata dua. Contohlah sebuah buku yang berisi mengenai perjalanan si penulis untuk menjadi sukses, bahwa semua orang punya kesempatan untuk sukses, bahwa faktor pembentuk kesuksesan hanyalah tentang diri sendiri, seberapa keras kita berusaha. Orang yang berhasil itu merupakan hasil usaha keras, sementara orang gagal karena kurang berusaha untuk mencapainya. Padahal, kita semua tau, bahwa kesuksesan gak serta merta terjadi hanya karena faktor internal (diri sendiri), masih banyak hal lain yang berkontribusi dalam membentuk kesuksesan seseorang. 

Itulah 3 poin yang sering diungkit oleh Alain de Botton sebagai penyebab orang-orang sulit untuk merasa bahagia. Rasanya, orang-orang menolak untuk hidup biasa-biasa saja, padahal hidup biasa-biasa saja bukan suatu hal yang buruk. Bahkan faktanya, 99% dari kita memang akan menjalani hidup biasa saja, sedangkan 1% yang lain akan menjalani hidup yang luar biasa, seperti Bill Gates, Elon Musk, dan lainnya. Jangan salah! Memiliki hidup yang biasa saja itu baik, dan memiliki ambisi untuk menggapai hidup yang luar biasa juga baik. Yang menjadi keliru adalah ketika kita berambisi hanya demi dihargai dan dianggap hebat oleh orang lain.

Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants.―Epictetus

Saya pernah merasa ingin menjadi yang 1% (sekarang juga masih sih hehe). Tapi, jika harus menukarnya dengan kedamaian dan ketenangan batin, gak dulu deh. Hehe. Lagipula, hidup biasa saja yang dikatakan oleh Alain de Botton, bukan hidup yang menyedihkan. Ada 2 cara hidup biasa-biasa saja ala Alain de Button. Yang pertama, ia menekankan arti kata cukup. Menurutnya, kita akan lebih banyak menghargai hidup ketika kita paham arti kata cukup. Yang kedua, yang saya bahas tadi, berambisilah atas kemauan sendiri, jangan hanya karena orang lain. Jangan sampai keliru, mengejar ambisi hanya untuk memuaskan orang lain. Tapi juga, jangan sampai mengartikan hidup biasa saja dengan hidup malas tanpa ambisi sama sekali ya! Itu jelas berbeda.

Continue reading Bahagia dengan Hidup Biasa-Biasa Saja Ala Alain de Botton

Tuesday, 15 November 2022

,

Review Buku : Almond - Sohn Won Pyung

Seorang manusia lahir bagaikan selembar kertas putih, kosong, tanpa isi mental bawaan. Sedikit demi sedikit, terisi oleh pena pengalaman dan persepsinya terhadap dunia di luar dirinya. Begitulah teori tabularasa. Tapi, apa yang terjadi jika seorang manusia terlahir bagaikan bongkahan batu kali? Sesering apapun pena membuat coretan di atasnya, tidak juga terlihat coretannya. Ini adalah premis utama novel ini, Almond.

Review Novel ALmond - Sohn Won Pyung

Novel ini dibuka dengan pengakuan seorang anak laki-laki saat menyaksikan suatu peristiwa yang brutal. Terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pria dengan menggunakan pisau. Satu orang terluka, enam orang lainnya meninggal dunia. Korban terakhir adalah pria itu sendiri. Ia membunuh dirinya, menikam dadanya sedalam-dalamnya dengan pisau. Anak laki-laki itu hanya menyaksikan kejadian yang terjadi di depan matanya, tanpa melakukan apa-apa, tanpa ekspresi. Anak laki-laki itu adalah Yoonjae.

Itu bukan kali pertamanya Yoonjae menyaksikan tragedi yang mengerikan. Sepanjang hidupnya, ia berkali-kali ada di situasi seperti itu. Saat ia masih berusia 6 tahun, ia pulang dari TK seorang diri, berjalan kaki. Tanpa tau arah, ia terus berjalan mengikuti arah perginya burung-burung. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa ia tersesat, ia sudah berada di sebuah gang yang di kelilingi oleh rumah-rumah tua yang tampak sudah mau roboh. Tidak jauh dari situ, ia mendengar suara teriakan kecil yang ternyata berasal dari sebuah belokan di gang. Ia berjalan mendekati belokan itu dan menyaksikan seorang anak -usia SMP- yang terbaring di atas tanah di kelilingi anak-anak lainnya yang mengelilinginya sambil menendang dan meludahinya. Seluruh tubuh anak itu berdarah, badannya terlempar ke sana ke mari seperti boneka. Yoonjae keluar dari belokan dan menemukan sebuah toko kecil. Ia masuk ke dalamnya dan memanggil si penjaga toko yang ternyata sedang asyik menonton TV. Panggilan pertama tidak membuatnya mengalihkan pandangan dari tayangan TV.

"Ajeossi." panggilnya untuk kedua kali.

"Iya," jawab Ajeossi  sambil membalikkan wajahnya.

"Ada orang yang pingsan di depan gang," 

Si penjaga toko cuek dengan berkata, "Oh begitu?"

"Mungkin saja dia sudah mati." Yoonjae berkata sambil memegang karamel yang dipajang rapi di atas meja toko.

"Oh ya?

"Iya."

Barulah pandangan Ajeossi tertuju pada Yoonjae

"Kau ini, kenapa gaya bicaramu begitu tenang? Kau tidak boleh membohongiku!"

Yoonjae berpikir keras mencari cara untuk meyakinkan Ajeossi, tapi ia tidak bisa menemukan kosa kata lainnya. 

"Mungkin dia sudah mati." Yoonjae hanya bisa mengatakan itu terus menerus.

Akhirnya, Ajeossi melapor pada polisi sambil tetap menonton TV. Anak yang dipukuli, menghembuskan napas terakhirnya. Masalahnya, anak itu tidak lain adalah anak laki-laki Ajeossi tadi. 

Di kantor polisi, Ajeossi meraung-raung bersimbah air mata, duduk bersimpuh dengan badan gemetar, memukul lantai dengan tinjunya, lalu bangun dan berteriak-teriak pada Yoonjae sambil mengacungkan tangannya,

"Andai saja kau bicara sedikit lebih serius, semuanya pasti tidak akan terlambat!"

Begitulah Yoonjae. Raut wajahnya tidak pernah berubah, bahkan ketika ia menyaksikan pembunuhan di depan matanya sekalipun. Ibunya mulai khawatir sehingga membawanya ke rumah sakit untuk mencari tau apa yang terjadi dengan anaknya. Diagnosa dokter menyatakan bahwa Yoonjae terkena penyakit Alexitimia, ketidakmampuan dalam mengungkapkan dan merasakan emosi. Penyebabnya adalah amigdala -atau yang biasa disebut almond- dalam kepalanya tidak berkembang dengan baik, sehingga jaringan komunikasi antara sistem limbik otak dan lobus frontal tidak lancar. Yoonjae tidak bisa merasakan senang, sakit, sedih, ataupun takut. Karenanya, orang-orang sering menyebutnya 'monster'.

Ia hidup dengan ibu dan neneknya di sebuah toko buku bekas. Ibunya berjualan buku bekas demi membiayai Yoonjae, karena suaminya sudah meninggal sejak dulu. Meskipun dianggap aneh oleh teman-temannya, Yoonjae tidak pernah membuat masalah di sekolah. Ibunya yang selalu khawatir akan keadaannya, selalu mengajari Yoonjae dalam bersikap dan merespon orang lain. Ibunya menuliskan beberapa kalimat di kertas berwarna dan menempelkannya di papan besar, tulisan-tulisan seperti ini:

Kalau mobil mendekat -> Harus menghindar atau berlari

Kalau ada orang yang mendekat > Bergeser ke salah satu sisi agar tidak bertubrukan

Kalau orang tertawa -> Ikut tersenyum

Di bagian paling bawah, ada catatannya "Dalam hal raut wajah, kau akan merasa nyaman bila mengikuti raut wajah semiripmungkin dengan yang dilakukan lawan bicaramu"

Ketika teman-temannya sibuk menghafal tabel perkalian, Yoonjae masih menghafal norma dan mencocokkan kalimat-kalimat yang saling terkait, dan ibunya akan memberikan ujian atas hal tersebut. Hari-harinya dilewati seperti itu, terus menerus, hingga tibalah satu hari. Hari itu, malam Natal, dingin bersalju, hari ulang tahun Yoonjae yang ke18. 

Ia bersama ibu dan neneknya, pergi untuk makan malam bersama, seperti yang biasa mereka lakukan selama ini dalam rangka merayakan ulang tahun Yoonjae. Itu adalah awal dari tragedi yang diceritakan di awal. Selesai makan, ibu dan nenek bergegas keluar restoran, ibu tertawa bahagia menangkap salju-salju yang turun dengan derasnya, sedangkan Yoonjae masih di dalam restoran, meminta permen pada pelayan restoran. Barisan paduan suara bertopi Santa dan jubah merah, ramai menyanyikan senandung Natal. Suasana sungguh meriah. Namun tiba-tiba, teriakan demi teriakan muncul. Awalnya sulit mendengarnya karena tertutupi oleh suara paduan suara. Seketika, suara paduan suara mulau kacau dan tertutup oleh suara teriakan orang-orang.

Seorang pria melompat dari balik pintu kaca dan menikamkan sesuatu. Orang itu adalah pria yang berpakaian formal dan berkeliaran sebelum kami memasuki restoran. Tidak sesuai dengan pakaiannya, dia memegang pisau dan palu di kedua tangannya. Pria itu melambaikan kedua tangannya sambil cekikikan, seolah-olah akan menusuk orang yang dilihatnya. Pria itu mendekati barisan paduan suara dan beberapa orang terlihat bergegas mengeluarkan ponselnya. 

Pria itu menoleh dan pandangannya berhenti ke arah ibu dan nenek. Dia kemudian berbalik arah, Nenek langsung menggenggam dan menarik ibu. Setelah itu, terjadilah tragedi itu. Pria itu memukulkan palu ke kepala ibu Yoonjae. Tiga kali.

Dalam sekejap, ibu Yoonjae sudah berbaring lemah bersimbah darah. Yoonjae mendorong pintu restoran, hendak pergi keluar, namun neneknya berteriak dan menghalangi pintu dengan badannya, supaya Yoonjae tetap aman. Pria itu masih memegang pisau, melambai-lambaikannya. Yoonjae mengetuk-ngetuk pintu kaca, tapi nenek tetap menahannya sambil menggelengkan kepalanya, mencegah Yoonjae untuk keluar. Tiba-tiba pria itu sudah ada di belakang nenek, dan Yoonjae hanya mendengar satu kali teriakan neneknya sebelum akhirnya melihat cipratan darah yang memenuhi pintu kaca restoran. Dengan raut wajah tanpa ekspresi, tanpa merasakan sakit, sedih, takut, ataupun marah, Yoonjae menyaksikan neneknya yang meninggal dan ibunya yang koma.

Semenjak kejadian itu, Yoonjae tinggal sendiri di rumah, di toko buku bekas itu. Toko buku berada di lantai 1, sedangkan lantai 2 merupakan toko roti. Pemilik toko roti beserta keseluruhan gedung itu bernama Professor Shim, dulunya seorang dokter. Karena mengenal ibunya Yoonjae cukup lama, Prof Shim menjadi cukup akrab dengannya dan paham juga akan kondisi yang dialami oleh Yoonjae. Maka selama ibu Yoonjae terbaring di rumah sakit, Prof Shim merasa harus membantu dan menjaga Yoonjae.

Suatu hari, ketika Yoonjae sedang menjenguk ibunya, ia berpapasan dengan seorang pria di lift. Pria paruh baya yang terlihat murung. Namun, begitu melihat Yoonjae, ekspresinya berubah. Beberapa hari kemudian, pria itu yang ternyata bernama Yoon Kwonho, mendatangi toko buku bekas dan meminta bantuan Yoonjae. Pada Yoonjae, ia meminta untuk berpura-pura menjadi anaknya di depan istrinya. Pasalnya, semenjak Pak Yoon kehilangan anaknya 13 tahun yang lalu, kesehatan istrinya menurun, hingga akhirnya kritis dan terbaring lemah di rumah sakit. Beberapa hari yang lalu, ada telepon yang menyatakan anaknya sudah ditemukan, namun dalam kondisi yang berbeda. Pak Yoon meminta Yoonjae untuk berpura-pura menjadi anaknya yang hilang di depan istrinya. Yoonjaepun mengiyakan, ia ingat pesan nenek 'lebih baik membantu, asal tidak membahayakan'.

Setelah pertemuan itu, beberapa hari kemudian istri Pak Yoon meninggal dengan damai. Yoonjae hadir dalam upacara pemakaman istri Pak Yoon. Setelahnya, ketika hendak keluar ruangan, Yoonjae menyadari semua orang menutup mulutnya dengan serempak sambil melihat ke satu arah. Di situlah anak itu berdiri. Gon, namanya. Nama aslinya adalah Lee So, anak kandung Pak Yoon yang sudah menghilang selama 13 tahun. Tubuhnya kurus, pendek, seperti anak-anak pengidap busung lapar. Kulitnya hitam, alis tebal, pandangannya membuat semua orang terpaku, seperti binatang buas yang ingin menerkam. Sebetulnya, itu adalah kali kedua Yoonjae bertemu dengan Gon. Gon adalah murid baru di sekolahnya. Hanya dalam 30 menit, informasi tentang Gon sudah menyebar ke seluruh sekolah, "Dia anak berandal. Mungkin dia sudah pernah mencoba semuanya, kecuali membunuh".

Di akhir acara pemakaman, Gon duduk di depan Yoonjae sambil menghabiskan dua mangkuk yukgaejang.

"Kau, kan? Anak yang berpura-pura menjadi diriku?

Aku muak melihat tingkahmu. Yah, walau semua ini bisa hiburan untukku."

Nah. Konflik utamanya ada di sini, saat Gon muncul. Gon yang benci dengan Yoonjae, melakukan apapun untuk menyakiti Yoonjae. Bukannya merasa puas dan hebat, Gon semakin murka. Karena sekeras apapun ia memukul Yoonjae, meskipun wajah Yoonjae sudah babak belur tak karuan, Yoonjae tetap tenang, tidak takut, tidak merasa sakit. Ini adalah definisi monster ketemu monster, meskipun monster-monster ini berbeda satu sama lain.

Saya suka dengan alur ceritanya. Mengalir begitu saja, gak terlalu berat. Ada banyak kritik tentang ending yang terlalu "dongeng disney". Tapi, buat saya penyuka happy ending sih, gak masalah. Kritik dari saya mungkin masalah terjemahan. Ada sekalimat atau 2 kalimat yang saya ingat betul, saya bingung memikirkan artinya. Mungkin karena novel ini banyak membahas soal emosi, saya lumayan paham bagaimana sulitnya menerjemahkan emosi dalam kata-kata, supaya punya makna yang sama dengan bahasa aslinya. Keseluruhan, saya jadi paham kenapa member BTS baca buku ini. Cerita tentang anak yang tumpul emosi, tapi justru novel ini memuat banyak emosi di dalamnya. Selamat membaca!

"Memahami perasaan yang belum kauketahui itu tidak akan selamanya baik. Perasaan itu adalah hal yang menyebalkan. Dunia ini bisa terlihat berbeda dengan apa yang kauketahui. Semua hal-hal kecil yang mengelilingimu bisa menjadi senjata tajam untukmu. Wajah tanpa ekspresi atau omongan-omongan tajam bisa datang menghampirimu. Coba perhatikan batu kerikil di tepi jalan. Dia tidak merasa terluka karena dia sendiri tidak tahu sedang ditendang oleh orang-orang. Namun, kira-kira bagaimana 'perasaan' batu kerikil jika 'tahu' bahwa setiap hari dia selalu ditendang, diinjak, berguling-guling hingga pecah sebanyak ratusan kali." (Prof Shim)

Continue reading Review Buku : Almond - Sohn Won Pyung